Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Kau harus berusaha keras


__ADS_3

"Ayo pulang!" ajak Juan kepada Hara, ia menuruti apa yang di perintahkan oleh sang ayah agar mereka segera pulang ke rumah.


Hara mengangguk, ia juga tidak ingin berada di tempat ini lebih lama lagi karena Hara khawatir sang ayah akan mengetahui dirinya berada di sini. Gadis itu merasa bersalah karena telah mengingkari janjinya kepada sang ayah yang memintanya untuk menjauhi Juan.


Namun, ia sendiri tidak dapat membohongi perasaannya. Hara mencintai Juan dan pemuda itu mencintainya. Bahkan mungkin cinta pemuda itu lebih besar darinya mengingat Juan bahkan mengikutinya hingga ke Indonesia.


"Jangan terlalu banyak berpikir, sekarang kau lebih baik segera masuk dan beristirahat," ucap Juan ketika mereka tiba di depan rumah gadis itu. Pemuda tersebut mengecup lembut kening Hara dan membelai pipi gadis itu dengan penuh kasih sayang.


Juan tahu sang kekasih sedang banyak pikiran dan sedari tadi sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam tanpa mengucapkan satu patah katapun hingga akhinya mereka tiba di kediaman Hara.


Hara menjawab dengan anggukan kepalanya, gadis itu memegang tangan Juan yang tengah membelai pipinya. "Kau juga harus banyak istirahat, lihatlah baru dua hari aku tidak melihatmu kau sudah terlihat lebih kurus," ucap Hara sedih karena melihat tubuh Juan yang tampak sedikit mengecil mungkin karena pemuda itu terlalu lelah.


Dan lingkaran hitam di bawah mata pemuda itu menandakan bahwa Juan tidak beristirahat dengan benar. Hara tahu jelas bahwa membantu di lokasi tempat terjadinya bencana alam itu pasti hal yang sulit dan hanya orang berfisik kuat biasanya yang di pilih untuk berada di tempat yang sudah pasti dalam keadaan buruk itu.


"Walau kurus tapi aku masih tetap terlihat tampan dan seksi bukan," ucap Juan penuh percaya diri membuat Hara menghadiahi pemuda itu dengan satu cubitan di perut pemuda tampan itu.


"Aww, sakit Hara," keluh Juan yang terkena capitan dari tanga kekasihnya itu.


"Siapa suruh kau terlalu percaya diri," sahut Hara menggembungkan pipinya.


Juan terkekeh mendengar ucapan Hara, pemuda itu menepuk pelan pipi Hara yang menggembung membuat pemuda itu merasa gemas. "Baiklah sekarang kau masuk dan istirahat," pungkas Juan, ia mengusak lembut rambut kekasihnya.


"Hati-hati di jalan," pesan Hara, gadis itu mengecup singkat pipi Juan kemudian segera berlari masuk ke dalam rumah sebelum Juan menyadari apa yang di lakukan oleh Hara.


Juan menggelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan Hara yang membuat Juan semakin menyayanginya. Setelah memastikan sang kekasih masuk ke dalam rumahnyan dengan selamat, Juan pun berlalu pergi meninggalkan tempat tinggal Hara.

__ADS_1


Juan berniat untuk kembali ke kediaman Mahendra. Namun, di tengah perjalanan sang ayah memanggil melalui telepon genggamnya meminta pemuda itu untuk menemuim sang ayah di salah satu hotel milik keluarganya karena saat ini Ziga tengah menginap di sana.


Tidak butuh waktu lama bagi Juan untuk mencapai hotel tempat sang ayah menginap. Juan tidak menyangka bahwa sang ayah akan berada di negara ini. Jujur ia sangat senang, namun ada perasaan was-was di dalam hatinya. Juan takut sang ayah mengatakan kepada Donny bahwa putra sulungnya itu telah membawa putri kesayuangan dokter Donny.


Ziga sendiri baru tiba di hote ketika menghubungi Juan. Pria paruh baya itu ingin mencari tahu apa alasan Juan dan Hara tidak ingin bertemu dengan Donny karena bagaimanapun juga dokter yang juga merupakan sahabatnya itu pasti akan berpikir yang macam-macam jika mengetahui Juandan Hara berhubungan secara sembunyi-asembunyi.


