
Laura menangis tersedu-sedu di kaki ayahnya memohon pengampunan.
Apa yang di takutkannya terjadi, saat sang ayah memanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaannya, terbuktilah semua, wanita itu tengah berbadan dua.
Kedua orang tuanya sungguh tidak menyangka terlihat dari betapa terkejut dan kecewanya mereka.
"Bagaimana bisa sampai kebablasan Lau, kau ini seorang publik figur, kau model yang sedang naik daun, kau telah melenyapkan harta berharga mu begitu saja?!"
Sang ayah marah besar menyingkap kakinya hingga membuat Laura tersungkur, sang ibu menangis menghampiri dan memeluknya.
"Besok kita harus ke rumah tuan muda itu, kita urusi masalah ini!"
***
Di kamarnya Laura berjalan mondar-mandir tak karuan, dia berusaha untuk menelpon seseorang tapi tak kunjung di angkat. Ia terduduk, mendesis frustasi.
"Brandon! kita harus bertemu!"
Laura lalu melempar begitu saja ponselnya, mengambil sebuah hoddy dan masker lalu memakainya dan berjalan ke luar.
"Laura,mau kemana kamu?" sang ibu memergokinya yang berjalan mengendap-endap.
Laura memutar bola mata malas. "Aku harus menemui seseorang mom."
"Mau kemana lagi? kamu tidak takut dengan papimu, dia menyuruh mu untuk di kamar saja!"
"Mah!" Laura meninggikan suaranya. "Bisa gak sih kalian berdua gak ngekang-ngekang aku, aku bakal gugurin kandungan ini kalau dia memang mengancam karirku!"
"Lagian bukan sekali dua kali kok aku begini!"
"Entang banget kamu ngomong ya, walaupun kamu hidup di dunia bebas bukan berarti kamu pel*cur Lau, kamu tidak tahu betapa terpuruknya mama dan papi karna gagal menjaga kamu!"
Laura meradang. "mama dan papa apa sih kontribusinya di hidup aku, kalian juga bisa tetap makan karena hasil keringat aku!"
"Jadi stop ikut campur urusan aku!" Laura lalu melenggang pergi dengan memakai kupluk dan maskernya agar tetap aman.
Sang mama yang keget karna bentakan anaknya pun hanya bisa mengelus dada. keluarga Laura memang bukan dari kalangan atas, Laura berhasil mencapai karier nya pun karna bantuan teman papanya yang seorang produser.
Karna kecantikan, tubuh yang bagus dan kemampuan aktingnya yang Bagus Laura bisa terus tenar di kalangan entertainment dan hidup bergelimang harta.
***
__ADS_1
Laura ternyata hendak menemui Brandon, gadis itu dengan nekat datang ke apartemen sang pria, dekat sejak lama Membuat Laura hafal kode pass pintu apartemen pria itu.
Dilihatnya Brandon sedang menonton televisi sambil ongkang-ongkang kaki, pria itu terlihat santai sambil memakan kuaci di temani dengan sebotol bir di meja.Inilah kehidupan Brandon yang penuh kebebasan.
"Brandon!" pekik Laura. wanita itu langsung menghampiri Brandon dengan tergesa-gesa.
"Lo!" Brandon ikut terkejut pasalnya kedatangan wanita itu tidak di duganya. "Lo ngapain dateng kesini!"
"Gue udah bilang kan kita harus ketemu! lo susah banget di hubungin." ketus Laura.
"Ponsel gue di silent, lagian kenapa muka lo kaya mumi idup gitu?" Brandon memindai penampilan Laura yang berantakan dan jejak air mata wanita itu.
Laura tiba-tiba menangis membuat Brandon semakin terkejut di buatnya.
"Lo kenapa?" bingung melihat tangis wanita itu yang semakin keras.
"Gue hamil Brandon!" ucap Laura di sela isakannya.
Hening, Brandon tertegun sejenak, lalu pria itu mengusap wajah gusar.
"Kirain gue kenapa? hamil doang," Brandon berucap santai.
"Kok lo santai banget sih, gue hamil Brandon," Laura semakin histeris.
"Lo gak inget? ini benih lo sialan!" teriak Laura dengan amarah.
"Hah lo Jangan Ngadi-ngadi, sejak kapan itu benih gue!" Brandon tak terima.
