
"Gerald! Kamu apa-apaan sih lepasin tangan Frans!" Isvara berusaha menarik tubuh kekar Gerald.
suasana pesta yang awalnya damai dan tenang mendadak ricuh karna mereka. Sementara Frans menatap aneh pada Gerald, dia seperti pernah melihat pria ini, tapi di mana?
Mahesa dan Giselle yang mendengar keributan pun segera menghampiri mereka bertiga.
"Hei,kau siapa kenapa orang asing bisa ada di sini? Kemana security keamanan hah!" Berang Frans. Ia merasa di rendahkan oleh pria ini.
"A--Aaah!" Tiba-tiba Frans merintih kesakitan.Gerald memelintir tangannya hingga tubuh pria itu berbalik ke belakang.
"Breng*sek, siapa kau hah? Pria gila!" Giselle ikut menarik Gerald untuk menyelamatkan sang kekasih.
Isvara mendadak pening, Gerald tak bisa di hentikan, sampai Mahesa mendekati mereka dan menarik bahu Gerald.
"Kak, sudah kak, lepaskan dia."
Butuh sampai lima pria berbadan besar untuk menarik Gerald dari Frans. Pria itu seperti remuk di tangan Gerald, nafasnya tak beraturan dan merasakan sakit yang luar biasa di tangannya.
"Dasar gila, pergi dari sini, sinting!" Giselle memaki dengan nafas terengah-engah.
"Hei nona, kau tidak tahu siapa yang sedang kau maki ini?" Seorang pria menyahut.
"Beliau adalah CEO tempat tunangan mu bekerja, kau tidak tahu?" Ucap pria itu yang adalah teman dari Frans.
Frans membelakakan mata, pantas wajahnya terasa tak asing. Ternyata dia adalah pemegang institusi tertinggi di perusahaannya.
"Oh jadi kau bekerja di kantor ku? Baiklah, akan ku pastikan besok kau tidak akan bisa lagi menginjakkan kaki di perusahaan ku."
Wajah Frans memucat begitupun dengan Giselle. Dia baru saja di promosikan dan naik jabatan, tidak mungkin ia berhenti.
"Maafkan saya tuan, maaf saya tidak tahu jika itu anda." Frans memohon.
Begitupun dengan Giselle dia tidak mau rencana pernikahannya hancur karna sang kekasih di pecat. Mereka memohon sambil terisak.
Sementara Isvara yang geram maju di antara kerumunan itu. "Kalian tidak perlu meminta maaf," ucapnya pada Frans dan Giselle.
Lalu gadis itu berbalik, menatap langsung pada Gerald.
Plak! Isvara menampar pipi pria Itu. Semua menahan nafas dengan mata terbelalak.
"Harusnya kau yang minta maaf!" Menatap tajam pada Gerald.
Gerald tidak percaya ini. "Kau menamparku? Kau menamparku di hadapan banyak orang hanya karna pria itu?"
__ADS_1
"Ya! Kamu gak berhak menghakimi seseorang yang bahkan tidak tahu apa kesalahannya, Kamu bukan seorang penguasa!"
"Tapi Isvara--"
"Sudah cukup!" Isvara memotong ucapannya. "Kau bilang kau ingin berubah kan? Tapi kenyataannya tidak."
"Pria egois, kejam dan arogan sepertimu memang tidak akan pernah bisa berubah!"
Semua hening, seperti patung mereka tampak diam tak bergerak. Sedangkan Gerald, jangan tanya bagaimana keadaan hatinya? Seperti Dejavu ia seolah mengerti apa yang di rasakan Isvara saat dia mempermalukannya di depan umum.
Gerald menggeleng lemah, namun tatapan elangnya cukup untuk membunuh Frans yang kini tengah tersenyum licik padanya.
Gerald akhirnya pergi tanpa mengucapkan apapun lagi. Pria itu membawa kekecewaan yang mendalam, tidak seharusnya dia berada di sini. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
Sementara Isvara menghela nafas lemah, bahunya perlahan menyusup, di rasakannya sesak yang kian menghimpit dada. Ada rasa tak enak yang kini menghampirinya.
Mahesa menghimpirinya. "Kau tidak apa-apa?"
Seperti biasa Mahesa memang selalu perhatian dan menanyakan keadaannya dulu.
"Tidak apa-apa." Isvara berusaha untuk tersenyum.
