
Setelah mendengar penjelasan yang di lontarkan salah satu anak buahnya itu, tanpa berwaktu lama, Gerald segera mempersiapkan keberangkatannya. Hal ini tidak akan pernah ia sia-siakan.
Gerald teramat senang karna akhirnya sang istri bisa di temukan keberadaannya juga, Gerald tidak akan kehilangan Isvara kali ini, tidak akan ia biarkan sang istri pergi darinya lagi.
"Aku pasti akan membawamu pulang Isvara." tekadnya.
***
Sementara di sisi lain, Isvara hendak membicarakan tentang rencananya pada sang paman di meja makan setelah mereka menyelesaikan sarapan, namun melihat bagaimana tatapan bibinya kepada dirinya membuat Isvara urung untuk melakukan itu sekarang.
Akhirnya yang kini dia lakukan adalah membereskan piring kotor di atas meja, sang paman yang melihat itu pun bertanya padanya.
"Kenapa kamu yang membereskan itu, ada banyak pembantu di sini, biarkan mereka yang melakukannya."
"Biarin sih pah, namanya juga dia sadar diri kali, karena cuma numpang di sini!" sinis Rosmini pada Isvara.
Pak Damian menggeleng. "Isvara, kau jangan pernah berfikiran seperti itu, kamu adalah keponakan ku dan juga tamu di rumah ini, tak sepatutnya kamu melakukan itu."
"Tak apa paman, aku juga bosan tak ada kerjaan jadi sekalian saja aku membantu."
"Jika kamu bosan, kamu bisa berkeliling desa ini, kebetulan nanti malam akan ada perayaan karnaval, akan seru jika kau menonton juga."
"Eh, benarkah? aku tak pernah tahu ada yang seperti itu juga disini?"
Pak Damian tersenyum melihat ekspresi kaget sang keponakan. "Nanti malam kau bersiaplah, paman akan meminta Dira, anak kepala desa ini untuk memandu mu nanti."
Isvara tampak tersenyum canggung. "Sepertinya itu akan merepotkan paman, tak usah jika begitu."
Sang paman kembali mengulas senyum. "Apanya yang merepotkan? kamu tamu juga untuk desa ini, sesekali keluarlah untuk refreshing diri."
"Kamu tak perlu merasa tak enak, Dira anaknya supel dan mudah bergaul, kamu akan menyukainya."
Kali ini Isvara mengangguk. "Baiklah kalau begitu paman."
Sebaiknya tidak sekarang Isvara mengutarakan keinginannya untuk pergi dari sini dengan sang paman, nanti saja setelah situasi cukup kondusif, Isvara juga memang butuh sedikit hiburan guna menghilangkan bayang-bayang Gerald yang menghantuinya belakangan ini.
Isvara sudah bertekad, sesusah apapun itu, Isvara akan berjuang untuk melupakan semua kenangannya bersama Gerald dan memulai hidup baru yang tenang dan damai.
***
Laura kini mulai terbiasa dengan apartemen Samuel, walaupun sesekali wanita yang sedang hamil itu akan meringis jijik karna kediaman Samuel ini jauh dari bayangannya yang ingin hidup seperti di istana.
__ADS_1
Samuel sendiri memperlakukannya dengan sangat baik, pria itu pengertian dan selalu menuruti apapun keinginannya, terlebih ada anak yang kini tengah tumbuh di rahimnya membuat Samuel lebih ekstra hati-hati dalam menjaganya.
Tapi hal itu tidak serta merta membuat Laura luluh, tetaplah Laura yang tak ingin hidup susah bersama Samuel. walaupun gaji terakhir dan pesangon pria itu terbilang besar tapi tak akan cukup untuk Laura yang mempunyai gaya hidup glamor.
"Aku ingin mobil Lamborghini Gallardo untuk menggantikan mobilku yang sudah di jual ayah," ucap Laura tiba-tiba,saat mereka sedang menikmati makanan yang di pesan Samuel.
"Apa maksudmu?" Samuel mengernyitkan alis.
"Kau tidak mengerti atau pura-pura tak mengerti?" Laura memutar bola mata malas. "Aku ingin mobil Lamborghini tipe Gallardo untuk menggantikan mobilku yang sudah di jual ayah!"
Samuel yang semula sedang memegang garpu menjatuhkannya ke meja dan menekannya hingga menimbulkan suara nyaring.
"Jangan membuat ku marah dengan mengatakan hal konyol itu, cepat habiskan makanan mu saja!" Samuel tetap menahan diri untuk tidak emosi.
"Apa sih kamu kok malah mengalihkan pembicaraan? emangnya sulit ya kau mengabulkan keinginanku, toh ini juga bawaan dari kandungan ku, yang artinya anakmu juga menginginkannya!"
"Laura!" kali ini Samuel tak bisa untuk tidak berteriak.
"Kau tahu berapa harga mobil itu? itu bahkan bisa untuk biaya sekolah anak kita nanti dan juga kebutuhan yang lain, kau bilang kau tidak ingin tinggal di apartemen ku yang kumuh ini kan? uang segitu juga bisa untuk membeli tanah dan membuat rumah megah yang kau impikan," tutur Samuel.