"Lo lupa kita pernah ngelakuin hal itu, dan lo brutal banget!" Laura mengingatkan saat mereka sedang mabuk dan Brandon membawanya ke apartemen pria itu lalu terjadilah hubungan yang mereka lakukan di luar kendali.
Brandon terkekeh Membuat Laura mengerut dahi. "Heh lo gak punya otak apa gimana? kita baru ngelakuin itu satu kali dan itupun baru seminggu yang lalu, gimana ceritanya langsung bisa jadi?"
Laura mengerjap. "Terus ini anak siapa kalau bukan anak lo?"
"Ya, beg*o! itu anaknya Samuel lah!"
"Hah? kok lo bisa tau?" Laura merasa terpojok.
"Tentang perselingkuhan lo? seluruh dunia juga tau kali, si Gerald aja yang beg*o gak peka, ketutup obsesinya sama lo!"
Telak, perkataan Brandon sungguh telak mengenai ulu hatinya, Laura hanya diam, jika semua orang tahu, kemungkinan besar Gerald pun tahu, perselingkuhannya dengan Samuel memang terlalu mencolok, terlebih Samuel adalah orang yang paling dekat dengan Gerald.
__ADS_1
Brandon mendengkus. "Atau mungkin itu anak Bram? berame-rame, secara kan lo wanita murah*an!
Plakk! Laura menamparnya. "Jaga omongan lo ya, gue cuma ngelakuin hal itu ke kalian berdua!"
"Ya udah, terserah, yang penting itu bukan anak gue dan kita cuma ngelakuinnya cuma sekali itupun karna gak sengaja dan gak sadar." Brandon bergidik acuh.
"Sama aja, lo juga nikmatin sialan!" Laura ingin sekali meninju rahang pria itu.
Brandon malah tertawa. "Itu sih di luar kendali, kalau lo mau lakuin lagi juga ayo sekarang."
"Najis, jangan harap!" Laura berdecak.
Brandon menopang kaki. "Sekarang apa rencana lo?"
Laura menunduk lemas. "Gue gak tau, sekarang karier gue lagi sekarat, karna nangisin Gerald job gue langsung di batalkan dan gue harus ganti rugi, asisten gue juga belom di gaji, kartu kredit dari Gerald udah di blokir sama lelaki itu, sekarang hidup gue udah bener-bener hancur."
Brandon memandangnya, hatinya sedikit iba. "Ya lo lari lah ke Samuel, itu kan anak dia lo minta pertanggung jawaban dia."
Laura menggeleng. "Gak mau gue, dia bukan Gerald yang anak kolongmerat yang bisa bikin hidup gue sejahtera, bahkan dia punya banyak tanggungan keluarga yang harus dia nafkahi karna ayahnya udah gak ada."
"Ngomong kalau gue lagi ngandung anak dia, sama aja gue harus siap-siap hidup melarat."
Brandon menghela nafas mendengarkan sambil menenggak anggur ke dalam kerongkongannya, apa semua wanita sama saja seperti Laura yang gila harta? Padahal kalau di liat- liat Samuel tulus mencintai wanita ini, jabatannya pun cukup tinggi yaitu seorang sekretaris dan kepercayaan Gerald, kenapa itu masih saja belum cukup untuk Laura?
"Lo mau, buat nenangin diri?" Brandon memberikan segelas minuman itu untuknya.
Laura menerimanya. "Thanks." dia tidak perduli dengan kandungannya, syukur-syukur dia bisa tiada karna minuman keras ini.
"Terus gimana sama bonyok lo pas mereka tau?" entah Brandon sekarang menjadi kepo.
"Begitulah, mereka awalnya terkejut, tapi setelahnya biasa aja, terlebih bokap gue yang malah lebih khawatir sama karier gue ketimbang gue."
Brandon diam, dia mencoba untuk mencerna situasi, lalu pria itu terkejut saat Laura berdiri.
"Gue udah mutusin Ndon, gue mau gugurin kandungan ini!"
"Eh, tunggu!" Brandon menghentikannya.
"Bodoh, dari pada lo gugurin mending kita manfaatin."
"Maksud Lo?" Laura tidak mengerti.
__ADS_1
Beginilah jika hanya mempunyai wajah cantik tapi IQ nol besar! pikir Brandon.
"Gue punya ide!" pria itu menyeringai.