
Rembulan malam semakin bersinar terang, cahayanya seakan jatuh pada dua insani yang kini tengah menatap dalam.
Isvara mengerutkan kening, terasa heran mendengar ucapan dari Gerald. Pria itu benar-benar seperti bunglon, berubah-ubah kepribadian.
Astaga di mana letak seorang arogan, sombong dan kejam ini? Gerald yang sekarang seperti anak bebek yang kehilangan induknya, pikir Isvara.
"Gerald kau bisa melepaskan pelukan mu dulu?" Isvara lagi-lagi berusaha memberi pengertian padanya.
"Tidak mau!" Rengek pria itu.Tidak mau pelukannya di lepaskan.
Astaga apa pria ini benar-benar Gerald yang dia kenal?
Padahal usia Gerald empat tahun di atas Isvara, tapi kenapa di sini Gerald yang bersikap kekanak-kanakan dan dia yang di paksa menjadi dewasa?
"Gerald, masa kamu mau begini terus sih?" Isvara mengusap kening pria itu, sungguh Gerald seperti anak kecil yang merengek minta di belikan mainan.
Dan benar saja dugaan Isvara, ada dua orang wanita yang melewati mereka, memperhatikan sambil berbisik-bisik mesem-mesem.
"Sweeet banget ya."
"Emang bener kalo lelaki udah ketemu wanita yang tepat, dia bakal nunjukin sifat manjanya.Gemes deh."
"Yang cowoknya ganteng banget mirip Jefri Nichol."
"Mbaknya beruntung banget."
Bisik-bisik serta sahutan mereka seperti terdengar sangat nyaring, dan tatapan mereka seakan sedang menggoda membuat Isvara meringis, semakin tak nyaman.
"Gerald, lihat tuh,kamu gak malu di liatin orang?" Isvara benar-benar harus ektra lembut, seperti memongmong bayi. Ya, bayi besarnya.
Perlahan pelukan Gerald di pinggangnya mengendur, lalu kedua tangan itu terlepas.
"Ah, bang*sat!" pria itu mengumpat, menyugar rambutnya dengan kasar.
"Maaf Ra, kalau bikin kamu gak nyaman," ucapnya.
Gerald pun tidak tahu kenapa dia sampai melakukan itu, semuanya alami mengalir begitu saja, yang ada di pikirannya hanya ia yang tak ingin berpisah dengan Isvara.
Isvara menggeleng. "Kamu mau pulang?" tanyanya.
Gerald mengangguk. "Mau bareng?"
Isvara tersenyum. "Boleh." lalu mereka berjalan beriringan.
Gerald meringis,mengusap tengkuknya merasa canggung, senyum Isvara seperti mengejeknya.
"Gerald bodoh,bodoh, kenapa lo memperlihatkan sisi lemah lo ke Isvara sih? dia bisa nganggep lo gak gentleman lagi bodoh!" rutuk Gerald dalam hatinya.
Gerald sungguh sangat menyesal, tapi di satu sisi hatinya merasa berbunga-bunga saat memeluk Isvara tadi.
"Perut istri gue ternyata enak buat di jadiin bantal." gumamnya tersenyum-senyum sendiri.
***
Sementara Mahesa berbalik arah, melakukan mobilnya ke suatu tempat. Pria itu dingin tanpa ekspresi, berbanding terbalik dengan sifatnya yang hangat dan ramah selama ini. kentara sekali pria ini sedang menahan kegalauannya.
Mahesa the real sadboy memang. menyerahkan sebelum berjuang.
Ntah di mulai dari mana, dia bisa seperhatian itu dengan Isvara, gadis itu berbeda dengan wanita kebanyakan seperti yang selalu ia temui, Isvara unik,dia gadis yang tangguh sederhana dan matanya yang menyipit saat tersenyum seakan menjungkir balikan kehidupan Mahesa.
__ADS_1
Terkadang Isvara seperti Kayra,adik kecil yang ingin selalu dia lindungi,namun terkadang Mahesa melihat Isvara seperti wanita dewasa yang ingin ia ajak kencan. Tak bisa ia pungkiri hatinya kini terjatuh dalam pesona gadis itu.
Mahesa terkekeh, namun ia tak bisa menyembunyikan air mata yang mengalir di sudut netranya. Lagi-lagi ia harus mengalah dengan Gerald, terpaksa mengubur perasaannya dalam-dalam.
Dia sadar, tidak bisa untuknya melawan Gerald. pria itu akan selalu menang dalam hal apapun, bahkan tentang kasih sayang bundanya, Gerald selalu menang.
Untuk seukuran anak yang bukan siapa-siapa di keluarga wirasena, Mahesa masih sangat beruntung mendapat kasih sayang dari ayah sambungnya dan sang nenek, walaupun tidak sebesar Gerald, Mahesa masih cukup sadar diri, posisinya hanyalah pemain cadangan, bukan pemeran utama.
Mahesa berharap kali ini Gerald sungguh serius dengan perasaannya untuk Isvara dan mau berubah demi gadis itu.
"Isvara, semoga kau bahagia." setitik air matanya jatuh.
***
Mobil Fortuner Gerald mendarat sempurna di penjara rumah. Ada dua mobil lagi berada di garasi, kemungkinan Papa dan nenek beserta ibu sambung dan adiknya Kayra, sudah pulang dari luar negeri.
Mata Gerald berkeliaran risau, apa Isvara nanti akan membicarakan tentang perceraian pada sang ayah? apa istrinya ini sungguh-sungguh ingin berpisah darinya?
"Kenapa?" tanya Isvara menyentak lamunannya.
"Isvara." kali ini Gerald kedua bola mata Isvara lekat. "Apa kau beneran ingin berpisah dariku?"
