Terjerat Cinta Si Cupu

Terjerat Cinta Si Cupu
Tidak tahu malu


__ADS_3

"Bolehkah aku duduk di sini?" tanya Juan kepada Hara dan Jodi yang tengah makan siang bersama.


Jodi tampak terkejut dengan kedatangan Juan, ia belum tahu jika pemuda itu kini menempuh pendidikan di kampus yang sama dengan dirinya dan juga Hara.


Sementara itu Hara memutar bola matanya malas. Gadis itu enggan duduk berdekatan dengan Juan, apalagi ada banyak pasang mata wanita yang menatap tajam ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan di sini Juan?" tanya Jodi yang sejujurnya tidak senang dengan kehadiran Juan karena ia tahu pemuda itu menyukai Hara dan dapat menghambat rencananya untuk menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya.


"Tentu saja aku kuliah, memang kau pikir aku di sini untuk menanam bunga," jawab Juan santai, pemuda itu duduk di hadapan Hara dan menatap gadis yang kini tengah menahan tawanya akibat perkataan Juan.


Hara membayangkan bagaimana rupa Juan ketika menanam bunga seperti yang beru saja pemuda itu katakan. Sungguh membuat gadis itu merasa geli saat dirinya membayangkan Juan berada di taman bunga dengan topi besar di kepalanya dan memegang sebuah gunting rumput di tangannya.


"Apa yang lucu?" tanya Juan mengetahui Hara tengah menahan tawanya.


Gadis itu sedikit salah tingkah, tapi kemudian dapat mengontrol emosinya, "Kau yang lucu," jawab Hara acuh mengalihkan pandangannya pada makanan yang ada di meja.


"Aku?" Juan menunjuk dirinya sendiri dengan sendok yang tengah di pegangnya.


"Bagian mana dari diriku yang menurutku lucu?" pemuda itu kembali bertanya dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Hara membuat wajah Hara merona merah karena jarak wajahnya kini dengan Juan begitu dekat.


"Ehm ..." Jodi berdehem, ia tidak menyukai Juan yang terang-terangan mendekati Hara di hadapannya. Apalagi setelah ia melihat reaksi gadis itu yang tersipu malu ketika wajah mereka saling berdekatan.


Juan sendiri bersikap acuh seolah yang baru saja ia lakukan tidak berpengaruh apapun kepadanya. Pemuda itu menarik kembali dirinya menjauhkan tubunhnya dari Hara kemudian melanjutkan makan siangnya dengan tenang.


"Sikapmu yang membuatku merasa lucu," jawab Hara setelah berhasil mengendalikan perasaannya berada terlalu dekat dengan Juan.


Juan menghentikan makanan yang akan ia masukkan ke dalam mulutnya. Pemuda itu mengernyitkan kedua alisnya tidak mengerti sikapnya yang seperti apa yang menurut Hara lucu.


"Sikapmu yang tidak tahu malu masih berada di hadapanku setelah aku peringatkan untuk menjauhiku. Itulah yang membuatku merasa lucu dan ingin sekali tertawa terbahak-bahak," sambung Hara, gadis itu bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan kantin di susul dengan Jodi di belakangnya.


Juan tidak tinggal diam, pemuda itu mengejar Hara kemudian menahan lengan gadis itu dengan tangannya.


"Lepaskan Juan!" Hara berteriak marah kepada pemuda yang kini menahan tangannya.


Juan menarik tubuh gadis itu untuk mendekatinya, ia berbisik di telinga Hara, "Aku bahkan dapat berbuat lebih tidak tahu malu lagi dengan menciummu di sini sekarang juga jika kau tidak menjauh dari temanmu itu!" ancam Juan membuat Hara membelalakan kedua bola matanya.

__ADS_1


"Hentikan Juan!" tegur Jodi menepuk pelan bahu pemuda yang tengah di kuasai rasa cemburu itu.


"Singkirkan tanganmu dan ini juga bukan urusanmu!" tukas Juan tidak suka apa yang di lakukan Jodi. Pemuda itu tahu bahwa Jodi lah yang selama ini mempengaruhi ayah Hara dan mengatakan tentang taruhan itu yang membuat Jodi murka kepadanya.


"Temui aku dua jam lagi di taman belakang kampus!" Juan berbisik di telinga gadis itu kemudian segera berlalu pergi menuju kelasnya.


Maaf Hara, aku tidak akan pernah menjauhimu. Kau milikku dan tidak ada orang lain yang dapat merubah itu termasuk ayahmu, gumam Juan dalam hatinya.


Ia telah bertekad akan memenangkan hati Hara dengan cara apapun. Pemuda itu juga telah memiliki rencana untuk mendekati Donny guna memperoleh restu dari pria itu.


