TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab 21 : Menyekapnya di dalam gudang


__ADS_3

Isvara sampai di pinggir jalan raya, taksi yang di membawanya tadi tak ada di sana, terpaksa ia harus menyetop taksi lagi untuk pulang.


Taksi berhenti, Isvara hendak masuk namun sebuah tangan besar mencekalnya.


"Tunggu dulu!"


Isvara berbalik. "Mau apa kau?" Ucapnya pada pria yang ia lihat bersama Gerald tadi.


"Wait, jangan marah dulu nona cantik, aku hanya ingin berkenalan."


"Saya sibuk,permisi!" Isvara hendak membuka pintu mobil namun Samuel menahannya.


"Maaf pak, penumpangnya tidak jadi duduk," ucapnya pada sang sopir taksi.


Taksi itu pergi setelah sopirnya menyumpah serapahi mereka.


"Ini gara-gara kau!" Isvara mendelik menatap Samuel.


"Kenapa kamu suka sekali marah-marah nona? Itu bisa mengurangi kecantikanmu loh!"


"Kau asistennya Gerald bukan, tidak ada alasan untuk beramah tamah padamu."


Samuel tersenyum. Ia suka dengan model wanita yang seperti ini, sangat menantang untuk di dapatkan.


"Kamu istrinya Gerald bukan? Boleh aku tahu kenapa kamu sangat membencinya?"


"Sayangnya bukan,aku hanya pembantu untuknya. Dan aku tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan mu."


Isvara lalu berjalan menghindari pria itu, sekilas ia melirik Gerald dan Laura yang berdiri menatapnya, Isvara muak dan pergi dari sana.


"Sudahlah Gerald,kenapa kamu menyusulnya? Lihat, dia malah kejar-kejaran bersama Samuel, itu membuktikan wanita itu tidak setia padamu."


"Cukup!" Gerald membentak. "Memangnya kau tahu apa?"


Nyali Laura seketika ciut. "Gerald,aku hanya--"


"Jangan bicara lagi, pergi dari hadapan ku sekarang!" Potong Gerald membuat Laura berjengit takut.


"Tapi Gerald ... "


"Ku bilang pergi, sebelum aku berubah kasar!" Kali ini suara Gerald tak main-main.


Laura yang takut seketika meninggalkannya sendirian.


Gerald masih menatap Isvara dan Samuel yang kini terlihat kejar-kejaran seperti anak kecil. Seketika dadanya panas, ia tak suka melihat itu.


"Berhenti mengejarku!" Peringat Isvara.


"Kamu sendiri yang minta untuk di kejar nona."


"Jangan mengada-ada, minggir!" Darah Isvara memanas, karna pria ini tak mau juga minggir.

__ADS_1


"Kau tahu kenapa kau selalu di kejar? Karna kau itu cantik, mengalahkan ribuan bintang yang ada di langit, seperti bunga yang baru mekar, membuat para kumbang tertarik untuk hinggap padamu."


Samuel mulai mengeluarkan trik nya sebagai seorang Casanova yang berpengalaman. Sayangnya itu tidak berlaku untuk Isvara.


"Jangan terus mengoceh,awas!" Kali ini Samuel mengalah, menyingkir.


Samuel memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. "Astaga, ada wanita yang sama sekali tidak terbuai dengan rayuanku? Ini tidak mungkin!"


Isvara terbebas dari Samuel,namun tiba-tiba Gerald menghalangi jalannya. ia menghela nafas jengah.


"Minggir!"


Gerald menatap nyalang lalu mencengkeram pergelangan tangan Isvara.


"Ikut denganku!" dengan tatapan tajam yang menghunus dalam, Gerald dengan tega menarik Isvara hingga kesakitan.


"Gerald,bukan begitu caranya mengatasi sebuah kecemburuan."


"Minggir, ini bukan urusanmu!" Gerald menghempaskan tubuh Samuel.


"Tapi Gerald,kasihan dia meringis kesakitan, lo terlalu kasar." Samuel kali ini ingin membela Isvara.


"Kubilang minggir!" Gerald mendorong tubuh Samuel lalu kembali berjalan menarik tangan Isvara, mengundang perhatian mereka yang melihatnya. Namun Gerald yang sudah di ambang kemarahan tidak perduli itu, terus menarik Isvara Meskipun gadis itu sudah menangis ketakutan.


***


"Gerald lepaskan,kau mau bawa aku kemana ... " Isvara terisak kencang, kedua tangannya di tarik Gerald, gadis itu di seret entah kemana.


Isvara menatap ke sekeliling, tempat ini menyeramkan, sebuah gudang terbengkalai ada di depan mereka, mau apa Gerald membawanya kesini?


"Gerald, lepaskan aku, kau bawa aku kemana? kumohon lepaskan aku, demi tuhan Gerald!"