Juan mengetuk pintu kamar hotel sang ayah, tidak sulit bagi Juan untuk mengetahui di kamar mana sang ayah karena di setiap jaringan hotel yang mereka miliki selalu ada kamar khusus yang hanya di pakai oleh seluruh anggota keluarga Pratama termasuk Juan.


"Dad, ini aku," ucap Juan dari balik pintu, ia yakin sang ayah berada di dalam karena baru beberapa menit yang lalu tuan besar Pratama itu menghubunginya.


"Masuklah Ju!" terdengar suara sang ayah menjawab dari balik pintu tersebut.


Juan pun menuruti perintah sang ayah untuk segera masuk ke dalam kamar hotel. "Ada apa Daddy memanggilku?" tanya Juan.


"Hehehe, bukan seperti itu Dad," ucap Juan tidak ingin ayahnya tersebut salah paham.


"Kapan Daddy tiba di Indonesia? Mengapa Mommy tidak ikut?" tanya pemuda itu lagi. Juan ikut duduk di sofa di samping sang ayah yang saat ini tengah menikmati winenya.


"Daddy tiba tadi pagi, Mommy tidak dapat ikut karena kakakmu, kau tahu ..." Ziga menggantung kalimatnya.


"Ya, tidak perlu kau katakan lagi Dad, aku mengerti," potong Juan, keluarganya saat ini tengah menghadapi masalah yang cukup pelik bukan hanya saat ini tetapi sudah sejak beberapa tahun silam.


Untuk itulah Juan tidak ingin membebani pikiran kedua orang tuanya yang saat ini tengah di sibukkan dengan masalah saudaranya yang lain.


Ziga menghela nafas, entah apa dosa yang telah ia lakukan sehingga keluarganya harus mendapat musibah seperti ini. Baru saja kebahagian menghampiri dan menerangi hidup keluarga Pratama, namun dalam sekejap semua itu sirna berubah menjadi kepedihan dan duka yang mendalam.

__ADS_1


"Bagaimana hubunganmu dengan putri dokter Donny?" tanya Ziga mengalihkan pembicaraan karena ia tahu baik dirinya ataupun sang putra tidak ingin membahas masalah yang sudah beberapa tahun ini menjadi rahasia besar keluarga Pratama.


"Baik Dad, kami saling mencintai," jawab Juan jujur, pemuda itu memilih minuman soda untuk menemani obrolan mereka malam ini.


"Baguslah, Daddy senang mendengarnya," ucap Ziga kembali menyesap wine sembari menatap sang putra. Tak pernah ia sangka putra bungsunya kini telah berubah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun.


Sepertinya baru saja kemarin ia membantu sang istri untuk mengganti popok Juan dan kini putranya tersebut bahkan telah memiliki kekasih.


"Tapi Uncle Donny belum merestui hubungan kami Dad," keluh Juan membuat Ziga mengernyitkan kedua alisnya.


Ia sedikit tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh pemuda itu. Pasalnya kesan yang ia dapat dari Donny saat mereka bertemu di restaurant tadi tidaklah menunjukkan keberatan dengan hubungan kedua anak manusia ini.


Donny bahkan berkali-kali memuji Juan sebagai pemuda yang bertanggung jawab walaupun kadang terkesan ceroboh dan juga urakan.


"Hemm ... tapi dari penglihatan Daddy tidak seperti itu," ucap Juan membantah perkataan sang putra.


"Maksud Daddy?" tanya Juan tidak paham.


"Dokter Donny sepertinya menyukaimu jadi tidak ada alasan untuk tidak merestui hubungan kalian," jawab Ziga melihat dari sudut pandangnya.


Juan mendesah, entah ia harus mempercayai


perkataan sang ayah atau tidak. Tetapi dari sikap yang ayah Hara itu tunjukan sepertinya dokter spesialis kandungan itu ingin mempersulitnya untuk berhubungan dengan sang putri. Tentu Juan akan merasa senang jika memang yang di katakan sang ayah adalah benar. Akan tetapi ia juga tidak dapat terlebih dahulu berbesar kepala mengingat masih ada beberapa syarat dari ayah kekasihnya yang harus ia penuhi.


"Seorang ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, begitu pula dengan Daddy dan juga dokter Donny. Kau harus berusaha keras agar ia dapat merelakan putri kesayangannya itu untukmu," ujar Ziga memberikan nasihat kepada sang putra bungsu agar Juan tidak mudah menyerah dengan penolakan yang di berikan oleh besannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2