TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 99


__ADS_3

Brandon tak mengerti apa yang akan di rencanakan sang mommy, Namun dia tetap tidak bisa diam saja di sini. Akan dia pastikan dia akan membalas dendam pada orang-orang itu.


Terutama si sialan Nela itu, yang berani-beraninya mengatakan itu di depan polisi tadi. Bagaimana pun caranya dia harus bisa keluarga dari sini.


Brandon berjalan di kursi panjang, berpura-pura berdehem, hingga membuat polisi yang berjaga menoleh padanya.


"Kenapa kamu?"


"Saya kebelet pipis pak, bisa buka borgol nya dulu?"


Polisi itu tersenyum sinis. "Kamu pikir saya anak kecil bisa di tipu begitu?"


"Sialan!" Brandon mengumpat. Bagaimana pun rencananya harus berhasil.


"Tapi saya bener pak, jangan salahkan saya loh jika saya ngompol di celana dan membuat tempat ini bau."


Polisi itu berdecak, lalu meneriaki salah satu bawahannya.


"Antarkan dia ke WC, jangan sampai lengah."


"Siap, pak!" polisi itu lalu berjalan dan tanpa sungkan menarik lengan Brandon dengan kasar. "Awas kamu kalau mau macam-macam!" ancamnya.


Ketua polisi di tempatnya berdecak. "Andai saja dia bukan orang kaya, pasti udah lama mendekam di penjara."


Di sepanjang koridor yang terlihat sepi, Entah bagaimana Brandon sampai bisa melepaskan jeratan di tangannya. Brakk! tanpa basa-basi lagi Brandon memukul telak tengkuk sang polisi hingga terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Brandon mengambil pistol yang ada di saku sang polisi, polisi yang sedang kesakitan itu dengan sisa kekuatannya memegang kaki Brandon yang hendak kabur.


"Hei, mau lari kemana kamu?!"


"Sial, mati aja lo Sono!" brakk! dengan sekuat tenaga Brandon mendepak sang polisi hingga terjungkal.


Brandon langsung berlari sekencang yang ia bisa, dulu waktu semasa kuliah dia adalah atlet lari maraton yang cukup terkenal, karna kemalasannya Brandon tak pernah mengikuti kelas olahraga pagi. Sebenarnya dia pun punya bakat, sama seperti Gerald dan Mahesa dia pun punya Mahesa, jika saja dia didik dan perhatikan dengan baik dan tidak terlalu di manja, mungkin dia tidak akan seperti sekarang.


Alarm keamanan langsung berbunyi, namun Brandon sudah berlari sangat jauh sampai di pinggir jalan raya, dia menyetop salah satu taksi yang lewat. Brandon buru-buru masuk melepas jaket hingga tersisa kaos oblong.


"Jalan pak."


Tujuannya kini adalah apartemen yang saat ini di diami mommy dan adik kembarnya.


Sampai di sana, sang mommy kaget dengan kehadiran Brandon yang sangat acak-acakan.


"Brandon, kenapa kamu ada di sini?!" matanya membelalak saking terkejutnya ia sampai menutup mulut.


Brandon, tanpa menjawab langsung masuk ke dalam, Membuat wanita berusia 50-an itu semakin tercengang.


"Kunci mom!"


Arini dengan masih tak percaya mengunci pintu lalu menghampiri sang putra.


"Kenapa kamu bisa ada di sini? anak bodoh!"di pukulnya lengan putranya ini. "Kamu mau bikin mommy jantungan hah? kamu kabur dari kantor polisi lewat mana hah?"

__ADS_1


"Mom! biarin aku ngambil nafas dulu."


Hening, Brandon kaget melihat ternyata mommy yang kini menatapnya nanar dengan air mata yang sudah menganak sungai.


"Anak bodoh, bagaimana kalau nyawa my terancam hah? para polisi itu sedang mengincar mu sekarang?"


Tanpa kata lagi Brandon langsung memeluk sang mommy, menenangkannya. Meskipun sang mommy tetap memukulinya Brandon tetap tidak perduli.


"Sorry mom, I have no other choice."


(Maaf ma, aku gak punya pilihan lain)


"Please don't cry, I can't see it."


(Aku mohon jangan menangis, aku tidak bisa melihatnya)


Arini menggeleng, di dalam dekapannya putranya. "Mommy takut Ndon, mommy punya firasat kamu bakal tiada, mommy takut."


Brandon menggeleng dengan tatapannya yang tajam.


"Itu gak akan mungkin mom, sebelum aku membalas dendam pada orang-orang itu, Nyawaku gak akan pernah terpisah dari ragaku."


Di lepasnya pelukan. "Pokoknya mommy tenang aja, aku bakal tetap aman di sini, selama aku di sini para polisi itu tidak akan bisa melacak keberadaan ku."


Tapi firasat Arini berkata lain.

__ADS_1


Bagaimana pun firasat seorang ibu itu sangatlah kuat terhadap anaknya.


Dan Arini tidak ingin kehilangan putranya. Tidak ingin.


__ADS_2