
Gadis itu berjalan takut-takut, dia datang bersama Mahesa di sampingnya.
"Andini? kau yakin?" nenek terpekik dengan tidak percaya.
"Yakin nyonya besar, golongan darah saya sama dengan golongan darah nyonya muda." Andini berkata pelan, ia menoleh melihat Mahesa yang sedang menatapnya.
Mahesa menatap datar, namun tangan pria itu tergerak menggenggam tangan Andini yang lebih kecil darinya.
"Jika kau yakin, aku akan menemanimu."
Semua orang saling menatap, tak pernah melihat Mahesa yang seperti ini, terlebih lagi Indira, sebagai ibunya, Indira tak pernah melihat Mahesa dekat dengan gadis lain selain Isvara sebelumnya, dengan mantan pacarnya dulu pun Mahesa tak pernah secara terang-terangan menunjukkan hubungannya apalagi menggenggam tangan seorang gadis secara terang-terangan seperti ini.
Ntahlah, seperti magnet, Andini gadis mungil ini, Mahesa ingin selalu menjaganya, perasaan yang sama saat dia bersama Isvara, namun jelas kali ini lebih kuat, karna kini dadanya berdegup sangat kencang.
"Baiklah, jika sudah yang mengabulkan, mari ikuti saya." dokter dan satu orang suster menuntun Andini untuk segera melakukan donor darah, mereka sedikit tergesa mengingat kondisi Isvara sedang dalam masa kritis di dalam sana.
__ADS_1
Gerald bisa sedikit bernafas lega, akhirnya ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan sang istri, dalam hati ia tak henti-hentinya merapalkan doa, hal yang tak pernah Gerald lakukan sebelumnya, Ya, karna seorang Gerald tak pernah percaya dengan yang namanya kekuatan sebuah doa, tapi kali ini untuk wanita yang sangat di cintainya dia benar-benar ingin percaya, jika keajaiban doa itu ada.
Andini berbaring di atas brankar, ia memejamkan mata ketika suster memasukkan jarum di punggung tangannya, seumur hidup baru kali ini Andini melakukan apa yang dia bisa, dia ingin menyelamatkan Isvara, menyelamatkan nyonya mudanya yang telah sangat baik padanya.
Andini hanyalah seorang gadis desa, hanya hidup bertiga dengan kakek-neneknya, ia tak seperti gadis kebanyakan atau teman-temannya yang modis, pintar mempercantik diri, pendidikannya pun tak tinggi hanya lulusan SMP saja, karna sang nenek yang sering sakit-sakitan membuat hidup Andini terpaku hanya di rumah.
Andini, memberanikan diri pergi ke kota untuk mengadu nasib, atas dorongan sang nenek dan kakek membawa Andini sampai ke tempat ini, keluarga kolongmerat wirasena yang memberikannya pekerjaan di tengah kerasnya hidup ibu kota, Andini sangat berterimakasih pada Isvara, yang memperlakukannya dengan baik juga dengan keluarga ini, oleh sebab itu dengan cara ini Andini ingin membantu keluarga yang telah menerimanya dengan baik ini.
Hal yang tak pernah Andini banyangkan sebelumnya, menemukan orang-orang baik di sini, terutama pria di sampingnya sekarang.
Meskipun terkadang dia cuek, dan dingin padanya, namun perhatian kecil dari pria itu telah membuat Andini nyaman dan yakin dengan keputusannya.
"Aku tahu kau gadis kuat."
Menatap dengan sungguh-sungguh, begitu dalam hingga Andini tak sanggup untuk berlama-lama menatapnya, sehingga dia memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Mahesa tersenyum tipis, merasa gemas dengan pipi Andini yang memerah.
Apakah boleh dia memiliki perasaan ini?
Seketika ia memegang dadanya yang berdebar. patah hati pernah Mahesa rasakan saat gadis yang sempat di cintainya dulu lebih memilih pria yang lebih baik darinya.
Pun dengan kasus Isvara, bukan, bukan maksud Mahesa tak bisa move on, hanya saja Mahesa takut ia salah menaruh hatinya lagi.
"Andini, kau gadis yang baik, bolehkah perasaan ini tumbuh di hatiku?"
***
ANDINI CANTIKA
Gadis manis sederhana berlesung pipi, sama dengan Mahesa yang memiliki lesung pipi. (kalau senyum ya)
__ADS_1
Mungkin kalau di pasangin jadi dimples couple😂