
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk Gerald bisa menunggu, mobil ambulance yang sudah di sediakan tiba di rumah sakit.
Dengan darah yang sampai mengucur di gaun putih Isvara, mereka tiba di rumah sakit, bahkan kini darah itu sudah merembes sampai menembus kemeja putih Gerald.
"SUSTER! DI MANA SUSTER!"
"DOKTER! SELAMATKAN ISTRI KU!"
Gerald berteriak kencang, hingga suaranya menggema di lorong rumah sakit itu, para petugas dan suster segera datang membawa brankar untuk Isvara, Gerald membaringkan tubuh sang istri dengan hati-hati.
"Tolong selamatkan istri ku, selamat kan anak kami." mohon Gerald wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang paling mendalam.
Para perawat segera mendorong brankar yang membawa Isvara menuju ruang ICU, bersama Gerald yang tak lepas mengelus wajah pucat sang istri. tubuh Isvara begitu dingin sedingin es, bibir mungil itu terkatup Membuat hati Gerald berdenyut sakit.
Hingga sampai ke ruangan, salah satu suster menghadang Gerald untuk masuk.
"Pak sebaiknya anda tunggu di sini, biar kami yang akan menangani istri bapak."
"Tidak, aku ingin bersama istriku, aku ingin tetap di sampingnya!" kekeuh Gerald.
"Pak mengertilah, di dalam sana sudah ada dokter ahli yang akan berusaha menyelamatkan istri bapak."
Namun Gerald tetep kekeuh ingin masuk. "Tidak aku ingin di samping istri ku!"
"Pak, mengertilah, sebaiknya anda juga rawat luka anda ini."
Gerald memperhatikan tubuhnya, benar ada beberapa luka sayatan dan memar, dia tidak ingat mendapatkannya dari mana, mungkin saat tadi dia sempat berkelahi dengan anak buah Brandon, yang kebetulan saat itu membawa senjata tajam.
Namun Gerald tetap memaksa ingin masuk, dia ingin melihat jelas keadaan istrinya. Karna Gerald yang terus memberontak, membuat suster itu kelelahan, hingga para perawat lain yang melihatnya menghampiri mereka.
__ADS_1
"Pak sebaiknya lihat keadaan anda juga, jangan begini!"
"Benar pak, rawat luka anda juga!"
Kerusuhan terjadi karna Gerald yang mengamuk Butuh hampir sepuluh perawat untuk menghentikan amukan Gerald, hingga akhirnya pria itu diam.
"Baiklah, kalian ingin sekali merawat luka ku kan? maka lakukan lah di sini, aku tidak peduli sama sekali!"
Para perawat itu bernafas lega saat Gerald akhirnya bisa di ajak kompromi. lalu mereka membawa perlengkapan juga tempat untuk Gerald merawat lukanya.
Mereka cukup terkejut saat melihat sayatan panjang yang menganga di lengan Gerald, bahkan pria itu tak terganggu dan tak merasakan sakitnya.
Tatapan Gerald tetap tertuju pada pintu ruangan ICU yang tertutup rapat, di mana terdapat sang istri tercinta di dalamnya.
"Tuhan! ku mohon selamatkan istri ku, jika perlu kau mengambil nyawaku untuk menyelamatkannya, aku bersedia."
"Tolong selamatkan istri ku."
Malam semakin larut, luka Gerald kini sudah di sembuhkan, namun operasi di dalam sana masih tetap berlanjut.
Gerald duduk terpekur di kursi panjang, lukanya sudah di perban, namun luka hatinya tidak bisa pulih secepat itu.
"Bodoh, bodoh! tidak berguna, tidak berguna!" Gerald memukul-memukul dirinya sendiri, merasa tidak becus menjadi suami, menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Lelaki buruk, suami buruk!" Gerald terus menyalahkan dirinya, hingga para anggota keluarga datang terkecuali Nyonya Arini dan Brinda yang kini sedang di kantor polisi.
"Gerald bagaimana keadaan Isvara?" papah bertanya lebih dulu, namun Gerald tidak menjawab, namun air mata yang merengsek ingin keluar adalah jawabannya.
Bunda Indira mendekat, duduk di samping Gerald dan memeluk bahu sang putra.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha yang kamu mampu, jangan menyalahkan diri sendiri," bisik sang bunda. Kayra juga duduk di samping bunda, mereka saling menyalurkan kekuatan untuk yang rapuh saat ini.
Pintu ICU tiba-tiba terbuka, menampilkan seorang dokter dengan masker dan perlengkapan operasi.
Gerald yang melihat segera menghampiri.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? apakah operasi berjalan lancar?"
Dokter menggeleng pelan. "Istri anda kehilangan banyak darah, untunglah janin yang di kandungnya tidak apa-apa."
"Sekarang kami membutuhkan stok darah segera, kami butuh golongan darah B rhesus negatif, rumah sakit tidak punya stok darah golongan itu."
"Kami butuh segera!"
Semua orang saling menatap, tak ada yang punya golongan darah itu di antara mereka, semua berfikir termasuk Gerald yang sudah kelimpungan.
"Apakah ada anggota keluarga pasien yang memiliki golongan darah yang sama?" tanya dokter namun mereka semua menggeleng.
"Orang tua pasien?" tanya dokter, mereka menggeleng.
Karna khawatir Gerald bahkan lupa untuk mengabarkan ayah mertuanya.
"Ini darurat!"
Semua orang cemas, tuan Aryaloka sedang menghubungi seseorang yang mungkin punya golongan darah datang.
"Aku!" seorang wanita tiba-tiba muncul di antara mereka, semuanya menatap.
Wanita itu maju menghadap sang dokter.
__ADS_1
"Saya dok, saya mempunyai golongan darah yang sama dengan pasien."