
Ini masih tentang Samuel dan Laura ya!
*
*
*
*
*
Dua hari setelah pertemuannya dengan Laura saat itu, Isvara benar-benar tidak bisa menghubunginya lagi, Laura seperti menghilang bak di telan bumi. Ada rasa penasaran yang mengganjal di hati Isvara, meskipun hal ini bukanlah urusannya, namun tentang di mana keberadaan Laura berada, membuat Isvara sedikit cemas.
Isvara seakan bisa merasakan apa yang Laura rasakan, dia pun wanita sudah sewajarnya, mereka juga sama-sama sedang mengandung, Isvara takut Laura akan berbuat macam-macam dengan kandungannya, terlebih ketidak beradaan Samuel di sisi wanita itu. Hal ini seperti penuh misteri, yang ingin Isvara pecahkan.
"Kamu mikirin apa?" seseorang menepuk bahunya, Isvara menoleh, terlihat Gerald yang kini mengambil tempat di sampingnya.
"Kamu sudah pulang ternyata ... " Isvara sedikit menarik senyum,agar Gerald tidak curiga dia sedang memikirkan hal berat.
"Iyah, kamu keasyikan ngelamun, sampai gak liat aku," ucap pria itu, menopang kaki, tangannya ia selonjorkan hingga menyentuh bahu sang istri.
"Kamu kenapa? kayanya lagi cemas banget?" mengusap pipi sang istri yang sedikit basah. Gerald memang selalu seperti ini, penuh dengan perhatian, membuat Isvara semakin terlena dalam kehangatan pria itu.
Kadang-kadang Isvara tidak menyangka, Gerald yang dulu begitu kejam bahkan sampai bisa bermain fisik ketika pria itu sedang marah, kini mulai menjelma sebagai Gerald baru yang penuh dengan kehangatan dan kelembutan, perhatian-perhatian kecil seperti tadi telah membuat Isvara semakin yakin, bahwa Gerald kini benar-benar dengan Perubahannya, dan itu membuatnya bahagia.
Terkadang kita memang tidak tahu dan tidak menyangka akan datangnya jodoh. seperti Isvara, yang mengira dirinya akan selalu bermusuhan dengan Gerald, kini malah menjadi sepasang suami-istri yang harmonis. Terlebih atas kehadiran malaikat kecil dalam kandungannya yang semakin melengkapi keharmonisan itu.
"Hei kau kenapa? kenapa senyum-senyum sendiri?" lambaian tangan Gerald di depan wajahnya membuat Isvara tersadar dari lamunan.
Isvara menggeleng, "Tidak, tidak apa-apa." lalu ia lebih mendekat memusnahkan jarak, lalu kepalanya ia sandarkan ke dada bidang lelakinya ini.
Gerald sedikit terkekeh, lalu tangan kekarnya mengusap surai panjang kecoklatan milik sang istri, sementara Isvara juga tak kalah, mencari kenyamanan di dada hangat Gerald, terkadang dia akan sedikit usil dengan menjawil bulu-bulu halus di dagu sang suami yang kini sudah mulai lebat tumbuh. Rutinitas mereka setiap hari, bermesraan di sofa dekat televisi, sambil Gerald menonton acara sepak bola atau talk show, hingga Isvara tertidur di dekapannya.
"Sayang, aku ingin membicarakan sesuatu padamu?" jari-jari kecil Isvara menulusuri dada Gerald yang terekspos karena pria itu membiarkan dua kancingnya terlepas.
"Apa? ada yang mengusik pikiran mu?" tanya Gerald, mengambil remote dan mengubah channel ke sepak bola kesayangannya yang sebentar lagi akan mulai.
"Tadi siang aku ... bertemu dengan Laura." Isvara berbicara pelan agar Gerald tidak terkejut. namun pria itu menunjukkan reaksi yang sungguh sudah bisa Isvara tebak.
"Apa! bertemu dengan Laura? kapan? dimana?!" Gerald langsung menegakkan tubuh membuat Isvara ikut terhenyak.
"Apa kau terluka? apa wanita ular itu berbuat macam-macam padamu? kenapa kau menemuinya?!" Gerald yang di rundung cemas meneliti setiap sudut tubuh Isvara dengan tangannyanya, membuat Isvara sungguh terkejut dengan reaksi berlebihan pria itu.
__ADS_1
"Tunggu Gerald, aku tidak apa-apa, Laura tidak berbuat macam-macam padaku." memegang tangan sang suami dengan lembut. wajah tegang Gerald perlahan mengendur, tergantikan dengan tarikan nafas pelan menunjukkan kelegaan.
"Kamu tidak usah cemas seperti itu." Isvara tersenyum lembut guna menenangkan sang suami.
"Tetap saja, kamu sekarang tidak sendiri, ada anak kita di sini." mengusap perut Isvara.
"Laura adalah wanita licik, aku tak ingin sesuatu terjadi padamu, karna wanita itu."
"Tapi ini beda Gerald, Laura mendatangi ku dengan penampilan kusut dan wajah seperti orang kurang tidur, aku rasa ada sesuatu yang aneh padanya."
"Tentu saja, karena Samuel meninggalkannya, dia jadi seperti benalu yang kehilangan inangnya."