***
"Bagaimana bisa Mahesa membawa istri orang untuk dijadikan sebagai pacar pura-pura, dan lebih parahnya itu istri kakaknya sendiri."Giselle di dalam hatinya tetap merutuk.
Dalam perjalanan menuju parkiran, Mahesa asing karna Isvara yang selalu melamun. gadis itu bahkan tidak memperhatikan jalannya, seperti banyak beban berat yang kini sedang ia pikirkan.
"Hei,kau kenapa?" Mahesa menyenggol lengannya.
Isvara tersadar, lalu hanya tersenyum menggeleng. Tapi setelah itu dia melamun lagi.
"Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja," ucap Mahesa, sungguh peka dengan perasaannya.
Isvara menoleh, mendongak menatap Mahesa. "Apa tadi yang ku lakukan pada Gerald sudah keterlaluan?"
Mahesa tersenyum. "Kamu sejak tadi memikirkan itu?"
Isvara mengangguk. "Ada sedikit sudut hatiku yang merasa bersalah telah melakukan itu padanya."
"Tidak apa-apa, yang lakukan sudah sangat tepat. Gerald memang sesekali harus di perlakukan seperti itu," ucap Mahesa.
"Tapi aku merasa tak enak. sepertinya aku harus pergi."
__ADS_1
"Tunggu kau mau kemana?" Mahesa menahan tangannya. mereka sudah sampai di depan pintu mobil.
"Aku harus menyusul Gerald," ucap Isvara, tersenyum lalu melepaskan tangan Mahesa.
Mahesa hendak menggapainya, namun ia urungkan. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya,lalu terkekeh pelan.
Sepertinya kali ini pun dia kalah dari Gerald.
***
Isvara mencari-cari keberadaan Gerald di sekitar parkiran, namun mobil pria itu tidak terlihat sama sekali. Apa pria itu sudah pergi?
Ntah apa yang terjadi padanya,namun kata hatinya terus mendorongnya untuk mencari pria itu.
Hingga ia hampir menyerah, namun Isvara menemukan sosoknya tengah duduk di bangku taman. Isvara sampai hafal bentuk tubuh pria Itu, karna mungkin keseringannya mereka bertemu karna apalah, Isvara tak tahu, tapi dia yakin pria yang sedang duduk menopang siku itu adalah Gerald.
Perlahan Isvara mendekat, dia menepuk pundak pria itu, hingga si empunya mendongak.
"Ngapain kau di sini?" pria itu berucap dengan suara serak, rambutnya acak-acakan dengan mata memerah.
"Kamu sendiri kenapa belum pulang?"
Lenggang, tak ada sahutan dari Gerald. pria itu hanya diam, bukannya menjawab Gerald malah menarik pinggang Isvara hingga kini mereka berdekatan.
"Gerald apa yang kau lakukan?" Isvara tersentak, matanya membeliak.
Gerald tidak menghiraukannya,lebih menarik pinggang Isvara dengan tangannya yang kekar, lalu pria itu mengeratkan kedua tangannya,memeluk pinggang Isvara dan menenggelamkan wajahnya di perut gadis itu.
Isvara semakin terkejut, pria itu seperti anak kecil saat ini. "G-gerald apa yang kau lakukan? ini tempat umum."
"Aku tidak perduli, lagipula tempat ini sepi," ucap Gerald hampir tak terdengar jelas. pria itu seperti kucing yang mendusel-dusel perut ramping Isvara.
Isvara merasa keheranan, ada apa dengan pria ini, kenapa sikapnya mendadak manja?
"Gerald lepaskan, nanti ada orang lewat." Isvara masih mencoba memberi pengertian, Namun bukannya di lepas, cengkraman tangan Gerald di pinggangnya malah semakin erat.
"Gerald ... " Isvara memanggil namanya dengan lebih lembut, berusaha melepaskan tangan pria itu, akan gawat jika ada orang yang tiba-tiba lewat.
Gerald kali ini mendongak, menampilkan wajah lesunya, Isvara terkejut,mata pria itu seperti berkaca-kaca, kulitnya yang putih pun terlihat memerah seperti akan menangis.
"Apa kamu akan menceraikan ku?" lirih pria itu membuat Isvara semakin bingung.
"Aku tidak mau berpisah darimu, aku gak mau jadi duda."
__ADS_1