
Hari-hari di jalani dengan suka cita oleh pasangan yang baru di anugerahi titipan buah hati, senang susah di jalani bersama oleh Gerald dan Isvara.
Beberapa sepekan ini, mual-mual yang di derita Gerald kadang bisa datang kapan saja bahkan saat pria itu sedang berada di meeting penting, hal itu membuat tuan Aryaloka khawatir dan menyuruh Gerald untuk di rumah saja selama beberapa hari belakangan.
Awalnya saat mengetahui sindrom kehamilan simpatik yang di alami Gerald, semua keluarga tertawa,merasa lucu sekaligus tak jarang ada yang mengolok Gerald dengan mengatakan hal ini adalah bentuk karmanya selama ini, memurung diri, mood Gerald selalu menurun saat orang-orang mengatakan itu.
"Ini kayanya calon ponakan aku emang mau bales dendam sama papi nya karna dulu selalu bersikap kasar," ujar Kayra saat melihat sang kakak yang selalu bolak-balik kamar mandi bahkan di saat makan.
"Yang sabar ya kak! Ganbatte!" Teriak Kayra memberikan semangat dalam bahasa Jepang.
Namun itu kemarin-kemarin, hari ini Gerald beruntung tak mengalami morning sicknees itu lagi, sekarang tubuhnya pun terasa segar tanpa mual yang menyerang.
Gerald menuruni tangga rumah, mencari keberadaan sang istri, bangun tadi pria itu tak melihat Isvara di kamar, padahal biasanya dia yang selalu terbangun lebih pagi.
Gerald lalu berjalan menuju pantry, ia menyibak rambutnya yang sedikit basah sehabis keramas tadi kemeja putih yang membungkus tubuh atletisnya ia biarkan dua kancingnya terbuka hingga dada dengan bulu-bulu halus itu terpampang nyata.
pemandangan yang sungguh luar biasa untuk di lihat oleh kaum hawa, apalagi di situ kebetulan ada Dewi dan Nela. Mereka bahkan sampai tercengang cukup lama melihat pemandangan yang menggetarkan jiwa dan raga itu.
Pria itu lalu menuju kulkas, mengambil air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Eumm! enak banget!"
Gerald mengerutkan kening mendengar suara itu, tak salah lagi itu adalah suara istrinya, tapi di mana Isvara berada?
"Sayang, itu kamu?"
Di lain tempat, di samping meja makan, Isvara seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet, wanita hamil itu membawa sepiring makanan yang buru-buru saja ia simpan ke belakang, saat mendebarkan suara Gerald yang memanggilnya.
"Isvara!" Gerald mengedarkan pandangan, mencari keberadaan sang istri, tapi tak di temukan Isvara di mana pun, lantas dari mana suara itu berasal?
Sementara Isvara menyembunyikan asinan buah di belakang tubuhnya dengan rapat, akhir-akhir ini dia memang ingin sekali asinan buah, tapi jika sampai Gerald tahu dia memakan asinan buah pagi-pagi begini bisa-bisa dia kena kultum dari pria itu.
Isvara ingat terakhir kali ia ingin makan asam Jawa, lelaki itu mengomelinya kerena dia makan saat pagi bahkan belum muncul.
"Aku tahu Kamu ngidam, tapi ini apa? kamu makan asam Jawa subuh-subuh, aku khawatir kamu sakit perut." dan omelan-Omelan panjang lainnya yang membuat Isvara tutup kuping di buatnya.
Dia pun tidak mengerti, padahal kata Dr. Ray Gerald lah yang bakal ngidam ini bukan dirinya, nyatanya malah dia yang ingin makan itu,makan ini, sementara Gerald hanya menanggung mualnya saja.
__ADS_1
Lucu memang, terkadang Isvara merasa kasihan melihat sang suami yang setiap pagi harus mengalami mual terus namun ntah kenapa ada sisi lainnya yang membuat ia tertawa puas melihat sang suami yang menderita.
