TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab 35 : Panggilan dari Samuel : awas pawangnya marah!


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang yang hanya di isi dengan kebisuan,mobil akhirnya mendarat di parkiran gedung.


Gerald telah turun lebih dulu, sementara Isvara masih menata hati untuk mencerna semua ini. Tangannya terasa dingin dengan debaran dada yang semakin tidak terkendali.


"Ayo,turun." Suara Gerald Membuat Isvara menoleh.


Terasa asing untuknya mendengar nada lembut dari mulut pria itu. Biasanya yang Isvara dengar hanya bentakkan dan juga hinaan dari pria itu. Semua terasa asing.


"Kamu tidak mau turun?" Kali ini seruan Gerald membuatnya tersadar dari lamunan. Dilihatnya pria itu mengulurkan tangan untuk membantunya.


Isvara mengangguk, sebelah tangannya menggapai tangan Gerald dan sebelah tangannya lagi menyingkap sedikit bahan gaunnya agar tidak merepotkan.


Isvara terkesima dengan ramainya lampu kerlap-kerlip di sekitar gedung. Ada sebuah karpet merah besar yang yang terbentang luas untuk tamu kehormatan, jalan.


Ada sekitar empat pembatas seperti pagar kecil yang masing-masing di jaga oleh dua bodyguard.


Acara pesta ini benar-benar ekslusif dan megah. Seperti acara orang-orang kolongmerat lainnya, bernuansa emas dan sangat mahal pastinya.


Gerald menatap wajah Isvara yang penuh dengan binar kebahagiaan. Rasanya, ia akan melakukan apapun untuk tetap mempertahankan binar itu dari mata cantik sang istri.


"Kamu suka?" perkataan Gerald membuat Isvara menoleh.


Isvara tersenyum tipis, lalu mengangguk. mereka berdua berjalan masuk, Gerald dengan ragu menautkan jemarinya dengan jemari Isvara.


Isvara tersentak,menatap wajah pria itu yang sedikit memerah.


Isvara mengira ini adalah salah satu acting mereka agar terlihat sebagai pasangan yang lebih natural di hadapan publik, jadi ia melakukannya dengan sebaik mungkin, mengenggam tangan besar Gerald dengan mesra.


"Tidak apa-apa,toh ini hanya acting." ucapnya dalam hati.


Sementara Gerald? jangan tanyakan bagaimana keadaan hatinya kini. Gerald semakin yakin jika dia memang benar-benar telah jatuh cinta pada gadis ini.


"Isvara ... apa yang telah kau lakukan hingga membuatku seperti ini?"


***


Isvara dan Gerald sampai di ruangan pesta. Di sini lebih ekslusif lagi tempatnya. Para tamu undangan yang mulai ramai menikmati acara, MC dan keluarga tuan rumah yang berada di atas panggung utama.


Isvara memandang takjub semua orang di sini, mereka berpakaian sangat mewah dan pastilah orang-orang penting semua. Ia tidak menyangka pesta ulang tahun anak seorang kolongmerat akan semegah ini.


Sementara Gerald memandang risau ke arah ponselnya. Dia sedang menunggu seseorang, yaitu Samuel. Gerald sudah memerintahkan Samuel untuk menjemput Laura, karna wanita itu kekeuh ingin. ikut dengannya.


Meskipun dia sudah menyadari perasaannya untuk Isvara, Gerald tetap tidak bisa mengabaikan Laura. dia akan memberitahu Laura jika hubungan mereka harus segera di selesaikan.


"Isvara," panggilnya Membuat gadis yang semula memandang ke sekeliling itu menoleh.


"Aku harus menelpon seseorang sebentar, bisakah kau menunggu di sini dulu?"

__ADS_1


Isvara mengangguk, Gerald tidak pernah ijin jika ingin pergi, pria itu bersikap aneh seharian ini. Lagipula dirinya juga sering di tinggalkan.


Gerald tersenyum, mengusap pelan pipi Isvara dan melangkah ke belakang. Isvara agak kaget dengan tindakan Gerald itu,namun lagi-lagi ia hanya berfikir Gerald hanya sedang acting di hadapan publik. Bagaimana pun Mereka harus bersikap sebagai pasangan yang bahagia.


Setelah kepergian Gerald, Isvara hanya berdiri terpaku sendiri. Tidak ada yang di kenalnya di sini,semua terasa asing.


Hingga sebuah tepukan di bahu mengagetkan Isvara, Membuat gadis itu memutar setengah badannya.


"Hai," sapa seseorang. "Lo di sini juga?"


Isvara terkejut, pria itu ternyata Brandon, rambut panjangnya di ikat hingga Isvara tidak terlalu mengenalinya.


"H-hai juga," Isvara mengusap lehernya karna gugup.


"Lo di undang?" tanya pria itu.


"Aku datang bersama Gerald," ucap Isvara.


Mendengarnya tatapan Brandon meredup. "Oh, jadi lo di sini jadi partner nya Gerald?"


Isvara hanya mengangguk. Dari yang Isvara tahu pesta ini mengusung konsep berpasangan, jadi siapapun yang sudah mempunyai pasangan, bisa membawa pasangan mereka juga. karna nanti ada sesi dansa untuk mereka yang berpasangan.


