
"Gerald, kamu mau kemana?" tuan Aryaloka menghentikan langkah Gerald.
Gerald menatap wajahnya sang papah dengan memelas. "Pah, Isvara, aku ingin menyelamatkannya." lirihnya.
"Dimana dia nak? biar papah kirimkan orang untuk membantu mu?"
Gerald menggeleng. "Tidak, aku harus melakukannya sendiri."
"Tapi ... " tuan Aryaloka hendak berbicara lagi namun nenek menghentikan.
"Arya, percayakan semuanya pada putramu."
"Kak, apakah aku boleh ikut?" Mahesa yang merasa cemas ikut bergabung, menawarkan diri.
"Tidak!" Gerald berkata tegas. "Kalian semua tunggu di sini, aku yang akan menyelamatkan istri ku, tetap nyalakan ponsel mu Mahesa, aku akan menghubungi mu bila sesuatu terjadi."
Semua orang menatap khawatir, nafas mereka seakan menguar di udara bersama keresahan yang kini sedang terjadi.
"Kak, kembali lah dengan selamat," ujar Kayra, gadis itu sudah akan menangis karna kekhawatirannya.
Gerald mengangguk. "Aku pasti akan membawa Isvara kembali kesini."
Gerald pergi dengan tergesa-gesa, sementara Nela di belakang mereka mencengkeram ujung baju dengan geram, apa yang sedang di rencanakan Brandon sekarang? apa semua pengorbanannya akan sia-sia?
***
Angin berhembus kencang saat Gerald sudah sampai pada lokasi yang di tujukan sang pelaku itu. nafasnya terengah-engah saat datang ke jembatan ini tidak ada siapapun, hanya angin yang semakin berhembus kencang membawa ranting dan beberapa daun terbang melewatinya.
Dengan tergesa Gerald segera menelpon nomor yang tidak di kenal itu.
Telepon tersambung.
"DIMANA KAU! DI MANA ISTRI KU?!"
'Waah, lo gercep juga ternyata!' suara berat di seberang telepon terdengar berat.
Gerald mengernyit dahi, suara orang ini terdengar familiar.
"Lo? Brandon!" Gerald melebarkan matanya dengan amarah yang sudah memuncak.
'Yap, ini gue, Kenapa lo kaget?'
"Bang*sat! ini semua ternyata rencana lo hah? di mana istri gue brengsek!"
Terdengar suara tertawa keras di seberang telepon.
'Coba lo nengok ke samping lo'
__ADS_1
Gerald menengok ke sampingnya, dan benar saja di seberang jalan sana, seseorang muncul dengan menarik lengan Isvara yang diikat, menyeretnya hingga Gerald bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Darah Gerald seketika mendidih, wajahnya memerah karena amarah, di sana bisa dia lihat sang istri yang tengah ketakutan dengan mulut dan kedua tangannya yang terikat.
"Breng*sek!" umpatnya, seketika ponsel dalam genggaman ia lempar, kekalutan membawanya langsung menyebrang jalan mendekati mereka.
"Lepasin istri gue, brengsek!" jarak mereka kini hanya tersekat sepuluh langkah.
Gerald mengeluarkan sesuatu dalam sakunya, sebuah pistol.
"Lepasin atau gue bolongin kepala lo!" ia lalu mengacungkan pistol itu ke hadapan Brandon.
"Waaw, lo mau make cara kekerasan nih? oke ... " tak mau kalah, Brandon juga mengeluarkan sebuah pistol, Gerald tersentak pasalnya pistol itu bukan mengarah ke arahnya tapi mengarah tepat ke kepala sang istri.
"Breng*sek! lo bener-bener cari mati rupanya!"
Gerald menatap ke sekitar, langit semakin menguning malam akan segera datang. Bedebah! tidak adakah orang di sini yang bisa ia minta bantuan!
Gerald menatap wajah sang istri, tatapannya seketika melunak saat melihat wajah cantik itu yang di penuhi ketakutan, matanya terus basah karna air matanya yang terus mengalir, Gerald meneliti penampilannya, syukur lah pria breng*sek itu tidak melakukan apa-apa yang melukai tubuhnya.
Gerald kembali menatap Brandon, tidak menyangka pria itu akan melakukan hal sejauh ini, Gerald pastikan hidup pria itu akan seperti di dalam neraka karena telah berani menganggu miliknya.
