Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Kenyataan bukan kebohongan


__ADS_3

Kunci kedamaian hidup sebenarnya sederhana ialah dengan menjalaninya, menikmatinya dan mensyukuri perihal yang ada.


~Ay Alvi~


Juan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Baru saja ia mendapat kabar bahwa Emily mencoba untuk bunuh diri.


Gadis itu tampaknya depresi setelah beberapa hari di kurung oleh Juan.


Pemuda itu tidak ingin Emily terluka, bukan karena ia mencintai gadis itu. Namun, Juan masih membutuhkan Emily untuk mengungkap kejahatan yang di lakukan oleh orang tua gadis itu dan juga pemuda itu ingin membalaskan dendam kepadanya.


Juan memarkirkan motornya di sebuah pelabuhan kecil kemudian segera menuju perahu boat yang memang telah menunggunya untuk membawa pemuda itu ke tempat di mana Emily di sekap.


Setelah melalui perjalanan laut sekitar setengah jam, Juan pun tiba di sebuah pulau terpencil yang selama ini selalu di gunakan Marco untuk mengurung para tawanannya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Juan kepada dokter yang telah berada di sana. Walau di sana hanyalah sebuah pulau kecil tapi untuk segala fasilitas memang cukup lengkap. Bahan makanan yang tersedia juga cukup untuk para penghuni pulau.


"Tidak terlalu parah, ia mencoba memotong pergelangan tangannya dengan pecahan kaca yang terdapat di dalam kamar," jawab sang dokter menjelaskan keadaan Emily kepada Juan.


"Bukankah sudah ku katakan pada kalian untuk menjaga wanita itu baik-baik!" bentak Juan kepada beberapa anak buahnya. Sedari awal ia telah mengingatkan mereka bahwa pemuda itu menginginkan Emliy hidup.


Tujuan utama Juan bukanlah untuk membunuh Emily, ia ingin menyiksa gadis itu agar Emily merasa jera dan menyesali segala perbuatannya. Apalagi kedua orang tua gadis itu juga terlibat kasus besar. Mereka menyelundupkan berbagai barang ilegal dengan memfitnah kawanan Marco sehingga kini anak buah Ziga itu harus mengusut semuanya.


Juan menatap tubuh Emily yang terbaring tak berdaya di atas ranjang. Gadis itu terlihat begitu lemah dengan jarum infus yang menempel di lengan gadis itu.


Sejujurnya pemuda itu merasa sedikit iba setelah melihat keadaan Emily yang begitu memprihatinkan tapi jika ia teringat akan perbuatan gadis itu terhadap Hara, emosi terasa memuncak di dadanya.


Juan membuang nafas kasar, pemuda itu masih teringat jelas kejadian yang menimpa Hara. Seandainya saja waktu itu ia terlambat untuk datang. Entah apa yang terjadi pada gadis yang sama sekali tidak tahu apa-apa dan juga tidak bersalah itu.


Emily membuka matanya perlahan, gadis itu menyesuaikan pandangannya dengan melihat sekeliling. Gadis itu tidak mengenali di mana ia berada kini. Ia berharap mungkin sudah berada di dalam surga setelah tadi gadis itu mencoba untuk menghabisi nyawanya sendiri.

__ADS_1


"Apa kau pikir dengan berbuat seperti ini aku akan memaafkanmu?!" Juan bertanya dengan sedikit membentak membuat Emily tersadar bahwa gadis itu masih berada di alam dunia bukanlah surga seperti yang ia harapkan.


"Ju-Juan!" panggil Emily lemah karena gadis itu telah kehilangan sebagian besar tenaganya.


Juan meraih dagu Emily, "Jangan harap aku akan membiarkanmu mati dengan mudah," tegas Juan membuang wajah Emily kasar.


Kemudian pria itu bergegas meninggalkan Emily yang menangis terisak-isak.


"Jaga dengan benar jika masih sayang pada nyawa kalian!" perintah Juan setengah mengancam kepada anak buah yang ia perintahkan untuk menjaga Emily.


"Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi!" tegas Juan, ia tidak ingin Emily mencoba untuk bunuh diri lagi.


