TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab 49. True love


__ADS_3

~Pada akhirnya yang selalu ada akan kalah dengan dia yang memang sudah di takdirkan untuknya~


Mahesa Atmajaya


****


Setelah puas berkeliling menikmati sore indah di alun-alun kota,kini waktunya Gerald dan Isvara kembali ke rumah. Waktu senggang pria itu juga tak banyak, besok Gerald sudah di sibukkan dengan rutinitas kantor dan meeting penting yang akan di datanginya.


Mobil Ferrari Gerald berjalan mulus masuk ke basemeant rumah ini, Isvara sudah lebih dulu keluar. mengingat saat tadi Gerald mencuri kecupan di pipi gadis itu membuatnya seakan mabuk kepayang, dadanya berdebar-debar dan euforia langsung meledak dalam dirinya.


Benar kata ayahnya dulu, saat pria sudah menemukan wanita yang tepat dalam hidupnya, bahkan hal yang tidak bisa di lakukannnya pun akan di lakukan, dan kini Gerald mengalaminya sendiri.


Sementara Isvara melangkah masuk ke dalam rumah dengan boneka kelinci di dalam dekapannya, saat di depan pintu dia berpapasan dengan Mahesa.


Mereka saling terdiam, menatap satu sama lain, Mahesa memperhatikan Isvara, lengkungan senyum tak pernah pudar dari wajah manis Isvara.


"Bagaimana kencan mu dengan Gerald? menyenangkan?" suara pria itu hampir tercekat seperti di telan oleh tenggorokannya sendiri. tak di pungkiri ada rasa nyeri yang menjalar dari ulu hatinya.


Isvara mengangguk. "Kok kamu tahu?"


Mahesa mendengus geli, pria itu tersenyum. "Hanya dengan melihat senyuman di wajah mu aku sudah mengetahuinya."


Isvara menjatuhkan pandangan ke bawah, gadis itu memilin jarinya tampak canggung. Mahesa memperhatikannya.


"Nyatanya yang selalu ada akan kalah dengan dia yang memang di takdirkan untuk mu. perjuangan ku terasa sia-sia," ucap pria itu.


"Eh? apa?" isvara mendongak dengan mata melebar, apa maksud dari perkataan pria ini?


"Tidak ada." Mahesa masih menatapnya dengan tatapan teduh, lalu pria itu melangkah lebih dekat mengikis jarak, lalu dengan berani mengusap rambut coklat kehitaman milik Isvara.


"Jika memang suatu hari nanti kau akan bisa untuk mencintai Gerald." pria itu menelan saliva kasar berusaha menormalkan suaranya.


"Tolong jangan pernah lupakan aku, pria yang selalu ada untukmu kapanpun kamu butuhkan." dia tersenyum, mengusap pipi Isvara sebentar lalu pergi melewatinya.


Isvara terdiam, tak bisa berkata-kata lagi, genggamannya pada boneka kelinci di dekapan hampir mengendur. sudut matanya kini mulai berair.


***


Mahesa mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan, hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya. pria itu berusaha untuk menetralkan rasa yang semakin nyeri di dalam hatinya.


Nyatanya dia kalah sebelum benar-benar berjuang, dia tertolak sebelum menyatakan perasaannya.


"Kenapa? kenapa rasa ini datang terlambat? kenapa tidak saat aku menyelamatkannya?" Mahesa memukul kuat stir mobilnya.

__ADS_1


Mobil terhenti, nafas pria itu naik-turun tak beraturan. Mahesa menyandarkan punggungnya pada jok mobil.


"Jika memang kau tidak di takdirkan untuk ku, kenapa tuhan menitipkan rasa ini di dalam hatiku?"


***


Isvara duduk terpekur di tepian ranjang, gadis itu memikirkan perkataan yang di lontarkan Mahesa, seakan membayang di dalam kepalanya apa yang di ucapkan pria itu.


Sejak awal dia berada di sini, bisa di bilang Mahesa adalah orang pertama yang membantunya hingga kini sudah tak terhitung berapa kali Mahesa menyelamatkannya, selalu ada untuknya, menekan dirinya.


Isvara pikir Mahesa melakukan itu karena kemalangan dirinya membuat hati pria itu tergugah hingga terus membantunya, tak ada pemikiran lain selain itu dalam diri Isvara.


