
Setelah drama konyol dengan boneka beruang besar yang menghabiskan waktu hampir membuat air di laut menjadi kering, kini keributan tak lagi berbuntut panjang.
Gerald duduk di sebuah bangku panjang dengan menopang sikut, kaca mata hitamnya kini menggelantung di kerah bajunya, pria itu sedang menunggu sang istri yang pergi entah kemana.
Gerald mendesah pelan, memperhatikan kesekitarnya. "Haruskah aku membeli taman hiburan ini? Kenapa semuanya tampak membosankan?"
Ya, bagi seorang Gerald yang selalu menyukai tantangan, tempat ini terlalu mainstream dan membuatnya suntuk.
Isvara datang menghampiri. "Menunggu lama?"
Pria itu menggeleng. "Tidak juga, kau habis kemana?"
"Taraaaa!" Isvara menunjukkan dua cup eskrim di tangannya.
"Kau begitu rakus sampai membeli dua?"
"Tidak." Isvara menggeleng. "Yang satu untuk mu?"
"Apa? Yang benar saja?" Gerald terkekeh sumbang.
"Kau menyuruhku untuk memakan es krim ini?"
"Kenapa tidak?" Isvara memberinya satu cup eskrim itu.
"Kau tahu ini sama saja merendahkan ku, ini makanan anak kecil, bagaimana aku bisa makan di tempat umum seperti ini?"
"Astaga Gerald perkara es krim saja, kalau gak mau biar aku habiskan."
"Tidak." Gerald menjauhkan es krim itu dari Isvara. "Karna ini darimu,akan ku hargai."
Gerald mencoba es krim rasa vanilla itu, diam-diam Isvara menantikan reaksi pria itu.
"Bagaimana? enak?" tanyanya menggoda.
"Biasa aja," ucap Gerald, namun tangannya tak bisa berhenti untuk menyuap rasa dingin dan manis itu kedalam mulutnya.
Isvara tersenyum. Entah kenapa setengah hari menghabiskan waktu dengan pria itu, Isvara menjadi tahu sisi lain Gerald, tuan muda yang terkenal pemarah itu ternyata mempunyai sisi lembutnya juga.
"Sekarang kita mau kemana?"
Gerald berdiri membuang cup eskrim yang sudah kosong ke dalam tong sampah.
"Kita pergi destinasi lain, tempat ini terlalu membosankan," katanya.
Isvara ikut berdiri. "Bagaimana kalau kita ke alun-alun, biasanya setiap akhir pekan selalu ada pameran di sana."
Gerald menoleh. "Boleh juga."
***
Never menit perjalanan mereka sampai di alun-alun kota, suasana sore ini tampak ramai, banyak orang-orang berlalu lalang. Dan benar kata Isvara, sudah ada persiapan untuk pameran malam ini.
"Isvara kesini, kesini!" Gerald menjadi heboh sendiri. Isvara menghampirinya.
"Apa?" tanya gadis itu, mata Gerald berbinar melihat sesuatu.
"Oh, itu telur gulung, jajanan kaki lima yang di sukai anak-anak, kau mau mencobanya?"
__ADS_1
"Telur gulung?" Gerald baru kali ini mendengar dan melihat makanan itu, cara pedagang itu membuatnya seperti menarik atensi Gerald.
"Iyah, kamu tidak tahu kah?"
Gerald menggeleng. "Telur gulung? aku bahkan baru mendengar namanya, di rumah tidak ada jajanan yang seperti itu, biasanya pizza atau Hamburger,yang membuatku bosan."
Isvara terkekeh, begitulah kehidupan para anak kolongmerat, mereka tidak tahu saja jajanan terenak adalah yang di jajakan pedagang kaki lima.
"Mau mencobanya?" tanya Isvara.
"Boleh." jawab Gerald.
Isvara hendak pergi membeli namun Gerald menghentikan. "Tunggu!"
Isvara menoleh. "Apa?"
Gerald mengambil dompet kulit di saku celananya,dan mengambil benda semacam kartu kredit di sana.
"Ini black card, belilah apapun yang kau mau di sini dengan ini."
Astaga! Isvara hampir tersedak air ludahnya sendiri.
Orang jenis apa yang membeli jajanan kaki lima dengan black card? dengan kartu magic itu? hanya Gerald seorang.
Isvara tertawa. "Tidak usah, pedagang di sini tak memerlukan kartu seperti itu, mereka hanya memerlukan uang."
Gerald terdiam? kenapa, padahal di sini lebih banyak tersimpan uang? manusia kalangan bawah memang aneh.
"Ya sudah," ucap pria itu akhirnya.
Setelah kepergian Isvara, Gerald duduk di salah satu bangku pedagang yang ada di sana. Tempat ini terlalu asing untuknya,dia tak pernah datang ke alun-alun, orang-orang dan aromanya pun Gerald tak suka.
Setelah beberapa menit Isvara datang membawa dua kantung plastik berisi telur gulung, ia heran melihat Gerald yang kini memakai masker.
