TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
62. Semakin sulit


__ADS_3

Laura tersentak, wanita itu semakin terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh pria di depannya ini.


"A-apa maksud mu? kenapa tiba-tiba kau datang hah?!" wanita itu membentak.


"Lau,katakan padaku sejak kapan kamu hamil? apa aku akan menjadi seorang ayah?"


Laura meradang. "Jaga ucapanmu! janin ini bukan milik mu!"


"Laura! jika bukan benih ku, benih siapa lagi!" Samuel mencoba mendekatinya, namun Laura menghentikan dengan merentangkan tangannya.


"Berhenti di situ! jangan pernah mendekat!"


"Janin ini adalah milik Gerald, kekasih ku, dia ayah biologis bayi ini?"


"Hah?!" dahi pria itu mengkerut, pria itu menggeleng pelan. "Apa maksudmu ayah biologisnya adalah Gerald? bahkan dia tak pernah menyentuh mu, kau jangan mengada-ada!"


"Kamu hanya berhubungan dengan ku Laura, janin itu adalah anakku," ucap Samuel meyakinkan.


"Pssst! berhenti, di sini ada mama dan papaku! pergi aku tak mau melihat mu!" lalu wanita itu berjalan meninggalkan Samuel dan menggebrak pintu dengan kasar.


Samuel menghela nafas, pria itu hendak mengetuk pintunya namun ia urungkan. "Bagaimana aku meyakinkannya?"


Semua ini terlalu mendadak untuknya, Laura hamil dan itu sudah pasti anaknya, namun wanita itu malah mengelak dan berasumsi sendiri.


Bagaimana dengan Gerald? lelaki itu pasti sudah di beritahu tentang kehamilan Laura dan pasti hal itu sangat merugikannya.


"Aku harus bertemu Gerald."


***


Gerald masih setia membujuk Isvara di kamarnya, pria itu masih berdiri dan meminta sang istri untuk membuka pintunya.


"Sayang, dengarkan aku dulu, biarkan aku menjelaskan semuanya?!" suara Gerald begitu berat dan putus asa.


Ceklek! Isvara membuka pintunya, tubuh wanita itu menyembul setengah, wajannya sembab dengan mata membengkak, kentara sekali sudah banyak air mata yang tumpah dari mata indah itu.


"Akhirnya kamu mau membukanya," kata Gerald yang begitu senang, lelaki itu bisa menghembuskan nafas lega.


"Biarkan aku masuk, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Gerald memohon dengan wajah sendu.


Pintu di buka lebar oleh Isvara, namun wanita kesayangannya ini hanya diam membisu, tatapannya pun tidak mau mengarah padanya, bibir itu terkatup rapat tak ingin mengeluarkan satu para kata pun untuknya. Hal itu malah justru semakin menyiksanya. siksaan yang paling besar dari pada apapun.


Gerald masuk ke dalam, menggamit sebelah tangan perempuan itu dan menuntunnya untuk duduk di tepi kasur.


"Jangan seperti ini, bicaralah walaupun hanya sepatah dua kata."

__ADS_1


Gerald mengusap Pipinya, lalu berpindah mengusap lengan sang istri di titik denyut nadinya, seperti memang sudah kebiasaan lelaki itu.


Tangan kekarnya mendarat di tengkuk Isvara, mengusapnya dengan penuh kelembutan, lalu beringsut di pipi wanita itu, ujung jempolnya mendarat pada bibir ranum kemerahan sang istri,


mengusap dengan lembut lalu mempertemukan bibir mereka.


Isvara hanya diam, Gerald semakin menekan tengkuk sang istri, memperdalam ciuman mereka, benda kenyal itu menurut, lebih menekan lalu menjauh saat Isvara mendorong dadanya dengan kuat.


Nafas keduanya tampak terengah-engah, Gerald lalu mendekat, menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Wanita itu. lagi-lagi Isvara hanya diam tak berontak yang justru membuat Gerald semakin takut.


"Ku mohon Isvara, demi tuhan, bicaralah sesuatu, jangan hanya diam saja."


"Apalagi yang harus ku bicarakan, hatiku sudah hancur saat tahu suamiku sendiri telah membuat seorang wanita hamil tanpa mau mengakuinya."


Gerald menjauhkan wajahnya, pria itu mencengkeram lembut kedua bahu Isvara.


"Percayalah padaku, anak yang di kandung Laura bukanlah anakku! wanita itu berbohong,dia hanya bersandiwara!"


"Lalu siapa yang harus ku percayai di sini?" suara wanita itu meninggi.


"Setidaknya percayai kata hatimu," ucap Gerald melemah, di seka nya air mata yang lagi-lagi jatuh karena dirinya.


"Susah Gerald, itu terlalu susah." Isvara menunduk.


"Aku perlu waktu Gerald," kata Isvara akhirnya. "Aku perlu mencerna baik-baik semuanya.


