
Gerald membawa buket bunga mawar merah yang masih terlihat sangat segar di genggamannya, ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit ke tempat sang istri di rawat.
Kini kondisi Isvara sudah lebih stabil dari sebelumnya, hari ini pun dia sudah di bolehkan untuk pulang, bumil kesayangan Gerald itu sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala.
Gerald membuka pintu ruangan, terlihat wanitanya itu sedang duduk di temani oleh sang bunda dan Kayra yang kebetulan juga sedang menjenguk.
"Halo bidadari-bidadari ku!" Gerald berseru girang membuat ketiga wanita itu menoleh.
Bunda pertama menyapa, Gerald memeluknya sekilas, juga mengecup kening Kayra, dan terakhir beribu-ribu kecupan ia layangkan pada sang istri tercinta.
"Gerald, hentikan ih!" Isvara tersenyum geli. "Malu ada bunda sama Kayra."
"Lah, gak apa-apa kan Kay, nda?"
Bunda dan Kayra tersenyum. "Mending kita menyingkir dulu yuk Kay," Ujar bunda mengerti situasi.
Kayra tertawa. "Yuk Bun, ada yang mau bucin-bucinan jangan ada yang ganggu."
Gerald tertawa. "Emang paling pengertian deh."
Isvara mencubit rusuk pria itu, Gerald meringis seketika. "Awww, sakit sayang."
"Ya udah kami pulang dulu ya, nanti kesini lagi."
"Okee Bun dah."
Kini tersisa mereka berdua, Gerald mengukir senyum di wajahnya yang tampan ia lalu mengulurkan bunga mawar yang ia bawa.
"Buat bidadari nya aku."
Isvara tertawa geli. "Alay ih, kaya abege."
Gerald berpura-pura memasang wajah sedih. "Kok alay sih?"
Isvara kali ini benar-benar tertawa. "Ya udah maaf."
"Cantik bunganya kaya yang ngasih."
Gerald cemberut seperti anak kecil. "Kok cantik sih? ganteng dong harusnya."
"Salah mulu deh aku, gak ngerti ah." giliran Isvara yang berpura-pura ngambek.
"Ya udah maaf sayang." Gerald menduduki kursi yang ada di samping brankar.
__ADS_1
Ia lalu mengusap perut sang istri yang kian hari kian membesar, mereka saling menatap lalu sama-sama melempar senyum.
"Jagoan-jagoan papah lagi ngapain ya di dalam?" Gerald berbisik di perut sang istri.
"Papah kangen tau," bisiknya lagi Isvara tertawa kecil.
"Jangan ngerepotin Buna kalian ya."
Dug!dug! Gerald membelalak seketika. "Sayang, anak kita ngerespon!" gembiranya. Dia terlihat terkejut sekaligus tak percaya, anak-anaknya merespon ucapannya dengan tendangan.
"Benarkah? sepertinya anak-anak sudah mulai menyukai papah mereka."
"Harus dong, kecebong siapa juga?"
"Ish, mulai deh jailnya."
Gerald berpura-pura memasang wajah terkejut. "Lah emang bener kan? aku yang nyumbang kecebongnya, aku punya peran penting dalam pembuatan mereka."
Isvara kali ini tak bisa menahan tawanya lagi. "Iya, tapi gak usah di perjelas gitu dong."
Gerald memang jailnya bukan main, selama Isvara koma dialah yang paling menderita, Gerald seperti kehilangan separuh jiwa dan hidupnya, kini melihat sang istri yang sudah ceria seperti sedia kala membuatnya seperti kembali hidup.
"Oh, Sayang, apa kamu udah ngeliat keadaan Brandon?" tanya Isvara.
"Selama tiga minggu ini dia koma, kondisinya masih belum kondusif, dia baru saja siuman mungkin aku akan menjenguknya lain kali."
Sebenarnya Isvara juga sudah di perbolehkan pulang dari seminggu yang lalu, tapi karna kondisi kehamilannya membuat dokter memintanya untuk tinggal beberapa waktu lagi di rumah sakit sampai kini dia sudah benar-benar di perbolehkan pulang.
"Kamu gak benci kan sama Brandon?"
"Sayang, hati kamu ini terbuat dari apa sih?" Gerald menatap dalam Isvara.
"Bohong kalau aku bilang gak benci, dia udah mencelakai wanita yang paling penting dalam hidup ku, tentu tak mudah mengabaikan perbuatannya itu."
"Bahkan kalau di tanya, aku sangat membencinya."
Isvara menatap sendu. "Tapi dia juga saudara mu."
"Sayang!" Gerald menekankan kata-katanya kali ini. "Please,jangan ngomongin itu dulu ya?"
Isvara mengangguk mengerti, dia tak bertanya lagi, namun dalam lubuk hatinya berharap Brandon bisa berubah kali ini.
Sementara di tempat lain.
__ADS_1
Brak! makanan yang sudah di siapkan jatuh seketika ke lantai, Piring dan mangkuk pecah seketika, Brinda terkesiap.
"Bawa pergi semua ini gue gak butuh."
"Kak jangan seperti ini, kakak perlu nutrisi."
Mata Brandon memerah, pria itu habis menangis dan mengerang kencang.
"Gue cacat Brinda, sekarang gue udah cacat!"
"Kak ... "Brinda menangis kencang.
"Gue gak bisa nerima ini semua, mendingan gue mati sekalian!"
"Kak, kakak mau ngapain?!" Brinda terkejut tak kalah Brandon menarik jarum infus di punggung tangannya begitu saja.
"Kak, jangan begini!" pria itu mengamuk, Brinda kalut doa mencoba menenangkan sang kakak, namun tenaganya bahkan tak bisa untuk sekedar menarik tangan kakaknya.
"Gue udah cacat, untuk apa lagi gue hidup!"
Brinda menangis terisak-isak, ia mencoba terus untuk menenangkan kakaknya yang tiba-tiba tantrum.
"Kak, Jangan begini, Bri mohon, Bri cuma punya kakak sekarang."
Namun Brandon tak juga luluh, Membuat Brinda tak bisa lagi menghentikannya, di saat itulah seseorang datang, Brinda menoleh, itu om Arya.
"Brandon! kamu apa-apaan hah!" Aryaloka seketika mendekat, ia memencet tombol di atas brankar, tenaganya Brandon sangat kuat Padahal dia baru saja pulih.
"Kamu jangan seperti orang bodoh Brandon!"
Tak bisa lagi menghentikannya, Aryaloka seketika melayangkan sebuah tamparan di rahang pria itu.Brandon akhirnya diam, nafas mereka memburu, Brinda kembali menangis.
"Bodoh! apa kau tak kasihan dengan ibumu hah!"
"Mempunyai anak yang benar-benar tak berguna seperti dirimu."
Brandon menunduk dengan rahang mengeras.
"Adik ku sekarang masuk ke dalam RSJ itu karna dirimu!"
"Tapi bukankah dia itu bukan adikmu?" perkataan Brandon Membuat Aryaloka seketika diam.
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN GIFT DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA!