TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
47 : Kencan perdana


__ADS_3

Gerald pulang kerumah esok paginya, suasana hatinya jauh lebih baik dari kemarin. Pria itu sudah memutuskan hari ini adalah kencan perdananya dengan gadis kesayangannya, Isvara.


Hubungan mereka sebagai suami-istri harus di perkuat dengan saling lebih mengenal, istilah adalah pacaran setelah menikah, ya, begitulah.


Suasana kediaman tampak sepi, Gerald mengayunkan kakinya menuju kamar, saat berjalan di anak tangga,dia berpapasan dengan Mahesa.


Mereka saling terdiam beberapa detik, melempar pandang, Mahesa menatapnya sangat intens Membuat dahi Gerald mengernyit, lalu Mahesa lebih dulu memutus pandangan.


"Ku harap kali ini kau sungguh-sungguh akan berubah. Bahagiakan Isvara, Jangan pernah menyakitinya lagi," ucap Mahesa lalu berjalan menjauh.


Gerald membeku sejenak, lalu menolehkan pandangan padanya, pria itu sudah pergi menjauh.


Bagaimana pun Mahesa mempunyai sejarah panjang dengan Isvara, pria itu berkali-kali menyelamatkannya.


Apa Mahesa menyukai Isvara?


***


Gerald sudah segar dengan pakaian casualnya, di semprotkannya parfum ke seluruh tubuh, lalu berkaca dengan bergaya sejenak. Bagaimana pun jiwa mudanya tidak akan pernah padam.


"Bravo," ucapnya, lalu berjalan ke luar kamar.


Kebetulan hari ini adalah akhir pekan. Gerald akan membawa Isvara berjalan-jalan seharian penuh.


"Hai." Isvara menyapanya di anak tangga.


Seketika wajah Gerald menjadi sumringah, namun sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak tersenyum.


"Kau mau kemana rapi sekali?" tanya gadis itu polos sekali.


"Ayo kita berkencan," ujar pria itu.


Isvara mengerjap beberapa kali. "Eh, kencan?"


Gerald mengangguk. "Kau tidak mau?"


"Bukan begitu." Isvara menyela cepat. "Tapi ini terlalu mendadak."


"Tidak apa-apa, aku mengajakmu sekarang,ayo." Gerald mengggamit tangannya dan mengenggam erat.


Isvara hanya bisa mengikuti langkah pria itu,menuruni tangga, menatap canggung semua orang yang kini memperhatikan mereka.


Nela melihat tak suka bagaimana Gerald yang menggandeng mesra tangan Isvara. "Kenapa jadi begini sih, mereka kok makin akrab saja, sial!" desisnya lalu menghentakkan kaki pergi dari saha.


Sementara Mahesa pun menatap mereka, ada perasaan yang tak bisa ia jabarkan, senang karna Isvara terlihat begitu bahagia, namun di sisi lain Mahesa ingin mencuri posisi Gerald yang berada di sampingnya.


"Harusnya aku yang berada di sana."


***


Gerald dan Isvara berada di basemeant, mobil Ferrari keluaran terbaru menjadi pilihan Gerald untuk mengajak kencan Isvara kali ini.


"Ayo, masuk." pria itu tersenyum.


Isvara dengan ragu masuk ke dalam mobil, sebenarnya ia belum bisa membuka hati untuk pria jangkung ini.Namun perihal hati tidak ada yang tahu kan? mungkin saja perlahan-lahan ia bisa membuka hatinya untuk pria ini.


"Kita mau kemana?" tanya Isvara di sela keheningan di dalam mobil.


"Rahasia." Gerald sedikit terkekeh. "Aku sudah menyiapkan kejutan untuk mu, kau lihat nanti."

__ADS_1


"Apa kamu tidak marah padaku?" tanya Isvara tiba-tiba.


"Marah? buat?" Gerald mengerutkan dahi.


"Soal kemarin, maaf karna memaksamu."


"Sudahlah tidak usah di bahas," ujar Gerald.


"Yang terpenting sekarang,aku ingin bersenang-senang dengan mu."


Isvara menatapnya, Gerald hanya diam fokus menatap jalanan ke depan, Isvara hanya menghela nafas lalu membuang pandangannya ke samping.


***


Mereka sampai di sebuah gedung, Gerald keluar lebih dulu, seketika pria itu menjadi pusat perhatian, wajah tampan dengan tinggi semampai, pesona Gerald memang tidak pernah di ragukan lagi.


Pria itu memakai kacamata hitamnya yang membuat aura tuan mudanya semakin kentara terlihat.


Isvara keluar terakhir, melihat Gerald yang memiliki banyak penggemar Membuat ia insecure seketika, Isvara merasa tak pantas beriringan dengan pria itu.


Bagaikan Upik abu dengan majikannya, begitulah Isvara mendeskripsikan dirinya dengan Gerald.


"Hei, kenapa kau mundur ke belakang?" Gerald merasa heran karna gadisnya ini seperti mengambil jarak darinya.


"Kamu duluan saja aku mengikuti dari belakang."


"Kenapa?" Gerald menghampiri.


"Aku ... merasa tidak pantas jika beriringan dengan mu, nanti kamu malu?"


"Kata siapa?" Gerald menarik lengannya hingga tubuh mereka saling berdekatan.


"Justru aku merasa bangga,kamu adalah istriku, dan istriku tempatnya itu di samping ku,bukan di belakang ku."


"Istri gue gemes banget si, pengen gue telen rasanya."