"Kenapa kamu pake masker?" tanya gadis itu.
"Polusi sayang," ucapnya. "Tempat ini terlalu kotor."
Deg! Gerald mengatakan 'sayang' dia tidak salah dengar? kenapa pula jantungnya sekarang berdetak kencang?
Gerald membuka maskernya. "Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa." mata Isvara mengerjap,mungkin dia salah dengar.
"Ini." Isvara menyerahkan satu bungkusan itu padanya.
Gerald berdecak. "Aku tidak mau, kau saja yang makan."
"Eh kenapa?" ini enak." Isvara memakan satu. "Cobalah." ia menyodorkan lagi bungkusan telur gulung itu.
"Tidak, makanan di sini tidak higienis,aku tidak mau." Gerald membuang muka.
Astaga ada apa lagi dengan tuan muda ini? bukankah tadi dia menginginkannya? dasar labil, batin Isvara.
"Di coba dulu." Isvara yang gemas menyodorkan telur gulung itu dalam mulutnya.
Gerald hampir tersedak. "Hei beraninya kau--" ucapan pria itu terhenti saat dia mulai mengunyah telur gulung itu.
__ADS_1
"Bagaimana? enak kan?"
Gerald diam, matanya menyorot pada Isvara, tak menampik memang makanan yang terbuat dari bahan telur yang di gulung-gulung memang lezat.
"Sini berikan padaku!" Gerald mengambil bungkusan telur gulungnya.
Isvara terkekeh. "Bilang saja enak apa susahnya."
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar alun-alun dengan sambil memakan telur gulung, menikmati senja yang semakin terlihat oranye, angin berhembus lembut membuat sore ini semakin sejuk.
Gerald membuang bungkusan telur gulungnya yang sudah habis, ia lalu melihat Isvara yang begitu lahap memakan telur gulungnya, ntah kenapa ada yang menghangat di hatinya kini.
"Kenapa? kamu mau lagi?" tanya Isvara yang melihat Gerald begitu intens menatapnya.
"Tidak, kau makan saja," ucap pria itu.
Angin lembut yang berhembus membuat beberapa anak rambut Isvara jatuh ke pipinya, lalu Gerald dengan tangannya merapikan anak rambut Isvara yang menjuntai ke belakang telinga gadis itu.
Isvara membeku, tatapan mereka bertemu, nafas hangat Gerald yang menerpa wajahku Membuat irama jantungnya bekerja lebih kencang.
Seperkian detik hanyut dalam tatapan, dengan tangan kokohnya Gerald mengelus pipi gadis itu, Isvara menahan nafas.
"Kau ini, Kenapa makan sampai belepotan." omel pria itu tiba-tiba. "Lihat ada saus di pipimu."
Isvara menjatuhkan pandangan ke bawah, Mereka terserang gugup luar biasa.
"Hei Isvara,lihat itu?" tunjuk Gerald mengalihkan perhatian.
"Apa?" Isvara mengikuti arah pandang pria itu.
"Kau mau kesana? Gerald ternyata menunjuk bianglala.
"Kau?" Gerald bertanya balik.
Isvara menggeleng pelan. "Aku takut ketinggian, aku tidak bisa naik itu."
"Benarkah?" Gerald memastikan, Isvara mengangguk.
"Tapi jika kamu mau kesana aku bisa mengantar."
"Tidak usah," ucap Gerald pada akhirnya.
Tidak terasa langit semakin gelap, Gerald dan Isvara hanya memainkan permainan yang bisa mereka mainkan tanpa menaiki wahana, canda tawa menghiasi kencan akhir mereka kali ini, bagaimana Isvara yang ingin sebuah boneka kelinci besar dan demi mendapatkannya Gerald harus melempar bola sampai meruntuhkan Piramida kaleng, sebuah game yang selalu bisa di temukan di pameran malam hari.
"Ayo Gerald kamu pasti bisa!" Isvara terus menyemangatinya.
Gerald jadi terus bertekad. "Saya mau mencobanya sekali lagi," ucapnya pada sang tukang, lalu dia memberikan satu bola lagi.
"Kali ini kau harus bisa." gumamnya lalu membidikkan bola itu pada Piramida kaleng, dan benar saja Piramida kaleng itu runtuh seketika.
"Horeee!" Isvara bersorak ria.
Sang tukang lalu mulai mengambil boneka Kelinci besar sesuai permintaan Isvara, gadis itu dengan senang hati menerimanya. mereka pergi setelah membayar.
"Terimakasih ya, kau sudah berusaha keras," ucap Isvara tersenyum padanya.
"Kau sudah mendapatkan boneka kelinci itu berkat diriku sekarang mana hadiahku?
__ADS_1
"Eh, kamu mau apa?" tanya Isvara.
Gerald menarik sudut bibirnya lalu mencium pipi Isvara. "Satu ciuman tidak apa-apa kan?" ucap pria itu.