TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
64. Meninggalkan mu


__ADS_3

Isvara duduk termangu di dalam kamarnya, perempuan itu hanya diam membeku dengan mata menatap kosong, mencerna untaian semi untaian kejadian yang terjadi saat sungguh membuat kepalanya seperti ingin pecah.


Lalu sebuah keputusan telah ia buat. dirinya harus pergi meninggalkan Gerald. Tak ada yang bisa di lakukannnya lagi selain ini.


Dirinya pun perempuan, melihat Laura yang menderita karna ayah dari janinnya tak mengakuinya membuat dia pun ikut sakit. Tidak, tidak bisa seperti ini.


Gerald harus bertanggung jawab atas apa yang di lakukannnya, ada dirinya di sini hanya sebagai penghalang kebahagiaan mereka.


Gerald, Laura dan anak mereka nanti harusnya sudah bahagia sekarang, dirinya hanya sebagai penghalang saja, yang harus di singkirkan.


Isvara lalu mengambil sebuah kertas di dalam laci juga pena, lalu wanita itu duduk di meja riasnya, menumpahkan segala isi hatinya dalam setiap deretan aksara yang dia tulis menggunakan pena biru itu, tak terasa air matanya pun ikut jatuh membasahi kertas yang sudah dia tulis. sekuat tenaga ia menyeka pipinya yang kian basah.


Setelah selesai menulis apa yang ia rasakan, Isvara lalu melipat kertas itu meletakkannya di sana, tangannya lalu meraba Kalung permata di lehernya.


Gerald bilang kalung permata ini adalah pemberian mendiang ibunya, dan seharusnya ini tidak berakhir padanya.


Isvara lalu membuka kalung itu, memperhatikannya sejenak, mengusapnya dengan tangisan yang lagi-lagi pecah. Lalu kalung itu ia letakan di atas lipatan surat yang sudah ia tulis, berharap nanti Gerald bisa menemukannya.


Tak ingin berlama-lama, Isvara berjalan ke arah lemari, mengambil koper di atasnya, lalu membuka lemari itu, mengambil pakaian yang sejak awal dia bawa dan memang miliknya, sisanya barang-barang dan gaun-gaun mewah yang di berikan Gerald dia biarkan di sana. Tak ingin membawa apapun yang berhubungan dengan pria itu.


Mungkin seperti inilah akhirnya jalinan cinta yang baru saja di mulai, semesta terlalu enggan untuk mempersatukan mereka selamanya, dan perpisahan adalah jalan terbaiknya.


Isvara lagi-lagi menyeka pipinya yang basah, melihat ke sekeliling ruangan ini untuk yang terakhir kalinya, enam bulan sudah ia melukis kisah di keluarga, menjadi bagian yang di sayangi, kini saatnya ia meninggalkan semuanya, dan kembali pada tempatnya yang semula.


***


"Apa kamu yakin tetap akan pergi?" Mahesa bertanya untuk yang ke sekian kalinya.


Memang sebelumnya Isvara menghubungi pria ini untuk setidaknya mengucapkan salam perpisahan pada lelaki yang sangat berjasa untuknya, lelaki yang selalu membantunya,ada untuk dirinya dan selalu melindunginya.


"Aku yakin," ucap Isvara juga entah yang ke berapa kali untuk meyakinkan pria berbadan jangkung ini.


Mahesa mendesah panjang, menolehkan kepala di tatapnya wajah cantik yang kini terlihat sembab, mungkin pada akhirnya inilah yang terbaik.

__ADS_1


Dia pun tak ingin melihat wanita yang di sayanginya ini terus menderita. karna itu juga merupakan Penderitaan untuknya.


"Lalu bagaimana dengan Gerald?" Mereka bertemu sebelum kebenarannya bisa terungkap.


"Dia akan bahagia, bersama pilihannya yang tepat." wanita itu menunduk. "Setidaknya Gerald akan memiliki putra atau putri yang menggemaskan nanti, dan itu cukup untuk melihatnya bahagia."


"Tapi tujuan bahagianya adalah dirimu?" Mahesa masih mengulik lebih dalam perasaan wanita ini.


"Katakan padaku, apa kau mencintai Gerald?"


Isvara terdiam, lalu menatapnya. "Bagaimana bisa aku beritahu dirimu, sedangkan mengucapkannya saja aku tak sanggup."


"Baiklah, ku anggap itu adalah jawaban darimu." Mereka terdiam selama beberapa detik.


