
Isvara berteriak histeris ketika di dengarnya suara benda jatuh, di dalam gudang gelap apapun bisa muncul menurut perkiraannya.
Ia menelan saliva dengan berat, seketika keringat menetes di pelipisnya, dengan gemetar hebat.
Gudang ini hanya memiliki jendela kecil sebagai lubang udara. Dia tidak bisa kabur dari sisi manapun.
"Kumohon, siapapun tolong aku!" Jeritnya.
Di luar para orang suruhan Gerald mendengar jeritan memilukan Isvara, mereka saling pandang dengan tatapan Sendu.
"Kasihan ya, apa kita selamatkan saja?"
"Husst, jangan sembarang, Mau mati di tangan tuan?"
"Tapi kasihan, dengar jeritannya itu? Malang sekali."
Mereka semua menggeleng pelan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak berdaya.
Isvara di dalam gudang benar-benar sudah seperti mumi tidak bergerak, terbujur kaku dengan ketakutannya pada kegelapan yang semakin menyiksa.
Dia seakan seperti mati rasa dengan semuanya, otot-otot tubuhnya seperti tidak berfungsi lagi.
Jantungnya berdetak sangat kencang dan semakin melemah.
Apa dia akan mati? Tentu saja, dia mengharapkan kematian.
Tapi bagaimana dengan ayahnya? Ah, ayah lihatlah putrimu yang malang ini. Yang perlahan akan mati oleh kegelapan yang semakin menerkamnya.
Maafkan putrimu ini ayah, maafkan jika dia pernah menjadi anak yang bandel dulu. Maafkan putrimu yang belum bisa membahagiakanmu.
Namun satu hal yang pasti ayah, putrimu ini sangat menyayangimu, lebih dari apapun yang ada di dunia ini.
Semoga kau selalu bahagia setelah kepergiannya.
Air mata Isvara sudah menetes, matanya sembab dengan senyum mengembang. Dia akan berada di sini terus hingga ajal menjemputnya.
Ia hanya berharap di sisa hidupnya,sang ayah ada di sini untuknya. Tapi itu tidak akan mungkin.
Pernah dengar kematian seseorang di sebabkan oleh phobia yang di deritanya? Mungkin hal itulah yang akan menjadi penyebab kematiannya juga.
Tidak apa-apa, hati Isvara sudah ikhlas.
Perlahan kesadaran Isvara semakin menurun, ia seakan tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Namun sebuah bisikan kecil tepat di telinganya, mengagetkan Isvara, seperti menarik Isvara kembali dari kesadarannya. Ia membuka mata, familiar sekali dengan suara itu.
"Isvara, kau ada di dalam, Isvara ... "
Dengan air mata menganak sungai, Isvara menempelkan telinganya di pintu gudang, demi mendengar jelas suara itu.
__ADS_1
"Mahesa, tolong aku Mahesa." Isakannya kembali terdengar memilukan.
"Tidak apa-apa, jangan menangis,aku ada di sini untukmu," Mahesa berkata lirih menahan getar suaranya agar terdengar normal. Ia merasa sesak melihat wanita yang penting dalam hidupnya ini menderita.
Seakan tuhan tidak pernah mengijinkan dia untuk beristirahat dari penderitaannya?
Tapi tidak apa-apa, Mahesa akan selalu di sini, berada di dekatnya.
Di luar Mahesa perlahan merangkak mengintip dari balik tembok, melihat jumlah anak buah Gerald yang berjaga.
"Ada sekitar 10 orang,aku bisa menghabisi mereka," gumamnya.
Namun Mahesa sadar ia tidak melakukan persiapan apapun, karna kekhawatirannya pada Isvara ia langsung datang kesini tanpa membawa persenjataan untuk melindungi diri.
Tapi tentu itu bukan masalah, dengan tangan kosong pun ia sudah berani.
"Heh! Siapa kau?" Para bodyguard Gerald kaget karna melihat Mahesa datang dengan balok ditangannya.
Mahesa mulai melancarkan aksinya, ia menyerang satu persatu dari mereka. Satu lawan sepuluh, Mahesa hadapkan demi menyelamatkan Isvara.
Mahesa sudah tidak perduli dengan keselamatannya, yang terpenting Isvara bisa keluar dari sini.
Berbekal ilmu bela diri yang selama ini ia pelajari, Mahesa mempunyai pertahanan yang bagus untuk menyerang para bandid itu.
Sret! Salah satu dari mereka berhasil menyayat lengan kiri Mahesa. Ia mendesis kesakitan, namun waktu tidak akan menunggu.
Dengan sekuat tenaganya, akhirnya ia bisa menang dari sepuluh pria itu. Satu persatu dari mereka terkapar tidak berdaya.
