
"Tidak ... " Satu kata itu akhirnya keluar dari mulut Isvara.
Tuan Aryaloka menghela nafas panjang. Isvara sudah memberikan keputusan yang tepat, menurutnya.
Sementara Isvara melihat tuan Aryaloka merasa lega,ikut tersenyum.
"Kamu harus tau diri Isvara, tuan Aryaloka lah yang sudah menyelamatkan ayahmu. Kamu harus berkorban," gumamnya dalam hati.
"Jadi kamu akan terus bertahan di sisi Gerald sampai enam bulan ini berakhir?"
Isvara mengangguk. "Iya nek."
"Itu keputusan mu, maka kamu harus menanggung apapun konsekuensinya," ucap nyonya Triani.
***
Pagi hari semuanya sudah tampak sibuk. Tuan Aryaloka dan nyonya Indira bersiap ke kantor.
Sebagai seorang Presdir jadwal Aryaloka memang sangat padat, bersyukur selalu ada Indira sang istri yang selalu di sampingnya.
Nyonya Triani sendiri sudah pergi pagi-pagi sekali untuk mengecek pembangunan yayasan pendidikan yang di kelolanya.
Mahesa dan Kayra sudah akan bersiap kuliah. Mereka berada di satu universitas yang sama dengan fakultas yang berbeda.jadi sudah biasa mereka selalu berangkat bersama.
Tapi hari ini tidak. "Kay ayo berangkat." Ajak Mahesa.
"Tidak, kak Esa berangkat duluan aja." Esa adalah panggilan khusus Kayra pada Mahesa.
"Kenapa?"
"Aku ... Mau berangkat bareng Raka."
Kayra tampak malu-malu saat mengatakannya dan pipinya pun bersemu merah, Membuat Mahesa curiga.
"Aku baru sadar kamu paling dekat banget sama Raka, apa jangan-jangan? ... "
"Kak Esa, syuttt!" Kayra yang merasa malu meletakkan jari di atas bibir, isyarat agar kakaknya itu diam.
"Kamu menyukai Raka Kay?" Mahesa melotot dengan berbisik.
"Waaw," Mahesa merasa takjub, "tuan putri kita sekarang sudah besar," kelakarnya.
Kayra tersenyum. "Tapi kakak harus merahasiakannya ya, hanya kak Vara dan kak Esa saja yang tahu."
Euforia langsung membuat Mahesa terbang, ketika tahu hanya dirinya dan Isvara yang memiliki rahasia Kayra ini.
Sekecil itu? Apapun yang berhubungan dengan Isvara, Mahesa selalu berdebar.
"Sungguh hanya aku dan Isvara saja yang tahu hal ini?"
Kayra mengangguk seperti kucing yang sedang malu, sungguh menggemaskan. Mahesa mengelus sayang rambut adiknya itu.
Meskipun mereka berbeda Ayah dan ibu, tapi hubungan persaudaraan mereka sungguh serasi. Mahesa selalu menganggap dan menyayangi Kayra sebagai adik perempuannya yang manis.
Begitupun dengan Kayra, menyayangi Gerald dan Mahesa selalu.
Bukankah hubungan persaudaraan bukan hanya di dasari dari hubungan darah saja?
Gerald lewat dan memperhatikan interaksi mereka. Sekejap ia langsung merasa kesal.
Bukan hanya merebut kasih sayang papanya, Mahesa juga berusaha merebut kasih sayang adiknya, Gerald tidak akan membiarkan itu terjadi.
__ADS_1
"Kayra," panggil Gerald membuat Kayra dan Mahesa menoleh.
"Tidak ingin memberikan kakak ciuman selamat pagi?"
"Oh ya lupa," Kayra seketika tersenyum langsung berlari dan memeluk Gerald.
Kayra lalu memberi kecupan di dahi, dan kedua pipi Gerald bergantian.Begitupun dengan Gerald yang melakukan hal yang sama.
Rutinitas pagi ini selalu mereka lakukan sedari mereka kecil dan tak berubah sampai sekarang.
"Selamat pagi kak Gerald," Kayra tersenyum lebar.
Gerald tersenyum, sedikit menjawil pipi gembil Kayra.
Mahesa memperhatikan,lalu tersenyum. Hubungan kedua adik kaka itu memang selalu manis.
Gerald melihatnya lalu kembali memeluk Kayra. Mahesa memperhatikan tatapan mata Gerald seperti mengatakan, "kau tidak akan bisa mengambil adikku dariku!"
Atau hanya perasaannya saja? Menggeleng cepat, Mahesa mengabaikannya lalu bersiap untuk berangkat.
"Kamu mau bareng sama kakak?"
Kayra menggeleng lucu. "Gak dulu kak, Kay mau berangkat bareng Raka."
Mendengar nama itu Gerald seketika berang. ingatannya kembali saat ia melihat Raka yang begitu perhatian pada Isvara dan itu membuatnya kesal.
"Jangan terlalu dekat dengannya Kay."
"Kenapa?" Kayra menyipitkan mata.
"Kau sudah tahu pastinya, Kayra putri wirasena seorang tuan putri kolongmerat tidak pantas bersama Raka yang hanya anak sopir, apa kata orang nanti jika kau dekat-dekat dengannya terus."
"Kak, kakak jangan seperti itu," Kayra terlihat kecewa.
"Terserah, bagiku si Raka itu cuma anak pelayan. jadi jangan pernah dekat dengannya lagi. patuh sama kakak."
