TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 102


__ADS_3

Brandon melajukan mobil hasil ia merampas dengan penuh gila-gilaan, ditancapkannya gas mobil berkali-kali, mata pria itu basah dan memerah. kekecewaan juga rasa sakit mendominasinya saat ini, hal yang ingin dia lakukan saat ini adalah mengakhiri semuanya.


Sementara saat ini Arini tengah menjelaskan situasi yang terjadi pada sang kakak, namun karna gugup dan rasa khawatirnya Membuat Arini tak bisa mengucapkan kata-kata dengan benar.


"Kak, Brandon kak!" hanya itu perkataan yang dia katakan berulang kali.


"Katakanlah dengan jelas Arini, ada apa?" suara di seberang sana terdengar frustasi, Aryaloka kesal karena adiknya tak kunjung menjelaskan ala yang sedang terjadi.


Hingga seorang karyawan datang menghadap Aryaloka dengan raut wajah ketakutan dan juga cemas.


"Tuan, di sana ... di sana ... "


"Ada apa?" Aryaloka segera menghampiri, mematikan telepon yang sedang tersambung dengan Arini.


"Ada seorang Pria, datang ngamuk-ngamuk dengan nodongin pistol di lantai bawah."


"Apa?!" Aryaloka terkejut dengan terburu-buru dan nafas memburu di teleponnya sang putra, panggilan masuk.


"Ya pah, ada apa?" suara berat di seberang telepon menyambut.


"Gerald, cepat bawa polisi ke sini!"


"Hah? ada apa pah? apa yang terjadi?" suara Gerald berubah serius dan juga kaget.


"Papah barusan dapat telepon dari tante mu, Brandon sepertinya akan melakukan hal gila!"


*

__ADS_1


*


*


Dan benar saja di lantai dasar gedung ini, Brandon mengamuk sembari menodongkan pistol ke arah siapa saja yang ada di depannya. Semua orang panik, takut, tak ada yang berani menghentikan pria itu.


Sampai dua orang security keamanan mendekati Brandon berusaha mengambil alih pistol di genggamannya. Dan benar saja Brandon tak segan-segan untuk menarik pelatuknya ke arah mereka.


Satu di antara tumbang, terkena tembakan di bahu kiri, pria itu meringis menahan sakit luar biasa, terhitung sudah tiga orang yang menjadi korban Brandon.


"Di mana ruangan Presdir hah? di mana ruangan Aryaloka berada katakan?!" titahnya dengan mengancam pada orang-orang di sekitarnya. Brandon lalu berjalan ke arah resepsionis, seorang wanita menjadi sasarannya kini.


"Katakan di mana ruangan Presdir berada? cepat tunjukkan!"


Tubuh wanita cantik itu bergetar hebat saat Brandon menodongkan pistol ke arahnya. "B-baik tuan, akan saya tunjukkan."


Suasana menjadi mencengkam. Baru beberapa Brandon dan wanita itu berjalan, suara lengkingan seseorang membuat mereka menoleh.


Brandon menyeringai saat matanya bersibobrok langsungnya dengan Gerald yang ada ada di depannya.


"Oh ternyata lo yang datang? bagus lah gue bisa habisin lo dulu baru bokap lo!" pria itu tertawa.


Gerald menggeleng tak habis fikir. " Lo nekat ngelakuin hal kaya gini cuma demi kekuasaan?*


Di luar dugaan Brandon malah tertawa, tawanya begitu nyaring dan renyah seakan ada hal yang lucu, sedangkan Gerald menatap heran padanya.


"Gerald, Gerald, Lo jadi naif banget ya sekarang? bodoh! cuih!" Brandon meludah ke tanah.

__ADS_1


"Gue ngelakuin ini karena gue kecewa tau gak loh? semua orang pilih kasih, sejak dulu lo yang paling di sayang sama nenek, lo yang paling di manja, di antara kita cucu-cucunya cuma lo dan Kayra yang nyatanya dapat kasih sayang nenek."


"Sementara gue dan adik gue?" Brandon menggeleng. "nothing."


Gerald mendekat. "Brandon kayanya lo cuma lagi emosi sesaat doang, gue tahu selama ini ternyata lo memendam perasaan kecewa lo itu."


"Tapi please jangan buat keributan di sini, lo udah bikin tiga orang luka-luka gak akan bisa di maafin kali ini."


"Alah bang*sat gue gak perduli!" Brandon mengagungkan pistolnya ke arah Gerald.


"Kalo gak bokap lo yang mati, Lo yang harus mati di sini!" dia menyeringai seperti Iblis.


Perlahan Brandon menarik pelatuknya. Tapi tak ada reaksi apapun, tak!tak! Brandon kembali menarik pelatuk pistolnya namun tak ada apapun yang keluar.


"Sialan! peluru nya habis!"


Kini giliran Gerald yang menyeringai lebar. "Kali ini lo harus mendekam di penjara."


Suara sirine mobil polisi menggema, Brandon melirik waspada, pistolnya yang berada di tangan jatuh begitu saja kebawah.


Sial! dia sudah terkepung. di tak ingin tertangkap. Dengan sekuat tenaga Brandon tiba-tiba kabur dari sana berlari sangat kencang, Gerald dan beberapa orang mengejar.


Para polisi itu tengah mengejarnya kini, semuanya rencananya hancur, dia harus menyelamatkan diri dengan cepat.


Brandon merogoh kantong celananya mencari sesuatu di sana, fuc*k! kenapa kunci mobilnya tiba-tiba tak ada? kemana benda sialan itu pergi?


Brandon semakin terdesak, orang-orang berseragam itu semakin dekat, belum lagi Gerald yang kini sudah akan mendekatinya.

__ADS_1


Kesal dan kalut membuat Brandon berjalan hingga ke tengah, tanpa dia sadari dia kini sedang berada di jalan besar.


Hingga suara bunyi klakson kendaraan dari samping memekakkan telinga Brandon hingga menimbulkan suara ngiing~ yang begitu menganggu lalu semuanya gelap


__ADS_2