"Katakan! Lo mau apa? bakal gue kasih, asal lepasin istri Gue!"
***
"Kira-kira di mana kak Gerald sekarang? apakah kak Isvara di culik atau bagaimana?" lirih Kayra, mata gadis itu sudah memerah karna terus menangis, meratapi nasib sang kakak.
Mahesa tak bisa diam saja jika begini, pria itu berdiri.
"Kita tak bisa berdiam terus seperti ini, saat kak Gerald sedang mempertaruhkan hidupnya!"
"Kau mau kemana?" Indira menghentikan sang putra.
"Aku mau menyusul kal Gerald, Bun? di luar sana dia sedang dalam bahaya bersama Isvara."
"Tapi dimana kau akan menyusulnya? kita bahkan tidak tahu sekarang dia di mana."
Tangan Mahesa terkepal kuat. "Seharusnya kita tidak bisa seperti ini terus!"
"Duduklah, tenang kan dirimu Mahesa."
Tapi Mahesa tidak bisa, pria itu memilih pergi. Andini yang melihatnya lalu menyusul.
Di luar, Andini mencari keberadaan Mahesa, matanya berpendar mencari ke sekeliling, Mahesa ternyata ada di sana, pria itu terlihat sedang memukul tiang teras berkali-kali. dia pasti merasa sangat marah karna merasa tak berguna sekarang.
Andini lalu mendekatinya dengan perlahan.
__ADS_1
"T-tuan?" Andini berkata pelan, gadis itu menunduk tak berani menatap wajah tampan.
"T-tuan m-maafkan saya, karna saya, karna saya, hiks." Andini menangis, gadis itu merasa sangat bersalah, jika saja dia tidak meninggalkan Isvara sendirian saat itu, jika saja dia tetap di samping nyonya mudanya.
Terdengar helaan nafas dari Mahesa, pria bermata teduh itu menatap Andini dengan sendu, perlahan Mahesa mengikis jarak mereka, dengan gerakan yang tak ia hendaki sendiri, Mahesa menarik pinggang Andini membawanya ke dalam dekapan.
Andini tersentak saat wajahnya membentur dada Mahesa yang hangat.
"T-tuan?"
”Tidak apa-apa, jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salahmu."
Sekali lagi Andini menangis, tangannya terulur untuk memeluk bahu Mahesa, sedangkan pria itu mengusap pucuk kepala Andini dengan kelembutan.
"M-maafkan saya, tuan."
***
"Lo pengen tau apa yang gue inginkan? gampang aja, gue pengen kematian lo!" Brandon menyeringai.
Gerald menggeram. "Jangan bertele-tele bedebah!"
"Hmmp-hmpp!" Isvara mengguncangkan tubuhnya, memberontak minta di lepaskan.
Brandon tersenyum miring. "Kayanya istri lo pengen menjelaskan wasiatnya."
Brandon lalu melepaskan ikatan di mulut Isvara.
"GERALD! PERGI DARI SINI, KU MOHON, BRANDON HANYA INGIN MENJEBAK MU, DIA MENGGUNAKAN KU HANYA INGIN MENJEBAK MU!"
Isvara berteriak kuat-kuat agar suaranya tidak terbang terbawa angin. Gerald dapat mendengarnya dengan jelas.
"Apa maksud mu sayang, aku tidak bisa pergi dari sini tanpa membawa mu."
Isvara menggeleng lemah, wanita itu terisak hebat. "Tidak jangan dengar kan ancamannya, kamu pergilah lapor polisi, aku akan menahannya di sini."
"Berani lo lapor polisi? istri lo bakal langsung lenyap di sini?" ancam Brandon kembali menodongkan pistol ke kepala Isvara.
Gerald tercekat di tempat, dirinya terbelah antara mengikuti kata sang istri atau memperingati ancaman Brandon.
Gerald lalu terhenyak saat segerombolan pria dengan topeng berdiri di samping Brandon.
"Ini adalah orang-orang suruhan gue, lo gak akan bisa kabur dari sini."
Gerald mengeratkan genggaman pistolnya dengan amarah.
Sementara Brandon menyeringai devil.
__ADS_1
"Sekarang apa pilihan lo Gerald?"