Kayra menunduk sedih, bagaimana jika kakaknya tahu dia sudah mencintai Raka? Apa kakaknya tidak akan setuju?
"Ya sudah kalau gitu kamu hati-hati," ucap gerald mengelus kepala Kayra.
***
Gerald sudah rapi dengan jas abu-abu tua yang pas melekat di tubuh kekarnya.
Ia merapikan penampilannya di dalam cermin,lalu berjalan keluar bersama asisten yang setia membawa tasnya.
"Isvara! Isvara!"
Suara lengkingan Gerald terdengar, namun nama yang di panggilnya tak kunjung datang membuatnya kesal.
"Isvara!" kali ini ia mengeluarkan seluruh pita suaranya.
"Ya." Isvara datang tergopoh-gopoh dengan celemek di badan.
"Heh, Sund*l, kau ini kalau di panggil lama sekali, msu membuatku marah?" hardiknya.
Seperti yang sudah-sudah, Isvara memilih diam. bukan karna ia tak bisa melawan, tapi karna ini masih pagi ia tak ingin terjadi keributan.
"Ada apa kau memanggilku?"
"Begitu caramu menatap seorang raja? menunduk!" titahnya karna kesal melihat tatapan sengit Isvara.
__ADS_1
Isvara kali ini hanya bisa menurut, dia menunduk, menaruh kedua tangan di depan dengan hormat.
"Bisa di bilang ini adalah tugas pertama mu dariku dan kau harus melakukannya setiap hari."
"Pak Tian jelaskan padanya!" titah Gerald pada asisten pribadinya.
"Baik den." pak Tian membungkuk hormat.
"Untuk tugas nyonya Isvara--"
"Tunggu pak Tian, siapa yang menyuruh anda memangilnya 'nyonya'?"
"Eh, maksud aden?" pria setengah abad itu tak mengerti.
"Dia itu hanya budak, panggil dia 'Budak Isvara'."
Pak Tian meringis mendengarnya,lalu tatapannya mengarah pada Isvara. dia merasa kasihan, namun tidak bisa melakukan apapun.
"Baiklah, untuk tugas budak Isvara," pak Tian sangat berat memanggil julukan itu.
"Yang pertama, setiap pagi anda harus bangun lebih dulu dari pada tuan Gerald, jam 3 atau jam 4, intinya tidak boleh terlambat sebelum tuan Gerald membuka mata."
"Yang kedua, anda harus menyiapkan setiap perlengkapan kerjanya, menghangatkan air sebelum beliau mandi."
"Yang ketiga anda harus memakaikan dasi dan sepatu untuknya setiap ia akan berangkat kerja."
"Kelima, mengantar tuan Gerald berangkat kerja, menunggu di depan gerbang saat beliau hendak pulang."
"Terakhir, semua itu harus dilakukan tepat waktu, tidak boleh terlambat barang sedikitpun." Pak Tian lalu menutup kembali note serta menjelaskan secara rinci.
"Sekarang apa kau mengerti, budak?"
Isvara sedari tadi menahan geram, tangannya seakan terjulur untuk memberi bogem mentahnya pada pria itu.
"Hei, kau mengerti budak Isvara?"
Gerald menikmati setiap Penderitaan Isvara. ia memang sudah menyiapkan ini sangat matang dan hanya untuk bermain-main,dan mencari kepuasan di atas penderitaan Isvara.
"Mengerti sekali, tapi kenapa kau ingin sekali aku yang melakukan semua ini untukmu? apa kau sebegitu terobsesinya padaku?" Isvara menaikan satu alisnya, menantang.
"Memangnya kau berfikir apa?" Gerald yang sudah di kuasai amarah menarik kepala Isvara.
Isvara terkesiap dan meringis kesakitan, "Kau ingin menarik rambut ku lagi hingga rontok kan? silahkan lakukan jika itu membuatmu puas."
Seketika Gerald terdiam, ingatannya pada rambut panjang Isvara yang rontok karenanya, Membuat ia melepaskan cengkeramannya.
Tapi itu belum puas untuk Gerald, ia menarik lengan Isvara, menekannya hingga terdengar bunyi seperti tulang patah.
"Akhhh," Isvara benar-benar merasakan sakit yang luar biasa. pergelangan tangannya seperti terkilir.
Sementara pak Tian hanya bisa menunduk tak ingin melihat penyiksaan itu,juga tidak bisa melakukan apa-apa.
"Ingat ya, wanita buruk rupa, Aku melakukan ini hanya untuk kesenangan ku saja, jangan pernah berfikir aku terobsesi ataupun mencintai mu, karna itu tidak akan pernah terjadi!"
"Hahaha, Lagipula sadar diri, aku tidak mungkin kan menaruh hati pada wanita jelek dan miskin seperti mu," ucap Gerald semakin menekan kuat tangan Isvara.
"Lepaskan Gerald," Isvara seperti ingin menangis menahan sakit.
Gerald melepasnya, Isvara segera memegang pergelangannya yang membiru sambil terus meringis.
Tangan Gerald beralih mencengkeram pipi Isvara, membingkai wajah mungil gadis itu dengan tangannya yang kekar.
__ADS_1
"Ingat, mulai besok kau sudah harus melakukan semua tugas yang ku berikan, jika kau lelet atau melakukan kesalahan barang sedikit saja, maka aku akan memberikan hukuman padamu,dan taruhannya adalah Ayahmu."