
Pagi menyapa di kediaman pak Damian, Gerald masih tertidur dengan bergelung selimut, sementara Isvara sudah berbenah diri dan sedang menyiapkan sarapan di dapur.
Setelah semuanya rapi kini anggota keluarga sudah duduk di kursi masing-masing, pak Damian dan istrinya mempunyai dua anak, yang artinya Isvara mempunyai dua sepupu, laki-laki dan perempuan. Yang pertama laki-laki sudah mempunyai keluarga sendiri dan akan sesekali berkunjung ke rumah pak Damian dengan dua anaknya, sementara yang perempuan yang lumayan dekat dengan Isvara tengah melanjutkan studinya di sebuah universitas besar di kota, itulah sebabnya kini pak Damian dan istrinya hanya tinggal berdua.
Meski begitu, setiap sore pasti ada anak-anak kecil yang bermain di sekitar halaman rumah, dan Pak Damian memang sengaja meletakkan wahana permainan di sana agar mereka semakin betah, hal itu membuat rumah megah ini tak terlalu kosong meskipun hanya di tinggali berdua.
"Ayah, mau lauknya apa? Ayam goreng mau?" Tanya Isvara pada sang ayah.
"Boleh." Pak Adi menjawab dengan sumringah, di amatinya wajah sang putri.
"Wajah kamu segeran ya? gak murung kaya kemarin. ayah senang," kata pak Adi seraya tersenyum.
Isvara sedikit tertegun, lalu pipi wanita itu tiba-tiba bersemu. "E-eh I-iyah yah." Entah kenapa dia menjadi gugup, padahal pertanyaan Ayahnya itu terdengar sepele dan bisa ia jawab biasa saja. tapi Isvara malah terlihat malu-malu.
Pak Damian yang peka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja, meski tak dipungkiri masih ada rasa benci pada Gerald karna telah membuat keponakannya menderita, namun pak Damian bisa apa, jika Isvara bisa bahagia hanya dengan pria itu.
"Di mana Gerald? suruh dia untuk turun dan sarapan juga." titah pak Damian.
Sementara Rosmini di tempatnya, tampak tersenyum sinis memperhatikan Isvara.
Isvara yang menyadari itu juga menatapnya. "Kenapa bi? ada yang perlu ku bantu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak menyangka ternyata pria tampan yang datang tadi malam itu adalah suami mu, dapet dari mana kamu cowok sempurna kaya gitu?"
"Rosmini!" sentak pak Damian. "Jangan memulainya!"
"Tidak apa-apa paman," ucap Isvara. "Bibi hanya ingin tahu resep bagaimana aku bisa mendapatkan pria tampan dan kaya raya seperti suamiku ini."
"Kuncinya hanya jangan pernah menjadi wanita yang iri dengki dan bermulut pedas," kata Isvara tersenyum penuh arti.
"Beraninya kamu!" Rosmini yang sudah melotot hendak melempar sesuatu.
"Sudah, Rosmini, sampai kapan kamu akan seperti ini? ingat umur!" Nasihat pak Damian.
"Papah, apa sih? kok malah bawa-bawa umur?" Rosmini terbilang sangat sensitif jika menyangkut hal itu.
*Sudahlah." menatap Rosmini dengan tajam. "Isvara, kamu sebaiknya panggil suami mu saja untuk sarapan bersama," ucapnya dengan nada lebih lembut.
Isvara mengangguk, tak lupa menatap Rosmini dengan tatapan penuh arti yang membuat Rosmini semakin menggeram kesal. Hal itu malah membuat Isvara terkikik dalam hati.
***
"Gerald, bangun, kamu mau sarapan tidak?" Isvara menepuk-nepuk lengan sang suami.
__ADS_1
"Gerald! paman meminta mu untuk sarapan bersama, ayo bangun!" Isvara kali ini menarik selimut yang menutup tubuh setengah telanjang itu, hal itu membuat Gerald sedikit terganggu.
"Sebentar lagi sayang, lima menit." Gerald merubah posisi tidurnya.
"Eh, lima menit apanya?! cepat bangun, kamu ini kebo banget ya!"
"E-eh!" Isvara yang sedang menarik-narik tangan Gerald malah tersungkur ke dada pria itu, karna Gerald yang menarik tubuhnya.
"Kamu bandel ya, ternyata tadi malam juga gak cukup ngebuat kamu gak bisa jalan," kata Gerald dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Heh!" Isvara menggeplak lengan kokoh sang suami. "Kalo ngomong!" sungutnya dengan mata melotot, hal itu malah terlihat lucu menurut Gerald, pria itu lantas membalikkan tubuh Isvara hingga kini wanita itu berada di bawah kekungannya.
"Gimana sayang? sepertinya malam tadi bener-bener gak cukup." pria itu mengedipkan mata jahil.
