
Setelah kekacauan yang di lakukan Laura berakhir, malamnya Gerald menemui Isvara, acara barbeque yang rencananya akan Gerald adakan malam ini pun terpaksa di undur karna kekacauan ini.
Kini mereka berdua berada di paviliun kecil yang berada di halaman belakang yang luas, malam ini rembulan bersinar terang cahayanya membuat bintang di langit yang tertutup awan menjadi jelas terlihat.
"Ra, buat tadi siang aku minta maaf," ucap Gerald memulai percakapan mereka.
"Gak apa-apa, itu bukan salah kamu," kata Isvara. Tapi entah kenapa di dalam hatinya ia berkata lain, seperti ada yang mengganjal kini.
"Ra, kamu tahu lima bulan sudah berakhir, seminggu lagi adalah pergantian bulan, bagaimana menurut mu?"
Isvara yang tadinya menatap ke depan beralih memandang Gerald. apakah akhirnya kini dia mengeluarkan semua yang dia rasakan.
"Aku tidak tahu, ucap gadis itu pada akhirnya. "Bagaimana nanti saja."
"Kita gak bisa begini terus Ra, setidaknya katakan apa kau mencintaiku?"
Mereka saling memandang selama beberapa detik, Isvara tak berani menatap lebih lama bola mata hazel seterang senja itu.
"Aku tidak tahu, sungguh Gerald aku bahkan bingung dengan perasaanku sendiri."
Gerald membeku, lalu ia mendesah pelan. "Apakah perjuangan ku selama tiga bulan terakhir ini sia-sia?"
"Tidak," sanggah Isvara cepat. "Hanya saja aku butuh waktu."
"Bahkan kita baru saja menikmati hubungan baru yang lebih baik, tapi dia, Laura? wanita itu masa lalu mu, melihat bagaimana dia yang begitu mencintai mu, membuatku ragu."
"Ra, dia tidak mencintaiku, Laura hanya obsesi, seperti saat itu aku Padanya, dia hanya tidak sadar saja saat ini."
"Entah obsesi atau cinta, aku tidak bisa memikirkannya, yang ku tahu dia pernah punya hubungan dengan mu dan itu membuat ku sakit."
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa merasakan perasaan yang seperti ini, tapi saat melihat bagaimana dia yang mencium mu, aku--aku, aku tidak tahu." Isvara menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Gerald menyadari satu hal, lalu pria lebih mencondongkan tubuhnya dengan Isvara.
"Kau cemburu?"
"Hah?" Isvara memasang wajah terkejut.
"Iya, kau cemburu saat melihat Laura yang mencium ku?" entah kenapa euforia langsung datang begitu saja pada Gerald.
"Perasaan yang kamu rasakan ini, cemburu namanya."
Isvara masih berfikir, mungkinkah apa yang di katakan pria itu? sejak dulu Isvara belum pernah merasakan yang namanya benar-benar jatuh cinta. Hanya cinta monyet saat dia masih remaja dulu, itupun akhirnya cowok yang dia sukai saat SMP itu lebih memilih gadis yang lebih cantik dan populer darinya.
Sejak saat itu Isvara menanamkan pertahanan diri untuk tidak gampang menaruh hati, dan lebih berfokus dalam pendidikannya dan membuat sang ayah bangga.
"Isvara, kalau begitu kamu sudah mencintai ku," ucap Gerald yakin.
"Aku tidak tahu Gerald, Jangan menyimpulkan hal yang aku sendiri tidak rasakan!" Isvara berdiri Membuat Gerald ikut berdiri.
__ADS_1
"Jangan memaksaku!" Isvara membuang muka ke samping.
Gerald menghela nafas. "Aku tidak memaksamu, aku hanya menyampaikan apa yang kurasakan, maafkan aku."
Gerald memegang kedua pundak Isvara dan membalikkan tubuh gadis itu hingga kini mereka berhadapan.
Gerald menatapnya lembut, detak jantung Isvara tak bisa di kendalikan. perlahan Gerland mendekat, membunuh jarak di antara mereka, mengusap kedua pundak itu dengan lembut.
"Kalung itu sangat cocok untuk mu," ucap Gerald memperhatikan Kalung yang di berikannya pada Isvara.
Gerald menyatukan kening mereka, deru nafas keduanya seakan berkejaran.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menyerah untuk meruntuhkan tembok dalam hatimu dan membiarkan ku masuk ke dalamnya."
***
Samuel datang menemui Gerald, mereka sudah berjanji untuk bertemu di suatu bar, Samuel yang mengajaknya, dia bilang ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
Gerald bersiap, dia pun butuh hiburan Sekarang, kejadian kemarin sungguh membuat jam tidurnya berantakan.
