
Yang di perkirakan Isvara terjadi, baru dua hari sejak keberangkatan orang-orang baik di sekitarnya, nyonya Arini dan Brinda semakin gencar menindasnya.
Seakan ketidak beradaan Tuan Aryaloka dan nenek adalah kesempatan untuk mereka semakin menyiksa Isvara. Seperti saat ini, dirinya tidak di biarkan untuk istirahat sejenak saja, karna mereka terus saja menyuruhnya.
"Isvara! Isvara!" Seruan keras itu kembali terdengar, padahal Isvara baru hendak mendudukan bokongnya di kursi.
Isvara hendak berjalan mendatangi nyonya Arini yang memanggilnya, namun tangannya di cekal oleh seseorang.
"Biar saya saja non," ujar Mbok Minah yang kasihan melihat Isvara.
"Tapi saya yang di panggil mbok," cicit Isvara.
"Non sejak tadi di suruh-suruh terus sama mereka, saya kasihan melihatnya, kali ini biar saja non."
Entah kenapa Isvara menjadi terenyuh, selama ini tidak ada yang perduli dengannya ataupun perasaannya.
"Tapi saya takut malah mbok yang di marahin, ucapnya.
"Gak apa-apa, saya bisa mengatasinya,non di sini saja, istirahat kan kaki ya," ucap mbok Minah mengusap lengannya.
Isvara tersenyum. "Makasih ya mbok." Entah kenapa ia ingin menangis.
Ternyata masih banyak orang-orang baik di sekitarnya.
Mbok Minah pergi, Isvara lalu duduk memijat-mijat kakinya yang terasa pegal. tak terhitung sudah berapa kali ia naik-turun tangga karna perintah kedua ibu dan anak itu yang aneh-aneh.
Sementara mbok Minah sudah menghadap nyonya Arini.
"Kenapa kamu yang datang? di mana Isvara?"
"Nona muda sedang istirahat sebentar Nya, nyonya ada perlu apa? biar saya lakukan."
"Gak, saya merintah dia, jadi dia yang harus datang!" suara Arini melengking.
"Ada banyak pembantu juga di sini nya, nyonya bisa menyuruh yang lain."
"Kamu mengatur saya gitu? berani sekali!"
"Bukan nya,saya cuma--" ucapan mbok Minah berhenti saat ia mendapat tamparan di pipinya.
"Pembantu ya pembantu, jangan sok belaga seperti ratu! cepat panggilkan Isvara!"
Mbok Minah meringis sambil terus menunduk, dia tidak bisa melakukan apapun, padahal ia ingin sekali menyelamatkan Isvara.
***
"Maaf ya non," ucap mbok Minah.
__ADS_1
"Gak apa-apa Mbok, mbok sudah sangat baik membela saya," ucap Isvara merasa bersalah.
"Mbok di sini saja, biar saya pergi."
Lalu Isvara buru-buru berjalan menaiki anak tangga, tak ingin mendapat masalah baru lagi.
"Ya bi, ada perlu apa?" tanya Isvara sudah menghadap sang bibi.
"Ke pasar, kamu beli apa yang saya tulis di sini," ucapnya menyerahkan secarik kertas. Isvara mengambilnya.
"Jangan sampai salah beli, ini duitnya." Dengan tanpa perasaan Arini melempar uang bewarna merah dua lembar seperti membuang sampah di hadapan Isvara.
Isvara menghela nafas, berusaha untuk sabar, namun bagaimana pun selalu menyakitkan saat dirinya selalu di rendahkan oleh mereka.
Isvara lalu berjalan turun dari lantai dua tempat kamar Arini berada, namun saat di undakan tangga dirinya tak sengaja berpapasan dengan Brandon.
Pandangan mereka bertemu, namun Isvara buru-buru membuang muka. entah kenapa semenjak tak adanya tuan Aryaloka dan nenek, pria itu lebih sering berada di rumah.
Padahal yang Isvara tahu, Brandon selalu berada di apartemennya, berfoya-foya bersama temannya, pria itu bahkan tak kuliah seperti Mahesa, walaupun tuan Aryaloka selalu menawarkannya.
Isvara melanjutkan langkahnya,namun suara Brandon membuatnya berhenti.
"Tunggu!" pria itu berbalik badan.
"Kita belum berkenalan sebelumnya," ucap pria itu.
"Lo pasti juga sudah tahu, Gue sepupunya Gerald, Brandon adriano." Brandon menjulurkan tangannya, mengajak dia bersalaman.