Kunci gudang itu akhirnya ketemu di salah satu dari mereka. Mahesa dengan nafas memburu seperti di kejar waktu berdiri di pintu gudang dan membuka gemboknya dengan kunci itu.
Suara engsel pintu terbuka, lewat cahaya rembulan yang masuk, Mahesa bisa melihat lebih jelas wajah Isvara yang menahan ketakutan.
Mahesa tersenyum dengan mata sayu, merentangkan kedua tangannya, lalu Isvara berlari langsung menghambur dan memeluknya.
Mahesa melangkah mundur hampir kehilangan keseimbangan saat Isvara menubruk tubuh mereka, Isvara menangis sejadi-jadinya di pundak pria itu.
Isvara menangis bukan karna akhirnya dia bebas, namun ia menangis karna melihat Mahesa yang babak belur. Demi untuk menyelamatkan dirinya.
Seketika haru menyelimuti, Mahesa dengan lebam biru di matanya tetap memaksakan senyum, pria itu mengambil nafas dalam. Lalu mengusap kepala Isvara dengan sayang.
"Tidak apa-apa, aku sudah bilang kan, aku akan selalu melindungimu." bisik pria itu.
***
Gerald ternyata datang terlambat. nyatanya sudah ada Mahesa di sana, untuk menyelamatkan Isvara.
Seketika darahnya seperti mendidih melihat pemandangan berpelukan kedua orang itu.Namun Gerald kali ini tidak melakukan apa-apa.
Dia tidak akan datang saat amarah dan menarik lengan Isvara. Gerald sudah tahu kesalahannya sangat fatal kali ini.
__ADS_1
Tapi kenapa rasanya tetap saja kesal?
Kenyataannya Gerald memang ingin menyelamatkan Isvara, ia meringis ketika tahu Isvara pasti takut dengan kegelapan, ia menyesal Namun itu semua sudah tidak ada apa-apanya lagi.
Sudah ada Mahesa di sana, yang menyelamatkannya. dengan seperti itupun Gerald sudah senang dan merasa lega.
Setidaknya Isvara aman meskipun bukan dia yang berada di posisi Mahesa.
Gerald perlahan mundur dari sana, membawa jaket yang ia sudah ia siapkan untuk Isvara dan melajukan mobilnya.
Isvara melepaskan pelukannya pada Mahesa, dengan mata memerah sembab, Isvara dengan kekhawatirannya menangkup wajah Mahesa dengan kedua tangannya.
"Lukamu lebam membiru, aku akan mengompresnya nanti." di telitinya wajah Mahesa.
Mahesa tersenyum, ia merasa senang, ada debaran-debaran halus yang muncul saat melihat Isvara begitu mengkhawatirkannya.
Isvara yang sadar, seketika menarik tangannya. "Maaf,aku hanya khawatir," ucapnya, merasa lancang sudah menyentuh wajah Mahesa.
"Tidak masalah, aku justru senang kamu mengkhawatirkan ku."
Pandangan Isvara menunduk karna malu, lalu matanya tak sengaja tertuju pada darah yang menetes ke tanah.
Di tatapnya Mahesa, lalu ia meneliti dan menemukan luka sayatan di lengan kiri pria itu.
Seketika Isvara memekik. "Astaga, lukamu!"
"Tidak apa-apa, aku bisa membersihkannya nanti."
Isvara menggeleng dengan mengerut dahi. "Tidak bisa, darahnya keluar terus."
Isvara tampak mencari akal, seketika ide muncul, Isvara merobek ujung bajunya hingga menimbulkan suara robekan nyaring.
Mahesa memperhatikannya, dengan robekan bajunya itu, Isvara menutup luka sayatan Mahesa seperti perban.
Ia menggelung luka Mahesa lalu kemudian mengikatnya tidak terlalu kencang agar tidak menghambat pembuluh darah.
"Kamu sangat terampil dalam merawat orang."
Mahesa memandangnya dengan tatapan dalam, hal itu membuat Isvara jadi salah tingkah.
"Aku pernah ikut PMR saat SMP dulu," ucapnya dengan pipi merona.
"Menggemaskan," batin Mahesa.
Isvara sudah selesai membelitkan perbannya. "Setidaknya ini bisa menghentikan pendarahan."
Isvara lalu mendongak berani menatap mata Mahesa. "Terimakasih ya, terimakasih lagi-lagi sudah menyelamatkan ku," ucapnya tersenyum tulus.
Mahesa balik tersenyum,lalu menggamit sebelah tangan Isvara dan menggenggamnya lembut.
__ADS_1
"Ayo,kita kembali ke rumah."
Isvara mengangguk.