
Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit.
~Ay Alvi~
"Aku? Kenapa harus aku?" tanya Hara sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Iya karena kau yang mengajukan tantangan ini," tukas Juan berusaha membuat Hara bersalah agar gadis itu mau merawatnya sebagai imbalan.
"Kau ... ck," Hara berdecak kesal sepertinya Juan memang harus di beri pelajaran agar pemuda itu mengerti bahwa ia tidak dapat di pandang rendah oleh pemuda
"Kau sendiri yang ingin kita menjadi pasangan kekasih, tidak ada yang memintamu," sahut Hara, gadis itu membalikkan badannya kembali dan bersiap meninggalkan Juan.
"Apa kau tidak iba melihat keadaanku seperti ini?" ratap Juan, berusaha mendapatkan simpati dari gadis yang kini hampir menggapai handle pintu.
"Tidak," jawab Hara acuh, gadis itu tetap melenggang pergi meninggalkan Juan yang terus menggerutu karena kesal.
Setelah memakan waktu yang cukup lama karena angin laut yang lumayan kencang, akhirnya Emily pun tiba di markas milik Marco. Dom dan kedua orang temannya segera membawa gadis itu untuk menghadap sang tuan besar Ziga.
Wajah Emily tampak sumringah ketika mendengar bahwa kepala keluarga Pratama itu akan datang untuk menemuinya. Ia yakin dengan kehamilannya ini dapat menjerat Juan untuk menjadi miliknya.
"Silakan Nona!" ucap Dom mempersilakan Emily untuk masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang tampak kosong.
Emily pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut, walau dengan sedikit gemetar karena ruangan tersebut tampak begitu menyeramkan.
"Tunggu sebentar Nona, Tuan besar akan mendatangi Anda," ucap Dom meminta Emily untuk tetap berada di sana menunggu kedatangan Ziga dan juga Marco.
__ADS_1
Emily mengangguk pelan, gadis itu mengambil salah satu kursi dan duduk di atasnya. Ia melihat keadaan di dalam ruangan, sebuah besar terpampang di dinding yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba lampu di dalam ruangan tersebut padam membuat Emily berteriak histeris karena terkejut. Lalu, layar berukuran besar di hadapannya pun kini menyala. Layar tersebut menampilkan sebuah video adegan panas yang terlihat sedikit gelap, namun masih dapat ia kenali siapa yang ada di dalam video tersebut.
Tangan Emily bergetar begitu menyadari bahwa itu adalah video tentang dirinya. Video yang sengaja ia rekam bersama mantan kekasihnya sebelum gadis itu berhubungan dengan Juan.
Tidak, tidak mungkin. Ini pasti bohong, tidak ada yang memiliki video ini. Bahkan aku telah menghapusnya," gumam Emily dalam hatinya yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.
Video di layar berakhir dan saat itulah terdengar tepuk tangan dari arah belakang Emily. Gadis itu terkejut saat lampu di dalam ruangan menyala kembali dan ia melihat ada dua orang pria yang salah satunya ia kenali sebagai ayah kandung Juan, Ziga Rahardian Pratama.
"Sepertinya kau sangat menikmati tontonan tadi?" sindir Ziga membuat Emily berkeringat dingin mendengar ucapan pria paruh baya itu.
"Ti-tidak ... Itu bukan seperti yang Anda lihat Tuan!' ucap Emily bersimpuh di hadapan Ziga berusaha agar ayah kandung Juan itu tidak mempercayai apa yang baru saja di lihatnya.
"Kau pikir kami bodoh!" bentak Marco yang merasa jijik kepada Emily setelah melihat video panas gadis itu.
"Lepaskan Nona!" tukas Marco menarik tubuh gadis yang menempel di kaki Ziga.
Emily pun terhempas ke lantai, gadis itu meraung sejadi-jadinya. Ia berharap dengan tangisannya maka hati Ziga dan Marco akan luluh.
