
Isvara dan Andini sedang menonton TV di ruang tamu, Andini yang terbilang sebagai asisten baru namun cepat akrab dengan isvara, kedua wanita itu seakan seperti sudah mengenal lama, saling berbincang dan mengobrol.
"Dini, kamu asal dari desa mana? kok bisa sampai melamar kesini?" tanya Isvara sambil mengusap-usap perut buncitnya.
Andini yang tengah memijit kaki nyonya nya itu berseru. "Saya dari desa pinggiran kota Nya, kebetulan dapet rekomendasi di sini dari Dewi, kami kebetulan teman sepermainan."
"Waaah benarkah, berarti kamu kenal Nela juga dong?"
Andini tampak berfikir, lalu gadis manis berlesung pipi itu menggeleng. "Kalau sama Nela saya kurang kenal non, bukan dari desa yang sama."
Isvara manggut-manggut, lalu menatap wajah Andini. "Kamu cantik loh padahal, punya lesung pipi juga, sama kaya Mahesa."
Ntah hanya kebetulan atau apa, Isvara berceletuk seperti itu, namun mendengar nama salah satu tuan muda itu membuat Andini entah kenapa menjadi bersemu dengan wajah memerah.
Isvara menangkap rona memerah Andini, menggelembungkan pipi menahan senyum. "Kamu kenapa? kaya bersemu gitu?"
"Eh,gak Nya! gak kenapa-kenapa." Andini menggeleng tampak menyembunyikan salah tingkahnya.
Kebetulan sekali Mahesa lewat, Andini yang semula menunduk tak sengaja menatap mata pria itu, Andini mengulas senyum saat pandangan mereka bertemu, namun Mahesa hanya menatapnya datar dengan ekspresi dingin.
"Perasaan kemarin, tuan muda Mahesa tidak sedingin itu." batin Andini, berfikir karna perubahan sikap Mahesa yang tiba-tiba.
"Nyonya mau saya siapkan susu? kebetulan udah saatnya nyonya minum susu hamilnya."
Isvara menatap jam dinding lalu mengangguk, masih ada lima menit lagi sebelum jadwalnya meminum susu, namun sepertinya tidak apa-apa.
"Boleh deh, jangan terlalu panas ya, anget-anget kuku aja."
Andini mengangguk, lalu berdiri dari tempatnya bersimpuh. "Tunggu yah Nya."
Isvara mengangguk, merasa senang dengan kinerja Andini yang memuaskan, padahal baru kemarin dia di perkenalkan namun gadis itu sangatlah humble dan rajin.
***
Di dapur, Andini menyiapkan susu untuk Isvara, gadis itu memulai dengan menyalakan kompor untuk memasak air, ia lalu mencari di laci meja tempat biasa susu hamil untuk Isvara di letakkan.
"Kayanya tidak ada di sini." monolognya melihat laci meja yang kosong.
"Oh ya, aku lupa kata bi Minah ada di laci atas." Gadis itu lalu berjinjit hendak membuka laci bagian atas, namun naas karna tingginya yang tak sampai, laci pun tak bisa ia gapai.
"Uuuh, kenapa tinggi banget sih? aku gak bisa gapainya."
Saat Andini masih sibuk berjinjit dengan merentangkan tangan menggapai laci, saat itu Mahesa datang, melihat gadis itu yang terlihat kesusahan Mahesa menghampirinya.
"Nyari apa?"
__ADS_1
Karna kaget dengan kehadiran Mahesa tepat di belakangnya, Membuat tubuh Andini tak seimbang, Andini menjerit saatnya tubuhnya goyah dan jatuh menimpa Mahesa.
Andini memejamkan mata, namun saat ia meraba, bukan lantai yang ia rasakan, melainkan dada hangat yang membuatnya nyaman.
"Ekhem!" Mahesa berdehem keras membuat Andini tersadar.
"Sampai kapan kau akan mendidih tubuh ku?"
"Astaga!"Andini terpekik lalu segera bangkit dari atas tubuh Mahesa.
"M-maaf tuan, saya tadi reflek karna kaget." Andini menunduk takut.
Namun ekspresi Mahesa tetap sama, datar dan dingin, lalu melewati Andini begitu saja untuk mengambil buah dalam lemari es.
Andini mengerjap tampak sekali canggung. "Tuan muda ini memang cuek."
Tak memusingkannya lagi Andini lalu berusaha kembali untuk mengambil kotak susu di dalam lemari atas. "Huffft, sia-sia saja aku berusaha, tubuh ku tidak sampai."
Sampai sebuah tangan kokoh seorang menjulur dari arah belakangnya, tangan kekar itu mengambil kotak susu di dalam laci atas dengan mudah.