"Jadi, kau akan ke kota A menyusul ayahmu dan menetap di sana?"


Isvara mengangguk. "Aku sudah memutuskannya, aku akan memulainya kehidupan yang baru, tanpa Gerald, tanpa bayang-bayang keluarga ini. Aku tidak akan pernah kembali lagi."


Ntah Kenapa ada rasa sedih yang Mahesa rasakan saat Isvara mengatakan. "Jadi kau akan melupakan ku juga?"


Tak mengindahkan ucapan Isvara, Mahesa mengusap matanya yang mulai memerah. "Setidaknya biarkan aku mengantarmu sampai ke stasiun kereta."


Isvara mengangguk. "Baiklah." untuk yang terakhir kali.


***


Setelah beberapa menit perjalanan, mereka tiba di stasiun kereta, nantinya Isvara akan singgah ke bandara melalui jalur ini.


Stasiun saat ini sudah ramai di padati manusia, berlalu lalang suara nyaring khas yang selalu bisa di dengar di sini pun sudah beberapa kali berbunyi, pemberhentian juga perjalanan.


"Mahesa, berjanji lah apapun yang terjadi jangan pernah memberi tahu kan soal kepergian ku pada siapapun, simpan rahasia ini rapat-rapat."


"Anggap saja diriku telah hilang di telan bumi atau kehadiran diriku tidak pernah ada sama sekali?"

__ADS_1


Bagaimana bisa Mahesa berjanji seperti itu? bagaimana bisa Mahesa melupakan atau tidak pernah menganggap kehadiran Isvara? rasanya begitu sesak, sampai rasanya ia tak sanggup lagi.


"Baiklah," ucapnya pada akhirnya.


"Tapi, boleh aku memeluk mu untuk yang terakhir kali?" pintanya dengan suara parau.


Isvara tertegun sejenak, lalu seperkian detik wanita itu mengangguk. Perlahan Mahesa mendekat, mengikis jarak di antara mereka, lalu menenggelamkan kepala Isvara di dada bidangnya, tangannya mengusap lembut rambut wanita itu.


"Meskipun aku terpaksa untuk melupakan mu, tapi jangan pernah untuk melupakan ku. ingatlah selalu, bahwa ada seorang pria yang ingin melihat kau bahagia, dan itu adalah aku."


Mahesa berbisik pelan dengan suaranya yang serak. Isvara diam, tertegun dengan apa yang di ucapkan pria itu, lalu ia mengangguk dalam dekapan hangatnya, pelukan ini mungkin akan menjadi yang terakhir kali bagi mereka.


Mahesa melerai pelukan mereka. "Pergilah temukan bahagiamu."


Isvara mengangguk, mengulas senyum untuk yang terakhir kali, dan mulai menyeret kopernya, lalu berbalik dan mulai melangkah.


Mahesa mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya dengan susah payah, berharap rasa sesak itu lenyap.


"Isvara, kau hebat,telah mengorbankan cintamu demi cinta orang lain, pengorbanan mu ini mungkin tidak ada apa-apanya dengan kisah-kisah cinta yang terkenal di dunia, namun untuk diriku yang menyaksikan sendiri bagaimana tangguhnya dirimu dalam badai cinta ini, akan selalu ku ingat seumur hidup ku.


Selamat tinggal."


***


Sementara Gerald yang hendak menemui sang isteri di kamarnya di buat terkejut karna Isvara tidak ada di sana.


Rasa yang menggebu-gebu karena ingin memberitahukan jika tuduhan terhadapnya salah dan dia buka ayah dari anak Laura malah berakhir dengan penyesalannya karena melihat koper di atas lemari wanita itu sudah tidak ada.


Gerald menjadi kalut, di teriakinya nama sang istri namun Isvara tak ada di manapun.Sampai ia tak sengaja berpapasan dengan mbok Minah.


"Mbok, Isvara istriku ada di mana? kenapa dia tidak ada di kamarnya?"


Mbok Minah menunduk dengan wajah sedih, pastinya ia tahu bahwa tadi siang nona mudanya itu membawa koper hendak pergi. Namun nona mudanya itu tak atau lupa berpamitan pada dirinya juga pembantu di sini.

__ADS_1


"Mbok, katakan, kenapa hanya diam saja?" Gerald semakin di buat takut.


"Maaf tuan, saya tidak tahu, tapi tadi siang saya liat nona muda menyeret koper dan keluar dari rumah ini."


__ADS_2