
Gerald berjalan mondar-mandir, meneliti ke setiap sudut kamar mencari cincin pernikahannya dengan Isvara.
Setelah makan malam yang tak berjalan mulus itu, Gerald segera saja berlari ke kamar dan mencari cincin pernikahan yang di maksud Isvara. Ia sungguh tak ingat mereka mempunyai cincin pernikahan, tapi kali Gerald akan mencarinya dan tak akan ia biarkan hilang.
Seingat Gerald, ia menyimpannya di kamar ini, di suatu laci dalam lemari bersama visa dan berkas-berkas lainnya saat di Bali saat itu.
Tidak akan Gerald biarkan Isvara jauh darinya, meskipun gadis itu belum memberikannya satu kesempatan lagi, tapi Gerald akan berusaha.
"Sial, di mana sih aku menyimpanya?" Gerald sedikit kesal, ia frustasi mengobrak-ngabrik laci dalam lemarinya juga di walk in closed.
Saat Gerald sudah kehabisan akal dan tenaga mencari hampir dua jam, mata pria itu tak sengaja menangkap sebuah kilauan dari balik berkas di meja kerjanya.
Gerald mengamati lalu mengambilnya, benar saja, itu adalah cincin perak pernikahannya.
"Akhirnya ... " Pria itu mengambil nafas dalam, dengan mata berbinar menatap cincin itu.
Setelah ia menelitinya lebih baik, ternyata ada nama sang istri terukir di sana. Ia baru menyadari cincin pernikahan yang di pesan langsung oleh ayahnya ini terukir nama dirinya dan nama Isvara di dalamnya.
"Papa memang yang terbaik ... " Gumamnya.
Gerald tidak tahu kenapa sang ayah sampai sebegitu ngototnya ingin dirinya bersama Isvara, namun di balik itu semua Gerald sangat berterima kasih karna ayahnya ia menyadari perasaannya untuk Isvara.
Gerald memakain cincin itu ke tempatnya kembali, di jari manisnya. Tapi tiba-tiba ada kendala yang terjadi.
"Kenapa cincin ini gak muat?" Desisnya, memaksakan cincin itu melingkar di jarinya. Namun tetap tidak bisa.
"Bangs*t! kenapa ini susah sekali?" Baru saja ia ingin memperbaiki semuanya, kenapa terus saja banyak kendala.
"Ayolah, masuk!" Gerald tetap kekeuh memaksa cincin itu masuk ke jarinya, tapi sia-sia cincin itu terlalu kecil.
Apa ini pertanda jika dia tidak bisa memperbaiki hubungannya dengan Isvara? Sial, dirinya hampir menangis, kenapa dia tiba-tiba menjadi sensitif seperti ini?
Gerald tidak menyangka kehilangan seorang wanita dalam hidupnya akan semenyakitkan ini. Apa ini akhir dari segalanya? Apa dia menyerah saja?
***
Di apartemennya, Brandon terduduk di ranjang king size miliknya, pria itu menatap sebuah foto dengan sambil tersenyum sendiri.
Brandon lalu merebahkan diri, satu tangannya menopang kepalanya dan satu tangannya lagi mengangkat tinggi-tinggi foto itu.
"Kenapa dia cantik sekali?" Gumam Brandon. Memandang wajah Isvara di dalam foto itu.
"Brengs*ek! ada apa sama lo bodoh? kenapa lo malah jadi suka sama gadis kampungan ini?" ucapnya pada diri sendiri.
Tidak. tidak bisa seperti ini? pasti ada yang salah dengan dirinya?
Sejak awal Isvara di perkenalkan di keluarga wirasena, Brandon memang sudah penasaran dengan wanita itu. Ntah kenapa saat menatap wajahnya pertama kali seperti ada desiran aneh dalam dirinya.
Awalnya Brandon tidak mempedulikannya, dan menganggap dia hanya penasaran. ia hanya menganggap Isvara adalah gadis bodoh yang mau saja di nikahkan dengan pria yang sama sekali tidak di kenalnya.
