TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 83


__ADS_3

"Apa gue bisa?" Ada guratan harapan di wajah tampan itu.


"Lo pasti bisa, gue tahu Laura selama ini hanya berpura-pura gak peduli sama lo, pada dasarnya sejak dia sama gue pun, dia udah menaruh hati sama lo, dia aja gak nyadarin itu."


Samuel menenggakkan bahunya. "Oke, mungkin mencoba sekali lagi,gak akan seburuk itu."


Gerald menarik sudut bibirnya. "Itu baru temen gue."


"Makasih ya Ger, udah gak kehitung berapa banyak kebaikan lo ke gue, makasih udah bisa maafin gue," ucap Samuel, sudut netranya sedikit berkaca, pria itu mengusapnya.


"Well, mungkin kalau ngelupain itu belum bisa, namanya pengkhianatan emang butuh waktu buat nyembuhin lukanya. Tapi gue bukan anak kecil yang terus merajuk sama lo," ucap Gerald di akhiri kekehan.


Gerald lalu mengambil sesuatu dalam sakunya, mendorongnya persis ke depan Samuel.


"Mungkin kalau jadi sekretaris gue udah ada yang gantiin, tapi lo gak usah sungkan buat ngelamar pekerjaan di gue," kata Gerald.


"Gue tahu yang lo pikirin dari pekerjaan bukan gaji atau jabatan yang bagus, tapi soal kenyamanan, dan kembali lagi kenyamanan itu bisa di dapet di sini."


Samuel tersenyum, lalu mengambil kartu identitas itu. "Boleh, emang lo yang paling bisa ngertiin gue."


"Udah ketebak banget kita tuh emang jodoh."


Gerald mencebik, bersidekap dada. "Pengen banget lo berjodoh sama gue?"


"Hahaha, canda, gak mau di amuk gue sama Isvara."


Keduanya lalu tertawa, menggeleng merasa dunia ini terkadang lucu.


"Ya udah, good luck ya."


****


Di rumah, semua orang berkumpul seusai makan malam, kata nenek dia akan memperkenalkan pekerja baru di rumah ini. Nenek bilang dia lah yang nanti akan menjadi baby sitter Isvara, mengurus keperluan bumil itu.


"Butuh banget ya asisten, perasaan dia juga bukannya lagi sakit." Celetuk bibi Arini dengan ketus.


"Iya, nambah-nambahin pengeluaran aja, gara-gara wanita itu." Bisik Brinda pada ibunya.


Kayra yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala saja, sudah khatam dengan watak ibu dan anak itu.

__ADS_1


Kebetulan saat itu Mahesa juga sedang lewat, mama Indira memanggilnya. "Mahesa, sini dulu duduk."


Mahesa menurut, menghampiri. "Ada apa bun?"


"Nenek katanya mau memperkenalkan asisten buat Isvara," kata bundanya.


Hanya itu? Mahesa pikir itu bukan hal yang penting!


Bukan Mahesa tidak perduli dengan hal yang menyangkut Isvara, tapi saat ini pria itu dalam proses yang namanya move on. Dia tak ingin mengingat kembali Isvara sebagai wanita yang pernah dia cintai, tapi sebagai kakak ipar.


Meskipun mereka jarang bertemu sampai saat ini, Karna Mahesa lebih sibuk pada kuliahnya, juga tes yang di berikan sang papah, bukan berarti mereka tak pernah bertegur sapa, meskipun terkadang ada canggung yang menyelimuti tapi Isvara dan Mahesa selalu menyempatkan untuk bisa memperbaiki hubungan pertemanan di antara mereka.


"Gak usah deh bun, aku mau ke kamar mau ngambil dokumen yang ketinggalan doang."


"Kamu mau pergi lagi?" tanya bunda.


Mahesa mengangguk. "Banyak skripsi juga eksperimen, Bun. cafe juga sekarang lagi rame banget, harus di pantau."


Meskipun tidak bekerja, namun Mahesa sudah sukses dengan cafe yang sekarang sedang di kelolanya, hal itu bentuk dalam kemandiriannya selama ini, setidaknya dia tidak ingin bergantung lagi pada keluarga ini, dan membuktikan dia bisa berdiri dengan kakinya sendiri.


"Ya, udah, tapi jaga kesehatan ya, jangan terlalu cape."