"Ya itukan beda lagi, kau sebagai ayah dari bayi ini harus punya tanggung jawab yang lebih dong untuk mengabulkan keinginannya, toh aku dengar uang pesangon mu itu sangat besar, terlebih lagi Gerald adalah sahabat mu, dia pasti memberikan lebih dari apa yang di tentukan perusahaan."
"Kau kira semua uangnya itu lari kemana hah? uang itu untuk sewa apartemen ini,juga membelikan makanan enak yang selalu berbeda-beda setiap harinya karna keinginan mu, juga membeli susu ibu hamil untuk mu, belum keinginan mu yang lain."
"Alah, bilang aja kau memang tidak mampu untuk membelinya atau kau memang pelit!" Laura berdiri dan meninggalkannya.
"Laura kau mau kemana, habiskan makanan mu!" teriak Samuel.
"Tidak, aku sudah tidak berselera!" Laura berjalan ke kamar yang dia tempati selama di apartemen ini.
"Dasar pria, mau enaknya saja di awal, giliran ingin membuktikan kesungguhan tapi tidak ada tanggung jawabnya sama sekali!" gerutu wanita itu yang masih bisa di dengar oleh Samuel.
Samuel mendesah pelan, geleng-geleng dan meletakkan sendoknya kembali, kini dia pun sudah tak berselera untuk menghabiskan makanannya.
"Kau pikir apa? aku pun sedang berusaha keras untuk membahagiakan mu Lau ... " lirih pria itu.
Sekarang Samuel pun harus mencari pekerjaan baru dengan gaji yang menjanjikan agar dia bisa membahagiakan Laura dan tak lagi mendengar ocehan panjang wanita itu.
Namun ternyata itu sulit. Lebih sulit karena Samuel hanya pernah bekerja dengan Gerald.
Sekarang dia mulai merutuki kebodohannya, Kenapa dulu dia mudah sekali terjerat pesona Laura?
__ADS_1
***
Sore hari menjelang malam, Isvara sudah bersiap untuk melihat karnaval yang di bicarakan sang paman, saat tengah mematutkan diri di cermin, teriakan dari Teh Puput, salah satu pembantu yang Isvara kenal di sini membuat dia keluar dari kamarnya.
"Dira, yang bakal memandu kamu sudah menunggu di teras," ucap teh Puput.
Isvara mengangguk lalu mengucapkan terima kasih tak lupa dia pun berpamitan pada sang ayah dan mencium pipi pria yang selama ini sudah membesarkannya itu.
"Vara ijin ya yah ... ayah gak apa-apa kan Vara tinggal bentar? atau ayah juga ingin ikut sekalian?"
Pak Adi menggeleng. "Gak, Vara aja yang pergi, ayah tahu Vara juga butuh waktu untuk menghibur diri."
Isvara tersenyum lalu mengangguk, ia pun melangkah ke teras melihat seorang pria yang tengah duduk menunggunya.
"Eh, kamu Dira?"
Pria yang sedang memunggunginya itu menoleh. "Eh Iyah teh, saya Dira." pria itu memperkenalkan diri.
Isvara menerima uluran tangannya, tampak terkejut. "Saya kira kamu perempuan."
Dira tertawa. "Nama saya emang ke cewek-an banget sih, tapi seratus persen saya ini cowok tulen, kita juga lumayan seumuran teh."
Isvara tertawa kecil. "Jangan panggil 'teh' panggil aja 'Vara'."
"Oh oke, Vara, saya di sini atas permintaan Pak Damian buat nganter kamu ngeliat karnaval juga lihat-lihat desa ini."
Isvara mengangguk. "Mohon bantuannya ya Dira."
"Oke teh, eh-- Vara, siap."
Lalu mereka berdua sama-sama tertawa. sepertinya Dira akan menjadi teman yang mengasyikkan selama di sini.
Sementara itu Gerald sudah sampai pada tujuannya, tak berselang lama setelah Isvara pergi dengan Dira, pria itu datang ke kediaman tuan Damian tentu bersama para antek-anteknya di belakang.
Tok! tok! salah satu bodyguardnya mengetuk pintu rumah megah pak Damian, tentu di bandingkan kediaman wirasena rumah ini tak ada apa-apanya.
Dalam hati dia tersenyum kecut, apa Isvara tinggal di tempat kumuh seperti ini?
Setelah beberapa kali mengetuk seorang wanita mungkin salah satu pelayan di sini, karna melihat dari penampilannya.
"Maaf kalian siapa ya? dan ada perlu apa?" wanita itu menatap waspada.
__ADS_1
Gerald maju ke depan dengan gaya cool dan kedua tangannya yang di masukkan ke kantong celana hitamnya. tak lupa kacamata yang kini bertengger manis di hidung bengirnya.
"Saya kesini ingin menjemput istri saya, Isvara wirasena!"