
Karna hanya kamu
Sekarang hanya kamu
Kehidupan ku kini hanya kamu seorang
Ketenangan ku juga rasa sakit ku
Cintaku sekarang hanyalah dirimu seorang
***
Waktu berlalu tanpa mau menunggu, lima bulan kini terjalin di antara dua insani yang kini masih dalam tahap mengerti tentang apa itu arti cinta.
Bagi Gerald, bisa di bilang kedatangan Isvara dalam hidupnya adalah sebuah anugerah, Isvara seperti menghubungkan antara dirinya dengan Tuhan.
Karna Isvara, Gerald belajar apa artinya menghargai,merubah diri menjadi lebih baik, karna hanya Isvara kini Gerald perlahan menemukan jati diri yang sebenarnya.
Di kantor Gerald bisa menjadi pemimpin yang lebih ekspresif, jika dulu dia hanya bermain-main dengan jabatannya kini Gerald mulai belajar bagaimana tentang memikul tanggung jawab yang lebih baik.
"Ger, sekarang kan hubungan lo sama Isvara sudah mulai membaik, terus gimana sama nasib Laura?"
"Maksud lo?" Gerald yang semula fokus sama berkas di tangannya kini menatap tajam Samuel.
Kenapa tiba-tiba sahabat yang merangkup sebagai asistennya ini menanyakan hal yang membuat mood nya turun seketika?
"Laura butuh kepastian lo Ger, dia setiap malam nangis ke gue karna gak mau pisah dari lo."
"Apa dia gak puas sama pernyataan gue kalo gue udah mutusin dia?" Gerald mendesis, topik tentang Laura ini sangat sensitif untuknya.
"Itu gak adil buat dia Ger, Lo gak sadar lo udah mencampakkan dia?"
"Terus gue harus gimana?" Gerald jadi naik pitam.
"Harus nerima dia lagi gitu? gue udah punya istri Sam."
Di luar dugaan Samuel malah terkekeh. "Lo kok berubahnya ya sekarang Ger, Lo mendadak kaya orang alim karna wanita itu."
"Wanita mana yang lo maksud? istri gue, Isvara?"
"Menurut Lo?" Samuel berdecak. "Lo tuh udah kaya di guna-guna sama Isvara."
Bukan Samuel tak suka dengan hubungan mereka, tapi semakin kesini semakin Samuel memperhatikan tingkah dan Gerald menjadi berubah, meski meskipun bukan berubah menjadi buruk bahkan lebih baik, tapi pria di depannya ini bukan seperti Gerald yang dia kenal.
"Lo kenapa sih Sam? lo temen gue, lo sendiri yang kadang menyadarkan gue tentang perasaan gue ke Isvara, tapi kenapa sekarang lo berubah?"
__ADS_1
"Gak tau Ger, kayanya gue mulai menyesali saat itu ngedukung hubungan lo sama Isvara."
"Harusnya lo tetep sama Laura, bahagia sama dia," ucap Samuel lalu memilih keluar.
***
Laura terus menangis dalam pelukan Samuel, Hanya Samuel kini pelampiasannya yang mengerti tentang perasaannya.
"Sam, aku gak mau pisah dari Gerald, aku gak siap aku gak bisa." Isak tangis Laura semakin kencang.
Sudah lebih dari satu bulan Laura seperti ini, menangisi Gerald yang kini semakin tidak bisa di gapai. Gerald yang sudah mulai berubah dan sama sekali tak mengingat tentang kenangan indah mereka.
"Kamu gak bisa begini terus Lau, Gerald sudah bahagia dengan pilihannya, kamu juga harus bahagia."
Laura mendongak dengan air matanya yang semakin deras. "Gak, gak bisa Sam, Gerald harus jadi milikku lagi, dia harus kembali padaku Sam."
"Tidak sadarkah kamu Lau? ini semua karma untuk mu, kamu dulu sangat meremehkan Gerald tidak akan berpaling darimu, kamu sangat percaya diri Gerald akan selalu mencintaimu dan tidak pernah pergi darimu."
"Kamu dulu menyia-nyiakannya kamu bilang kamu hanya butuh uangnya saja, sekarang lihat lah seketika dia sudah pergi jauh darimu, kamu tidak bisa lagi menggapainya."
