TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Sweet ending


__ADS_3

Menjelang Hari H datang, setelah kesibukan besar untuk mempersiapkan pernikahan Gerald dan Isvara, akhirnya hari itu datang juga.


Konsep pernikahan mereka adalah outdoor, di tepi pantai dengan hamparan pasir perak yang luas, Isvara sendiri yang menginginkan konsep seperti ini, dan Gerald sebagai suami siaga hanya bisa mengangguk setuju.


Di hari yang sama kejutan untuk keluarga wirasena hadir, di mana Brandon dengan kursi rodanya yang di tuntun oleh Brinda adiknya datang bersama-sama, membuat satu keluarga terkejut.


"Punya muka juga kalian?" ketus Kayra, ia sudah terlalu jengah dengan perbuatan yang mereka lakukan. Gerald menyenggol lengan adiknya, isyarat untuk diam, meskipun dendam nya pada Brandon masih membara, bahkan ingin membunuh Brandon saat ini juga, namun tidak untuk Brinda yang tak tahu apa-apa tentang semua ini.


Brinda maju, sementara Brandon membuang muka ada gengsi yang seakan runtuh di dalam dirinya dan itu membuatnya marah.


"Nek, om Arya, Tante Andini, toko tolong maafkan kami, kami tak tahu harus kemana lagi, kami sudah tak punya tempat tinggal," lirih Brinda dengan tangisnya.


"Kak, bicaralah." kode Brinda pada sang kakak.


Perlahan Brandon mengangkat wajah. "Om Arya maaf, Gerald maaf," diam sejenak. "I-isvara, maaf."


Isvara maju lebih dulu. "Aku sudah memaafkan mu Brandon."


"Sayang?" Gerald memanggil, ada rasa tidak rela karena istrinya memaafkan Brandon begitu saja.


"Memangnya aku harus apa selain memaafkan? toh dendam tidak akan membawa kebaikan."


"Hati kakak baik banget." celetuk Kayra.


"Lagipula kondisi Brandon sudah seperti ini, tidak ada kemungkinan ia bisa melakukan kejahatan lagi. Jadi Brandon, aku sudah memaafkan mu."


"Terimakasih kakak ipar. maafkan aku juga karena sudah jahat padamu." mata Brinda sudah berkaca-kaca.


"Nek, om Arya maaf, karena keluarga kita nama kalian jadi buruk. Mommy dalam masa pemulihan di RSJ, kakak lumpuh, aku berhenti kuliah, apart di sita, aku tidak tahu lagi harus kemana selain kesini."


Nenek tersenyum tulus. "Kemarilah."


Brinda dan Brandon asli bertukar pandang, ragu mereka mendekat, Brandon mendorong kursi roda nya sendiri.


Di bawanya keduanya ke dalam pelukan, nyonya Triani mengelus rambut keduanya dengan lembut.


"Bagaimana pun kalian adalah cucu ku, aku memaafkan kalian dan menerima kembali kalian ke keluarga ini, bagaimana pun pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk kalian."


Di saat itulah Brandon menangis sejadi-jadinya, membuat semuanya yang di sana tercengang, tersentuh seraya mencuri pandang.


Di pelukan sang nenek Brandon menumpahkan segalanya, tak peduli banyak pasang mata yang melihatnya, Brandon tergugu dalam dekapan kasih sayang seorang nenek.


Kini Brandon mengerti, apa yang di pikirkan nya selama ini ternyata salah, bukan keluarga mereka yang tidak di sayangi, bukan nenek yang pilih kasih, namun dirinya lah yang tidak melihat bagaimana kasih sayang mereka terhadapnya, ia seakan buta dengan hanya sebelah penilaian tanpa berfikir mungkin saja kesalahan itu datang darinya yang ternyata memang tidak pernah bersyukur.


Wajar jika om Arya marah karena dia tidak pernah seberusaha Gerald dan Mahesa untuk mengembangkan perusahaan keluarga, wajar jika nenek marah karena dia selalu berbuat nakal yang mempermalukan nama keluarga, bukan keluarga ini yang salah, tapi dirinya.


"Maafkan aku nek ... A-aku telah kehilangan ibuku, aku tidak ingin kehilanganmu juga."