"Tapi tunggu ... enam bulan sudah berakhir, bagaimana dengan hubungan kita?" Gerald bertanya khawatir.


"Aku tidak tahu, mau di bawa kemana hubungan ini, akupun bingung."


"Kau tahu kepercayaan adalah pondasi penting dalam suatu hubungan, bagaimana bisa kita membangun sebuah hubungan jika kepercayaan saja tidak ada di dalamnya?"


"Aku ingin percaya padamu, tapi sesuatu di dalam hatiku berkata lain."


"Ingat? saat aku memergokimu sedang bercumbu dengan Laura saat di kantor mu? aku melihat bagaimana mesranya dirimu dengannya, tidak ada jaminan kalian tidak berbuat lebih dari itu dalam hubungan kalian."


"Tapi aku sungguh-sungguh, jangan berfikiran yang aneh-aneh, aku tidak akan sembarangan berhubungan dengan wanita Isvara, hanya padamu merasakan itu pertama kali dalam hidupku.*


Isvara menggeleng. "Hati yang hancur ibarat sebuah kaca, jika kaca itu pecah jika kau ingin memperbaikinya lagi, dia tidak akan pernah sama seperti semula."


Isvara berdiri lalu memunggungi lelaki itu. "Pergilah, aku tak ingin melihat mu!"


Gerald dengan mata yang sudah memerah, akhirnya lebih memilih untuk berdiri.


"Aku akan melakukan tes DNA saat kandungan Wanita itu mencapai sepuluh Minggu, aku akan membuktikan padamu."

__ADS_1


"Setidaknya beri aku waktu," ujar Gerald lalu pria itu pergi.


Setelah memastikannya menghilang di balik pintu, tangis Isvara pecah seketika, menutup wajah dengan telapak tangan berusaha untuk menahan isakannya.


***


Di rumahnya, Samuel hendak bersiap untuk kerumah Gerald dan menjelaskan semua kesalah pahaman ini. Kayra, adik Gerald, sudah menceritakan semua yang terjadi selama dia tidak ada.


Samuel di buat geleng-geleng kepala dengan kelakuan licik Laura, bagaimana bisa dia memanfaatkan janin yang bahkan belum tumbuh untuk kepentingannya sendiri, dan lebih parahnya ada dua insan yang sama-sama di sakiti olehnya di sini.


Tidak akan Samuel biarkan Gerald berpisah dengan Isvara hanya karna kebohongan Laura. kedua insani yang baru menemukan cinta mereka itu tidak boleh kandas di tengah jalan. Samuel harus menyelamatkan hubungan mereka.


Samuel menuruni tangga rumahnya satu persatu, dia juga sudah membawa bukti tentang berupa foto mesranya dengan Laura, agar wanita itu tidak mengelak dan diam berkutik.


Sebenarnya dia lun tidak ingin menyakiti Laura nantinya, namun jika wanita itu bersikeras terpaksa dia harus menunjukkan bukti-bukti foto ini nantinya, walaupun bisa di bilang foto-foto itu terlalu vul*gar untuk di perlihatkan.


"Samuel,stopp!" seseorang menghentikan langkahnya di ambang pintu.


"Laura?" pekik Samuel. "Kenapa kau ada di sini?"


"Kau mau kemana hah?" Laura melayangkan tatapan nyalang padanya.


" Bukan urusan mu!" ucap Samuel tak gentar.


"Jangan bilang kau ingin membeberkan semua faktanya pada mereka?"


"Jika iya memangnya kenapa? sudah cukup kejahatan mu sampai di sini Laura! aku akan memberitahu mereka siapa ayah dari janin yang kau kandung itu?!"


"Hanya dengan mengatakannya saja kau pikir mereka akan percaya?" Laura tertawa.


"Jangan aneh-aneh Sam, biarkan semuanya berjalan semestinya, kau cukup diam dan tidak melewati batas mu!"


"Lalu apa? membiarkan mu melakukan hal seenaknya? ingat ada cinta dua orang yang terpaksa di korbankan karna dirimu."


"Aku tidak peduli! aku hanya ingin bayi ini memiliki ayah seperti Gerald, bukan seperti mu!"


"Lagipula Samuel, hidup anak kita nanti akan makmur jika aku berhasil menikah dengan Gerald nanti, dia tidak akan sengsara, kau ingin anak ini nantinya bahagia kan? jadi diam saja!"


"Tapi bukan dengan cara licik seperti ini Lau! aku dan kau, kita berdua bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak kita nanti."


"Alah persetan, aku tidak ingin hidup susah denganmu!"


"Jika kau masih nekat ingin memberitahu mereka kebenarannya?" Laura mengambil sesuatu di balik bajunya, sebuah pisau kater. Samuel terbelalak.


"Aku tidak akan segan-segan untuk membun*uh bayi ini!" ucap Laura mengarahkan ujung kater itu ke perutnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2