
Mereka berdua terdiam kaku. Isvara masih dengan keterkejutannya, masih memeluk erat Gerald.
Sedangkan pria itu terlihat nyaman, Gerald tak melepaskan tangannya di pinggang Isvara. Aroma shampoo langsung menyergap indera penciumannya saat hidungnya mengendus rambut Isvara.
Ternyata Isvara memiliki aroma tubuh yang manis, percampuran antara mint segar dan vanila lembut.
Sangat berbeda saat ia memeluk Laura yang beraroma parfum menyengat. Isvara memiliki wangi tubuh yang khas, dan entah kenapa Gerald jadi suka menciumnya.
Perlahan Isvara membuka mata, menyadari ia memeluk tubuh Gerald, Isvara segera saja melepasnya. Ia hendak beranjak tapi Gerald malah kembali menarik tubuhnya hingga mereka kembali berpelukan.
Gerald menarik kepala Isvara hingga bersandar pada dadanya yang bidang. Ntah apa yang ada di otaknya kini, hingga ia melakukan hal itu.
Isvara mengkerut dahi, perlahan wajahnya mendongak, hingga matanya dan mata pria itu bertemu.
Mereka saling menatap lekat, seperkian detik terhipnotis, Gerald merasakan ketentraman saat menyelami manik hitam Isvara yang menyejukkan seperti telaga.
Pandangan Gerald lalu jatuh pada pipi kemerahan gadis itu, bulu mata lentiknya, lalu sampai pada bibir mungil yang bewarna pink soft alami itu. Seketika Gerald mendesis dalam hatinya.
"Sial, kenapa dia jadi terlihat cantik!"
Isvara membuang muka Membuat kontak mata mereka terputus. Menyadari itu Gerald pun melakukan hal yang serupa.
Isvara dengan cepat menarik diri, merasakan hal aneh ia mengusap lehernya, canggung.
Gerald pun bangkit dan berdehem keras demi menghilangkan kecanggungan itu.
Isvara memutuskan untuk pergi begitupun dengan Gerald, namun langkah mereka terhenti karena hampir bertubrukan, menatap bingung, keduanya akhirnya kembali berjalan setelah meminggirkan langkah.
Gerald meletakkan telapak tangan di dadanya, "F*ck, kenapa debarannya semakin menggila?'" rutuknya.
***
Gerald merapikan tuxedo abu-abu tua yang sangat pas di tubuh atletisnya.
Berkaca sebentar merapikan rambutnya, namun bayangan seorang wanita mungil di cerminannya Membuat Gerald menoleh.
"Ini dasi yang kamu minta." Isvara mengulurkan tangannya.
Setelah drama yang terjadi saat pria itu akan mandi, kini giliran drama memasangkan dasi dan sepatu yang giliran menyambut.
"Kenapa coraknya seperti ini? Aku minta yang coraknya hitam tua polos, bukan alpokadot kaya gini."
"Tapi emang dasi mu semua coraknya kaya gini," sanggah Isvara.
"Enggak, cari lagi," kekeuh Gerald.
Isvara menarik nafas dalam-dalam, ia sungguh tak mengerti dengan tuan muda ini, pasalnya dia sudah mengobrak-abrik isi laci dasi Gerald, namun tak ada warna dasi yang di sebutkannya itu.
Isvara dengan kesal mencari lagi dasi yang di maksudkan Gerald, satu persatu ia keluarkan dan mengacak-acak nya,masa bodoh jika tuan muda itu marah,toh ini semua perintah dia.
"Nih," Isvara menyerahkan dasi itu setelah sekian lama mencari.
Bukannya menerima, wajah Gerald malah berkerut dalam.
"Kau menyerahkannya begitu saja? Pakaikan lah!"
"Kenapa gak pakai sendiri saja?"
"Terus apa gunanya kamu di sini!?"
Isvara memejamkan mata, berusaha untuk meredam segala emosi yang siap ia luncurkan.
__ADS_1
"Lagipula itu semua sudah ada di dalam perjanjian kalau kau lupa?!"
Haaah! itu memang benar, hal itu memang sudah ada dalam perjanjian. hampir separuh ingatan Isvara hilang karna sejak tadi menahan gusar untuk pria itu.
Isvara mendekati Gerald, hendak memasangkan dasi itu, namun sedetik kemudian ia teringat sesuatu.
Gerald menatap aneh Isvara yang menoleh kesana-kemari seperti mencari sesuatu, sampai akhirnya ia tersadar yang di cari Isvara adalah sebuah kursi kecil.
Gerald merasa geli, tapi dia menahan diri untuk tidak tersenyum.
Isvara mengalungkan dasi itu dan mulai menerapkannya. Gerald menatapnya intens seketika membuatnya tak fokus
Sedangkan Gerald begitu asyik memandang wajah teduh itu, ia menyadari jika gadis di hadapannya ini beraut hampir datar tanpa ekspresi,juga tak ada perlawanan dari gadis itu seperti sebelum-sebelumnya.
Kenapa Gerald jadi merindukan sisi perlawanan gadis itu? bukankah begini lebih baik, Isvara tak lagi bisa melawan dirinya.
Tapi kenapa rasanya sangat hambar? hah, ada yang salah dengan dirinya.
"Sudah selesai," gumam Isvara merapikan dasi yang sudah terpasang sempurna.
Untungnya Isvara bisa dengan mudah memasangkannya, karna sebelumnya ia sudah terbiasa memasangkan dasi untuk sang ayah saat hendak bekerja.
