TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 74


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga Gerald dan Isvara semakin hari semakin harmonis saja, bak pelangi setelah badai datang, penderitaan yang selama ini hinggap pergi sudah, tergantikan dengan kebahagiaan yang tiada tara, buah dari kesabaran mereka selama ini.


Pagi menyapa, kini kedua insani itu masih bergelut dengan ga*irah menggebu, di bawah kekungannya, Gerald benar-benar menghabisi sang istri dengan hujaman lembutnya. Mereka bergelung di dalam selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.


"Gerald, kamu sudah?" Isvara menatap sayu, mengusap rahang kokoh suaminya ini.


"Sebentar lagi sayang," ucap Gerald yang belum juga mencapai puncaknya.


Isvara terkadang di buat kuwalahan dengan keperkasaan pria ini, bak singa kelaparan sampai bertahun-tahun yang baru menemukan mangsanya, Gerald selalu meminta haknya setiap malam. Sepertinya apa yang di katakan pria itu tempo lalu benar-benar di wujudkannya, mereka akan berusaha setiap malam sampai benih itu tumbuh dalam rahim istrinya.


"Sayang, ini sudah berapa kali? Kamu belum juga sampai?" Isvara terkulai lemas, membiarkan Gerald di atasnya, bayangkan saja, mereka melakukannya dari selamam hingga pagi ini. Dan pria itu masih saja belum menyudahinya.


Gerald tersenyum tak menjawab, lalu dengan rakus mencium bibir sang istri, mempercepat temponya dan berakhir setelah memastikannya benihnya sampai ke rahim sang istri.


Gerald akhirnya pulas setelah puas, giliran Isvara yang bangkit dengan bagian sensitifnya yang terasa berdenyut.


"Dasar pria kejam, tak membiarkan ku istirahat," dengusnya, seperkian detik kemudian Isvara mendekat memberikan kecupan singkat di bibir pria itu, lalu terkikik sendiri.


"Ah, sepertinya aku sudah gila."


Menggeleng cepat merasa ada yang tak beres dengan dirinya. "Walaupun dia kejam tetap saja kamu mencintainya." monolognya, lalu pergi mengambil handuk,masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan, kini Gerald sudah segar dengan kemeja hitam yang di padukan dengan jas abu dan celana bahan senada, melirik pergelangan tangan kanannya, Gerald keluar kamar mencari keberadaan sang istri.


Sementara Isvara sedang berada di pantry menyiapkan sarapan, tak sengaja berpapasan dengan Brandon, Isvara tak menduga pria itu berada di rumah ini.


Brandon mematung menatapnya dari atas sampai ke bawah, Membuat Isvara mengkerut dahi, merasa risih.


Brandon mendengkus. "Bahagia ya lo sekarang?"


Isvara tak paham, pertanyaan pria itu seperti mengandung banyak arti. "Kau kenapa?"


"Lo itu gak peka atau gimana sih?" Brandon tiba-tiba meninggikan suaranya.


"Lo gak tau selama ini gue suka sama lo?"


Duarr! seperti ada guntur yang datang mendadak, pernyataan Brandon sungguh mengejutkan Isvara.


"Selama ini gue berusaha untuk misahin lo sama Gerald karna gue pengen ngebahagiain lo, tapi nyatanya? lo malah terbuai sama tipu daya si Gerald itu, dan luluh begitu aja."

__ADS_1


"Setelah penderitaan besar yang dia berikan ke lo, lo terima dia begitu aja,Var? di mana otak lo?"


"Kamu apaan sih? lagi ngelantur ya? mending minggir aku mau ngambil gelas."


*Tunggu!" tanpa di duga Brandon mencekal tangannya. "Lo dengerin gue gak sih?"


"Denger ini Isvara, gue tau ini gila, tapi gue benar-benar cinta sama lo? sejak kapan? dan di mana, atau bagaimana tepatnya? gue gak tau, tapi satu hal sejak pertama lo datang ke rumah, gue udah ngerasain hal berbeda dari lo, gue tau awalnya gue jahat sama lo,tapi itu semata-mata karena gue ingin menyadarkan lo, kalo Gerald itu gak pantes buat lo."


Isvara meringis, berusaha melepas cekalan Brandon. "Lepasin Brandon, kau gila ya!"


"Jangan pernah berbicara hal buruk tentang suamiku, dan stop merasa sok paling benar tentang kehidupan ku! lepaskan!"


"Gak,gak akan gue lepasin, karna saat gue menyukai sesuatu, gue bakal dapetin itu bagaimana pun caranya!"


Duakkhh! tiba-tiba tubuh Brandon terjengkang ke belakang. Gerald datang memberikan bogem pada pria itu.