"Baik Tuan," jawab kelima orang itu serempak, kali ini mereka menempatkan Emily di sebuah kamar yang lebih layak dari sebelumnya. Namun, mereka lebih memperketat penjagaan gadis itu karena tidak ingin hal yang sama terulang lagi.


Juan pun segera meninggalkan pulau setelah menyampaikan semua perintahnya kepada mereka yang berjaga di pulau tersebut. Pemuda itu segera kembali ke kota untuk menemui Hara.


Sementara itu di rumah sakit Hara tengah menikmati waktunya dengan dokter William. Dokter muda itu membawa Hara mengunjungi tempat yang biasa ia kunjungi ketika tengah merasa suntuk dan lelah.


"Dokter sering berada di sini?" tanya Hara melihat sekelilingnya yang terlihat sejuk dan menenangkan.


William mendorong kursi roda yang di naikki oleh gadis itu dekat dengan kursi yang tersedia di sana. Kemudian dokter muda itu membantu Hara untuk berpindah dari kursi roda menuju bangku taman.


"Ya, jika aku lelah di sini adalah tempat yang paling nyaman," jawab William duduk di sebelah Hara dengan kepala mengenadah dan mata sedikit terpejam menghindar dari sinar matahari yang mulai meninggi.


"Apakah menjadi Dokter melelahkan?" Hara melontarkan pertanyaan yang membuat William tersenyum lebar.


"Jika ada banyak yang sakit memang cukup melelahkan," jawab William menatap gadis yang tengah duduk di sampingnya.


"Namun, jika pasiennya cantik seperti Nona, rasa lelah itu akan menghilang," tambah William membuat Hara tertawa terbahak-bahak

__ADS_1


William mengernyitkan alisnya melihat gadis yang tengah di tatapnya sedang tertawa. Ia tidak menyangka jika gadis itu tertawa akan terlihat sangat cantik dengan wajah yang merona kemerahan.


"Maaf, maaf, aku tidak bermaksud untuk menertawakan Anda Dokter," ucap Hara merasa tidak enak karena takut di anggap tidak sopan oleh William.


"Apa yang membuatmu tertawa begitu lepas?" tanya William penasaran melihat tawa Hara seakan tidak ada beban di hati gadis itu.


"Aku tidak menyangka ternyata Dokter yang terkenal serius dalam pekerjaannya dan menjaga etika dapat berbohong juga," jawab Hara menjelaskan apa yang menjadi alasan gadis itu tertawa terbahak-bahak.


"Berbohong?" tanya William tak yakin, ia tidak mengerti bagian mana dari ucapannya yang di anggap sebuah kebohongan bagi Hara.


"Ya," jawab gadis itu sembari menganggukkan kepalanya.


"Mengatakan aku cantik bukankah itu suatu kebohongan?" Hara kembali bertanya pada William, kali ini gadis itu memalingkan wajahnya dan menatap tanaman bunga yang terdapat di sekitar mereka.


"Itu kenyataan bukan suatu kebohongan," ucap William serius, pria itu mengatakan yang sebenarnya pada Hara.


Hara tersenyum mendengar ucapan William, gadis itu tidak mengira jika pria tersebut serius mengatakannya.


"Kau memang cantik Nona," puji William tulus.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata dan telinga yang menatap kedekatan mereka dengan tangan terkepal.


******


Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Dan jangan lupa juga untuk mampir ke karya terbaru Ay GIRL ON THE GANGSTER yang bercerita tentang Ariela gadis yatim piatu yang di angkat anak oleh ketua Gangster kemudian menjadikan gadis itu seorang penembak jitu dan pembunuh bayaran.


Bagaimanakah jika suatu hari Ariela di minta untuk membunuh orang yang telah menyelamatkannya. Apakah gadis itu akan tetap melaksanakan tugasnya atau malah mengabaikannya karena sebenarnya ia mencintai orang yang menjadi targetnya.

__ADS_1


Ikuti kelanjutannya di GIRL ON THE GANGSTER.


Salam sayang dari ***Ay si Author recehan** 😘😘😘*


__ADS_2