TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 81


__ADS_3

Isvara membuka mata menyesuaikan cahaya mentari yang masuk melalui jendela, terasa ada beban berat di punggungnya, wanita itu menengok ke samping, mengulum senyum, melihat wajah tenang Gerald yang sedang memejamkan mata yang menindih bahunya sebagai bantalan.


Mengecup kening sang suami sekilas, Isvara mengusap rambut pria itu hingga terasa ada gerakan karna Gerald yang terganggu.


"Selamat pagi," ucap Isvara.


"Morning baby. " Gerald tersenyum lalu menegakan siku sebagai tumpuan, Isvara agak menggeser tubuhnya agar sang suami merasa leluasa.


Mereka berdua sama-sama menatap dengan melempar senyum, lalu mata Gerald beralih ke perut Isvara yang sudah mulai membuncit. usia kandungan Isvara kini sudah mulai menginjak tiga bulan.


"Morning juga,anak papah." Sapanya mendekatkan wajah ke perut. Gerald lalu sedikit mendusel-dusel perut Isvara seperti sedang melakukan tos dengan anaknya.


"Ciuman selamat pagi buat aku mana?" rengek Isvara seperti anak kecil, Gerald terkekeh, lalu telunjuknya ia gerakan isyarat Isvara harus mendekatkan wajahnya.


Isvara lalu memajukan wajahnya, Gerald langsung saja menyerang dengan memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah sang istri, Isvara tersenyum memejamkan mata menikmati ungkapan kasih sayang lelaki ini.


"Kalian berdua harus tetap sehat, jaga kesehatan sampai kamu melahirkan nanti ya." pesan Gerald selalu, ia mengucapkannya setiap pagi sebelum mereka melakukan aktivitas.


Isvara mengangguk, mendengarkan dengan patuh. "Siaaap bos." lalu mereka sama-sama tertawa.


"Mau mandi bareng?" ajak Gerald.


Isvara menggeleng. "Gak mau, kamu bau asem."


"Hhhmm, gak mau ya? oke, kalau gitu aku maksa." Hap! Gerald membawa Isvara ke dalam pelukannya, berdiri dengan mengangkat tubuh Isvara ala bridal style, Isvara terpekik kakinya meronta-ronta tapi tak di pungkiri dia tertawa atas apa yang di lakukan sang suami.


"Gerald, turunin ih," gelaknya, tapi Gerald menggeleng. "Gak sebelum kita sampai ke kamar mandi."


"Gerald ... " jerit gelak Isvara saat tangan Kokoh sang suami menggelitiki pinggangnya.


"kasih aku ciuman dulu," ucap Gerald pada akhirnya.


"Oke ... " Isvara tersenyum lalu melayangkan banyak kecupan di wajah Gerald, lelaki itu tersenyum puas.


"Dah, sekarang lepasin aku." merangkul leher sang suami agar tubuhnya seimbang.

__ADS_1


"Gak mau." Gerald menggeleng. "Sebelum kita mandi bareng."


Isvara menarik nafas, lalu hanya pasrah saja, mereka pada akhirnya menikmati momen romantis berdua bersama. Keromantisan ini selalu melekat setiap hari, membuat hubungan mereka semakin rekat.


Setelah selesai membersihkan diri, Isvara duduk di depan cermin meja riasnya sembari mengeringkan rambut, begitu pun dengan Gerald yang sudah memakai baju, tinggal mengacingkan kemejanya saja, Membuat dadanya terpampang nyata dengan bulu-bulu halus yang menghiasi.


Gerald menatap Isvara, seperti ada bola lampu yang menyala yang keluar dari kepalanya, Gerald lalu mendekat berdiri di belakang sang istri, memegang kedua bahu Isvara, mendekatkan wajah hingga kepala Isvara menggeser, hal itu membuat Isvara cemberut.


"Kamu lagi ngapain?" Isvara mengerucutkan bibirnya, merasa aktivitasnya di ganggu.


"Lagi berkaca lah," ucap Gerald tak acuh, membuat kekesalan Isvara semakin terlihat, hal itu membuat Gerald tersenyum diam-diam.


"Tapi aku lagi ngaca loh, bisa minggiran dikit gak?" menyingkirkan kepala sang suami.


Tapi Gerald tetap bergeming, berpura-pura merapikan rambutnya. Isvara menatapnya dengan tatapan memicing. "Gerald aku juga lagi ngaca loh, kok kamu ngusain kacanya."


"Pfffft!" Gerald tak tahan lagi untuk tidak terkekeh. "Baiklah aku akan menyingkir jika kamu memanggil ku Baby."


Apa? yang benar saja? Isvara tidak mungkin mengucap panggilan yang menurutnya menggelikan itu. "Gak mau!" tolak Isvara dengan bibir mengerucut.