Apa lagi yang dia inginkan?" tanya Hara dalam hatinya.


Sejujurnya ia tidak ingin berada terlalu dekat dengan Juan karena hal itu akan dapat menggoyahkan perasaannya. Ia tidak mau mengingkari janjinya dengan sang ayah. Bagaimanapun juga hanya Donny yang di miliki oleh gadis itu sehingga Hara tidak ingin membuat pria paruh baya tersebut kecewa akan dirinya.


"Ada apa denganmu?" tanya Jodi lembut berusaha untuk masuk ke hati Hara melalui celah yang di buat oleh Juan yang kini tidak di restui oleh ayah dari gadis itu.


"Tidak ada, aku akan kembali ke kelas," jawab gadis itu yang kini meninggalkan Jodi sendirian di lorong. Entah mengapa Jodi merasa sikap Hara kepadanya berubah setelah ia memberitahukan Donny tentang taruhan yang di buat okeh gadis itu dengan Juan.


Hara semakin menjauhinya, walau memang terkadang gadis itu tidak secara terang-terang tapi Jodi dapat merasakan jika kedekatannya yang dulu bersama gadis itu telah berubah. Mereka tidak dapat lagi bergaul akrab seperti dulu lagi. Hara seolah membangun dinding pembatas di antara mereka.


Juan menepati perkataannya, pemuda itu menunggu Hara dua jam kemudian setelah kelas mereka selesai. Di sinilah sekarang pemuda itu berada. Di sebuah taman kecil di belakang kampus yang tidak terlalu ramai.


Sementara itu Hara baru saja keluar dari kelasnya. Ia sengaja memilih meninggalkan kelas paling akhir karena gadis itu masih memikirkan tentang perkataan Juan yang mengajaknya bertemu di taman belakang.


Gadis itu berjalan lambat-lambat. Hara masih ragu apakah akan menemui Juan atau malah menghindarinya. Jika ia datang untuk menemui Juan sudah tentu hatinya yang selama ini telah ia kuatkan tentu akan goyah.


Pesona pemuda itu terlalu kuat sehingga Hara tidak mampu untuk menolaknya. Di hadapan Juan, gadis itu hanya akan menjadi zat cair yang terus meleleh dan tidak berdaya mengendalikan perasaannya.


"Hara, ayo aku antar pulang!" tawar Jodi namun di jawab dengan gelengan kepala gadis itu.


"Aku masih ingin ke perpustakaan," tolak Hara secara halus. Sebenarnya gadis itu sedikit tahu tentang perasaan Jodi kepadanya ketika pemuda itu memutuskan untuk mengatakan taruhan yang ia buat bersama Juan kepada ayahnya.


Untuk itulah saat ini Hara selalu berusaha menghindar karena sedari awal gadis itu hanya menganggap Jodi sebagai sahabatnya tidak lebih dan juga tidak kurang.


"Tapi cuaca mulai gelap, mungkin sebentar lagi akan turun hujan!" tukas Jodi berusaha membujuk Hara agar gadis itu mau di antarnya.

__ADS_1


"Aku sudah minta Papi untuk menjemput setelah selesai," ucap Hara berbohong, ia hanya tidak ingin berada dekat dengan Jodi karena pemuda itu telah mengkhianati kepercayaannya.


"Baiklah kalau begitu berhati-hatilah!" pesan Jodi, pemuda itu tidak dapat lagi memaksa setelah Hara mengatakan bahwa sang ayah yang akan menjemputnya. Jodi tidak ingin membuat Donny yang sifatnya keras itu membencinya.


Setelah kepergian Jodi, Hara melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Sudah lewat dari setengah jam dari waktu yang Juan katakan untuk menemuinya di taman belakang.


Hara ingin melangkah ke tempat itu untuk menanyakan Juan apa yang sebenarnya di inginkan oleh pemuda itu untuk datang ke Indonesia setelah ia berusaha melupakan apa yang pernah terjadi di antara mereka berdua.


Namun, baru saja gadis itu ingin melangkah menuju taman belakang kampus. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya, angin juga bertiup dengan kencang.


Hara kembali melihat jam di tangannya, "Dia tidak mungkin menungguku selama ini kan? Apalagi sekarang hujan deras," gumam Hara.


Dengan pemikiran seperti itu akhirnya gadis tersebut mengubah tujuannya. Ia melangkah menuju perpustakaan menunggu hujan reda untuk kembali pulang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hem ... kira-kira Juan masih nunggu Hara gak ya?


Terus apakah Hara nantinya akan membuka hati untuk Juan?

__ADS_1


Ikutin terus ceritanya, jangan lupa bagi poin di vote dan bagi koin di tips ya, wkwkwkwk.


Salam sayang buat Onty dan Akak.


__ADS_2