Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Maafkan Juan


__ADS_3

Ikhlas menerima kesalahan dan belajarlah dari setiap kesalahan. Karena itu yang akan menjadikanmu kuat dalam menjalani kehidupan.


~Ay Alvi~


Via melotot tegas ke arah Juan saat putra bungsunya tersebut memprotes pertanyaannya pada Hara. Wanita itu benar-benar marah karena Juan tidak menepati janjinya bahkan pemuda itu membiarkan Hara terluka.


"Sebaiknya kau punya penjelasan bagus untuk semua ini!" tegas Via menatap tajam ke arah Juan membuat pemuda itu gemetar ketakutan.


Ziga yang telah mengetahui apa yang terjadi tidak berbuat apa-apa. Pria itu ingin tahu bagaimana cara putra bungsunya tersebut menyelesaikan masalah yang telah di buatnya.


"A-Aku minta maaf Mom," lirih Juan, pemuda itu tidak berani menatap sang bunda yang kini tengah marah.


"Mommy tidak butuh permintaan maafmu!" tolak Via yang di inginkan oleh wanita itu adalah Juan menceritakan hal yang sebenarnya.


Juan tidak berani menunjukkan wajahnya, pemuda itu terus menunduk melihat ke lantai.


Putra bungsu Ziga itu tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan besar, namun pemuda itu belum siap untuk mengakui bahwa ia telah membunuh seseorang di hadapan sang bunda.


"Juan tidak salah Aunty," ucap Hara membela pemuda itu, ia tidak tega melihat Juan tidak berkutik di hadapan sang ibu.


"Jelas dia salah Hara," bantah Via, wanita paruh baya itu yakin bahwa penyebab Hara terluka adalah putra bungsunya.


"Maaf," ucap Juan, hanya itu yang sanggup Juan katakan. Pemuda itu tidak mempunyai keberanian untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada sang ibu. Juan tidak ingin ibunya lebih marah lagi jika pemuda itu mengatakan bahwa Hara tertembak demi untuk menolong dirinya.


"Aunty!" panggil Hara meraih tangan Via membuat pandangan wanita itu beralih kepadanya.


"Ada apa sayang?" tanya Via lembut, wanita itu membelai rambut putri dari sahabatnya tersebut.


"Juan tidak bersalah, Aku yang tidak berhati-hati Aunty," ucap Hara kembali membela pemuda itu.

__ADS_1


"Tolong maafkanlah Juan," pinta Hara menatap Via penuh dengan pengharapan.


Via menghela nafas, ia tahu saat ini Hara tengah berbohong untuk menutupi kesalahan putra bungsunya tersebut. Sebenarnya wanita itu masih marah, namun demi menyenangkan gadis itu Via pun mencoba untuk memaafkan putra bungsunya tersebut.


"Baiklah, untuk saat ini Mommy memaafkannya," putus Via pada akhirnya, ia tidak ingin membuat Hara sedih dan kecewa.


"Akan tetapi kau tetap harus di hukum karena telah melalaikan tanggung jawab yang Mommy berikan," tambah Via.


Akhirnya Juan dapat bernafas lega, setidaknya untuk saat ini ia tidak harus menghadapi kemarahan sang bunda. Walau pada akhirnya pemuda itu harus kembali berhutang pada Hara yang telah membela dirinya di hadapan ibunya.


Juan melirik sang ayah, ia mengerti bahwa ada yang harus ia jelaskan kepada pria paruh baya itu. Sang ayah Ziga pasti telah mengetahui perihal ia menembak Theo, pasalnya pemuda itu meminta Marco untuk mengurus masalah Theo dan komplotannya.


Sementara itu di kediaman Emily, gadis itu tampak gelisah. Berulang kali ia menghubungi Theo namun tak ada jawaban dari pria tersebut. Emily ingin memastikan keadaan Hara, ia tidak ingin gadis itu menjadi penghalang hubungannya dengan Juan.


Emily kembali meraih ponselnya, kali ini ia mencoba menghubungi Juan. Gadis itu ingin mengajak Juan berkencan malam ini. Karena kemarin ia masih belum berhasil mendapat Juan, maka Emily kembali menyusun rencana agar pemuda itu dapat menjadi miliknya secepatnya.


