TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 103


__ADS_3

Suasana ruangan menjadi kabur saat Brandon membuka mata, suara alat-alat medis yang seakan menggema mengalun masuk ke telinganya. Jantungnya seakan memompa lebih lambat.


Di mana dia?


Di rumah sakit kah?


Apa yang terjadi?


Mata sayu nya bergerak, berpendar ke segala penjuru, mencoba mengamati tempat yang di dominasi dengan warna putih ini.


Benar, tak salah lagi dia ada di rumah sakit, di ruangan kedap suara yang sangat di bencinya. Brandon mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi sebelumnya, tapi kepalanya terlalu sakit, berdenyut dan tak mengenakkan.


"Brandon! akhirnya kamu sadar juga?" seseorang mendekat. Brandon mencoba menggerakkan kepalanya ke samping. Itu ... om Arya.


Brandon ingin bicara, namun suara seperti tak ingin keluar, seluruh badannya mendadak mati rasa. Kenapa ini? ada apa dengan tubuhnya?


"Apa ada yang tak enak Brandon? biar om panggilkan dokter," kata om Arya saat melihat Brandon dengan susah payah ingin menggerakkan tubuhnya.


Aryaloka lalu memencet tombol yang ada di atas brankar, Brandon melirik om nya dari ekor mata. Seorang suster datang setelah sesaat bel di bunyikan.


"Apa pasien sudah sadar?" suster itu memeriksa kantung infus di samping Brandon, lalu mengecek keadaannya.


"Biar saya panggilkan dokter." Aryaloka mengangguk setelahnya. Selang beberapa saat suster kembali bersama seorang dokter dengan jas kerjanya membawa stetoskop yang di kalung kan.


Dokter lalu lebih terperinci memeriksa keadaan Brandon, mengecek denyut nadi juga penglihatannya.


"Syukur lah semuanya baik-baik saja, tunggu beberapa saat lagi sampai alat bantu pasien bisa di lepaskan." tutur sang dokter, tuan Aryaloka mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya dokter kembali.


"Kami akan memantau 24 jam untuk memastikan keadaannya, beritahu jika terjadi sesuatu," ucap dokter terakhir kali.

__ADS_1


Kini hanya tersisa tuan Aryaloka yang duduk di samping brankar Brandon, tak ada percakapan, hening menyelimuti sampai akhirnya seseorang membuka pintu. Brandon kembali menoleh, itu Brinda.


"Kakak!" dia berteriak histeris, lalu maju dengan cepat memeluk leher kembarannya itu. Brinda terisak kuat.


"Syukur lah kakak sudah sadar." suaranya kembali normal,ia mengambil nafas panjang.


Brandon ingin membalas pelukan adiknya, ingin berkata sesuatu, tapi tubuh kaku sialan ini tak juga kunjung merespon, semua tubuhnya seakan hancur dari dalam.


Sebenarnya apa yang terjadi? dia tak ingat apa-apa, bahkan kejadian sebelumnya.


"Bri, kamu sudah memberitahu yang lain?"


Brinda mengangguk. "Sudah om." air matanya menganak bagai aliran sungai.


"Baiklah, om ke bagian administrasi dulu ya,kamu di sini dulu jaga kakakmu."


Tuan Aryaloka hendak berbalik namun Brinda menahan tangannya. "Terimakasih ya om."


Aryaloka tersenyum hangat, mengusap pucuk kepala Brinda. "Om akan selalu menjadi paman mu, tak perlu berterimakasih."


Brinda mengangguk, sungguh bersyukur memiliki orang-orang yang baik di sekitarnya.


Brinda kini yang bergantian menjaga Brandon, gadis dengan warna rambut blonde sebatas punggung itu terduduk lesu, sesekali dia akan menyeka air matanya, Terlalu banyak sesal yang ada di benaknya.


"Kak, kakak tahu hidupku terlalu mengenaskan seminggu belakangan ini."


Brandon menoleh menatap adiknya, Brinda bercerita tanpa ia minta, namun Brandon juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga dia bisa berakhir di sini, kenapa dia tak ingat apapun?


"Kak, kakak mengalami kecelakaan, apa kakak tak ingat?" seakan memiliki ikatan batin yang kuat sebagai sepasang anak kembar, Brinda seperti tahu apa yang kini dirasakan kakaknya.

__ADS_1


"Waktu kakak dengan gila-gilaan membawa sebuah pistol dan mengancam semua orang di perusahaan om, kakak tertabrak sebuah truk saat hendak di tangkap kak Gerald."


Benar. Brandon ingat sekarang, semuanya terjadi begitu cepat, dia bahkan tak bisa memprediksi kapan truk itu melintas ke arahnya. Sialan! ini semua karena si Gerald yang breng sek itu! Dalam hatinya Brandon memaki.


"Kakak koma selama hampir sebulan!"


Apa? seketika bola matanya melebar, sebulan? dia tak sadarkan diri selama hampir sebulan?


"Semuanya berkat kak Gerald, kalau saja dia tidak cepat-cepat membawa kakak ke rumah sakit, mungkin saja nyawa kakak tidak bisa tertolong."


Hening sejenak, ruangan ini tampak lenggang, Brinda ingin melanjutkan perkataannya namun suaranya seakan tercekat di tenggorokan, lidahnya mendadak keluh. Sementara Brandon menanti perkataan sang adik dengan tidak sabar.


"Kakak, Mommy .... ada di rumah sakit jiwa saat ini."


Deg! saat itulah bisa Brandon rasakan dadanya yang berdentum keras, seakan jantungnya berhenti untuk memompa, keterkejutannya terlihat dari bagaimana raut wajahnya yang menegang.


"Mommy sangat frustasi kak, mommy mengira kakak sudah meninggal, semua tekanan datang padanya saat kakak koma, banyak orang menyumpahi kami karena kakak yang telah melenyapkan dua nyawa sekaligus."


Saat itu Brandon tak mengira bahwa perbuatannya bisa sampai sejauh ini, dua polisi yang dia tembak meninggal di tempat tanpa bisa dapat pertolongan. Itulah yang dia tahu dari cerita Brinda.


"Aku berhenti masuk kuliah karna tekanan yang ku dapat di sana juga tak kalah besar, Semua ini salah kakak, tapi aku juga tak bisa menyalahkan kakak."


"Apa yang harus ku lakukan, hiks!" mata sayu Brandon meredup saat melihat adiknya terisak hebat sambil menutup wajah, hampir sebulan ini telah banyak yang terjadi tanpa ia tahu.Penampilan adiknya pun jauh dari kata glamour yang selalu melekat di dalam dirinya.


"Kakak tahu apa yang lebih buruk?"


Perlahan Brandon menggelengkan kepala, tak mungkin ini lebih buruk. Namun entah kenapa di dalam hatinya ia tak bisa menerimanya, ia masih dendam kepada keluarga Wirasena yang telah menghancurkan hidupnya.


"Kakak, kamu tidak bisa berjalan lagi sekarang. Kamu ... lumpuh total."

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE KOMEN GIFT DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA!


__ADS_2