Tapi semakin kesini ntah kenapa Brandon semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya. Apalagi saat Laura memintanya untuk memikat gadis itu dengan bayaran yang cukup fantastis. Awalnya Brandon menerima tawaran dari Laura itu hanya untuk bermain-main, tapi semakin mengenal Isvara ia semakin penasaran dengan gadis itu, dan rasa itu tak bisa ia hindarkan.
Pesona dan daya pikat gadis yang selama ini dia anggap kampungan itu, ternyata telah melumpuhkannya sendiri.
__ADS_1
Tidak bisa. Brandon tidak mungkin bisa bersaing dengan Gerald.
Tapi dalam kasus ini, sepertinya Brandon akan berusaha.
***
Isvara berjalan ke arah dapur setelah membeli beberapa keperluan rumah. Gadis itu menata barang sesuai dengan kebutuhan rumah ini.
Empat bulan hampir berlalu,hari ini atau besok tuan Aryaloka akan pulang. Dan dia akan membicarakan tentang perceraiannya dengan Gerald nanti.
Isvara sudah memutuskan, ia akan membatalkan perjanjian enam bulan ini, bagaimana pun ia akan membuat tuan Aryaloka kecewa, Isvara tahu, tapi dia juga tidak bisa membiarkan hatinya terus terluka.
Isvara sudah merencanakan semuanya. Setelah ia terbebas dari sini, dia akan menjemput sang ayah dan membawanya pergi lalu hidup dengan tenang.
Melanjutkan kuliah, mengontrak sebuah rumah, kerja paruh waktu untuk membiayai pengobatan ayah dan pendidikannya nanti. Isvara sudah merancang semuanya. Kini sudah saatnya ia meraih kebahagiaannya, tanpa lagi adanya bayang-bayang pria itu. Isvara pastikan ia akan membahagiakan sang ayah dan dirinya sendiri.
"Isvara ... "
Isvara membalik badan, melihat Mahesa berjalan mendekat ke arahnya.
Isvara tersenyum setelah membereskan semua bahan dapur. "Ada apa?"
Mahesa tampak sedikit menunduk dengan wajah merona. "Begini, boleh aku pinjam dirimu untuk nanti malam?"
Isvara sedikit terkejut. "Meminjam diriku?" kata-kata itu sungguh ambigu.
Mahesa mengangguk. "Maksud ku menyewa,atau membelimu, oh tidak-tidak maksudku--" pria itu tampak kesulitan mengutarakan maksudnya.
Mahesa mengangguk malu-malu, sungguh ini menyiksa dirinya, tapi hanya Isvara yang bisa membantunya.
"Nanti malam adalah pesta pertunangan mantan pacar ku, aku tidak bisa datang sendiri, di saat dia memutuskan hubungan dengan ku dan lebih memilih kakak tingkatnya, aku tidak bisa datang ke sana dengan mengenaskan." tutur pria itu.
"Jadi kamu mengajakku untuk datang sebagai pasangan pura-pura?" Isvara terkekeh.
Mahesa mengangguk. "Bisa di bilang seperti itu, tapi jika kamu tidak mau aku tidak akan memaksa?"
Isvara menyipitkan matanya, lalu gadis itu menepuk lengan Kokoh Mahesa seperti teman karib. "Kamu sudah banyak membantuku, kali ini aku akan membantumu."
"Benarkah." mata Mahesa berbinar. "Kau sungguh-sungguh?"
Isvara tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi. "Tentu saja, aku sungguh-sungguh."
"Baiklah, jam sembilan nanti aku menunggumu, kamu bisa memakai gaun yang sudah ku pesan, mbok Minah akan mengantarnya ke kamarmu."
"Baiklah, kau bisa mengandalkan ku untuk menjadi pacar pura-pura mu nanti, kita buat mantan mu menyesal." Isvara tertawa renyah.
