TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab 34 : Rasa yang mulai berbeda


__ADS_3

Mahesa membawa Isvara ke suatu tempat untuk mengusir kesedihannya. Pria itu membawa Isvara ke atas rooftop, seperti saat mereka datangi dulu.


"Ini," kata Mahesa menyerahkan sebuah buku berisi sketsa Padanya.


Isvara menerima, "Apa ini?" Gadis itu lalu mengamati.


Ternyata itu sketsa gambar dirinya yang sedang tersenyum menatap langit, Isvara memandang takjub lukisan itu, hampir mendekati nyata. Mahesa ternyata pria yang berbakat.


"Terimakasih ya," ucapnya tulus, menatap Mahesa.


"Bukan apa-apa, aku bahkan mempunyai banyak sketsa gambar mu, aku senang melukis wajah gadis cantik," ucap Mahesa.


Isvara tersenyum, lalu dua insan itu hanya termenung menatap indahnya langit biru.


"Isvara, aku ingin bertanya satu hal padamu?" Mahesa menatap serius.


Isvara yang semula sedang menatap sketsa wajahnya mulai menoleh memandang Mahesa. "Apa?"


"Setelah kau terbebas dari jeratan keluarga wirasena, apa yang akan pertama kali kau lakukan?"


"Eumm, apa yang pertama kali ku lakukan? Tentu saja bertemu dengan ayahku."


"Aku ingin berlari sekencang-kencangnya dan memeluk ayah, lalu mengatakan padanya bahwa aku sangat merindukannya."


Mahesa tersenyum tipis. "Ternyata kau sangat merindukan ayahmu ya."


Isvara mengangguk. "Sangat, hanya ayah lah satu-satunya harta berharga dalam hidupku."


"Setelah kepergian mama, ayah selalu terbawa halusinasi,waktu itu aku dan ayah hanya hidup berdua, hingga akhirnya ayah di vonis menderita Alzheimer, lalu berakhir pada ayah yang di tuduh melakukan korupsi."


"Semua itu menimpa ku secara bertubi-tubi, kuliah mengkrak, aku bahkan rela menjadi pelayan di cafe untuk menghidupi diri dan berusaha menyelamatkan ayah."


Isvara mengadah, berusaha untuk menahan air matanya yang siap tumpah. "Hah, jika di ingat-ingat itu membuatku selalu emosional."


Mahesa paham, ia pun pernah ada di posisi Isvara dulu. "Tidak apa-apa, menangis tidak akan membuatmu lemah."


Isvara bergeming sejenak, gadis itu terkekeh namun ada air mata yang mengalir dari kedua mata indahnya itu.


Mahesa menenangkannya, menepuk pelan punggung gadis itu.


Sedangkan di sana berdiri seorang pria yang mendengarkan semua perkataan Isvara. Pria itu membeku menyiratkan penyesalan mendalam.


Amarah yang awalnya siap meluap karna foto itu, kini tergantikan dengan rasa penyesalan yang luar biasa. Gerald tidak tahu jika hidup istrinya sangat menderita selama ini.


Kali ini Gerald benar-benar sadar, yang di lakukannnya pada Isvara dulu memang sangat keterlaluan.


Bisakah ia memperbaiki semuanya?


***


Di mobil, Gerald mengendari kendaraan dengan kecepatan tak stabil, kesedihan dan penyesalan telah menguasai hatinya dari yang terdalam.


Ternyata diagnosa dari Ryan tidaklah salah, semua yang di ucapkan Samuel bukanlah bualan belaka.


Nyatanya dirinya telah jatuh cinta, pada gadis yang bernama Isvara.

__ADS_1


"Bodoh, kau sangat bodoh Gerald. kemana saja kau selama ini? kenapa baru menyadari perasaan itu sekarang?"


Gerald terus menyalahkan dirinya, memukul stir mobil sebagai pelampiasan.


Sekarang harus bagaimana? di mulai darimana dia harus memperbaiki hubungannya?


Membuang nafas panjang, mobil Gerald terhenti, ia mendongak menatap langit-langit.


"Isvara, maafkan aku."


***


Isvara dan Mahesa sampai di rumah saat senja, namun Mahesa ijin pamit dan hanya mengantar Isvara saja sampai di depan rumah.


"Kamu mau pergi lagi ya?" tanya Isvara.


Mahesa mengangguk. "Aku harus menyelesaikan skripsi juga ada keperluan mengenai lukisan ku."


"Sebuah job kah?" Isvara berbinar. mungkinkah Mahesa mendapat kontrak untuk lukisannya. karna Isvara sangat kagum dengan semua mahakarya Mahesa.


"Bisa di bilang begitu," ucap Mahesa menaikan sebelah alisnya.


"Semangat ya," kata Isvara dengan senyum yang semakin mengembang.


Mahesa kemudian pamit, Isvara lalu melambaikan tangan saat mobil yang di kendarai pria itu sudah semakin jauh dari pandangan.


Menghela nafas sejenak, Isvara berbalik untuk memasuki rumah, namun baru beberapa langkah suara lengkingan keras seseorang mengagetkannya.


"Nona muda! Nona muda!" Dewi dengan berlari tergesa-gesa menghampiri Isvara.


"Ada apa sih wi? heboh banget," kata Isvara memegang bahunya.


"Ayo non ikut saya cepet!" Dewi lantas menarik Isvara ke dalam untuk mengikutinya.