Isvara lagi-lagi hanya bisa terkekeh. "Hentikan, kamu harus mandi sekarang, kamu bau!"
"Bau keringat kamu juga kok," kata Gerald semakin nyeleneh.
"Mendongak?" ucap Gerald memerintah.
"Eh, ngapain?"
"Coba, cepat dongakkin kepala kamu," pinta Gerald.
Isvara seketika melebarkan mata, meremat pundak pria itu. "G-gerald apa yang kamu lakukan?"
"Memberikan tanda kepemilikan ku." Gerald menatap wajah Isvara yang terlihat sek*si menurutnya. Hal itu malah membuat hasr*tnya menjadi naik. Tapi dia tak bisa menerkam sang istri sekarang.
"Ck, harus cepet-cepet pulang kerumah." gumamnya.
"Gerald ... " lirih Isvara merasa permainan sang suami terhenti.
"Ya?" tatapan mereka beradu, Isvara mengusap rahang tegas itu.
"I love you," ucap Isvara.
"Harusnya aku yang bilang duluan. I love you," kata Gerald.
Isvara terkekeh. "Baiklah, I love you to."
Gerald lalu bangkit mengambil kaos yang tergeletak dan memakainya. "Kita akan pulang hari ini setelah menjelaskan nanti pada paman."
"Bagaimana dengan ayahku?" tanya Isvara yang juga ikut bangkit dari kasur.
__ADS_1
Gerald tampak tercenung. "Soal ayah kamu yang lebih berhak, jika ayah akan ikut dengan kita aku akan sangat senang, tapi tidak ada salahnya kita meminta persetujuan beliau dulu."
"Kamu benar, saat aku mengajaknya pergi, ayah bilang sudah nyaman di sini, tapi aku akan mencoba untuk mengajaknya lagi untuk ikut tinggal bersama kita."
Gerald tersenyum. "Itu bagus."
***
Gerald turun bersama Isvara, mereka berdua bergandengan tangan layaknya pengantin baru.
Memang masih pengantin baru sih.
Melihat itu pak Damian tersenyum, juga dengan pak Adi meskipun ingatannya lemah karna penyakitnya, tapi dia tidak lupa dengan putra Pak Aryaloka, Pimpinannya di perusahaan dulu, bahkan pak Adi pernah sekali dua kali bertemu dengan Gerald di perusahaan.
Tidak menyangka hari ini dia mengetahui tentang pernikahan tersembunyi sang putri dengan pewaris utama MV group itu.
Hal itu membuat pak Adi syok saat Isvara menceritakan pada dirinya apa yang terjadi enam bulan yang lalu itu. Bahkan dirinya hampir menangis karna pengorbanan besar sang putri.
"Kamu mengorbankan hidup mu, demi ayah, terimakasih Vara, ayah benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi." menyeka mata yang berair.
Isvara menatap sendu. "Ayah jangan begini." menghampiri sang ayah dan mengusap lengannya.
Pak Adi segera saja membawa tubuh Isvara ke dalam pelukannya, mengusap kepala sang putri dengan sayang. "Ayah benar-benar memiliki kamu sebagai putri ayah, terimakasih sayang."
Mereka yang ada di situ melihat interaksi ayah dan anak itu larut dalam keharuan. Gerald menatap sendu, teringat penyiksaan yang dulu dia lakukan pada Isvara, seketika rasa bersalah itu kembali datang.
Pak Adi melepas pelukannya lalu menatap Gerald. "Terimakasih sudah menerima Isvara, saya harap Isvara benar-benar di perlakukan baik di kediaman wirasena."
Gerald tertegun mendengar itu, seketika dia menunduk sedih. "Maaf yah, mungkin ini akan membuat mu marah, tapi di awal kami menikah, saya memperlakukan Isvara dengan semena-mena, karna dendam dan keegoisan saya dulu."
"Tapi seiring berjalannya waktu saya menyadari dan sekarang ingin membahagiakan Isvara. Saya tidak pantas untuk menerima pengampunan dari Ayah, tapi saya harap ayah bisa memaafkan saya, jika pun saya harus melakukan sesuatu untuk membuktikan kesungguhan saya,saya akan lakukan itu."
Mendengar penjelasan dan kejujuran Gerald, pak Adi tersenyum.
"Yang lalu itu biarlah berlalu, bohong jika ayah tidak marah dengan perbuatan buruk mu pada Isvara dulu, tapi mengungkit hal-hal yang sudah berlalu tidak memberikan keuntungan apa-apa."
"Kamu sudah menerima hukuman, dan ayah pun sudah memaafkan mu, sekarang bahagia kan lah Putri ayah, jangan biarkan dia menangis lagi."
Gerald mengulas senyum dan berpelukan dengan ayah mertuanya itu. "Saya berjanji, akan selalu membahagiakan Isvara."
***
Siapa nih yg minta visual Gerald lebih jelas? udh othor ksih ya^^
__ADS_1