Tapi kini setelah apa yang di ucapkan Mahesa padanya, Isvara mulai berfikir ulang.


Apa itu pernyataan cinta dari Mahesa?


Tok!tok! suara ketukan pintu Membuat perhatian Isvara teralihkan, siapa gerangan malam-malam begini mengetuk pintu kamarnya?


"Gerald." Isvara sedikit terkejut saat dia membuka pintu, Gerald sudah berdiri di depannya dengan senyuman yang tak pernah luntur.


"Ada apa?" tanyanya.


"Boleh aku masuk sebentar saja?" ijin pria Itu.


"Kemarilah, aku ingin menunjukkan sesuatu," ucapnya.


Isvara mengangguk lalu mengambil tempat di samping pria Itu.


"Tutup matamu," pinta Gerald.


Lagi, Isvara mengangguk menurut, ia tak tahu apa yang akan di tunjukkan pria itu, tapi Isvara tahu dia tak kuasa untuk menolak.


"Sekarang buka." Isvara menurut lagi ia mulai membuka perlahan kedua kelopak matanya.


Betapa terkejut ia saat meraba lehernya sebuah kalung yang sangat cantik menggelantung indah di dana



Kalung dengan mata berkilauan itu seakan-akan sangat cocok di lehernya. Isvara memandangnya takjub lalu tatapannya jatuh pada Gerald yang kini menatapnya dalam dan lembut.


"Aku tahu kalung itu memang cantik, tapi bertambah cantik saat itu berada di leher mu."


"Kau suka?" tanya pria itu.

__ADS_1


Isvara mengangguk pelan. "Terimakasih, kalung ini sangat indah."


"Kau tahu, itu adalah peninggalan mamaku," ucap Gerald membuat Isvara terbelakak.


"Benarkah?"


Gerald mengangguk. "Ini kenangan terakhir yang mama berikan padaku saat ajal menjemputnya."


Kalung ini memang sudah sangat lama Gerald simpan, awalnya saat dia masih tergila-gila dengan Laura dulu, Kalung ini akan dia berikan padanya, namun ntah kenapa Gerald malah terus menyimpannya. Hingga kini kalung ini menemukan pemilik yang sebenarnya. juga pemilik hati Gerald.


"Kau lihat, aku juga memiliki kalung yang sama dengan mu." Gerald menunjukkan kalung di lehernya.


"Tapi ini adalah cincin pernikahan kita, aku sengaja menyulapnya sebagai kalung."


Isvara memperhatikannya, semua yang di berikan dan di katakan pria itu terasa tak nyata untuknya, rasa-rasanya baru kemarin ia kembali bersitegang dengan pria ini, lalu semuanya berubah hanya dengan satu malam.


"Gerald aku tahu ini akan menyakitimu." Isvara menatapnya.


"Tapi maaf, aku belum bisa mencintaimu."


Mendengar itu senyum yang sedari tadi mengembang kini mengendur, tatapan lembut pria itu kini berubah biasa.


"Kau tahu kan cinta tidak datang secepat itu, jika kau melakukan ini semua hanya karna ingin mengambil hatiku, aku tidak bisa memberikannya."


"Kenapa?" Gerald terkekeh pedih. "Kau mencintai pria lain?"


"Tidak." Isvara menjawab cepat.


"Tapi seperti yang ku bilang tadi, cinta tidak bisa datang secepat itu, aku sendiri masih bingung dengan perasaanku sendiri."


"Kau tahu, aku perlu waktu."


Gerald mengangguk, membuang nafas pelan-pelan. "Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu."


"Lagipula semua yang ku lakukan ini untukmu adalah murni karena aku mengikuti hatiku, bukan karna mengharapkan sebuah imbalan berupa cintamu."


Bukankah saat kita mencintai seseorang dengan tulus, kita tidak perlu imbalan apapun?


Isvara tersenyum. "Aku senang, kamu menunjukkan perubahan mu dengan signifikan, ku harap kamu akan benar-benar merubah sikapmu."


"Kau benar, aku harap begitu," ujar Gerald lalu dia mengambil kedua tangan Isvara dan mengenggamnya erat.


"Kau tahu, kau telah mengajarkan ku Bagaimana mencintai seseorang dengan tulus, memberiku sebuah jalan bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik lagi."

__ADS_1


"Ku harap kau akan terus menunggu ku hingga tiba saatnya aku pantas untuk mu."


__ADS_2