
Waktu seakan berjalan begitu lambat untuk Gerald, lelaki itu duduk dengan wajah lesu sesekali tatapannya kosong, mengingat kembali kenangannya bersama sang istri.
Saat ia pertama kali bertemu dengan Isvara, saat melangsungkan pernikahan dengan sederhana, saat di hari-hari ia menyiksa Isvara karna kepicikannya, karna dendam bodohnya dulu.
Di hari-hari ia menyesali semua perbuatan jahatnya, di saat ia jatuh cinta, pertama kali kencan,semua kenangan manis itu terus berkelebat seperti kaset lama yang terus di putar ulang.
Pria itu menengadah, mengusap wajahnya yang kasar, nafasnya sungguh berat untuk ia keluarkan.
"Sayang, bisakah kamu bertahan? aku di sini menunggu mu."
"Rald, kamu gak mau istirahat dulu?" papah menghampiri menepuk pundaknya.
Gerald menggeleng. "Aku ingin menunggu istri ku pah. kenapa dokter tidak juga keluar dari ruangan itu? apakah operasinya berjalan lancar, kenapa lama sekali?"
"Bersabar lah, terus berdoa untuk keselamatan istri mu." papah akhirnya duduk di sampingnya, melihat putranya yang putus asa dan tak berdaya seperti ini membuat papah juga merasakan hal yang sama.
"Aku menyesal pah,di saat-saat aku menyiksa dia, mengatainya dengan perkataan yang buruk, aku sungguh menyesal." Gerald menangkup wajahnya, penyesalannya yang begitu mendalam.
"Sesal memang selalu datang terlambat, saat ini istri mu sedang bertaruh nyawa di dalam sana juga anakmu, mengingat kenangan buruk tidak akan mendatangkan apa-apa, sekarang kamu khusyuk kan doa untuk kesembuhannya."
Saat papah selesai menyelesaikan ucapannya, pintu ruang ICU di buka, segera saja Gerald menghampiri sang dokter.
"Dok, bagaimana dengan istri saya? apakah operasinya berjalan lancar?"
Dokter mengangguk, melepas maskernya. "Operasi berjalan lancar, istri juga ketiga janin anda selamat."
__ADS_1
Gerald dan papah menghela nafas lega mendengarnya, Gerald menangkup wajahnya dengan mengucapkan rasa syukur. lalu ia tersadar dengan ucapan dokter.
"Apa dok? tiga?"
Dokter mengangguk. "Ada tiga kantung janin di dalam perut pasien."
Mata Gerald melebar menatap papah dengan wajah terharu. begitupun papah yang terkejut dengan berita itu.
"Apa istri saya sedang mengandung tiga anak kembar, dok?"
"Ya, saya pikir anda sudah tahu, selamat ya pak."
"Kalau begitu saya permisi dulu, kami akan mengecek keadaan pasien sekali lagi, sebelum di pindahkan ke ruang rawat inap."
Dokter lalu berlalu masuk ke dalam lagi, sedangkan Gerald masih dalam keterkejutannya.
Gerald tak tahu jika istrinya selama ini sedang mengandung tiga janin kembar, yang terpenting baginya selama ini adalah Isvara dan anaknya yang terus sehat.Mengetahui kabar bahagia ini yang tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya.
"Pa, papah dengar? aku bakal jadi ayah dari tiga anak kembar pah."
Tuan Aryaloka mengangguk seraya tersenyum, "Selamat ya." lalu memeluk sang putra.
"Kamu bakal jadi seorang ayah sebentar lagi."
***
__ADS_1
Sedangkan di kantor polisi sekarang, Brandon tengah duduk mengenaskan di sel yang mengurung dirinya, ada Brinda dan sang mommy yang tak henti-hentinya menangis di sampingnya.
Sekarang berakhir lah sudah, semua rencananya hancur, ia berdecak, andai Isvara bisa di ajak untuk kerja sama, mungkin rencananya akan berhasil dan Gerald bisa cepat terbunuh.
Namun sekarang, semua hanyalah angan-angannya saja, tak ada yang bisa ia rencanakan lagi ketika tubuhnya kini terkurung dalam jeruji besi.
Mendengar sang mommy dan adik kembarnya terus menangis membuat kupingnya terasa panas.
"Mom, bisa gak sih pulang aja? emangnya gak malu yah terus nangis di kantor polisi begini?"
"Diam kamu!" sentak Arini, "Bisa-bisanya di saat kaya gini kamu malah ngusir mommy."
"Ngotak tau gak, Sekarang kamu tuh calon narapidana!" Arini menangis histeris.
"Kamu mau bikin mommy menderita hah?"
Brandon berdecak tak ingin menatap wanita yang telah melahirkannya itu.
"Katakan Brandon, siapa lagi yang terlibat dalam rencana busuk mu ini? jika ada yang terlibat mungkin polisi akan meringankan hukuman mu."
"Dan kak Arya? mommy tidak bisa membayangkan betapa marahnya nanti om mu itu."
Rahang Brandon mengeras, lagi, lagi begini. kenapa mommy nya sangat takut kepada paman nya itu? padahal mommy juga anak dari neneknya, nyonya Triani yang memegang kendali penuh atas kekuasaan di keluarganya.
"Ada mom,ada satu lagi yang terlibat."
__ADS_1
Ya, Brandon tak ingin menerima hukumnya sendiri.