"Gerald,jangan!" Isvara menghentikan tubuhnya saat Gerald hendak menyerang pria itu, amarah yang sudah di ubun-ubun seketika lenyap karna tatapan lembut dari istrinya.


Gerald menghela nafas panjang,lalu menatap Brandon yang kini juga menatapnya dengan sengit. "Selama ini gue udah berusaha sabar karena lo sepupu gue, anak dari bibi yang paling gue sayang, tapi ternyata diamnya gue malah bikin Lo makin ngelunjak!"


Gerald maju, menarik kerah baju pria itu, seketika Isvara panik, namun Gerald merentangkan tangannya agar Isvara tak ikut campur.


***


Setelah kejadian itu, Gerald mendiamkan Isvara, pria itu memakan sarapannya dengan kursi yang berjauhan dengan sang istri, dan itu membuat Isvara bingung sendiri. Setelah acara sarapan selesai, Isvara kini mulai mendekati Gerald yang sedang memakai dasinya di depan cermin.


"Biarkan aku yang pakaian." Gerald menurut, tak banyak bicara menyerahkan dasinya, lalu Isvara mulai memasangkannya.


"Kamu kenapa? mendiamkan ku?" tanya Isvara di sela kebisuan yang terjadi.


"Aku cemburu."


Waw, Isvara terkejut, melebarkan mata sedikit terkekeh, pria di depannya ini sungguh frontal sekarang.


"Kenapa kau malah senyum? puas melihatku tersiksa karena cemburu?" pria itu menatap datar.


"Tidak." Isvara berusaha menahan tawanya, lucu sekali rasanya saat Gerald berekspresi seperti ini.


"Tapi cemburu mu gak ada alasan loh? Brandon tadi benar-benar tidak sengaja saat menyentuh tangan ku."


"Kamu pikir aku tidak mendengar pembicaraan kalian? saat dia menyatakan dia menyukai mu? rasanya aku ingin membunuhnya sekarang juga hanya dengan mengingatnya saja." wajah pria itu terlihat garang.

__ADS_1


Isvara diam, merasa tertangkap basah. "Baiklah aku minta maaf tidak menghentikannya saat mengatakan hal itu padaku."


Gerald kini tak mengalihkan pandangannya lagi, menatap sang istri yang setinggi hanya batas dadanya saja.


Gerald lalu sedikit membungkuk, merengkuh tengkuk Isvara dan mencium pelipis wanita itu, lalu juga kening dan terakhir di bibir. Meskipun sudah berulang kali mereka melakukan ini tetap saja Isvara terperanjat kaget, jantungnya tetap berdetak sangat kencang, dan merasa malu, pipi wanita itu bahkan sudah memerah seperti tomat matang.


"Sudah marahnya?" Isvara berkata pelan dengan mata mengerjap-ngerjap.


"Belum." Gerald berkata datar.


Isvara membola. "Eh,kok belum?"


Wajah Gerald yang datar berubah seketika. "Aku hanya bercanda." pria itu mendengus geli, membuat Isvara lantas memberikan pukulan pada dada pria itu.


"Berhenti bercanda begitu, aku gak suka ya!" matanya melotot marah.


Gerald malah semakin tergelak, "Baiklah, baiklah aku minta maaf."


Isvara mencebik. "Kamu kaya abege labil tau gak!"


"Hahaha, baiklah, tidak akan lagi," ucap Gerald lalu pria itu kembali serius.


"Tapi tetap saja, berhati-hati lah dengan Brandon, dia pria yang licik, aku sangat mengenalnya, langsung beritahu aku jika dia macam-macam dengan mu."


Isvara tersenyum. "Baik, boss!" terkekeh Membuat Gerald gemas, mengusap pucuk kepalanya.


Hening sejenak, mereka hanya saling memandang, lalu tangan kokoh Gerald bergerak mengusap perut Isvara yang masih rata, Isvara yang terkejut mengikuti arah pandang suaminya.


"Sayang kau tahu, aku sudah sangat berharap benih ku sudah tumbuh di dalam sini."


Isvara tersenyum kecut, sejak dulu Gerald memang sudah sangat menantikan adanya buah hati di tengah-tengah mereka.


"Aku ingin--" belum sempat Gerald menyelesaikan ucapannya pria itu seperti terserang mual yang luar biasa.


"Hoekk!" Isvara yang kaget langsung menopang bahunya. matanya terbelalak saat Gerald mencoba menahan sesuatu yang ingin keluar. "Hoekk!"


"Gerald,kamu kenapa?" Isvara sangat khawatir sekaligus panik.


"Hoekk! hoekk!" Gerald tak menjawab malah langsung pergi dari sana meninggalkan Isvara, lalu menuju wastafel.


Ada apa dengan suaminya?

__ADS_1


__ADS_2