
"Sayang, kamu kapan bangun? aku di sini nunggu kamu loh?"
Gerald duduk di samping brankar sang istri, sejak pagi tadi kondisi Isvara sudah lebih kondusif walaupun belum membuka mata, namun dia sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat, Gerald sengaja memesan ruang VVIP untuk sang istri tercinta.
Gerald mengambil sebelah tangan Isvara, mengenggamnya dengan lembut, mengusap perut sang istri yang mana terdapat tiga janin kembar di sana.
"Kau tahu, kita akan segera menjadi orang tua untuk tiga bayi kembar," ucap Gerald, ada binar bahagianya di matanya.
"Terimakasih sayang, kau telah memberikan ku kebahagiaan yang tak terkira." mengecup punggung tangan sang istri.
Sudah ada kaca- kaca di matanya, Gerald dengan cepat mengusap ujung netranya yang berair, kulit putihnya memerah karna sedari tadi dia menahan mendung di wajah yang terus menggelayuti.
"Cepat sadarlah, aku di sini menunggu mu, baby." menaruh telapak tangan Isvara ke pipinya, tangan sebelahnya membenarkan rambut sang istri yang sedikit berantakan.
"Gerald!" pria itu menoleh, seseorang memanggilnya dari belakang.
"Keluarlah dulu, ada yang ingin papah bicarakan," ucap sang papah.
"Gak pah,aku mau di sini saja, menemani istriku, sampai dia siuman."
"Sebentar saja, ini tentang pelaku penyebab dari ini semua," ujar tuan Aryaloka.
Mendengarnya Gerald menegakkan badan, benar, ia sampai lupa tentang pelaku yang menjadi penyebab penyerangan ini.
Gerald membelai wajah sang istri. "Aku pergi sebentar ya, aku segera kembali." lalu mengecup kening Isvara dengan lembut.
__ADS_1
Setelahnya Gerald pergi mengikuti ayahnya keluar, untungnya ruangan ini telah Gerald jaga ketat dengan mengutus dua bodyguard di depan pintu agar keamanan sang istri lebih terkendali.
Gerald tak ingin kecolongan yang kedua kalinya, dia akan balas berkali-kali lipat pada siapa saja yang telah menyakiti wanitanya.
***
Gerald mengikuti sang papah hingga dia melihat tubuh tegap seorang pria dari belakang, sesaat Gerald menghentikan langkahnya saat pria itu berbalik.
*Samuel?" alis Gerald menyatu dengan wajah mengkerut.
"Hai." Samuel menyapanya dengan tersenyum, maklum karena setelah berbulan-bulan lalu baru kali ini mereka bertemu lagi.
"Pah, kenapa ada Samuel di sini?"
"Mending kita duduk dulu, biar nyaman ngobrolnya.
"Jadi begini Gerald, Samuel adalah orang yang memberitahukan lokasi saat penculikan Isvara, berkat Samuel lah kami bisa menemukan mu yang saat itu menghadapi Brandon sendirian, berkat strategi Samuel juga polisi datang tepat waktu meski saat itu tidak bisa mencegah Isvara yang tertembak."
"Tapi bagaimana bisa? saat itu bahkan tidak ada orang sama sekali yang lewat jembatan, aku pikir Brandon telah mengamankan tempat itu untuk memuluskan rencananya."
"Lo salah, di sekitar jembatan memang telah di jaga ketat oleh anak buah Brandon,tapi gue berhasil menyelinap dan sembunyi di sekitar rumah kosong, sebelum lo tiba di sana, gue udah tahu rencana Brandon yang ingin melenyapkan lo."
"Terus kalau lo emang tau sebelum gue datang, kenapa gak lo selamatkan istri gue saat itu."
"Itu terlalu berisiko Ger, Lo tau bahkan sebelum lo dateng Brandon udah berniat buat ngelecehin Isvara, gue ngedenger rencananya dari sela ventilasi rumah kosong itu, bersyukurnya lo dateng tepat waktu saat itu."
__ADS_1
Gerald menggeram, ia mengepalkan tangannya dengan kuat-kuat saat mendengar penuturan Samuel itu, akan dia pastikan Brandon mendapatkan balasannya.
"Pas lo lagi negoisasi sama Brandon saat itu, gue udah lebih dulu ngehubungin polisi, rencananya gue minta mereka datang pas kalau negoisasi lo sama Brandon saat itu gagal. Di luar dugaan Brandon malah kelewatan nembak Isvara sebelum polisi datang."
"Makasih ya Sam, gue gak tau kalau seandainya gak ada lo saat itu, gue terlalu terburu-buru dan ceroboh karena khawatir sampai gue gak mikirin masak-masak dulu buat lapor polisi sebelumnya."
"Gak apa-apa. gue juga sampai gak percaya, Brandon bergerak sejauh ini, dia benar-benar udah keterlaluan banget."
Gerald mengangguk. "Ternyata dia ngelakuin semua ini karena ingin kekuasaan di perusahaan juga mengambil alih pewaris utama dengan cara melenyapkan gue, dia pake Isvara sebagai tameng karna tahu itulah kelemahan gue."
Gerald lalu tersadar dan menengok ke arah papahnya.
"Pah, sekarang di mana lelaki pengecut itu? aku ingin menghabisinya."
"Sabar nak, sekarang Brandon ada di kantor polisi, mereka tengah membuat tuntutan untuknya."
"Aku ingin menemuinya pah, aku ingin menemui si bang*sat itu!"
*
*
*
*
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN, GIFT DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.