
Gerald yang saat ini berjalan santai menuju pantry, di buat penasaran oleh bayangan seseorang yang tiba-tiba berkelebat.
Gerald memicingkan mata, untuk melihat jelas, dari bentuk tubuhnya yang mungil sudah di pastikan dia adalah wanita. Namun karna posisi membelakanginya dan wanita itu memakai selendang dia tidak bisa melihat wajahnya.
"Apa jangan-jangan dia penyusup," gumam Gerald. Lalu ia berinisiatif untuk mengikuti langkahnya.
Namun saat hendak menuju keluar, seseorang mengagetkannya dari belakang.
"Kak," Brinda menepuk pundaknya. Gerald menoleh dengan terkejut.
"Oh, ada apa Bri?" Perhatian Gerald jadi tak fokus. Wanita itu sudah menghilang dari pandangannya.
"Harusnya aku yang nanya gitu,kakak ngapain di sini?"
"Kakak abis ngambil air, gak sengaja liat bayangan orang, jadi kakak ikutin," ucap Gerald.
Brinda mengikuti arah pandang Gerald, namun ia tidak menemukan siapa-siapa.
"Kakak ngelantur ih, gak ada orang kok," ucap Brinda.ntah kenapa tengkuknya jadi merinding.
Gerald mengangguk-angguk. " Mungkin, sepertinya kakak terlalu kelelahan."
Brinda mengangguk, mengiyakan. Lalu ia mulai ingat untuk membicarakan tentang pesta yang akan Gerald datangi.
"Kak, eum ... tentang pesta kolega om Arya, pak Subroto, eum ... Bri boleh ikut juga gak?"
Pandangan Gerald kini fokus pada Brinda. "Kamu mau ikut?"
Brinda mengangguk. "Lagian kan ini pesta ulang tahun anak pak Subroto, kebetulan dia itu temannya Brinda juga,boleh ya kak."
Gerald tampak berfikir sejenak. "Oke," katanya.
"Asal jangan sampai berbuat aneh-aneh yang sampai mempermalukan perusahaan."
Brinda berteriak riang. "Horeee, makasih kak."
"Oh ya, buat partner nanti kakak bakal ngajak kak Laura kan? gak mungkin dong kalo kakak ngajak si gadis kampungan itu?"
Gerald tampak diam, ia tidak tau harus menjawab, pun tidak terpikirkan untuk mengajak Laura. namun dia hanya mengangguk saja.
Isvara atau Laura? siapa yang akan dia pilih untuk ia ajak ke pesta?
***
Sementara kini Isvara sudah tiba di halaman belakang, sudah ada Brandon yang menunggunya di sebuah paviliun kecil yang ada di sana.
"Lo datang juga." Brandon tampak sumringah.
"Aku hanya mengikuti kata hatiku saja."
Senyum Brandon semakin lebar. "Itu bagus."
"Jadi apa keputusan lo?"
Isvara diam sejenak, mengeratkan genggamannya pada selendang di kepala.
"Sebelumnya aku ingin bertanya, kenapa kamu sampai sebegini nya ingin membantuku? kenapa kamu terkesan sangat perduli padaku?"
__ADS_1
"Perduli? gak Isvara,no,no lo salah." pria itu terkekeh Membuat dahi Isvara mengkerut dalam.
"Realistis aja, gue ngebantu Lo, gue juga dapat imbalan,yaitu jadi pacar lo, seimbang bukan?"
"Lagian ada satu hal yang gue takut kan, yaitu Gerald yang udah mulai suka sama lo."
"Suka denganku? itu gak mungkin," ucap Isvara tidak percaya.
"Gue tau Gerald bahkan sejak orok Isvara, dia gak akan sebegitu perduli nya sama wanita kecuali kalo emang dia tertarik."
"Ingat, pas dia pulang dalam keadaan mabuk sama si Samuel, asistennya itu?"
Isvara mengangguk. ia masih ingat jelas saat Samuel mengantar Gerald yang mabuk berat.
"Itu semua karna lo. gue gak pernah ngeliat dia sebegitu putus asanya, dan semua itu karna lo."
Isvara masih tidak percaya. itu tidak mungkin, bisa saja kan dia Putus asa karena tidak bisa menikahi kekasihnya?
"Oke, gue bukanlah pria yang suka basa-basi, jadi Isvara apa keputusan lo?"
"Anu, begini beri aku waktu," ucapnya Membuat Brandon mendesah pelan.
"Kalo emang lo gak mau gak apa-apa, tapi gue sampai segininya sama lo karna murni pengen mempertemukan lo sama ayah lo."
Brandon adalah pria yang manipulatif, dia akan berpura-pura seakan tidak perduli atau menyerah, tapi sebenarnya tidak. ini hanyalah intrik.