"Jelaskan pada Daddy!" titah Ziga pada Juan saat mereka berada di luar ruangan tempat Hara di rawat. Pria itu sengaja mengajak putra bungsunya untuk bicara empat mata untuk mengetahui kejelasan dari masalah yang menimpa Juan.


Ziga mengangguk, benar apa kata putranya di sini bukanlah tempat yang pas untuk membicarakan masalah mereka.


Pria itu pun kembali masuk untuk meminta izin pada sang istri.


"Mom, ada masalah perusahaan yang harus Daddy urus dan Daddy akan membawa Juan," pamit Ziga pada istrinya, pria itu terpaksa berbohong agar tidak membuat Via khawatir.


Via mengangguk, walau sebenarnya wanita itu sudah dapat menebak mengapa suaminya membawa Juan. Namun, ia cukup tahu diri biarlah itu menjadi masalah antar para lelaki. Saat ini Via lebih memilih untuk menemani Hara dan mengorek informasi dari gadis tersebut.


"Ceritakan!" titah Ziga kepada sang putra saat mereka telah berada di dalam mobil. Pria itu membawa sendiri mobilnya dan memerintahkan Louis untuk menunggu di rumah sakit.


Juan menghirup nafas dalam-dalam mencoba mempersiapkan penjelasan dengan hati-hati. Pemuda itu tidak ingin salah berucap terutama di hadapan sang ayah karena yang jelas ayahnya pasti sudah tahu perihal Theo yang telah di habisinya.

__ADS_1


"Theo berkhianat," jawab Juan melirik ke arah sang ayah untuk mengetahui reaksi pria tersebut.


Ziga sendiri tampak acuh dengan jawaban Juan, pria itu memang telah memprediksi bahwa putra bungsunya tersebut tidak mungkin menghabisi nyawa seseorang tanpa alasan yang tepat.


"Lanjutkan!" Ziga kembali memberi perintah tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan yang ada di hadapan mereka.


"Dia bekerja pada seseorang untuk menculik dan menyekap Hara bahkan Theo berniat untuk menodai Hara," tutur Juan dengan geram, pria itu mengepalkan kedua tangannya ketika teringat kembali bagaimana Theo dan seorang lainnya berusaha untuk menyentuh tubuh gadis itu.


Ziga mengangguk, akhirnya pria itu dapat mengerti dengan jelas duduk permasalahannya. Pria itu tidak marah, justru ia merasa bangga putranya dapat menyelamatkan kehormatan seorang wanita.


Pria sejati tidak akan tega melihat seorang wanita menderita.


Ziga menepuk bahu Juan pelan, menenangkan pemuda itu yang kini terlihat menegang karena menahan kemarahannya. Jujur, Ziga juga murka begitu mendengar Theo ingin menodai Hara, andai ia ada di sana mungkin pria itu tidak akan berakhir dengan satu tembakan di kepala saja. Ia lebih memilih untuk menyiksa pria itu hingga Theo akan lebih berharap pada kematian ketimbang di biarkan hidup tersiksa.


"Apa kau sudah tahu siapa dalangnya?" tanya Ziga kemudian, ia ingin putranya mengurus masalah ini hingga tuntas.


Saat ini mobil yang di kendarai pria itu telah memasuki kawasan gedung tua yang menjadi markas Marco dan juga para bodyguard anak buahnya.


Juan mengangguk, pemuda itu tahu benar siapa yang berani bermain-main dengannya. Ia bersumpah tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan mudah dan ia juga tidak akan mempercepat kematiannya.


Bertepatan dengan anggukan kepala Juan sebagai jawaban atas pertanyaan ayahnya, ponsel pemuda itu berdering dengan kerasnya dan nama yang tertera di sana adalah nama yang sedari tadi jadi inti pembicaraan mereka.


Mata Juan menyalang tangannya semakin mengepal erat, rasanya semua emosi di dalam dadanya ingin meledak.


****


Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU dan terimakasih pula buat yang sudah memberikan like, coment dan juga votenya.


Ay cuma mau ingatkan bahwa nanti akan ada cerita dari si kembar di extra chapter TAKDIR CINTA jadi buat kalian yang ingin tahu kisah mereka jangan hapus cerita itu dari daftar favorit kalian agar nanti jika si kembar sudah up kalian dapat dengan segera menerima notifikasinya.

__ADS_1


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2