"Huffft, baiklah." Isvara membuang nafas kasar. "B-baby, bisakah kamu menyingkir?"


"Kok begitu sih? kaya gak ikhlas. Harusnya begini 'Baby bisakah kamu geseran dikit, aku juga mau berkaca' dengan nada lembut."


Huffft! baiklah, Isvara gak boleh tersulut emosi. Untung suami, untung sayang, kalau gak udah Isvara tenggelamkan di Palung Mariana pria di depannya ini.


"Baby, bisakah kamu geseran dikit? aku juga mau berkaca." dengan nada lembut, selembut permen kapas.


Gerald tersenyum agak sedikit terkekeh karna raut wanitanya ini sungguh sangat lucu, rasanya ingin ia telan saja wanita di sampingnya ini.


"Bagus." lalu Gerald akhirnya menyingkir dan melayangkan sebuah kecupan di kening Isvara.


Gerald mulai mengacingkan bajunya, sementara Isvara berdandan tipis-tipis agar terlihat fresh.


"Sayang, nanti jadi kan kita check up ke dokter?" tanya Isvara. hari ini memang jadwal check up rutinnya ke dokter kandungan, nenek sendiri yang memilihkan dokter kandungan untuknya Membuat Isvara sangat gembira, sejak kabar kehamilannya sudah di ketahui keluarga, Isvara seperti ratu yang sangat di manjakan, terlebih lagi dialah yang akan memberikan cucu pertama untuk tuan Aryaloka, dan anggota baru untuk keluarga ini, Membuat mereka semakin memperhatikan dirinya, hal itu membuat Isvara sangat bahagia. Di kelilingi oleh kerabat dan mertua super perhatian juga suami yang siap siaga.

__ADS_1


"Jadi dong, nanti aku bakal nyuruh melati untuk handle pekerjaan sampai makan siang, jadi gak akan ada yang menganggu," ujar Gerald. Melati adalah asisten baru Gerald untuk saat ini juga sektretarisnya di perusahaan. meskipun Gerald sangat susah untuk mempercayai orang baru, namun masalahnya bersama Samuel telah memberikannya pandangan.


Yang lama belum tentu bisa setia padamu,dan yang baru belum tentu tidak baik, bahkan bisa sebaiknya terjadi. Jadi Gerald bisa di bilang memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk bisa mempercayai orang baru.


Dan untuk Melati, meskipun kinerjanya belum sebaik Samuel, namun wanita muda itu cukup kompeten dalam menjalankan tugasnya hingga cukup membuat Gerald tenang dalam menyerahkan tugas lainnya.


"Oke deh, nanti sekalian ke supermarket ya, mau beli stok susu hamil."


"Gak usah susah-susah sayang, kalau kamu mau aku bisa beliin supermaket nya sekalian buat kamu."


"Gombal ih." Isvara tergelak.


Gerald mendekat. "Kata siapa gombal? aku sungguh-sungguh, apapun bahkan seisi dunia ini jika kamu menginginkannya,akan ku usahakan."


Isvara tersenyum menatap mata jernih itu. "Baiklah, baiklah tuan muda aku percaya."


Gerald lalu berjongkok, Isvara sedikit menggeser duduknya, lalu tangannya membetulkan kerah kemeja suami tercintanya ini.


"Apapun yang terjadi, aku janji kita akan terus sama-sama." mengenggam kedua tangan sang istri.


"Aku, kamu dan anak kita." Mengusap perut Isvara.


Mereka saling melempar senyum, kebahagiaan yang kini membuncah Membuat Isvara tak sadar menitikkan air mata, perjuangannya semua rasa sakitnya seakan telah terbayar oleh kebahagiannya saat ini.


"Hei, kenapa menangis?" menyeka air mata di sudut netra sang istri dengan jempolnya.


"Terima kasih ya, sekarang aku benar-benar bahagia, semoga apa yang kamu ucapkan akan terkabul, kita akan terus bersama-sama, apapun yang terjadi."


"Ya, apapun yang terjadi." Gerald memeluk Isvara, mengusap punggung sang istri.


Kebahagiaan mereka ini apakah akan bertahan, di saat di lain sisi, seorang wanita mengintip kemesraan mereka di celah pintu yang terbuka.


Nela meremas kain lap di tangannya, niat hati ingin memberikan minuman untuk Gerald dia malah suguhi pemandangan yang membuat hatinya nyeri.


Sekarang dia semakin yakin, akan tawaran Brandon untuk memisahkan mereka berdua.

__ADS_1


"Lihat saja, kisah cinta kalian akan berakhir tak lama lagi."


__ADS_2