"Ayo." Gerald kali ini mengeratkan jemari mereka, kemudian memasuki gedung itu bersama.


***


Gerald ternyata mengajaknya ke Dufan. taman hiburan fantasi ini tampak sangat ramai saat mereka masuk ke dalam. Maklum di hari libur begini memang banyak orang yang refsering sekedar melepas penat di sini.


"Waah ... ini bahkan lebih bagus dari pasar malam yang pernah ku kunjungi."


"Kau tidak pernah ke Dufan kah?" merasa heran dengan reaksi berlebihan sang istri.


Isvara menggeleng, katakanlah dia norak, tapi baru kali ini dirinya menginjakkan kaki ke taman hiburan.


"Sejak dulu hidupku hanya berpusat pada pendidikan, ayah ingin aku menjadi orang sukses suatu hari nanti, jadi tempat yang ku kunjungi hanya sekolah, tempat les, atau ekstra kurikuler, hanya sebatas itu."


Gerald menatap takjub. "Kau pasti murid pintar."


"Lain kali aku akan mengajakmu keliling dunia, menjelajah tempat-tempat seru, seperti Disneyland atau Blackpool pleasure beach atau ke taman hiburan everland di Korea, atau melihat Aurora Borealis." oceh pria itu panjang lebar, pria itu terlihat lebih ekspresif.


Isvara terkekeh. "Sudah,aku di ajak kesini saja sudah sangat senang."


Isvara tersenyum, matanya lalu kembali menatap setiap wahana yang ada di sini.


Gerald tak pernah melepaskan tatapannya dari sang istri. kenapa hari ini Isvara terlihat sangat cantik? padahal gadis itu tidak memakai make up apapun, pakaiannya terkesan sederhana, tapi mengapa auranya begitu terpancar sempurna.

__ADS_1


Hari ini Gerald menyadari, Isvara memang sangatlah cantik.


"Isvara ... Isvara lihatlah!" Gerald berteriak keras membuat semua pasang mata melihatnya.


Pria itu melambai pada sebuah boneka besar yang menjadi ikon tempat ini, Gerald dengan baju nyentrik nya begitu menarik perhatian.


Isvara menggeleng, lalu mendesah pelan, kenapa malah si tuan muda ini yang terlalu bersemangat?


Isvara menghampirinya, Boneka besar yang di peragai manusia itu melambai padanya, Isvara tersenyum lebar, Membuat Gerald ikut tersenyum


"Kau suka?"


Isvara mengangguk. pria itu lalu kembali berjalan menunjukkan hal-hal baru untuk Isvara, menyenangkan hati gadis itu.


Boneka beruang besar yang ada di sana juga ikut melambai pada Isvara, gadis itu tersenyum lalu membalas lambainnya.


Isvara memang memiliki aura positif yang membuat semua orang selalu betah berlama-lama dengannya.


Boneka beruang besar itu memberikan sekuntum bunga Padanya, mata Isvara membeliak, bersinar. "Untukku?"


Boneka beruang besar yang lucu itu mengangguk, Isvara mengambilnya lalu menunjukkannya pada Gerald.


"Lihat, boneka beruang lucu ini memberikan bunga untukku."


"Bunga jelek begitu kenapa kau menerimanya?" Gerald mendengkus, bersidekap dada.


Ya, pria itu cemburu, hanya karna badut hewan menggemaskan itu memberikan bunga pada Isvara.


Isvara menyikut rusuknya. " jangan bicara seperti itu, kamu bisa menyakiti hatinya."


Boneka beruang besar itu bertepuk tangan lalu merentangkan lengannya, isyarat ingin meminta sebuah pelukan.


"Haaah," Isvara berlagak syok. "Kamu ingin memeluk ku?"


Boneka beruang besar lucu itu mengangguk.


"Baiklah," Isvara tersenyum, baru hendak merentangkan tangan seseorang menarik tubuhnya, siapa lagi kalau bukan Gerald.


"Hei, apa-apaan ini!" Gerald berdecak kesal.


"Tidak ada pelukan-pelukan, enak saja!" Gerald mendorong tubuh Isvara, pria itu berjalan ke tengah-tengah mereka.


"Hei boneka jelek beraninya kau meminta pelukan pada istriku! Mau mati ya?!"


"Gerald astaga sudah, malu di liatin orang!" Isvara menarik tangannya.


"Kamu berlebihan, dia hanya beruang besar yang menggemaskan."


"Menggemaskan apanya, jelek begitu, aku yakin di dalam Boneka beruang ini adalah seorang pria dan dia begitu karna modus padamu! Awas ya aku memantau mu beruang jelek!" Gerald mengetuk-ngetuk kepala boneka beruang besar itu.


"Astaga Gerald, dia memberikan pelukan bukan hanya padaku saja, tapi pada semua pengunjung ada di sini!"


"Sudah ayo kita pergi saja!" Isvara terus menarik-narik lengan pria itu,tapi herannya Gerald tak bergeser barang sedikitpun.


Gawat! mereka semakin menjadi pusat perhatian.


"Awas saja, aku selalu memantau mu badut jelek, berani kau dekati wanitaku?!" Gerald mengancamnya dengan mengarahkan dua jarinya pada boneka beruang malang itu.


"Apa salah Dan dosaku om?!" begitulah kira-kira isi hati si badut.

__ADS_1


Haissh! meresahkan,kenapa tingkah pria ini semakin hari semakin random?!


Isvara kalau sudah tidak kuat, bisa lambaikan tangan ke kamera!


__ADS_2