Hah, isvara jadi merindukan sang ayah, bagaimana kabarnya kini?
Gerald memandang wajah Isvara yang sedang melamun, ntah kenapa seketika jantungnya kembali berdetak kencang. Ada apa ini?
"Kau kenapa?" Isvara menyadari perubahan wajah Gerald itu.
Sial wajah mereka terlalu dekat, karna gugup Gerald dengan tiba-tiba mendorong tubuh Isvara hingga gadis itu terjatuh dari kursi kecil itu.
"Wajahmu terlalu dekat,bodoh!"
Isvara meringis memegang kakinya yang terasa sakit.
Gerald mengerjap, benar, harusnya kan dia biasa saja. Tapi kenapa malah rasanya sangat mendebarkan.
Apa ada yang salah dengan jantungnya?
***
Sampai di kantor, Gerald berjalan tegap namun santai di sepanjang koridor, dibelakangnya di ikuti beberapa kolega dan Samuel yang sedang memperkenalkan produk yang akan mereka launching kan.
Sampai di depan pintu ruangannya, Gerald berhenti membuat Samuel hampir terhantuk bahunya.
"Kenapa sih?" desis Samuel yang terkejut.
"Sam, gue mau nanya sama Lo," Gerald membalikkan badan.
"Nanya apa?"
Namun Gerald malah diam saja, seperti sedang berfikir. "Gak jadi, nanti pas jam makan siang anterin gue ke rumah sakit."
"Hah? Lo kenapa? sakit?"
"Ck! bacot, anterin gue aja."
"Elah, namanya juga daku ini perhatian padamu, wahai kakandaku."
"Najis, jangan mulai ngedrama,masih pagi."
Samuel tergelak, meninggalkan Gerald yang masih diam mematung.
__ADS_1
Oke, dia akan memeriksa apa yang salah dengan jantungnya.
***
Saat makan siang tiba, Samuel langsung mengantar Gerald di salah satu rumah sakit di mana salah dokter di sana adalah teman semasa SMA mereka.
Namanya dokter Ryan, mereka bertiga dulu adalah teman yang sangat akrab saat SMA, bahkan pernah membuat geng anak sekolahan yang dulu sangat terkenal akan ke berandalannya, dan tentu saja ketua geng nya adalah Gerald.
Tapi itu dulu, sebelum akhirnya mereka berpisah untuk menempuh pendidikan lebih jauh, meski begitu hubungan mereka tetap akrab meski hanya lewat via internet.
"Cielah, pak ketu tumben mampir ke sini," ucap Dr.Ryan saat mereka bertemu dan berpelukan ala jantan.
"Sengaja, mau daftarin si Sam ke kamar mayat" ucap Gerald santai.
"Idih cocote minta di tampol," kata Samuel geram.
Dr. Ryan tertawa, dua temannya ini masih sama seperti dulu.
"Ini lagi wakil ketua kita,pakabs bro?!"
Samuel tergelak, lalu mereka juga berpelukan. "Baik-baik, masih aja Lo manggil gua waketu."
"Iyah dong, siapa sih yang gak kenal ketua dan wakil ketua geng King dragon, pentolannya SMA Wirangga," ucap dr. Ryan seakan kembali ke masa lalu saat mereka masih menjadi murid seragam putih abu-abu.
Gerald sejak SMA dulu memang terkenal sering membuat onar dan sangat keras, pertemuannya dengan Ryan berawal dari ajakan Samuel masuk dalam geng motor sekolahan itu, hingga akhirnya kini mereka menjadi sahabat karib.
"Gak kerasa ya, delapan tahun berlalu," ucap Dr. Ryan tersenyum tipis.
Ia mengalungkan stetoskop di lehernya,kini mereka berjalan menuju ruangannya.
"Btw, beneran siapa yang mau Konsul di sini?"
"Gue." Gerald menjawab pelan, "Gue yang mau Konsul."
***
"Perasaan jantung lo gak apa-apa, aman-aman aja," ucap Dr.Ryan seusai memeriksa Gerald.
Gerald bangun, mengacingkan kembali kemeja putihnya.
"Tapi waktu itu pernah detakannya dua kali lipat lebih cepat, gue takut kena serangan jantung," ucap Gerald.
Hal itu membuat Dr. Ryan tertawa, " Lucu lo, gak ada sejarahnya dalam dunia medis kaya gitu, kecuali lo kenali dulu penyebabnya."
"Penyebabnya?"
Dr. Ryan mengangguk. "Penyebab jantung lo berdetak lebih cepat."
"Itu karna--"
"Karna dia lagi Deket sama seorang gadis," Samuel menyahut cepat.
Gerald melotot, sementara Samuel tertawa, ia memang sudah bisa menebak penyebabnya dengan mudah.
"Waaw, gak sama si Laura lagi lo?" Dr.Ryan belum tahu perihal pernikahan Gerald yang mendadak.
Samuel menggeleng," yang ini levelnya lebih rendah, tapi malah berhasil buat dia kek gini."
Gerald lagi-lagi melayangkan tatapan tajam, namun ekspresi Samuel seperti bayi yang tak berdosa.
"Kalo itu sih bukan penyakit, tapi lo lagi jatuh cinta," ucap Dr.Ryan membuat Gerald tersentak seketika.
__ADS_1
Jatuh cinta? benarkah? dengan gadis kampungan seperti Isvara?