"Hentikan tangisanmu Nona, kau pikir dengan cara seperti ini akan membuat kami percaya," ujar Marco mulai tidak sabar menghadapi gadis itu.
Ziga sendiri tidak bereaksi berlebihan, sedari awal ia sudah dapat memperkirakan bahwa gadis yang kini ada di hadapannya tersebut bukanlah gadis baik-baik. Ia yakin Emily bermaksud menjebak Juan dengan kehamilannya. Namun, mereka bukan orang bodoh yang percaya begitu saja pada kata-kata gadis itu.
"Apa yang membuatmu ingin menjebak Juan?" tanya Ziga, pria itu mengeluarkan rokok kemudian menyulut dan menghisapnya.
__ADS_1
Ia kagum dengan keberanian Emily yang masih saja terus membela diri walaupun saat ini Ziga dan Marco telah mengetahui segala-galanya tentang gadis itu.
"A-Aku tidak menjebak Juan, Tuan," ujar Emily bersikukuh tidak bersalah. Ia masih mempertahankan pendapatnya bahwa anak yang ada di dalam kandungannya adalah darah daging Juan.
"Lalu, kau mau mengatakan bahwa anak itu adalah milik Juan?!" tanya Ziga lagi, keteguhan Emily membuat pria itu sepertinya harus mengambil langkah tegas untuk gadis itu.
"I-Iya Tuan, ini adalah darah daging Juan," jawab Emily bersikeras dengan pendiriannya.
"Kau tahu Nona, video tadi sudah jelas-jelas terlihat bahwa pria yang bersamamu bukanlah Juan, namun aku heran kau masih memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk mengakui bahwa anak yang ada di dalam kandunganmu adalah darah daging Juan," ujar Ziga.
"Itu ... itu bukan video milikku Tuan, aku di jebak," ucap Emily kembali bersimpuh di hadapan Ziga meminta agar ayah kandung Juan itu percaya kepadanya.
Ziga menghela nafas, awalnya ia masih ingin memaafkan Emily karena gadis itu tengah mengandung. Namun, kebohongan Emily yang terus menerus berusaha untuk menjerat Juan membuat Ziga akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memberi toleransi pada gadis itu.
"Bawa dia kesini!" titah Ziga kepada Marco yang langsung di turuti oleh anak buahnya tersebut.
"Aku akan bertanya sekali lagi dan aku harap kau dapat menjawab dengan jujur karena jika kau berbohong aku tidak akan dapat pastikan nasibmu akan baik-baik saja," ujar Ziga memberikan satu kesempatan pada Emily untuk berkata yang sejujurnya tentang kehamilan gadis itu.
Emily mengangguk tanda mengerti bahwa kata-kata Ziga bukan hanya sekedar ancaman saja. Namun, ia juga tidak bisa setengah-setengah, kebohongannya dari awal harus terus di ikuti oleh kebohongan-kebohongan berikutnya agar dapat meyakinkan Ziga.
"Apa benar anak yang kau kandung adalah darah daging Juan?" tanya Ziga untuk yang terakhir kalinya sebelum pria itu memutuskan apa yang akan di lakukan kelas Emily.
Emily terdiam, gadis itu tertunduk sembari memikirkan ancaman yang tadi di lontarkan oleh Ziga. Ia takut nyawanya jadi taruhan karena sepertinya pria di hadapannya kini tidak sedang main-main. Namun, ia juga bingung jika harus mengatakan yang sebenarnya. Itu artinya ia harus siap kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Juan.
"Apa jawabanmu Nona?" Ziga kembali bertanya karena gadis itu belum juga memberi jawaban atas pertanyaannya.
__ADS_1
"I-Ini ... Ini ...." Emily tampak ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan dari ayah tiga orang anak itu. Ia dilema antara harus jujur atau malah menambah lagi daftar kebohongannya. Namun, masih teriang di ingatannya tentang ancaman yang di keluarkan oleh Ziga.