***
Gerald mendengar mendengar Mahesa dan Isvara akan pergi malam ini dari mulut Nela. salah satu pelayan wanita di rumahnya itu telah melapor padanya.
"Kau tidak salah dengar kan?" Gerald memastikan lagi. rahangnya mengeras pertanda pria itu sangat marah.
"Iya tuan, saya mendengarnya, nona muda dan tuan Mahesa akan pergi ke suatu pertunangan, saya tak salah dengar," ucap Nela. untungnya ia berhasil menguping pembicaraan kedua orang itu tadi.
__ADS_1
Gerald memukul kursi meja kerjanya. "Kau boleh pergi!" titahnya pada Nela.
Nela membungkuk hormat lalu keluar dari kamar pria Itu, dalam hatinya ia tersenyum puas.
Gerald yang sudah di ambang emosi segera saja menuju kamar Isvara berada. benar saja, gadis itu seperti hendak bersiap-siap.
Namun saat hendak melangkah masuk, Gerald menghentikan langkahnya. Dia tak ingin Isvara kembali membencinya dengan menyerang gadis itu tiba-tiba.
Jadi, kali ini Gerald akan mengikuti kata hatinya, mengikuti sendiri kemana langkanya berada. Gerald akan membebaskan Isvara kali ini.
****
Tapi ternyata tidak bisa. Gerald tidak bisa membiarkan Isvara berduaan dengan pria lain. Gerald tidak rela.
Jadilah pria itu mengikuti kemana mobil Mahesa membawa Isvara,ke tempat pertunangan itu di selenggarakan.
Sementara Isvara dan Mahesa di dalam mobil tampak terjebak canggung. Mahesa tak henti-hentiya menata gadis itu.
"Kamu cantik," puji Mahesa padanya.
Isvara tertunduk malu. "Terimakasih, gaun yang kau berikan ini jauh lebih cantik."
Mahesa menatap gamang ke depan. "Sebetulnya gaun itu adalah hadiah yang akan ku berikan padanya di ulang tahun kemarin, tapi berhubung, hubungan kami kandas sebelum ulang tahunnya tiba, aku jadi terus menyimpannya."
Isvara manggut-manggut, jujur ia tak bisa mengerti perasaan Mahesa saat ini karna dia tak pernah punya pacar sebelumnya, tapi Isvara yakin itu sangatlah menyakitkan.
"Berapa lama kalian berpacaran?"
"Sekitar dua tahun, dan tahun lalu kami putus saat aku dan dia sama-sama sibuk tugas kuliah."
Isvara hanya mengangguk-angguk, tak bisa bertanya lebih karna ia tahu itu privasi.
"Tunggu ... " Mahesa menghentikan mobilnya, Membuat Isvara terkejut.
Mahesa menoleh, menatapnya, lalu mendekatkan wajahnya pada Isvara. " Ada sesuatu di pinggir matamu."
Deg! Isvara tertegun, wajah mereka cukup dekat. Mahesa lalu mengusap bagian bawah matanya dengan jemari pria itu.
"Ternyata bulu mata." Mahesa kembali menyapu bawah mata Isvara dengan jempolnya.
Tatapan mereka terpaku, Mahesa memegang erat pipi serta lehernya.
"Isvara, bisakah hubungan kita lebih dari pacar pura-pura saja?"
Isvara mengerjap, apa maksud perkataan pria itu? terlebih lagi jarak wajah mereka yang terlalu dekat.
Lain halnya dengan Gerald di dalam mobilnya yang sudah seperti di siram lava gunung Merapi, wajahnya memerah menahan amarah mendengar perkataan untuk Isvara itu.
Sebelumnya memang Gerald sudah menempelkan alat penyadap dalam mobil adik tirinya itu, dan tidak menyangka perkataan laknat itulah yang harus dia dengar.
Kepulan asap seperti keluar dari hidung dan kedua telinganya, berani-beraninya si brengs*ek itu mengatakan hal itu pada istrinya.
"Mahesa, aku akan membunuhmu!"
__ADS_1