TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
73. Buah perbuatan baik dan buah perbuatan buruk


__ADS_3

Gerald dan Isvara kembali ke rumah, di kediaman mereka setelah menempuh waktu yang cukup panjang dan melelahkan.


Mereka di sambut di teras depan, ada tuan Aryaloka, nyonya Triani, mama Indira, Kayra, yang menyambut dengan suka cita, ada Mahesa yang ikut berada di garda terdepan namun beraut datar, satu sisi dia senang Isvara sudah kembali namun di sisi lain Mahesa tetap kalah tentang perasaannya.


Tidak apa-apa, setidaknya Isvara akan selalu bahagia setelah ini.


Bukankah cinta tidak harus memiliki? Melihat orang yang kita cintai bahagia pun sudah lebih dari cukup. Mahesa tersenyum.


"Selamat datang kembali." seluruh anggota keluarga menyambut terkecuali Arini dan putrinya yang terlihat malas-malasan.


Isvara tersenyum sangat merekah, merasa terharu begitupun Gerald yang menatap keluarganya dengan penuh perasaan yang membuncah.


"Akhirnya, kamu berhasil membawa Istrimu kembali, nenek bangga padamu." nyonya Triani memeluk cucunya sangat erat, sejak dulu Gerald memang paling dekat dengan neneknya.


Gerald akan selalu bermanja-manja pada neneknya, ketika dia rindu akan kasih sayang seorang ibu, meskipun Gerald mempunyai adik, tapi sikap manjanya tak pernah hilang, mempunyai ayah yang sibuk membuat Gerald terkadang sampai mencari gara-gara hanya karna ingin mendapatkan perhatian, oleh sebab itulah nyonya Triani selalu dekat dengan Gerald meskipun ada Kayra juga, namun beruntungnya Kayra gadis manis itu memiliki sikap yang terkadang lebih dewasa dari pada kakaknya.


Ah, cucu-cucunya tumbuh dengan sangat cepat, nyonya Triani tersenyum bangga sekali melihat perkembangan mereka.


"Isvara ... selamat datang kembali di keluarga wirasena." nyonya Triani giliran memeluk Isvara.


Kini, giliran Indira maju, semua orang memperhatikannya, mata indah wanita yang hampir mendekati setengah baya itu tampak berkaca-kaca, dengan gemetar tangannya terulur untuk mengusap rahang tegas milik Gerald, pria itu diam, terpejam menikmati sentuhan kasih sayang seorang ibu, kini Gerald mulai belajar sesuatu hal.


Dirinya sadar, selama ini terlalu membenci ibu sambungnya ini tanpa sebab, tanpa tahu apa yang di alami ibunya ini karna perlakuan kasarnya, Gerald sendiri di ceritakan oleh sang nenek kemarin-kemarin.


Fakta bahwa sebelum menikah dengan ayahnya, Indira adalah teman dari ibunya, Rani, Indira awalnya bersedia menikah dengan ayahnya karena permintaan dari Almarhumah ibunya sendiri.


Indira sendiri adalah seorang janda yang bercerai karena sang suami sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga, di kenalkan oleh sahabatnya Rani, ibu dari Gerald dan Kayra, Indira lalu berkerja di kantor Aryaloka sebagai seorang OG.


Indira bersedia menjadi ibu sambung kedua anak sahabatnya, dan berjanji untuk menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.


Gerald baru mengetahui faktanya baru-baru ini dari mulut sang nenek sendiri.

__ADS_1


"Kenapa ayah tak pernah menceritakan sebelumya padaku? kenapa baru sekarang?"tanya Gerald waktu itu.


"Karena itu adalah permintaan Indira sendiri, dia tak mau kamu semakin sedih karena mengetahui fakta itu."


"Ketahuilah cucuku sayang, ibumu Indira, sangat menyayangi mu, terlepas kamu anak kandungnya atau bukan dia akan selalu mencintaimu seperti anaknya sendiri."


"Ikatan itu bukan terbentuk dari gumpalan darah saja Gerald, selama dia menganggap mu keluarga dan menyayangi mu dengan tulus, itulah yang di sebut ikatan."


"Nenek menceritakan ini sekarang karna ingin kau belajar dari kehilangan Isvara juga, berhentilah bersikap angkuh dan hargailah orang-orang yang menyayangimu sebelum dia pergi dan tak akan kembali."


"Maafkan aku, karna aku selalu menuduh mu merebut ayah dari ibuku, aku tak pernah mengetahui niat tulusmu yang sebenarnya."


