
Gerald menatap jenuh langit-langit kamar hotel ini, lima belas menit berlalu, tapi Isvara belum juga keluar dari kamar mandi.
"kenapa wanita senang sekali menghabiskan waktu di kamar mandi." gerutu Gerald membuang nafas jengah.
Krieet! pintu kamar mandi akhirnya terbuka, Gerald bangkit dari tidurnya. pria itu membeku seketika, melihat penampilan Isvara yang hanya memakai kemeja pemberiannya.
Hening, semua tampak lenggang, Isvara berjalan dengan gerakan tak nyaman, kemeja putih Gerald terlihat kebesaran bagi tubuhnya dan hanya menutupi sampai batas pahanya saja. jujur, Isvara sedikit risih.
Gerald tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Isvara, gadis itu begitu polos, cantik dan elegan, padahal yang di kenakan hanya kemeja putih biasa yang terlihat kebesaran, tapi entah kenapa itulah yang menjadi daya tariknya.
"J-jangan menatap ku seperti itu," kata Isvara pada Gerald yang sangat intens menatapnya.
"Kau sangat cantik, Ra," puji Gerald, entah ini yang ke berapa kali Gerald memujinya dan itu sukses membuat Isvara bersemu merah.
"Eumm, apa kita akan tidur di kasur yang sama?" tanya Isvara ragu-ragu.
"Kenapa? kau tak mau?" tanya Gerald."
"Jika begitu aku akan tidur di bawah," ucap Gerald cepat tak membiarkan Isvara berbicara, pria itu lalu mengambil satu bantal dan menaruhnya.
Gerald tahu Isvara akan risih jika mereka tidur di ranjang yang sama, dan Gerald tak ingin membuat Isvara tak nyaman.
"Tunggu, bukan begitu maksud ku," ujar Isvara,namun Gerald malah lebih dulu menjatuhkan bobotnya di lantai, tidur terlentang dengan hanya satu bantal.
Bola mata Isvara bergerak khawatir, namu. Gerald tak mengindahkannya, Isvara merasa bersalah karenanya.
'Tidak apa-apa, aku tahu kau tidak akan suka jika kita berdekatan, kau tidur saja di kasur," ucap Gerald dengan menyilangkan siku di dada, tubuh kekar dengan urat-urat terlihat nyata hanya terbalutkan kaos hitam, dan itu pemandangan yang baru untuk Isvara.
"Tunggu bukan begitu maksud ku?" percuma saja Isvara bersuara, pria itu telah memejamkan matanya.
***
Di tempat lain yaitu di rumah orang tua Laura, pak Reno dan Bu Tina orang tua dari Laura terlihat cemas terduduk di sofa mereka karna sudah tak bisa melihat Laura yang terus mengurung diri di dalam kamar.
"Pak, gimana ini, Laura tidak mau juga ke luar kamar," ucap Bu Tina sangat khawatir dengan putri semata wayangnya.
__ADS_1
Pak Retno dengan kerutan di matanya itu juga sama cemasnya dengan sang istri, "Kita samperin lagi ke kamarnya Bu."
Kedua orang itu lalu menghampiri kamar putri mereka, pak Retno mengetuk pintu kamar sang putri.
"Laura, keluarlah nak, kamu sudah dua hari mengurung diri, kamu belum makan apapun, setidaknya makan sesuatu walaupun sedikit."
Di kamarnya Laura tidak mempedulikan teriakan orang tuanya di luar, dia terlihat sangat cemas kini.
Lalu rasa mual tiba-tiba menyerangnya lagi, seakan mengaduk-ngaduk isi perutnya, wanita itu lalu berjalan tergesa ke arah wastafel dan menumpahkan semua isi perutnya di sana.
Setelah melakukan itu Laura terduduk lemas, nafasnya memburu dengan keringat dingin yang mengucur, sejak kemarin ia tak ingin keluar kamar karna ini, bahkan semua job artisnya kini terbengkalai karna rasa mual yang terus menyerang.
"Huek! huek!" rasa mual itu kembali datang dan membuat dia mau tak mau menumpahkannya lagi, bahkan dari kemarin dia belum makan apapun, tapi terpaksa harus mengeluarkan isi perutnya.
Orang tuanya di luar tampak sangat khawatir mendengar suara Laura yang muntah-muntah.
"Pak kenapa dengan putri kita?" Bu Tina sangat cemas sekali.