Bulu mata lentik itu mengerjap-ngerjap, "Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Karna papa sudah pulang." jawab Gerald, matanya tertuju pada dua mobil yang terparkir membuat Isvara juga melihatnya.
"Aku juga tidak tahu," ujar Isvara. ntah kenapa dia mendadak ragu.
Bukankah inilah saat-saat yang dia nantikan?
"Jadi kau ... akan menerima diriku?" Gerald menjadi sumringah.
"Ingat, yang kamu lakukan padaku selama ini terlalu jahat Gerald," ucap Isvara.
Gerald mengerti, dia tidak bisa di maafkan semudah itu. Tapi dia juga tidak akan menyerah.
"Tapi aku ingin berubah," kata Gerald. "Merubah sikapku untuk lebih baik, demi dirimu."
Isvara mendesah pelan. "Jangan demi diriku."
"Tapi ... " Isvara mengambil tangan kekar pria itu dan menaruh telapak tangannya di dada. "Demi dirimu sendiri."
"Kau tahu, seumur hidup itu terlalu panjang Gerald."
"Aku tak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan pria yang rela mengubah dirinya hanya untuk bersamaku."
"Aku ingin dia merubah dirinya karna memang dia ingin menjadi lebih baik, bukan karna diriku." Isvara tersenyum.
"Setidaknya sampai empat bulan ini berakhir, aku akan tetap diam, ku harap kamu bisa memanfaatkannya untuk membuktikan kesungguhan mu."
Setelah mengatakan itu Isvara keluar dari mobil meninggalkan Gerald yang membeku, Perkataan Isvara tadi seakan memberi warna baru dalam hatinya. Itu berarti Isvara akan memberikannya kesempatan? meski belum tapi Isvara tidak akan mengajukan perceraian sebelum enam bulan berakhir.
Kali ini Gerald akan membuktikan kesungguhannya. "Yes! yes!" pria itu bersorak kecil.
Fighting Gerald!
***
Di dalam rumah suasana hangat langsung menyapa, keluarga besar kini sedang berkumpul dan bercengkrama di ruang tamu. Kehadiran kembali tuan Aryaloka, nyonya Triani, nyonya Indira dan Kayra di sambut suka cita, berjalan mulus dan tak ada kendala. Dalam bisnis pun tuan Aryaloka sudah merajai pasar internasional dan melambungkan nama perusahaan hingga ke luar negeri.
__ADS_1
Sementara semua orang sedang bercengkrama dan tertawa ria, tidak dengan Kayra,gadis muda itu hanya diam duduk di pojok kursi dengan kesendiriannya.
Hal itu mengundang rasa penasaran Isvara, lalu ia mendekat untuk menghampiri Kayra.
"Kay, kamu kenapa?" Isvara menepuk bahunya Membuat Kayra tersadar.
Kayra sedikit gelagapan, seperti menahan beban berat dalam otaknya.
"Gak kok kak, Kay gak apa-apa." jawab Kayra sekenanya.
Merasa ada yang tak beres, Isvara menarik lengan gadis itu hingga mereka sedikit menjauh dari keramaian.
"Sekarang sepi, kamu bisa terus terang sama aku,Kay."
Raut wajah Kayra tiba-tiba berubah. "Kak aku gak mau di jodohin. Kay cuma mau sama Raka."
Dahi Isvara mengernyit. "Kak, ternyata papa ngajak Kay ikut serta ke new York itu karna papa mau ngejodohin Kay sama putra rekan bisnisnya yang ada di sana."
"Nenek bilang ini bagus buat mempererat hubungan bisnis perusahaan mereka, tapi Kay gak mau." Gadis itu menggeleng. "Kay gak mau di jadiin tumbal keserakahan mereka."
"Kay tunggu kay, sepertinya kamu salah paham." Isvara berusaha menenangkannya.
"Gak kak, papa jadiin kay alat untuk bisnisnya doang, Kay gak mau, Kay cuma cinta sama Raka."
Gadis itu menggeleng dengan air muka memelas. "Kakak mau kan bantu Kay? bantu Kay buat bicara sama Raka besok."
Isvara jadi bingung, dia harus bagaimana?
"Cuma kak Vara yang bisa bantu kami," ucap Kayra memegang tangannya.
"Bantu Kay dan Raka untuk memperjuangkan cinta kami."
Ini rumit. Kisah cinta yang rumit karna berbeda kasta.
***
Sementara malam semakin larut, Gerald di kamarnya tampak begitu riang, kelegaan karna Isvara tidak jadi mengajukan perceraian pada sang papa dan dia tidak akan menduda cukup membahagiakannya kali ini.
Pria itu berjalan sambil bersiul, berjalan ke arah kaca memperlihatkan tubuhnya yang setengah polos.
"Lihat, siapa pria terseksi abad ini?" Gerald begitu narsis memandang bayangannya sendiri.
Lalu matanya tertuju pada kalung yang kini menggelantung indah di lehernya.
Gerald sedikit meraba, benar ini adalah cincin pernikahannya.
Karna kesal cincin itu tidak muat di jarinya Membuat Gerald memutuskan untuk menjadikan cincin itu sebagai kalung dan kini ia merasa senang karna cincin itu akan terus bersamanya dan tidak akan pernah lepas.
"Benar!" satu ide tercetus di kepalanya.
Karna melihat rambutnya yang semakin hari semakin memanjang Gerald memutuskan akan pergi ke barber shop besok dan mengajak Isvara ikut serta.
Langkah awalnya adalah mencukur rambut bersama ayang.
"Yash! Gerald lo emang cemerlang," memuji dirinya sendiri.
"Sudah di tentukan besok adalah kencan pertamaku dengan Isvara."
__ADS_1
Gerald! Gerald! kau memang jenius.