Gerald tetap diam, seakan menulikkan telinga, tangisan pilu Isvara tak membuatnya luluh, seakan setan tengah mengambil alih tubuhnya kini, ia tetap menyeret Isvara mendekati gudang.


Ketakutan Isvara terbukti, Gerald dengan kunci di tangannya membuka gembok pintu gudang itu dan menyeret Isvara untuk masuk kedalamnya.


Isvara tangis jerit Isvara pecah seketika, ia hendak keluar tapi Gerald sudah lebih dulu menutup pintu gudang ini.


"Gerald, kumohon Gerald keluarkan aku, Gerald aku takut!" dengan isakannya Isvara menggedor-gedor pintu gudang, namun nihil, Gerald sudah meninggalkannya, Sendirian dalam gudang.


"Ini adalah hukuman untukmu karna sudah membuatku marah!"


***


Siang di gantikan sore, langit senja tampak menggantung indah di angkasa. Gerald baru pulang setelah memberikan hukum yang ia rasa pantas untuk Isvara.


Sementara Isvara di dalam gudang kosong itu sendiri, menangis sejadi-jadinya hingga kini air matanya kering di gantikan ketakutan karna malam semakin merangkak naik.


Gudang ini gelap, sunyi, dan lembab. Isvara sangat takut.


Selain ketinggian, Isvara benci dengan kegelapan. ia bukan takut dengan gelapnya,melainkan takut dengan sosok yang muncul dari kegelapan itu.

__ADS_1


Oleh sebabnya, sejak kecil Isvara tidak akan pernah membiarkan lampu di kamarnya padam, meskipun terkadang mati lampu, ia akan berlari untuk memeluk ayahnya guna menghilangkan rasa takutnya.


Tapi kini tidak ada yang bisa Isvara peluk, ayahnya tidak ada di sini, hanya ada tumpukan jerami yang lebih mirip dengan bayangan Monster.


Isvara hampir mati ketakutan, ia ingin keluar, sungguh. akhirnya ia hanya bisa menangis,menekuk lutut dan meletakan kepalanya di atasnya.


"Ayah ... Vara takut ... "


***


Di kamarnya Gerald merasa gelisah,waktu menunjukkan pukul delapan malam, bagaimana dengan keadaan gadis itu?


Sebenarnya Gerald hanya ingin menggertak Isvara dengan membawanya ke gudang yang sudah tidak terpakai milik keluarga.


Sebelum pergi meninggalkan Isvara, Gerald sudah menghubungi beberapa orang suruhannya untuk berjaga di luar agar Isvara tidak sendirian.


Yang ia harapkan hanya permohonan gadis itu, berharap Isvara menelponnya dan mengatakan Maaf,lalu dengan begitu ia bisa membebaskan gadis itu.


Namun tidak ada panggilan dari Isvara dan itu membuatnya kesal.


Namun sayangnya satu hal yang tidak di ketahui Gerald, Isvara sama sekali tak membawa ponselnya dan walaupun ingin menghubungi, di gudang itu sama sekali tidak ada sinyal.


Gerald keliru, arogan dan keegoisannya telah mempertaruhkan akal sehatnya kini.


Apakah Gerald sungguh sangat keterlaluan kali ini?


Meninggalkan seorang gadis malang seorang diri di dalam gudang hingga kini menjelang malam? tidak tahu resiko apa yang akan di tanggung gadis itu.


Apakah gadis itu ketakutan?


Apakah gadis itu masih menangis sendirian? tidak ada yang tahu.


Ya, Gerald sangat keterlaluan kali ini. dan dia menyadarinya.


Lalu ia mengambil jaket dan kunci mobilnya, memburu waktu yang semakin tak mau menunggu, demi menyelamatkan wanitanya kini.


"Tunggu aku Isvara."


***


Mahesa yang baru pulang dari kuliahnya tak sengaja melewati kamar Gerald. ia mungkin lelah dengan segala tugas dan makalah mata kuliahnya, namun itu tergantikan dengan suara Gerald yang menyebut nama Isvara di dalam telepon.


"Apakah Isvara masih ada di gudang?"


"Ya, tetap berjaga di sekitar gudang, tapi jangan sampai ketahuan olehnya."


Mahesa semakin mendekatkan telinganya, lalu ia mencoba untuk mencerna semuanya.


Setelah menyadari situasinya, Mahesa buru-buru berlari, rasa lelahnya tiba-tiba hilang, digantikan oleh rasa khawatirnya pada gadis bernama Isvara.


"Gerald, kau benar-benar sudah keterlaluan!"

__ADS_1


Mahesa dengan kekuatan penuh menancapkan gas mobilnya di atas kecepatan rata-rata. ia harus cepat menyelamatkan Isvara.


"Isvara, tunggu aku, kumohon bertahanlah."


__ADS_2