Indira menggeleng."Aku selalu melakukan sebisa ku agar kau bisa menerimaku sebagai ibumu, tapi ibu kandung tetaplah tidak bisa terkalahkan, Rani pasti sangat bangga karna memiliki putra yang berbakti seperti mu."


"Bunda ... " satu kata akhirnya di ucapkan Gerald setelah bertahun-tahun lamanya, semua orang terenyuh, menatap sendu, Indira tampak tak percaya, akhirnya putranya mengakui dirinya.


"Maafkan sikap putramu selama ini bunda," ucap Gerald mengenggam erat tangan ibunya.


Tuan Aryaloka maju, ikut memeluk Indira bersama dengan Gerald,lalu Kayra ikut maju tuan Aryaloka merentangkan tangannya agar sang putri masuk dalam dekapannya, lalu tuan Aryaloka memberi kode pada Mahesa, pria itu tersenyum lalu ikut menubruk tubuh, memeluk bersama.


Isvara mengusap sudut netranya yang tak berhenti mengeluarkan air, merasa ikut senang untuk mereka, akhirnya setelah sekian lama, keluarga ini lengkap sudah.


"Ayo kita masuk, nenek sudah menyiapkan opor ayam di dalam, juga lainnya, kita akan berpesta untuk kedatangan pasangan ini kembali."


***


Di tempat lain, tepatnya di apartemen Samuel saat ini, pria itu terduduk lemas menatap buku tabungan di tangannya, penampilan pria itu tampak mengenaskan, dengan kemeja putih yang berantakan dan wajah yang tak kalah berantakan.


Ternyata mencari pekerjaan tak segampang yang dia bayangkan, memiliki banyak relasi dan kolega tak menjamin akan membantunya dalam keadaan susah begini.


Belum lagi permintaan Laura yang semakin hari semakin aneh, wanita itu memegang salah satu kartu kredit nya dan betapa syok nya dia dengan tagihan yang tiba-tiba masuk.

__ADS_1


"Kau kenapa? bukannya sedang mencari pekerjaan? kenapa kau di sini?" Laura datang dengan santainya. dengan kimono yang membalut tubuhnya, sepertinya wanita itu habis membersihkan diri, ada segelas jus buah di tangan kanannya.


Samuel mengangkat wajah, menatap tajam wanita itu. "Apa-apaan ini Laura!" tiba-tiba pria itu membentak, membuat Laura tersentak.


"Sepatu Tiffany keluaran terbaru dengan harga yang tak main-main, jam rolex, tas Gucci? kau memborong semua barang mahal itu tanpa sepengetahuan ku? tidak kah kau tahu uang yang di keluarkan cukup untuk kehidupan anak kita hingga remaja?!"


"Kenapa kau boros sekali, Laura!" pria itu sudah dalam batas kesabarannya, urat-uratnya terpampang jelas dengan wajahnya yang memerah.


Sementara Laura, wanita dengan rambut masih basah itu sudah akan menangis dengan kaca-kaca di matanya.


"Kau kenapa sih? itukan wajar, kamu sendiri yang memberikan kartu kredit mu padaku!"


"Ya maksudku memberikannya agar kau bisa menggunakannya baik-baik untuk kebutuhan kita, tidak kah kau lihat sekarang kita lagi susah? aku bahkan belum mendapatkan pekerjaan baru."


"Ya itukan urusanmu, ini tanggung jawab mu, kenapa malah marah-marah padaku?"


Samuel mengusap wajahnya kasar, "Dengar, bisakah kau jadi dewasa sedikit? kau akan menjadi seorang ibu, cobalah untuk bersikap seperti wanita dewasa?"


"Aku juga sedang berusaha untuk membahagiakan mu Lau, mencari tambahan untuk kita bisa merayakan pernikahan."


"Apa? menikah?" raut wajah Laura berubah datar.


"Sejak kapan aku ingin menikah dengan mu?"


Kini giliran Samuel yang di buat terkejut. "Memang begitukan? kau sedang mengandung anak ku, sudah pasti akan menikahi mu dan kita akan menjadi orang tua yang lengkap."


"Tidak ada pernikahan," ucap Laura sinis.


"Kau mikir apa? menikah dengan mu dan hidup susah? itu tidak mungkin."


"Setelah anak ini lahir, aku akan pergi meninggalkan kalian berdua dan mengejar karir ku kembali, jangan mengharapkan pernikahan,aku tidak akan pernah menikah dengan mu."

__ADS_1


__ADS_2