"Bapak juga tidak tahu. begini saja bapak panggilkan dokter,ibu tunggu di sini." putusnya.
Bu Tina mengangguk, ia tak ingin sesuatu terjadi pada sang putri di dalam sana.
Di rabanya perut yang rata. "Apa jangan-jangan ..." wanita itu melotot histeris.
***
Kembali lagi pada kedua sejoli di kamar hotel ini, Isvara di atas kasurnya bergerak ke sana ke mari tampak cemas, ia tak bisa tidur itu tentu saja, suara hujan di luar sana masih terdengar jelas, sepertinya hujan kali ini akan awet sampai pagi.
Sesekali dia akan mengintip keadaan Gerald di bawah, pria itu sepertinya tidur dengan tenang seperti tidak merasakan apapun. Isvara memperhatikannya, bahkan di saat tidur pun wajah sombongnya masih tercetak jelas. Isvara terkekeh geli.
Sementara Gerald sebenarnya hanya menutup matanya saja, pria itu tidak benar-benar tertidur. bagaimana bisa dia tertidur sedangkan alasnya saja berupa lantai yang keras seperti ini, membuatnya sangat tak nyaman.
"Ugggh! kenapa lantai ini keras banget sih, badan ku rasanya seperti remuk dari dalam."
Namun Gerald masih berusaha untuk menyelami alam bawah sadarnya dan tertidur, meski itu sangat susah, dia yang terbiasa tidur di ranjang king size yang empuk dan nyaman kini malah tersiksa tidur beralaskan lantai.
__ADS_1
Tapi tidak apa-apa, demi Isvara apapun akan dia lakukan.
Jedder! Guntur tiba-tiba terdengar, kilat menyambar-nyambar hal itu membuat Isvara tersentak, sangat terkejut.
Isvara menyumpal kedua telinganya dengan telapak tangan, dia sangat takut dengan suara petir, tubuhnya bergetar hebat tak tahan dengan suara bising itu.
Jedder! petir kembali terdengar kali ini sangat keras suaranya hingga membuat Gerald pun membuka mata.
"Aaaaaa!"
Isvara tiba-tiba berteriak ketakutan dan turun meninggalkan kasur, gadis itu dengan refleks memeluk tubuh Gerald di lantai.
Gerald tertegun, Isvara memeluk punggungnya sangat kencang, badan gadis itu bergetar, dengan memejamkan mata.
"Hei,kau kenapa?" tanya Gerald.
"Aku takut, aku takut suara petir," ucap Isvara masih memejamkan matanya. memeluk Gerald seperti ini entah kenapa menyalurkan rasa aman untuknya.
Gerald memandangnya, pria itu mengulum senyum tipis, melepaskan pelukan Isvara, gadis itu membuka matanya.
Gerald lalu merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya,lalu berbisik di telinganya. "Tidak apa-apa, kamu aman bersamaku."
Gerald lalu merentangkan sebelah tangan kekarnya dan membuatnya seperti bantalan untuk Isvara, lalu sebelah tangan pria itu memeluk bahu Isvara dengan lembutnya.
Tubuh Isvara berdesir, aliran darahnya seakan berjalan lebih cepat, jantungnya berdetak sangat kencang, merasakan kehangatan yang diberikan pria itu.
Tanpa sadar Isvara pun mengulum senyum, di dalam dekapan hangat pria itu Isvara merasakan kenyamanan, deru nafas Gerald pun dapat dia rasakan menerpa wajahnya.
"Tutup matamu sayang dan tidur, aku akan selalu memeluk mu sampai pagi."
Isvara mengangguk, sedikit mendongak menatap wajah tampan sang suami, dengan keberanian yang terkumpul, Isvara mengelus rahang tegas itu, mengusap bulu-bulu halus di dagu runcingnya.
Isvara melambai-lambai kan tangannya di wajah Gerald, merasa pria itu sudah tidur, Isvara memajukan wajahnya.
"Terimakasih. selamat malam." cup! Isvara mengecup bibir Gerald sekilas,dia sedikit terkekeh, lalu menyadarkan wajahnya di dada bidang sang suami.sangat nyaman dan tenang, dia pun ikut memejamkan mata menyusul ke alam mimpi.
__ADS_1
Gerald membuka mata perlahan, pria itu ternyata belum tidur, bibir pria itu berkedut karna ciuman dari Isvara tadi. lalu sedikit menunduk, Gerald mengecup pucuk kepala sang istri.
"Good night, baby."