Nyonya Triani menepuk-nepuk punggung Brandon, melihatnya yang dulu gagah dan selalu pongah kini tak lebih dari seorang pria yang tak berdaya di atas kursi roda membuat nya ikut sedih.


Tuan Aryaloka ikut mendekat, ia memeluk Brinda juga, menepuk-nepuk punggung Brandon.


"Kalian tetap keponakan ku, apapun yang terjadi ikatan keluarga akan selalu terjalin."


Keluarga bukan hanya tercipta dari ikatan darah, itulah yang Brandon dan Brinda ambil hikmah nya sekarang.

__ADS_1


Semuanya ikut terharu, Isvara dan Kayra mengusap mata mereka yang berkaca-kaca, Mahesa dan Gerald saling rangkul, kini keduanya pun sudah berdamai sama-sama melupakan dan ingin berfokus ke depan.


"Kayra maafkan aku."


"Untuk apa minta maaf, nenek dan papi benar, kita adalah keluarga bagaimana pun keadaannya."


Lalu Brinda dan Kayra saling berpelukan, mereka tertawa seraya menangis bersama, kegembiraan juga kelegaan menyelimuti mereka.


Dari kejauhan, mbok Minah, Dewi, Andini juga ikut hanyut melihatnya, mereka ikut menyusut mata, bersyukur dengan akhir yang bahagia ini.


"Seneng, bisa liat mereka yang akur sekarang," kata mbok Minah.


"Hooh bik, perasaan baru kemarin ngeliat tuan Gerald dan nona muda masih berantem terus, sekarang udah mau jadi orang tua aja."


"Takdir memang tidak ada yang tahu Wi."


"Iya bik, terlebih yang di samping kita." suasana haru jadi berubah karena Dewi menyenggol pundak Andini.


"Loh kenapa memangnya dengan Andini?"


"Ituloh, sekarang kan lagi dekat sama den Mahesa, ya gak Din?"


"Ih, apa sih Wi, kok jadi kesitu-situ omongannya."


"Cie, malu dia bik." Dewi tertawa iseng, sudah sejak kemarin dia memperhatikan, dari isyarat tubuh juga bahasa mata, ia tahu ada something antara Andini, si asisten cantik juga tuan muda ke dua keluarga wirasena ini.


"Wes, wes, jangan di goda Mulu nak Andini, malu dia," mbok Minah ikut tertawa, menggoda.


Andini menggeleng kan kepalanya dengan pipi yang sudah memanas, lalu matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Mahesa yang sejak tadi memandangnya, keduanya lalu tersenyum, Mahesa mengedipkan sebelah matanya, membuat Andini tersenyum malu.


Biarlah cinta ini menjadi rahasia mereka berdua, juga sang pemilik hati.


Akhirnya hari H tiba. Matahari perlahan menyembunyikan diri di balik cakrawala yang mulai menguning sinarnya. Berkonsep outdoor di tepi pantai prewedding Isvara dan Gerald di lasungkan, semilir angin berhembus lembut meniup berbasis mawar putih yang menghiasi tempat sakral saksi ikatan suci dua anak manusia hari ini, atas nama cinta mereka.


Isvara terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang membalut tubuh mungilnya, aura bumil begitu terpancar kuat membuat penampilannya semakin memukau, begitu pun dengan Gerald, pria itu terlihat sangat gagah dengan tuxedo hitamnya, di tambah hiasan bunga mawar putih di sakunya, begitu maskulin, keduanya sangat serasi bersanding.


Beberapa wedding organizer masih terlihat hilir mudik mempersiapkan dekorasi, yang mengambil tema serba hitam putih sesuai keinginan Isvara, pernikahan ini di gelar sederhana hanya di hadiri keluarga inti juga teman terdekat.


"Selamat Isvara, untuk pernikahan mu." Laura datang dengan pakaian yang serasi dengan pria di sampingnya, Samuel, mereka ternyata sudah akur, pikir Isvara.


"Terimakasih." ia tersenyum ramah.