"Tidak, aku juga ingin bertemu dengan ayahku, tapi ini semua sangat mendadak untukku, beri aku setidaknya waktu seminggu untuk berfikir."
Berhasil, Isvara memberikan jawaban yang dia inginkan, dengan begini gadis itu tidak akan bisa lari darinya.
Isvara tersenyum, hal yang tidak pernah Brandon liat sebelumnya.
"Damn it, wanita ini mempunyai senyum yang cantik."
"Oke, setelah seminggu, gue harap lo bisa memberikan kepastian buat gue."
Brandon akan masuk ke dalam hati Isvara secara perlahan-lahan.
***
Sesaat sudah Isvara pergi, ponsel Brandon berdering, ia mengangkatnya.
"Gimana, lo udah bikin gadis itu percaya?" suara seorang wanita di sebrang telepon.
"Belom,lo pikir mudah, dia gadis yang cerdik," ucap Brandon berbisik,agar tidak kedengaran.
"B*go kok gitu aja Lo gak bisa, gue gak mau tau pokoknya lo harus bikin gadis itu jatuh cinta sama lo dan menjauh dari Gerald," ucap wanita di sebrang telepon.
"Bacot, lo pikir gampang, duit seratus juta lo itu gak ada apa-apanya sama kepercayaan gadis itu," ucap Brandon kesal.
Hening sejenak, lalu terdengar kembali suara sang wanita.
"Oke, oke, gue bakal tambahin seratus juta lagi, asal lo bisa ngejauhin Isvara dari Gerald."
Brandon menyeringai. "Nah begitu dong, kirim ke rekening gue malam ini, gue pastiin Isvara bakal tergila-gila sama gue."
Tutt! sambungan telepon terputus sepihak. Brandon memandangi ponselnya.
__ADS_1
"Wanita, wanita, masalah percintaan tolol aja harus nyusahin gue," desisnya lalu melenggang pergi.
Siapa kira-kira wanita itu?
***
Pagi tiba, Gerald sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian casual rapi, hari ini libur dan dia akan menggunakan waktu santai berharga nya untuk mengajak seseorang ke pusat perbelanjaan.
Siapa lagi, jika bukan gadis itu, yup, Isvara. Gerald sudah memutuskan untuk mengajak Isvara sebagai pasangannya di pesta nanti.
Apakah ini awal yang baik untuk keduanya?
Gerald berjalan menuruni tangga dengan kacamata hitam yang bergelantung di kerah bajunya, jam rolex keluaran terbaru tak tertinggal menjadikan aura tuan mudanya sangat kental terasa.
Gerald sampai di depan pintu kamar Isvara, lalu pria itu mengetuk pelan, agar si empunya keluar.
Satu ketukan, dua ketukan, tidak ada yang menyahut. lalu karna kesal Gerald mengetuk pintunya sangat keras sambil meneriaki nama gadis itu.
"Isvara!!" kali ini Gerald benar-benar marah. dia tidak suka menunggu.
Lalu pintu terbuka Membuat Gerald berjengit, pria itu berusaha menormalkan raut wajahnya.
"Lo budek beneran apa gimana sih?!" bentaknya Membuat nyali Isvara ciut seketika.
"Maaf, gak kedengaran, ada apa emangnya?"
Mendadak Gerald menjadi grogi, bagaimana ya mengatakannya? tidak mungkin kan dia langsung to the point mengajak gadis itu pergi.
Saat dengan Laura dulu Gerald tidak sampai susah seperti ini, malahan terkadang wanita itu yang lebih dulu mengajaknya keluar.
Haruskah ia belajar dari Samuel sang Cassanova? Ah, jangan-jangan, bisa-bisa makin ancur.
"Eeee ... itu apaya? oh Iyah, ayo ikut denganku."
"Kemana?"
Benar, kemana ya? Aduh, kenapa dia mendadak menjadi grogi begini?
"Aduh, tenanglah jantung." gumamnya memegang dada sendiri.
Tuan muda yang satu ini memang gampang meleyot.
Isvara merasa ada yang aneh, ada apa dengan wajah Gerald yang memerah itu?
"Gerald?" Isvara melambaikan tangannya di depan wajah Gerald.
"Isvara, ayo kita berbelanja," ucapnya begitu lantang, Membuat Isvara juga ikut terkejut.
Gerald membalikkan tubuhnya, merasa malu. "Bodoh, bodoh apa yang lo lakuin?" rutuknya pada diri sendiri.
Sementara Isvara yang mengerti situasi, langsung terkekeh seketika.
"Oke, gue tunggu lo 10 menit buat siap-siap, awas jangan lama-lama, gue gak suka nunggu," ucap Gerald lalu berlari pergi.
Isvara tak bisa menyembunyikan tawanya. ia terbahak kencang.
"Apa tuan muda itu sedang salting?"
__ADS_1