Mereka menuju sebuah kamar dan ini adalah kamar Isvara.


"Lihat sendiri non," ucap Dewi.


Isvara mengernyit heran, meski begitu ia tetap membuka pintu kamarnya. Dan alangkah terkejutnya ia melihat sebuah gaun pesta yang sangat cantik terpasang di patung manekin baju.


Gaun itu berwarna perak keemasan ada renda-renda cantik yang menghiasi di sekeliling pinggangnya, sangat elegan dan menawan, Isvara bahkan tak berkedip saat melihatnya.


"Punya siapa ini wi?" tanya Isvara menoleh pada Dewi.


Dewi tersenyum lebar. "Punya non atuh, kan ada di kamar nona muda."


"Punyaku? tapi ... rasanya tidak mungkin." Isvara terlihat ragu.


"Ada surat yang terselip di gaun itu non,coba non buka." unjuk Dewi dengan arah matanya.


Isvara mengangguk, mengambil surat kecil itu yang ternyata memang terselip di antara renda cantik gaun itu. Isvara membuka dan membaca tulisan yang ada di kertas itu.


[Pakai lah gaun ini untuk nanti malam. Aku akan menunggumu.


Mr.G. ]

__ADS_1


"Mr.G? siapa? mungkin kah Gerald?" gumam Isvara. namun sepertinya itu sangat tidak mungkin.


***


"Apa dia sudah melihat gaunnya?" tanya seseorang.


Dewi mengangguk. "Sudah tuan muda."


Gerald mengulas senyum tipis. "Itu bagus. nanti malam aku ingin dia terlihat sangat cantik, perlakukan istriku secara istimewa."


Dewi lagi-lagi mengangguk,namun kali ini dengan senyum lebar. Tak tahu ada apa di antara mereka,namun perubahan Gerald yang sangat tiba-tiba ini membuat Dewi senang, akhirnya tuan mudanya menyadari perasaannya untuk Isvara.


Dewi turut bahagia untuk mereka. sebagai seorang yang ingin sekali dua orang itu dekat, Dewi sangat berharap di empat bulan terakhir ini Isvara juga akan menyadari perasaannya untuk Gerald.


"Saya dan para pelayan di sini akan memastikan yang terbaik untuk nona muda."


***


Malam tiba, suasana kediaman wirasena tampak ramai dengan para pelayan yang berduyun-duyun datang ke kamar Isvara.


Mereka akan menjalani mandat dari tuan muda untuk membuat istrinya tampil cantik malam ini.


Isvara masih tak paham, namun ia hanya bisa mengikuti semua yang mereka lakukan padanya. yang hanya dia tahu ini semua perintah Gerald karna dia akan di bawa sebagai partner dalam acara kolega bisnisnya.


Kini Isvara sudah tampil sangat elegan dengan gaun perak keemasan cantik itu, warnanya menjadi berkilauan karna terpantul sinar lampu.


"Waah,nona muda memang benar-benar sangat cantik."


"Dia terlihat imut menggunakan gaun itu."


"Aku pastikan pria manapun yang melihatnya pertama kali akan terkesima dan tidak akan pernah berpaling."


Seruan-seruan itu membuat Isvara malu, pipinya terasa memanas dan merah seketika.


Dia pun tidak menyangka Gerald sudah menyiapkan semua ini untuknya. meskipun ia hanya menjadi partner pesta yang tidak mungkin di anggap, Isvara akan melakukan perannya sebaik mungkin karna menyangkut nama baik ayah mertuanya, Aryaloka.


"Ayo nona muda, tuan Gerald sudah menunggu anda," ucap salah satu pelayan.


Isvara mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, gadis itu menggangguk untuk menyakinkan dirinya. menggenggam tas kecil di tangannya dengan erat,lalu berjalan ke tempat Gerald berada.


Sementara Gerald dengan setia menunggu Isvara di samping mobilnya. pria itu menggunakan setelan jas rapi dengan hiasan bunga mawar di sakunya, berbadan tegap dan gagah, rambut ikalnya yang sudah mulai memanjang di sisi rapih hingga terlihat sangat tampan.


Isvara melihat Gerald ada di sana, perlahan langkahnya semakin melambat, ia terserang kegugupan luar biasa.


Gerald yang semula menatap jam pun menoleh, seketika tatapan mereka bertemu. seperti ada sihir yang merejam dirinya, Gerald terkesima membuatnya hanya diam membeku.


Dunia seolah berhenti, dan hanya Isvara yang semakin bergerak mendekatinya.Ia menatap semakin intens, seperti tidak ada hari esok untuk menatap wajah cantik itu. mereka sama-sama tidak memutuskan kontak mata.


Ah, beginikah rasanya jatuh cinta? manis dan juga hangat.


Kini Isvara sudah berhadapan dengannya, wangi mint segar dari tubuhnya tetap bisa tercium oleh Gerald.


Perlahan Gerald mendekat, mengikis jarak di antara mereka, mengambil sebelah tangan gadis itu dan mengusap di titik denyut nadinya.


Gerald mendekati wajahnya, Membuat detak jantung Isvara semakin menggila. pria itu mendekatkan bibirnya di cuping telinga Isvara, lalu berbisik.

__ADS_1


"Kau sangat cantik malam ini, dan aku tidak bisa mengalihkan pandangan ku darimu."


__ADS_2