"Jadi benar Samuel meninggalkannya? tapi kenapa?"
"Wanita itu ketahuan selingkuh dan dia juga tidak pernah menghargai Sam yang selama ini sudah berkorban banyak untuknya, tch, memang pantas lah dia mendapatkan itu semua."
Lalu menatap Isvara. "Kenapa kamu menanyakan itu? apa wanita itu sudah bercerita banyak padamu?"
Isvara mengangguk. "Dia terlihat sangat putus asa, juga meminta maaf padaku, namun ada yang aneh dengan cara permintaan maafnya." menatap serius.
"Apa itu?" Gerald mulai sedikit tertarik dengan pembicaraan ini.
"Dia bilang akan menghilang selama-lamanya dari kita semua, bukankah itu sedikit aneh?" menatap Gerald balik.
Isvara membola. "Benarkah? memangnya apa yang di katakan Samuel?"
"Dia juga tempo lalu menemui ku, meminta maaf seperti yang wanita itu katakan padamu, dia juga meminta agar aku tidak dendam dengan wanita itu, lalu berpamitan dan bilang akan menghilang selama-lamanya dari kita semua."
"Kenapa bisa kebetulan sampai seperti itu? apa jangan-jangan mereka? ... "
"Hussst! tidak mungkin." Gerald yang tahu ke arah mana perkataan Isvara, mematahkannya agar Isvara tidak berfikir macam-macam.
"Samuel bukan orang yang sepicik itu, aku mengenalnya, mungkin saja dia pergi untuk sementara karna ingin menenangkan diri."
"Kau tahu? seberapa sering dan banyaknya dia berkorban untuk Laura, tapi wanita tidak tahu diri itu malah menyia-nyiakannya."
Isvara mengangguk, mengiyakan lalu terpikir sesuatu. "Kenapa kamu sekarang sangat membenci Laura? kurasa perubahan mu terlalu cepat mengingat kalian sudah bersama sejak lama? ntah Kenapa Isvara menjadi penasaran.
Gerald tertawa. "Kau jangan bercanda sayang, di saat aku tahu seberapa jahat dan liciknya wanita itu, aku bahkan berniat menghapus semua tentangnya dari pikiran ku."
"Lupakan tentang kami yang sempat bersama, anggap saja waktu itu aku sedang kerasukan reog sampai mau dengannya."
"Kamu jahat ih, bagaimana pun dia mantan mu."
__ADS_1
"Mantan? lupakan yang namanya mantan, bukankah dia hanya masa lalu yang seharusnya di buang?"
"Lagipula sekarang kamulah satu-satunya di hatiku, juga tujuanku." Gerald mendekatkan wajah membuat Isvara tertegun.
"Mulai deh gombalnya." menahan wajah Gerald dengan telapak tangannya, namun Gerald menyingkirkannya dan memberikan sebuah kecupan di bibir ranum itu.
"Apapun tentang mu bukan hanya gombal, tapi ungkapan hatiku dari yang terdalam."
Isvara tersenyum, menatap dengan wajah bersemu, Gerald lalu membawa Isvara ke dekapannya.
"Jika tentang Samuel dan Laura yang sekarang mengusik dirimu, doakan saja agar mereka mendapatkan tujuan mereka masing-masing."
"Kita tidak boleh terlalu ikut campur karna ini urusan mereka berdua."
Isvara mengangguk dalam dekapannya. "Kamu benar, aku harap Samuel dan Laura mendapatkan kebahagiaan mereka bersama."
***
Di dapur Dewi dan mbok Minah sedang mengerjakan tugas mereka di bagian masing-masing, mbok Minah tak jauh dari mereka sedang ada Nela yang sedang memijit kaki nyonya Triani.
"Nela ... "
"Iyah Nya?" Nela yang fokus memijat mendongak menjawab seruannya.
"Saya sudah cukup baikan, kamu bisa ke dapur buatkan saya teh melati, seperti biasa."
Nela berdiri lalu mengangguk. "Baik Nya."
Lalu gadis dengan kepang dua khas wanita pedesaan itu berjalan ke arah pantry untuk membuatkan pesanan nyonya besarnya. Namun di lorong sepi di samping tangga, Nela menghentikan langkahnya karna seseorang mendekap mulutnya dengan erat.
"Hmmp-hmpp." Nela ingin berteriak namun suara tertahan di tenggorokan, hingga di sudut ruangan, dekapannya terlepas, Nela sontak menoleh.
"Tuan Brandon!"
"Hussst, kecilin suara lo!" Brandon menaruh telunjuk di bibir dengan mata memicing, hal itu membuat Nela seketika diam.
Nela memandang pria yang sedang celingukan itu, dia heran, biasanya Brandon jarang ada di rumah apalagi di malam seperti ini, pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya di luar, kenapa tiba-tiba ada di sini?
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo." bisik Brandon sangat pelan, entah kenapa Nela menjadi penasaran.
"Apa itu tuan?" Nela juga tak kalah berbisik, agar tidak kedengaran orang-orang yang sedang berada di ruang tengah.
"Ini tentang Gerald." Entah kenapa pria itu menyeringai aneh membuat Nela seketika merinding.
__ADS_1
"Lo mau tau? temuin gue di paviliun belakang."