TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 94


__ADS_3

Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Breng*sek, mati lo sama gue bajinga*n!"


"Ger, udah Ger, jangan bikin dia ma ti dulu!" Samuel di samping pria yang sedang di amuk itu mencoba untuk berusaha melerai amarah Gerald yang sedang berapi-api.


"Lo udah gak bisa nengahin gue lagi Sam, gue bakal bunuh dia yang udah berani bikin istri gue sekarat!"


"Iya tapi gak gini juga!" Samuel berusaha untuk melindungi tubuh Brandon yang sudah babak belur, akan sulit jika pria ini tak segera di hentikan.


"Sabar woy! inget istri sama anak lo juga!" hingga hitungan ketiga Gerald baru bisa mulai tenang saat Samuel mengatakan itu.


"Dia bakal di hukum itu pasti, tapi bukan sama lo!" Samuel masih berusaha untuk menenangkan Gerald hingga pria itu berdecak singkat, dengan nafas memburu, menahan gejolak amarah yang siap untuk keluar kembali.


"Bang*sat!" Gerald memaki lalu meludah di depan Brandon.


"Lagi-lagi lo ya, kalau bukan mengingat lo anak bibi gue, gue lobangin kepala lo!"


"Kenapa gak sekarang aja? lo takut?" Brandon menyeringai seakan menantang, seperti tak merasakan sakit setelah habis di hajar Gerald.


"Sial!" Gerald hendak kembali melayangkan pukulan namun segera di jegat oleh Samuel.


"Udah Ger! dia cuma mancing lo doang. tenangkan diri lo dulu!"


Gerald berusaha mengikuti kata Samuel, dia mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, berusaha menetralisir amarah yang sedang meluap-meluap.


Seperkian detik kemudian, Nyonya Arini dan juga putrinya Brinda datang, langsung terpekik kaget ketika melihat darah di hidung dan juga sudut bibir sang putra, Arini segera menghampiri.


"Astaga, putraku, kamu kenapa? kenapa babak belur sampai kaya gini?" Arini menangis melihat luka- luka di sekujur tubuh sang putra, begitupun Brinda yang meringis ngeri.


"Tanyakan saja pada pria songong kesayangan nenek ini!" ucapnya menatap Gerald.


Sejak dulu memang alasan Brandon sangat membenci Gerald, dan mungkin juga seluruh keluarganya, karna dia merasa di tirikan oleh sang nenek, yang lebih memperhatikan keluarga pamannya juga pilih kasih antara dirinya dan juga Gerald.


Brandon merasa neneknya hanya menyayangi anak-anak dari pamannya saja, bahkan Mahesa yang tidak terikat darah keluarga mereka mendapat kasih sayang nenek yang berlebih di bandingkan dirinya.


Padahal bukan begitu kenyataannya, nenek menyayangi semua cucu-cucunya, bahkan keinginan Brinda selalu di kabulkan sang nenek, hanya saja dalam kasus Brandon berbeda, dia tak pernah serius juga hidupnya bebas dan tak ingin bekerja di perusahaan seperti cucu laki-laki nya yang lain membuat nenek setengah hati untuk memperhatikannya.

__ADS_1


Apalagi Brandon yang sering membuat kasus dan masalah membuat keluarga selalu harus menutupinya dengan uang agar tidak tercium publik.


Begitulah, selama ini Brandon hanya salah mengira, hidupnya yang enak tanpa harus bekerja dan hanya lesehan membuat ia sering di serang pertanyaan 'kapan mau berubah?' namun tak pernah ia gubris yang lambat laun Membuat semua orang juga enggan untuk berurusan dengannya.


"Gerald, apa yang kamu lakukan nak? tega kamu bikin saudara mu babak belur begini?"


"Hanya karena seorang wanita?"


"Dia adalah istri ku, jika tante lupa!"


"Dan ya, harusnya tante berkaca! aku tak sampai membunuhnya di depan matamu!"


Mendengar itu Arini cepat-cepat menyeka air mata, ia tak ingin putranya kali ini di hukum berat, menyadari ternyata air matanya sudah tak bisa lagi meluluhkan keponakannya ini.


"Gerald sayang, maafkan lah saudara mu ya? tante mohon jangan bawa kasus ini ke rana hukum, tante tau Brandon tak bisa di maafkan kali ini, tapi anggaplah dia hanya khilaf saja, Lagipula Isvara sudah tidak apa-apa kan?"


