
"Nyonya muda maafkan saya!" Nela membungkuk 180 derajat bahkan hampir bersujud di kursi rodanya di hadapan Isvara.
Kini kondisi Isvara sudah lebih membaik, pundak kiri yang menjadi sarang dua peluru yang di latukan Brandon saat itu, kini sudah membaik keadaannya. Meskipun begitu, karna kondisi kehamilannya yang semakin membesar membuat semua waktu yang ia habiskan berada di atas kasur, dan itu semua tak lepas dari perintah Gerald,yang ingin istrinya cepat sembuh seperti sedia kala dan tak membiarkan sang istri merasa kecapekan.
Siang ini Isvara di kejutkan dengan kedatangan Nela dan Dewi, juga permintaan maaf tiba-tiba dari Nela, ia tahu jika Nela telah bekerja sama dengan Brandon untuk mencelakainya, Bagaimana pun Nela memang bersalah namun akankah Isvara bisa berlapang hati kali ini?
"Bangunlah, kamu hampir terjengkang jika membungkuk seperti itu."
Nela menengadah, di lihatnya air muka sang majikan yang tersenyum tulus padanya, rasa bersalah Nela semakin menjadi-jadi.
"Maaf nyonya, sekali lagi maafkan saya." Nela akhirnya tak bisa membendung air mata, dia terisak- membuat Dewi di sampingnya juga ikut menitikkan air mata.
"Tidak apa-apa, semuanya sudah terjadi, apalagi yang harus di sesali?"
Isvara lalu menengok ke samping, di lihatnya sang suami yang berdiri menyandar di sisi pintu, Gerald mengangkat sudut bibirnya, memberikan jempol, percaya bahwa istrinya akan bersikap bijak dan dewasa.
"Tapi ku harap kamu bisa mempertanggungjawabkan apa yang kamu lakukan."
"Apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai, begitulah istilah yang sering kita dengar kan?"
Nela mengangguk cepat. "Saya pasti akan menebus dosa apa yang saya lakukan, saya sudah siap menerima konsekuensinya."
"Saya menyesal nyonya, karna nafsu sesaat juga obsesi saya terhadap tuan Gerald, membuat semuanya menjadi hancur seperti ini, saya menyesal." Nela kembali terisak.
"Saya juga telah membuat keluarga malu karna perbuatan saya, saya sangat menyesal."
"Dan ibu saya ... " Nela tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.
Sejenak Isvara dan Gerald saling melempar pandang, Gerald yang melipat tangan di depan, mengangguk, sambil sesekali terpejam, tanda percaya padanya.
"Nela, mengenai ibu mu, kamu tak usah khawatir, selama kamu menjalani hukuman nanti, kami yang akan menjaga ibumu."
*
*
*
"Brandon, sampai kapan kamu mau sembunyi seperti ini?"
__ADS_1
Wanita dengan gelang emas berderet-deret di tangannya itu melenguh panjang di sofa tunggal.
"Mommy takut, namamu pasti sudah di sebar sebagai orang yang sedang di cari, kamu buronan Ndon."
"Mom! udah dong, jangan ngomong itu terus. Selama aku ada di apartemen ini aku bakal tetap aman."
"Rencananya aku bakal ubah semua indentitas ku, mommy tenang aja, kita semua, Aku, mommy,dan Brinda, kita akan lari keluar negeri."
"Kamu pikir semudah itu? kau tahu om mu mengabarkan, sekarang polisi sedang menyelidiki kasus kriminal mu yang lain, karena masalah ini para wanita yang pernah menjadi korban mu, sekarang sudah menunjukkan eksistensi mereka, karena semua ini, mereka semua sedang mengincar mu!"
Arini terisak, Brandon mendesis. Brinda yang baru pulang dari mengerjakan tugas kuliah nya pun, segera menghampiri ibunya.
Brinda memeluk sang mommy. "Kak, mommy kenapa nangis lagi? gara-gara kakak?"
Brandon berdecak malas. "Gak tau, mending bawa mommy ke kamar aja."
"Kak ... mommy benar, sampai kapan kakak mau begini terus?"
"Ck, anak kecil gak usah ikut-ikutan!"
