
Ayah, Isvara dan Gerald melepas pelukan dengan haru, semuanya sudah kembali seperti semula dan semoga akan baik-baik saja sampai ke depannya.
Pandangan Gerald lalu mengarah pada pak Damian. "Paman maaf--"
Ucapan Gerald terputus saat pak Damian menggelengkan kepalanya. "Tidak usah meminta maaf, jika kakak ku saja sudah dengan lapang dada memaafkan mu, maka aku hanya bisa mendoakan kalian semoga menjadi keluarga yang bahagia dan selalu harmonis."
Gerald mengulas senyum. "Terimakasih, paman juga sudah membiarkan Isvara tinggal dan menjaganya selama aku tidak ada, untuk itu aku mengucapkan terimakasih juga."
"Tidak perlu sungkan, sebelum jadi istri mu, Isvara adalah keponakan ku." Gelak pak Damian saat mengatakannya.
Gerald juga ikut tertawa, semuanya terlihat sangat bahagia, namun Rosmini tidak ada di sana, Membuat Isvara bertanya-tanya.
"Paman, bibi di mana?"
"Ouh, bibimu pergi terburu-buru setelah menghabiskan makanannya, mungkin dia akan menghadiri acara arisan di balai desa ... Maklum dialah ketuanya."
"Ouh, hahaha." Isvara ikut tertawa saat pamannya tertawa.
Suasana kembali serius."Lalu kalian bagaimana? apakah kalian akan pulang hari ini?"
Isvara dan Gerald saling melempar pandang, Gerald lalu mengangguk. "Iya paman, akupun tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku lebih lama lagi."
"Untuk itu Isvara akan menanyakan sesuatu," kata Gerald memandang sang istri.
"Apa itu Isvara?" Tanya pamannya.
"Begini paman, aku dan Gerald sudah sepakat, akan membawa ayah ikut serta untuk tinggal bersama kami."
Ayah dan paman tampak terkejut, mereka tertegun sejenak, sementara Isvara melanjutkan perkataannya.
"Aku mengerti, paman sudah sangat baik dalam merawat ayah selama ini, apalagi ayah yang terkadang kumat mungkin sedikit menyulitkan tapi paman sangat pengertian dalam menjaganya."
"Karena dia adalah kakak ku, tentu saja," ucap pak Damian. suasana agak sedikit tegang untuk Isvara,namun Gerald yang melihat itu, segera mengenggam tangan sang istri guna menyemangatinya.
Isvara menatap Gerald, lalu mengangguk. "Aku mengerti paman sangat menyayangi ayah, tapi ijinkan kami untuk merawat ayah kali ini, itupun kami akan menanyakan persetujuan ayah dulu untuk ini."
Isvara menatap ayahnya. "Bagaimana ayah? apakah ayah ingin tinggal bersama Vara, juga Gerald, kita bertiga?"
Saat pak Adi ingin menjawab, namun pak Damian memotong dengan berucap. "Isvara, bisakah Ayahmu tetap di sini saja? paman tahu kalian ingin merawat ayah kalian, tapi dia juga adalah kakak ku." menatap pak Adi.
"Selama ini dia lah yang membesarkan dan merawat ku, orang tua kami, kakek dan nenek mu Isvara, mereka meninggal saat aku bahkan belum bisa bicara, namun ayahmu, yang saat itu masih berusia belasan tahun, merawat ku dengan seluruh hidupnya, menjadi sosok ibu juga ayah untuk ku."
"Kau pasti mengerti bagaimana perasaan ku kan? untuk kali ini saja aku ingin membalas Budi untuk semua kebaikannya."
Isvara memandang Gerald, tak di pungkiri dia pun sangat terenyuh dengan apa yang di katakan pamannya, mereka tak menduga permintaan ini cukup berat untuk di realisasikan. kasih sayang paman untuk ayahnya memang sangat besar karna bagi pamannya, sang ayah adalah sosok kakak sekaligus orang tua untuknya.
"Tapi paman, bagaimana dengan bibi?" Isvara berkata pelan. "Bukan aku ingin menghakimi, tapi bibi sangat ingin ayah keluar dari rumah ini."