Laura terdiam dengan semua ucapan yang di lontarkan Samuel, meskipun begitu Laura selalu berfikir semua akar dari masalah ini adalah Isvara, karna kedatangan gadis itu.
"Aku akan menghancurkan mu Isvara, aku berjanji," gumam Laura dalam hatinya."
***
Isvara mendorong troli berisi barang kebutuhan yang sudah ia pilih, Gerald berjalan di belakangnya sambil terus mengamankan dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya membuatnya semakin cool terlihat.
"Bagaimana dengan ini? kamu mau membeli daging?" ucap Gerald saat mereka terhenti di stan bahan pokok.
"Buat apa?" tanya Isvara, "kamu mau aku Masakin daging?"
"Tidak, untuk acara barbeque."
"Nanti malam rumah kita akan mengadakan pesta barbeque, aku akan mengundang teman-temanku."
"Oh benarkah?" Isvara sumringah. "Itu ide yang bagus."
"Aku akan membeli beberapa bagian sapi, juga jamur dan jagung," ucap Isvara tersenyum.
"Hanya untukmu,aku bisa melakukan apapun," ucap Gerald.
Isvara mengerjap kikuk, pria itu bisa selalu menyenangkan hatinya dengan perkataan manis yang terlontar.
Seusai berbelanja mereka kembali ke rumah, saat itulah Gerald dan Isvara bisa melihat keadaan kediaman mereka yang sangat ramai seperti banyak orang yang datang.
__ADS_1
"Eh, kenapa jadi ramai sekali ya? ada apa?" pertanyaan itu di katakan Isvara saat mobil mereka melaju ke pekarangan.
Gerald memperhatikannya, matanya menyipit demi melihat siapa semua orang ini.
"Gawat! mereka paparazi!" Gerald memekik.
Wartawan dan para kameramen itu tampak ramai memenuhi teras rumahnya, untuk apa mereka datang kesini?
"Paparazi?" Isvara ikut terkejut. "Untuk apa mereka ada di sini?"
"Aku juga tidak tahu." seingat Gerald meskipun dia cukup terkenal di kalangan entertainment tali Gerald tak pernah membuat masalah atau skandal, sebelum menjabat sebagai CEO pun Gerald sudah meninggalkan dunia modeling yang telah membesarkan namanya bersama Laura dulu.
"Haruskah kita pergi? mereka sepertinya mencari ku." Gerald menelisik ke sekitar.
"Mencarimu? untuk apa mereka mencarimu?" Isvara di buat panik, pasalnya salah satu dari kalangan paparazi itu menyadari kedatangan mereka.
"Kita keluar saja," ucap Gerald, keduanya lalu turun dari mobil dan benar saja para paparazi itu mulai mengerumuni keduanya.
"Ada apa ini? siapa uang mengundang kalian datang kesini?" ucap Gerald pada para wartawan itu.
"Aku!" seorang wanita muncul memecah kebisingan, para kameramen mulai membelah jalan untuk wanita itu datang.
"Aku yang sudah mengundang mereka." wanita dengan belahan dada terpampang itu tersenyum.
"Laura!" Gerald terbelalak. "Apa-apaan semua ini!"
"Sayang, kamu sudah datang!" tak menggubris protes Gerald, wanita itu memeluk Gerald dan berani mencium bibir sang pria di depan banyak orang.
Isvara sendiri hanya bisa mematung di tempat, kejadian mereka berciuman tepat di depan matanya, Isvara berjalan mundur, syok dengan semua ini.
"Lepaskan! apa-apaan kau!" Gerald mendorong jauh tubuh Laura.
"Kau sangat kasar ya sayang," bisik Laura di telinganya.
"Kita ada di depan para paparazi loh, nama baik mu di pertaruhkan di sini!"
Gerald mendesis. "Mau apa kau sebenarnya hah?"
"Tentu saja aku mau mengumumkan sesuatu," ujar Laura tersenyum lalu bergelayut manja di bahunya.
Para kameramen mulai intens memotret, Isvara menepi tubuhnya berdasarkan di antara banyaknya orang dan jepretan kamera membuatnya risih.
Ingin rasanya ia menangis apa-apaan semua ini?
"Aku mengundang kalian di sini untuk mengumumkan tentang pertunangan ku dengan kekasihku, Gerald!" ucap Laura pada para paparazi yang ada di sana.
__ADS_1