"Jadi ini alasan lo nolak gue terus, karna udah terjerat sama bujuk rayuannya si Gerald?" ucapan pria itu bernada sinis.


Isvara menggeleng. "Tidak seperti itu, A-aku hanya menjadi pasangan pura-pura nya saja."


"Kalau emang untuk jadi pasangan, kenapa di gak ajak pacarnya aja si Laura? yang pastinya lebih cantik dan berkelas dari pada lo." ucapannya begitu pedas dan tajam.


"Sadar Isvara, pria itu cuma mempermainkan lo doang, dengan ajak lo kesini cuma untuk mempermalukan lo aja," ujar Brandon.


Tatapan Isvara menjadi tajam tak suka dengan cara bicara Brandon.


"Kamu gak tau apa-apa, Gerald gak seperti yang kamu bilang," ucapnya tegas.


Di sisi lain Brandon malah terkekeh. "Jadi lo ngebelain dia nih? Isvara pikir pake otak, selama ini apa yang dia perbuat? cuma nyakitin lo doang."


"Mending sama gue,Lo bisa kabur sejauh-jauhnya dari dia dan menemukan kebahagiaan lo." Brandon dengan berani menggamit tangan Isvara dan mengenggamnya sangat erat.


Isvara meringis, ia sangat ketakutan, bahkan di tempat ramai seperti ini Brandon dengan beraninya melakukan hal ini.


"Lepaskan Brandon ... Sakit ... " Isvara semakin meringis, ia bahkan bisa merasakan tulang tangannya yang di tekan kuat.


"Kali ini gak Isvara, gue gak bakal ngelepasin lo, udah cukup selama ini gue mengalah," ucap Brandon menyeringai.


"Dasar gila, lepaskan aku." Isvara menjatuhkan tas kecilnya lalu sebelah tangannya bergerak memukul Brandon.


Sementara Brandon yang mendapat perlawanan malah semakin tertantang, semua orang di sini hanya diam melihat, itu wajar karna mereka tidak akan berani dengan Brandon adriano, seorang pria yang terkenal karna pernah menghabisi nyawa seseorang karna pengaruh mabuk, dan beritanya cukup viral dulu, dan membuat nama keluarga wirasena menjadi tercemar dan malu.

__ADS_1


"Lo gak akan bisa pergi dari gue Isvara." Brandon terkekeh Membuat Isvara semakin meringis takut.


Bugh! tiba-tiba seseorang memukul wajahnya hingga ia jatuh tersungkur. Isvara yang terkejut segera menepi.


"Gak gitu cara memperlakukan seorang wanita, bro!" Samuel datang tepat waktu dan berhasil membuat Brandon di kerumuni masa.


"Kalau Isvara bilang gak! yah gak, Lo gak bisa maksa dia."


Brandon mengetatkan rahangnya, amarah pria itu tiba-tiba menguasai, hingga ia berdiri dan mencengkeram erat kerah kemeja Samuel.


"Lo!" desisnya dengan wajah memerah padam.


"Apa? mau nyerang gue?" Samuel terlihat tidak takut sama sekali pria itu malah tersenyum mengejek.


"Di depan semua orang begini? kalau gue mati di tangan lo, Lo bakal di penjara lagi dan gak akan pernah bebas."


Perlahan cengkraman di kerahnya mengendur, Brandon menatap tajam wajannya lalu berpindah kepada Isvara, ia juga menatap ke sekeliling, melihat semua orang yang kini memandangnya, seketika harga dirinya seperti di lelang.


Brandon dengan kemarahan menunjuk wajah Samuel. "Lain kali awas Lo!" lalu pria itu berbalik, lalu berjalan kesal setelah mendorong tubuh seorang pria.


"Yeuh, bisanya ngegertak doang," ujar Samuel terkekeh.


"Lo gak apa-apa?" tanya nya pada pria yang di dorong Brandon tadi, pria itu mengangguk. lalu perlahan semua kerumunan melenggang pergi.


Samuel berbalik, lalu berjalan menuju Isvara. "Kamu gak apa-apa?"


Isvara mengangguk. "Gak apa-apa, makasih, coba kalau gak ada kamu tadi."


Samuel tersenyum. "Santai aja, lagian ini sudah menjadi tugasku untuk menjagamu, ibu bos."


"Ibu bos?" dahi Isvara mengernyit.


"Iyah ibu bos, karna kamu menikah dengan bosku Gerald, sekarang aku memanggilmu ibu bos,"kelakar pria itu, tertawa.


"Atau mau aku panggil buketu? karna Gerald dulu ketua geng saat SMA, aku bisa memanggilmu dengan itu?"


Isvara kali ini juga ikut tertawa. "Kau lucu, lebih baik kalau kau memanggilku dengan nama saja."


Samuel tampak berfikir. "Baiklah, bagaimana kalau 'Sayangku'?" goda pria itu.


Tanpa tahu jika sudah ada pria di belakangnya yang menatap tajam ke arahnya.


"Ekhem!" Gerald berdehem keras.


Samuel mematung dengan wajah pucat pasih seperti kehabisan darah.


"Gawat! pawangnya datang!"

__ADS_1


__ADS_2