Lalu berdatangan yang lain, mengucapkan selamat untuk nya, karena ada beberapa teman dekat dari perusahaan Gerald juga yang datang, jadi meskipun tertutup tapi tetap ramai.


Lalu semua tamu undangan duduk di kursi yang sudah di sediakan, suara MC mulai terdengar untuk memulai acara.


Isvara di tempatnya nampak gugup di erat kannya genggaman pada buket mawar putih di kedua tangan yang sudah di hias cantik, ia menarik nafas dalam-dalam, aroma laut begitu menenangkan, ia menoleh nampak matahari yang begitu cantik akan terbenam, suara ombak yang pecah membentur batu karang seakan menjadi harmoni indah di pernikahan nya ini.


Pernikahan yang sejak dulu menjadi impiannya kini akhirnya terwujud, bersama pria yang di cintainya.


"Nak," seseorang menepuk pelan pundaknya, Isvara menoleh.


"Ayah."


"Kau sudah siap?"

__ADS_1


Isvara menunduk, mengambil nafas sejenak merapalkan doa dalam hati sekilas, lalu mengangguk.


"Ayo." ayah mengulurkan tangannya, tangan Isvara yang sudah terbalut sarung tangan putih menyambutnya, ayah terlihat sangat berwibawa dengan jas hitamnya.


Dengan sedikit grogi Isvara berjalan anggun dengan ayah di sampingnya menuju altar, di mana sudah ada Gerald dengan senyum manisnya.


Para tamu yang duduk di sisi kiri kanan tampak takjub dengan kecantikan Isvara sebagai pengantin wanita.


Di depan altar ayah berhenti, mengusap pelan punggung tangan Isvara.


"Ayah hanya bisa mengantar sampai sini. Berbahagialah putriku, temui suami mu." ayah menuntun tangan Isvara untuk bertemu dengan tangan kekar Gerald dan menyatukan keduanya, ia menyusut ujung matanya pelan lalu menepi, Isvara tersenyum, "terimakasih ayah."


Ayah mengangguk, sudah banyak kesakitan yang kau lalui, semoga setelah ini hanya bahagia yang selalu menghampiri mu.batin ayah.


Gerald dan Isvara lalu mengucap sumpah pernikahan, dengan senyum yang tak pernah luntur di wajah masing-masing.


Langit jingga seakan menjadi saksi menyatunya ikatan mereka berdua. Kini keduanya resmi menjadi suami istri sesungguhnya, tanpa paksaan seperti sebelumnya, hanya ada cinta.


"I love you."


"I love you to." Isvara tersenyum.


Lalu keduanya berciuman di atas pasir pantai yang putih, di hamparan laut yang bersih di belakang mereka, lewat burung camar yang suaranya saling bersahutan seakan menyampaikan berita bahagia ini.


Lalu acara selanjutnya melempar bunga. Para tamu begitu antusias menyambut nya, mereka berdiri dengan ancang-ancang.


Dalam hitungan satu dua tiga, Isvara melempar bunganya dari belakang, hening sejenak, ternyata Samuel yang mendapat kan, lalu suasana berganti heboh dengan sorak sorai para hadirin yang datang.


"Oke, tahun depan berarti aku dan Laura yang aka menikah!" teriak lantang Samuel, yang menimbulkan gelak tawa, juga sorakan tamu undangan.


"Laura! apa kamu menerima cintaku!"


Wanita depan sana menepuk jidat merasa malu dengan tingkah pria ini.


"Laura! jawab pertanyaan ku!"


"Terima!"


"Terima!"


Semuanya tampak heboh, mendukung tindakan Samuel yang tiba-tiba.


"Baiklah, aku mau!" Laura membalas.


"Yes!"


Semua orang di sana termasuk pengantin di depan mereka, bertepuk tangan ikut gembira, semuanya memiliki akhir yang bahagia.


Isvara dan Gerald saling memandang, lalu tersenyum.


"Ayo kita hidup seribu tahun lagi untuk cinta kita."


"Asalkan itu bersama mu, aku akan selalu hidup di mana pun itu."


"Untuk cinta kita." Gerald mengusap perut Isvara yang sudah kian membesar.

__ADS_1


"Untuk cinta kita."


-HAPPY ENDING-


__ADS_2