Pak Damian tersentak, "Bibimu? ..." dia menjadi bimbang. "Aku mengerti, memang masalahnya ada pada Bibimu." pria itu memandang sendu.
"Bagaimana paman? apa paman bisa mempertimbangkan?"
Hening sejenak, pak Damian tampak berfikir. "Kamu benar nak, selama ini bibimu memang bersikap kurang baik terhadap ayahmu, akupun tidak bisa menolak anak yang ingin merawat orang tuanya."
Pak Damian sekali lagi memandang pak Adi. "Sekarang aku hanya bisa menyerahkan keputusannya pada kakak ku, bagaimana kak?"
Mereka serentak menatap pak Adi, pria dengan kerutan yang semakin banyak di wajahnya itu menatap balik mereka, seperti sedang di interogasi.
__ADS_1
"Sepertinya ... Ayah akan tetap di sini, Vara?"
"Eeeh ... " Semua orang terkejut. "Ayah gak mau ikut Vara?"
"Bukan begitu, hanya saja ayah sudah seperti terikat pada tempat ini, ini juga adalah desa kelahiran ayah, mengenang masa kecil bersama paman mu saat dulu benar-benar membuat ayah tenang."
"Tapi Vara gak mau ayah menderita di sini." menatap sang paman. "Maafkan aku paman, tapi bibi tidak suka ayah terus berada di sini." Pak Damian memaklumi.
"Jika masalahnya ada pada Bibimu, ayah rasa itu bukan masalah."
"Bibimu adalah orang baik Vara, yang kamu lihat selama ini bukanlah hal yang sebenarnya terjadi."
"Tapi Vara sangat ingat,saat bibi mengatakan hal yang tidak-tidak pada ayah?" mengingatnya saja membuat Isvara sedih. tak terbayang ayahnya yang setiap hari mendapat perkataan tak mengenakkan dari sang bibi.
"Bibimu saat itu hanya sedang marah Vara, wajar. saat itu ayah Membuat bibimu khawatir karena ayah saja jatuh dari atas balkon, dan itu membuat Bibimu sedikit kesal, sebenarnya bibimu sangat baik Vara, hanya saja terkadang dia kesal karena penyakit pelupa ayah ini."
"Saat kamu melihat ayah sedang menyapu pun, itu sebenarnya ayah tak menyadari apa yang ayah lakukan karna penyakit ayah juga, bukan karena di suruh bibimu."
Mendengar penjelasan ayahnya itu membuat Isvara mematung, diam dengan keterkejutannya. Lalu Isvara menatap Gerald bergantian menatap sang paman.
"Tapi Vara ingin menjaga ayah ... Maukan ayah ikut Vara?"
"Ayahmu akan tetap di sini, Isvara!" seseorang datang menghampiri, itu adalah Rosmini.
"Kamu kenapa kembali? bukannya kamu sedang ada acara arisan di balai desa?"
"Sebenarnya acara hari ini tidak jadi di lakukan pah, dan sebenarnya aku juga sudah disini sedari tadi, mendengar pembicaraan kalian."
Wanita itu tiba-tiba bersujud di samping tempat pak Adi duduk, sontak semua orang terkejut.
Semua orang tersentuh. Pak Adi berjongkok memegang bahu adik iparnya itu. "Bangunlah Rosmini, kamu tidak perlu sampai seperti ini."
"Kak, padahal aku selalu menyakiti mu, kenapa kamu mengatakan aku wanita yang baik?"
"Karna kamu sudah merawatku," ucap pak Adi.
"Aku tahu, cara kamu menunjukkan kepedulian kepada seseorang itu berbeda, kamu memang terkadang suka-suka marah atau mendomel, tapi kamu tetap merawat ku, mengambil kan ku makanan, memberiku obat, kamu bahkan tahu kapan waktunya kamu memberi ku obat tepat waktu."
"Kalian berdua, Damian dan Rosmini, selama ini sangat baik kepada ku, bagaimana aku bisa membenci kamu?" menatap Rosmini.