"Tante mohon jangan libatkan pengadilan dalam hal ini ya?"


Gerald menoleh pada bibinya, di tatapnya dengan mimik wajah mengeras seraya mengepalkan tangannya.


"Enteng sekali tante bilang seperti itu? sedangkan gara-gara dia semua ini terjadi!"


"Walaupun kau terus memohon, aku akan tetap melanjutkan proses hukum, dan memastikan dia di hukum dengan seberat-beratnya!"


"Tapi Gerald, ada pelaku satu lagi yang belum di tangkap." seru Arini kembali. hal itu membuat atensi Gerald terpaku.


"Satu pelaku lagi? siapa?"


"Ya Gerald ada, Brandon bilang dialah otak dari segala kejahatan ini, dialah yang harus di hukum berat!"


***


Beberapa pria berseragam dari aparat kepolisian datang ke kediaman wirasena, Membuat semua orang bertanya-tanya, ada apa?


Nenek yang pertama kali menyambut mereka, wanita tua berwibawa itu berjalan ke depan menyambut para polisi yang datang.


"Ada tujuan apa kalian datang kesini?"


"Maaf menganggu waktunya, kami mencari seorang gadis bernama Manela sari, apakah ada?"


Deg! semua terkejut mata mereka langsung tertuju pada gadis yang kini sudah ketakutan setengah mati di tempatnya.

__ADS_1


Nela berkeringat dingin dengan kakinya yang gemetar.


Habislah! harusnya dia kabur lebih awal. ia tidak menyangka polisi akan benar-benar mencarinya.


"Brandon sialan! lelaki licik!"


"Y-ya pak, saya Manela sari." Nela dengan takut-takut maju ke depan, otaknya seakan tumpul untuk memikirkan hal kedepannya.


"Bisa ikut kami sebentar untuk di interogasi?"


"Ke kantor polisi pak? saya gak mau?" Nela menggeleng kuat-kuat.


Nenek menengahi. "Sebenarnya ada apa ya pak? kenapa tiba-tiba memanggil pembantu saya?" nenek tetap bersikap tenang meskipun ia sendiri sangat penasaran dan merasa kasihan kepada Nela.


"Menurut kesaksian tersangka Brandon, nona Nela ini terlibat dalam kejahatan yang dia lakukan, oleh karna itu kami ingin menanyakan beberapa pertanyaan sebelum menindak lanjuti dengan serius."


Nela menggeleng secepat kilat. "Gak pak, saya gak ada hubungan apa-apa dengan dia, pria itu bohong pak."


"Mohon jangan tangkap saya, saya masih memiliki orang tua yang tengah sakit-sakitan di kampung!" Nela menangis histeris, bersimpuh di kaki nyonya Triani.


"Nyoya besar, saya mohon tolong selamatkan saya! saya gak mau di penjara!"


Meskipun menaruh iba, namun nyonya Triani tetap bersikap tegas dan realistis.


"Nela bangunlah, jangan bersimpuh seperti itu." nyonya Triani menuntun Nela untuk berdiri.


"Saya bukan tak ingin membantu, tapi kamu bisa mengikuti arahan posisi dulu, toh ini hanya tuduhan tidak berdasar belum ada bukti, jika kamu memang tidak bersalah kamu bisa bebas."


"Tapi nyonya besar saya gak mau hiks, saya takut di penjara, hiks!"


Semua orang saling melempar pandang merasa iba juga curiga kepada Nela.


"Kalau boleh tau, kenapa saudari Nela sampai bisa di tuduh seperti itu?" tanya Indira.


"Menurut kesaksian tersangka Brandon, mereka berdua memang bekerja sama dalam kejahatan yang di lakukan untuk nona Isvara, bahkan saudari Nela lah yang menjadi otak dalam rencana itu."


Nela terhenyak, kaget. "Gak pak, semua itu bohong, tuan Brandon hanya memberikan kesaksian palsu!"


"Kalau begitu lebih jelasnya ayo ikut kami ke kantor polisi!"


"Gak, saya gak mau!" Nela lalu berlari secepat kilat Membuat semua orang terkejut.

__ADS_1


"KEJAR DIA!"


__ADS_2