Brinda menatap tajam dengan mata berembun. "Kak,aku tuh malu tau gak? kakak tuh sekarang jadi trending topik di kampus ku, dan aku," Brinda menunjuk dirinya. "Sebagai adik seorang buronan, aku tuh malu kak!"
"Memangnya siapa? kakak?" Brinda mendengkus. "Bahkan kakak aja gak pernah perduli sama aku dan mommy, selama ini kak Mahesa yang selalu ada buat aku, di kampus, dia yang selalu ngelindungin aku dari omongan jahat orang-orang. Dan itu semua karna kakak!"
"Alah persetan!" Brandon berdiri dari tempat duduknya, merasa frustasi. " Lo itu udah kemakan hasutannya si Mahesa tau gak?!" bentaknya pada Brinda.
"Coba aja kalau gak ada anak pungut itu di keluarga ini, coba aja om Arya gak pernah nikah sama si Ja*lang itu? kita semua gak akan hidup susah kaya gini!"
"Cuih!" Brandon meludah ke lantai. "Mereka lebih memilih orang baru dari pada kita yang sudah jelas-jelas memiliki ikatan darah!"
Arini menggeleng, tidak, putranya salah. Mereka bukanlah keluarga kandung, tak ada hubungan darah di antara mereka.
Hari ini, Arini harus membeberkan faktanya sendiri pada anak-anaknya.
"Tidak Brandon, kamu salah!"
"Salah apa mom?"
Tepat saat Arini hendak membuka mulut, suara dobrakan pintu mengagetkan mereka, sontak mereka menoleh ke asal sumber suara. Semuanya menatap was-was, tak ada yang bersuara.
__ADS_1
Brak!brak! suara dobrakan pintu kembali terdengar keras, Brinda yang memang dasarnya penakut langsung memeluk lengan sang mommy.
"Mom, aku takut." cicit gadis dengan tubuh semampai bak model itu.
Arini menatap anak gadisnya itu, merasa bersalah, karna tak seharusnya, Brinda mengalami ini semua.
"Mom, please jangan di bukain pintu, jangan!" Brandon menatap was-was, melihat gelagat mommy nya Membuat Brandon khawatir.
Arini menggeleng, air mata kembali deras membasahi pipinya. " Brandon, selama ini mommy selalu menutupi kejahatan yang selalu kamu lakukan, menyuap polisi, pengecara, bahkan pengadilan, sudah mommy lakukan semuanya untuk mu."
"Kasih sayang ibu itu sepanjang masa," Arini mengatakannya dengan bibir bergetar. "Tapi kasih sayang seorang itu hanya sepanjang gala."
"Mom, apa yang mommy lakukan?" Brandon sudah merasakan hal yang tidak enak, mommy nya terus melangkah ke arah pintu yang terus di dobrak dari luar.
"Buka! atau kami akan hancurkan pintu ini!" suara di luar membuat bulu kuduk Brandon meremang seketika.
" Mom, jangan gila, mommy mau nyerahin aku ke kantor polisi gitu?"
"Kamu harus menebus kesalahan kamu Brandon." Brandon menggeleng.
"Mommy sekarang sadar, semua yang kita lakukan itu salah, tidak ... harusnya mommy yang harus di salahkan di sini."
"Mommy tidak bisa mendidik kalian dengan baik." Arini terisak lagi, kali ini tangis Brinda sudah pecah, ingin memeluk sang mommy namun Arini menjauh.
"Brandon, kamu ke luar lah, mommy yang akan menyerahkan diri ke polisi."
"Apa?!" keduanya terkejut.
"Lewatlah jendela itu Brandon!" Arini menunjuk ke sampingnya.
"Mommy, mommy jangan gila deh, mommy kenapa sih?" Brandon masih sempat-sempatnya berkelakar, berharap mommy nya hanya bercanda, seperti saat dulu ia kecil, sang mommy selalu mengerjainya.
"Dengar kan lah ini, Brandon, Brinda." Arini menatap keduanya bergantian.
"Satu fakta yang harus kalian tahu, yang mungkin akan kalian benci seumur hidup."
Hening sejenak.
"Kalian bukanlah anggota keluarga wirasena, kalian bukanlah cucu kandung nyonya Triani."
__ADS_1