Deg!deg! dada Andini menghangat dengan debaran jantung yang memompa cepat. ia lalu menoleh cepat mendapati Mahesa di belakangnya, jarak mereka begitu dekat sampai bisa ia rasakan dada bidang Mahesa terasa hangat di belakangnya, bahkan wangi maskulin pria itu dapat ia cium dari jarak sedekat ini.
"Jika kau kesusahan, Jangan sungkan untuk meminta bantuan." Mahesa menyerahkan kotak susu itu, Andini menerima dengan seulas senyum malu-malu.
"T-terima kasih tuan." pada dasarnya Andini memang gadis yang pemalu, jadi ia hanya menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Sial, ada apa dengan diri ku?"
"Tuan, tunggu." Mahesa membeku, dengan malas pria itu berbalik, saat itulah Andini juga maju dan tanpa sengaja wajahnya menubruk dada bidang Mahesa.
Andini mengaduh, mengusap hidungnya, Mahesa tak bisa menahan ekspresi. "Pfffft."
Mahesa menutup mulutnya dengan tangan, merasa di perhatikan, Mahesa lalu berdehem keras berekspresi datar kembali.
"Ada apa? kenapa memanggilku lagi?"
Mata Andini membeliak, menggeleng dengan wajah memerah. "Tidak, tidak jadi tuan."
Merasa gemas Mahesa mendekat, sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi badannya dengan gadis itu.
"Jika kau ingin mengatakan sesuatu katakan saja." Andini menahan nafas karna wajah mereka terlalu dekat.
"Jangan di tahan. pendek!" lalu tanpa sebab dia menyentil dahi Andini.
Andini membeku sedangkan pria itu berjalan santai, debaran jantung Andini semakin menggila, gadis bermata jernih itu menunduk dengan wajah yang semakin memerah seakan siap untuk meledak.
__ADS_1
Lalu bunyi air bergolak-golak membuat Andini tersadar. "Astaga, airnya!"
***
Brandon mengajak Nela untuk bertemu ke sekian kalinya di belakang rumah, penampilan pria itu tampak urakan, wajah sangar tercetak jelas di sana.
"Lo ini gak bisa di andalkan ya? kapan lo akan menarik Isvara keluar dari rumah ini!" Brandon meraung dengan muka yang sangar.
"M-maaf tuan, ternyata terlalu sulit, bodyguard yang di suruh tuan Gerald selalu memantau 24 jam, apalagi sekarang ada Andini, si pembantu baru itu, saya semakin sulit untuk membujuk Isvara."
"Alah alesan!" karna kesal Brandon mendepak pot tanaman yang ada di dekatnya.
"Padahal gampang banget tugas yang gue kasih ke lo, atau Lo mau nunggu sampai ibu sekarat di kampung?"
Mendengar itu Nela buru-buru menggeleng. "Gak tuan, saya gak mau."
"Ya, makanya cepet lakuin tugas lo."
"Baik tuan saya bakal berusaha secepat mungkin." Nela menunduk takut-takut.
***
Sore itu Nela mulai melancarkan aksinya, dia melihat Isvara yang sendiri duduk sambil membaca, ini kesempatannya. tidak ada pengawal ataupun Andini di sisi wanita itu.
Nela lalu mendekat. "Sore Nona muda ... " Nela berbasa-basi dahulu.
"Oh Nela, ada apa?" Isvara mengalihkan pandangannya dari buku ke gadis itu.
"I-ini, Ny-nyonya besar nyuruh s-saya buat ajak nona buat jalan-jalan sore, katanya itu bagus buat ibu hamil non." Nela menelan udara berusaha untuk membuat suaranya biasa saja.
"Nenek bilang begitu? kok aku baru tahu ya?" Isvara mengernyitkan dahi.
"Bener kok non, emang nyonya besar baru ngusulin ini sekarang."
"Ayo non biar saya temankan, ayo." Nela menarik lengan Isvara dengan tergesa.
"Eh,eh, tunggu!" Isvara hanya bisa mengikuti langkah gadis itu.
Nela lalu membawa Isvara keluar dari gerbang belakang, dengan alasan udara di luar kompleks lebih bagus dan sedikit memaksa, Isvara akhirnya keluar dari gerbang rumah ini, keluar dari keamanan yang Gerald berikan.
Nela tersenyum puas dalam hati. "Bener kan non, udara sore bagus buat ibu hamil."
"Tapi saya mau pulang." Isvara sudah curiga ada yang tak beres.
"Sayangnya nona gak akan bisa pulang." Isvara menangkap seulas senyum licik.
__ADS_1
Hendak membuka mulut, namun dengan secepat kilat seseorang yang sudah menunggu di belakangnya, membekap mulut Isvara.
*Hmmp,Hampp" suara Isvara tenggelam bersamaan dengan tangannya yang terkulai akibat bius yang membuat kesadarannya hilang.