"Lo bilang apa kemarin sama Laura?" saat mereka baru sampai, Samuel langsung memberondonginya dengan pertanyaan.
"Apa maksud lo? katanya mau ngomongin hal yang penting?"
"Iyah hal yang penting itu tentang Laura," ucap Samuel.
"Doang kata lo!"
Bugh! Samuel meninju tepat rahangnya, Gerald mendesis.
"Maksud lo apa ini?" seumur hidup mereka berteman baru kali ini Samuel bermain fisik dengannya, sebagai seorang bawahan tak etis rasanya pria itu melakukan ini.
Tapi setan kemarahan telah lebih dulu mengambil alih tubuhnya hingga dia nekat melakukan itu, sekarang walaupun Gerald memecatnya dari pekerjaannya Samuel sudah tidak peduli.
Bughh! tak mau kalah Gerald juga memberikan bogem mentah pada pria itu.
"Lo gak tau apa-apa, dan jangan pernah ikut campur!" ucap Gerald. nafas keduanya memburu tak beraturan.
"Laura kemarin nangis, dia bilang ke gue lo ngomong yang gak-gak ke dia?"
"Oh, lo jadi ngelunjak kaya gini ke gue, gara-gara dia ngadu ke lo?"
Samuel menggeleng pelan. " Lo tau gak sih sebelum dia jadi pacar lo dia itu temen gue, bisa-bisanya lo ngomong yang enggak-enggak ke dia!"
"Lo udah nyakitin dia Ger."
"Gue tahu, tapi apa bisa gue bohongin perasaan gue sendiri? apa salah kalau gue nemuin cinta gue yang sesungguhnya?"
"Gak Ger, lo gak salah," Samuel perlahan melemah. "Tapi gue gak bisa ngeliat dia nangis terus."
__ADS_1
"Gue tau, lo cinta kan sama dia?"
Samuel mendongak, membeku sejenak lalu pria itu mengangguk.
"Gue tahu kemarahan lo tadi gak di sengaja, selama ini Isvara sudah mengajarkan gue apa itu artinya kesabaran dan kali ini gue gak akan marah."
"Gue menyadari lo cinta sama Laura sejak gue sadar perasaan gue ke Laura dulu cuma obsesi doang."
Perlahan suasana terkendali, "Sekarang saatnya lo ngejar cinta lo!"
"Tapi dia cuma cinta ke lo doang." Samuel menunduk, menyesal dengan tindakannya tadi. "Gue terlambat."
"Gak ada yang terlambat dalam cinta Sam, itu yang gue pelajari juga dari Isvara, bahkan sekarang pun gue masih berjuang buat cintanya."
"Dan lo pun harus begitu," tambahnya.
Samuel tersenyum tipis. "Makasih Ger, sekarang lo jadi lebih pengertian, Isvara udah ngerubah lo sampai segininya ya."
Samuel terkekeh pedih. "Gue salah dengan pemikiran gue kemarin-kemarin, nyatanya Isvara memang gadis baik."
"Dia segalanya Sam, dia segalanya buat gue," ucap Gerald, tatapannya seperti menerawang.
Samuel tersenyum. "Semoga Lo berhasil memperjuangkan cinta lo."
Gerald menatapnya. "Thanks, lo pun harus begitu."
Samuel terdiam.
"Lo baik banget Ger, tapi gue sama Laura malah menghianati lo dari belakang, bagaimana reaksi lo kalo tau yang semuanya?"
Samuel menatap sendu, bukankah sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga.
Bagaimana suatu hari nanti Gerald tahu tentang perselingkuhannya dengan Laura selama ini?
***
Isvara menutup pintu kamar mandinya seusai membersihkan diri.
Gadis itu merenung di tepi kasur, mengingat kejadian dengan Laura tempo lalu, dia bersyukur Mahesa datang di waktu yang tepat dan berhasil menyelesaikan kekacauan.
Isvara menghela nafas panjang, netranya menatap langit-langit kamar ini. Kamar yang seminggu lagi akan dia tinggalkan.
Tringg! sebuah notif pesan masuk dari ponselnya, ia mengambil benda pipih itu dia atas nakas, menggeser layar yang sudah retak parah akibat terjatuh kemarin.
Isvara membuka pesan yang baru masuk. unknown number?
[Besok, aku tunggu saat matahari tenggelam, temui aku di cafe saat pertama kali kita bertemu.
Mr.G]
__ADS_1