Namun Isvara hanya bergeming. menatapnya tak minat Padanya.
"Oh, oke, gue ngerti." dengan ragu Brandon menarik tangannya kembali. pria itu sedikit terkekeh, karna baru kali ini ada gadis yang menolak Jabat tangannya.
Seperti kata Samuel, Isvara memang gadis yang menarik dan berbeda dari gadis kebanyakan.
"Gue tau pernikahan lo dan Gerald di dasari karna keterpaksaan dan gue tau lo pengen banget kabur dari sini," ujar Brandon mendekatinya.
"Apa mau mu?" tanya Isvara, ekor matanya memperhatikan gerak-gerik Brandon yang memutari tubuhnya.
Sejak dulu ia memang selalu waspada terhadap Brandon, pria itu selain pengguna dan pemabuk, selalu menatapnya seperti menahan hasrat dan itu membuat Isvara risih.
"Apa mau gue? hanya ingin memberikan sebuah penawaran buat lo."
"Apa itu?" entah kenapa Isvara tertarik.
"Lo pasti pengen kabur kan dari Gerald? lo juga pengen dong ketemu ayah lo yang selama ini pengen lo temuin."
Dalam hati Isvara membenarkan itu semua. ia merindukan sang ayah.
__ADS_1
"Jangan bertele-tele."
Brandon cukup terkejut. "Wow, kalem girls, agresif amat." suara Brandon begitu aneh di telinga Isvara.
Insting kewaspadaannya langsung berbunyi, Isvara sudah cukup trauma saat ia hendak di lecehkan dulu, ia takut Brandon hendak melakukan itu padanya saat ini.
"Jika hanya ingin mengerjai ku, lebih baik aku pergi." Isvara hendak berbalik.
"Tunggu! kali ini gue serius!"
Isvara menghentikan langkahnya. menatap serius pada Brandon.
"Jadi cewek gue, jadi pacar gue, baru gue bisa bantu lo buat kabur dari sini."
Duarr! seperti ada yang tersengat dalam dirinya, Isvara sangat terkejut. dia hanya bisa diam membeku.
"Gue tau lo gak bisa jawab sekarang, jadi gue tunggu malam ini di taman belakang."
***
Di perjalanan selesai berbelanja, Isvara terus merenungkan ucapan Brandon. ia tidak menyangka pria seperti Brandon bisa mengatakan hal itu.
Menjadi kekasihnya? itu sama saja keluar dari kandang buaya masuk ke kandang singa. Isvara hanya akan terus menderita.
Tapi tidak bisa di pungkiri, ia ingin pergi dan menghilang sejauh-jauhnya dari Gerald, dari rasa sakitnya selama ini. juga ingin bertemu sang ayah.
Sementara di sisi lain, Gerald sedang mengecek email yang masuk di ponselnya, pria itu terus menatap layar dan sangat fokus di kursi penumpang.
Sampai akhirnya pandangannya entah mengapa refleks ke arah jalanan dan melihat seorang wanita yang sedang membawa kantung belanjaan di pinggir jalan.
"Bukankah itu Isvara? ngapain si bodoh itu jalan kaki?" Gerald menyipitkan matanya, demi melihat jelas. ya dia tidak salah lagi, itu Isvara dan gadis itu terlihat melamun.
Gerald tiba-tiba melotot, pria itu terkejut bukan karna melihat Isvara namun melihat sebuah truk yang akan melintas tepat di depan gadis itu.
Gawat, truk itu akan menabraknya. Gerald segera saja membuka mobil tak peduli dengan asisten yang meneriaki namanya.
"Tuan muda, anda mau kemana?!"
Gerald mengayunkan kakinya dengan sekuat tenaga, ia berlari tak perduli keadaan jalan sedang macet, yang di otaknya hanya ada Isvara kini.
Tin! tin! Suara klakson terus terdengar mendengung, namun Isvara tak mengindahkan, seperti orang tuli Isvara terus berjalan ke tengah, di pikirannya terus di ingatkan oleh penghinaan dan penganiayaan yang di berikan Gerald padanya, dan membuatnya sangat terluka.
"Isvara!" Gerald meneriaki namanya dengan lantang, pria itu terus berlari hendak menggapai Isvara.
Tidak akan! tidak akan ia biarkan Isvara tiada, karna kini ia sudah mulai menyadari perasaannya untuk gadis itu.
"Isvara!!"
__ADS_1