Tatapan Rosmini meredup, di peluknya bahu Pak Adi. "Kak, aku benar-benar minta maaf."
"Tidak apa-apa, yang lalu biarkan berlalu."
Rosmini melepas pelukan lalu menatap Isvara. "Nak, apa kamu bisa membiarkan ayahmu untuk tetap tinggal d sini? ayahmu sudah seperti kakak untuk ku sendiri, lagipula kami hanya hidup berdua, kehadiran ayahmu memberi warna untuk kami yang renta ini."
"Itu benar, ayahmu sangat dekat dengan anak-anak di sini, kehadirannya selalu membuat anak-anak di sini senang," ucap pak Damian.
"Ijinkan kami untuk bisa merawatnya dengan lebih baik," ucap Rosmini.
"Seperti yang ku katakan tadi, dia adalah kakak sekaligus orang tua untuk ku, begitu pun dengan istriku yang sudah bisa menerimanya, jadi bagaimana Isvara?"
"Ayah? bagaimana?" tanya Isvara.
"Ayah ingin tetap di sini, Vara," kata ayahnya sangat yakin.
"Jika ayah ingin seperti itu, aku bisa apa?"
__ADS_1
Mereka semua menghela nafas lega, lalu tersenyum. Semuanya sudah benar-benar lebih membaik kali ini.
***
Kini giliran Isvara dan Gerald untuk berpamitan, mereka sudah ada di depan gerbang untuk melakukan salam perpisahan.
"Ayah, jika ayah ingin mengunjungi Vara, Ayah jangan sungkan-sungkan, atau Vara dan Gerald akan mengunjungi sesekali ke sini." memeluk ayahnya sekali lagi dan memberi kecupan di pipi.
"Baiklah, ayah mengerti, kamu tidak usah khawatir, hiduplah dengan bahagia dan sehat ya."
"Dan juga, segera berikan ayah cucu."
Mereka tertawa mendengar itu.
"Ayah tenang saja, aku dan Isvara akan berusaha setiap malam. mudah-mudahan kecebongnya cepet jadi."
Semua semakin terbahak dengan ucapan Gerald, Isvara menyikut rusuk pria itu membuat Gerald meringis.
"Sakit, sayang." Gerald berakting.
"Habisnya mes*um." Isvara mencebik.
"Gapapa, di depan mertua ini."
"Gerald!"
Pria itu langsung mingkem. "Iya-iya, okeh."
Semua orang tua geleng-geleng kepala dengan kelakuan mereka.Lalu Isvara dan Gerald beralih pada pak Damian dan Bu Rosmini.
"Bibi, maafkan aku sebelumnya jika Membuat mu kesal," ucap Isvara.
"Tidak apa-apa, harusnya aku yang meminta maaf. mereka berpelukan. "Sering-seringlah berkunjung ya."
Sementara itu pak Damian dan Gerald.
"Paman denger-denger, orang di desa ini terkenal karna ramuan dan obat-obatan herbalnya."
Pak Damian mengangguk. " Iyah kamu benar, memang kenapa?"
"Rekomendasi dong, obat buat yang ingin punya anak kembar gitu,ada tidak? atau obat kuat gitu, yang bisa buat kita makin perkasa atau yang sekali tendang langsung gol?"
"Paman pasti mengerti dong?" menatap jahil.
Pak Damian mengkerut dahi lalu tergelak. "Astaga, kaya gituan! mungkin ada, nanti paman antar lewat pos."
Gerald bersorak, Isvara yang curiga memicingkan matanya. "Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada." Gerald menggeleng. "Kami lagi membicarakan tentang bola, ya kan paman?"
Pak Damian hanya mengangguk saja. "Benar."
Setelah itu acara berpamitan usai, Gerald dan Isvara melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil.
Bahkan Isvara sempat menyembulkan kepalanya di kaca mobil dan melambaikan tangan sekali lagi, sebelum akhirnya masuk kembali dan kaca mobil tertutup.
Kehidupan baru, lembaran baru akan mereka mulai sekarang dengan penuh cinta.
__ADS_1