Namun saat Mahesa akan melangkah lagi menuju kamarnya, kakinya terhenti ketika indera pendengarannya menangkap suara yang begitu mengalun lembut.


"Perkenalkan nama saya Andini, asisten untuk nyonya Isvara."


Mahesa seketika menoleh, di sana, matanya langsung tertuju pada gadis sederhana dengan long dress longgar di tutupi dengan cardigan berwarna serupa, Mahesa menatapnya lebih lama. gadis yang memperkenalkan diri sebagai asisten di rumah ini, telah menarik perhatiannya.


"Selamat datang Andini, semoga kinerja mu bisa di buktikan di sini," ucap nenek.


Andini, gadis yang berasal dari desa itu mengangguk. "Terimakasih sudah menerima saya."


Lalu tanpa sengaja tatapannya mengarah pada Mahesa yang kini juga tengah menatapnya, pertemuan mata mereka tak bisa di elakan.


Deg! deg! Mahesa merasakan dadanya yang berdebar? ada apa ini?


Merasa tak ada yang beres, Mahesa memalingkan muka, membuat kontak mata mereka terputus. Sementara Andini menunduk dengan wajah bersemu.


Mahesa menggeleng kuat. "Sepertinya aku kurang tidur."

__ADS_1


***


Akhirnya berkat dorongan juga nasihat dari Gerald, di sinilah Samuel berada,di apartemen di mana Laura berada. untungnya Samuel masih punya duplikat kunci apartemen yang dulu adalah miliknya ini.


Namun hal yang tidak terduga ia temukan, Laura sudah tidak ada di sini. Bahkan ruangan ini terlihat kosong. Tidak ada Laura-nya di sini.


Samuel mengusap wajah kasar, sudah pastilah Laura tidak akan mungkin lagi berada di apartemen yang katanya kecil dan kumuh ini.


Samuel terkekeh, merasa apa yang di lakukannya sia-sia, juga apa yang di nasehat kan Gerald.


Tentu saja, Laura tidak mau hidup susah, wanita itu pasti sudah pergi bersama dengan pacarnya, si produser film itu.


"Apa yang lu lakuin Sam? kenapa gak berfikir sampai ke situ?" Samuel terkekeh namun ada pedih yang terselip di sana.


Merasa tak ada gunanya, Samuel akhirnya melangkah untuk pergi dari apartemen itu, namun langkahnya terhenti saat ia menemukan sepucuk surat di atas nakas, matanya lalu bersibobrok dengan kartu deposit juga kunci mobil yang ada di sana.


Samuel menghampiri mengambil lalu mengamati, semua barang ini adalah barang-barang yang Samuel serahkan pada Laura, tapi wanita itu tidak menerimanya? dan malah menaruhnya di sini.


Perlahan Samuel membuka surat dengan kertas yang sudah lusuh itu.


[Untuk Samuel,jika kamu yang menemukan ini, aku mengucapkan banyak terimakasih karena kamu sudah sangat tulus padaku selama ini. Aku menyadari di saat kamu tidak ada lagi di sini, untuk apa lagi aku ada di sini? aku sudah meletakkan semua pemberian mu, aku akan kembali pada orang tuaku. Maafkan aku tidak bisa menjadi wanita yang kamu inginkan.


Laura. ]


Samuel terduduk, persendiannya terasa lemas, sekarang apa yang harus dia lakukan? ternyata perkiraannya salah, Laura malah kembali pada orang tuanya. Apakah wanita itu sudah menyadari tentang perasaannya?


Apa yang harus di lakukannnya sekarang? Benar, dua harus ke rumah orang tua Laura, tapi di mana? seingat Samuel rumah kedua orang tuanya sudah di jual.


Itu benar. Samuel ingat, Samuel memberikan Laura handphone baru yang di mana itu terhubung dengan ponselnya, jika tidak salah Samuel bisa melacak keberadaan Laura dengan ponselnya.


"Laura, tunggu aku, aku akan menjemputmu."


***


Hai, hai Jangan lupa like komen dan gift ya agar author semakin semangat.


Niatnya author akan mempercepat konflik, karna memang author mau menamatkan Novel ini segera.


Jadi tetap stay tune ya, dan tunggu author bakal launching novel terbaru.

__ADS_1


Salam hangat 💐


__ADS_2