Mengingat itu Isvara tersenyum sendiri, mengusap perutnya. "Kamu memang pintar sayang, biarkan ayahmu menderita untuk sementara ini,ya." lalu ia kembali memakan asinan buahnya.
Gerald menangkap pergerakan aneh dari samping meja makan itu merasa heran, tak bisa di pungkiri tangan kecil yang dia lihat menyembul dari persembunyian itu adalah tangan sang istri, curiga, Gerald lalu mendekat, mengintip sedikit.
Pria itu lantas tersenyum jahil melihat sang istri yang benar ternyata ada di sana, dengan sepiring asinan buah di pangkuannya.
"Hhmmm, ketahuan rupanya!" pria itu sengaja berdeham keras membuat Isvara mematung seketika merasa tertangkap basah.
Dengan wajah terkejut, buru-buru Isvara berbalik dan menyembunyikan asinan buah itu di belakang tubuhnya.
"Sayang ... kamu sudah bangun?" wanita itu tersenyum samar, berusaha menutupi perbuatannya.
"Apa yang kamu pegang?" tanya Gerald menyelidik.
"Tidak, tidak ada." Isvara menggeleng-geleng lucu.
"Benarkah tidak ada?" dengan mata elangnya, Gerald menatap ke belakang. lalu pria itu dengan sengaja menarik cuping telinga Isvara namun dengan lembut. hanya ingin mengerjainya saja.
Ketahuan, Isvara hanya bisa tersenyum. "Baiklah, maafkan aku." Isvara lalu menunjukkan piringnya ke depan. "Ini asinan buah."
Gerald mengangguk-angguk. "Isvara ku, memakan asinan buah di pagi hari, hmm, apa dia tidak takut dengan hukuman yang akan di berikan suaminya?" Gerald ikut duduk menyandarkan punggung ke belakang.
"Mau bagaimana lagi Gerald? ini enak, aku tidak bisa menolaknya. lagian ini juga keinginan Dede bayinya kok." Isvara lalu memakan asinan buah itu lagi, tapi Gerald menarik piringnya.
"Tidak ada asinan buah lagi."
Isvara menurunkan bahu lesu, wajahnya di buat merengut. "Jahat ih, aku aduin nenek nih."
Gerald malah terkekeh,ntah Kenapa sisi manja istrinya ini membuat Gerald semakin mencintainya. "Aku hanya tidak ingin kamu sakit perut sayang, kamu boleh memakannya lagi jika sudah sarapan."
Isvara malah memalingkan muka, lalu mengusap perutnya. "Sayang, lihatlah,papah mu memang jahat kan, masa mama gak di bolehin makan itu sih."
Gerald semakin terkekeh, lalu tangan kekarnya ikut mengelus perut yang sudah mulai terlihat permukaannya itu.
"Boy, kamu gak usah dengerin mamah mu ngoceh, papah ngelakuin ini juga untuk kebaikan kalian berdua."
__ADS_1
"Kok manggilnya boy sih? kan kita belum tahu jenis kelaminnya."
Gerald menatap sang istri, pandangan mereka beradu, lalu dia tersenyum, mengselonjorkan tubuh lalu kepalanya ia letakan di pangkuan sang istri.
"Ntah lah, aku hanya mengira anak kita laki-laki."
Isvara mengusap kening suaminya. "Kalau perempuan?"
"Maka dia akan jadi princess di rumah ini." Gerald tersenyum.
Isvara juga ikut tersenyum. "Aku juga berharap begitu."
***
Di tempat lain Samuel, terlihat mengemasi pakaiannya di apartemen ini, Membuat Laura yang baru datang sehabis dari club karna berpesta semalam terkejut melihatnya.
"Kamu mau kemana? kenapa ngemasin pakaian?" dahi wanita itu mengkerut dalam.
"Aku akan pergi dari sini!"
Deg! seperti ada palu besar yang menghantam dadanya, Laura di buat membeku oleh ucapan itu.
"Kemana? kemana kamu mau pergi? kamu mau ninggalin aku gitu?" Laura tak terima mencoba menghentikannya.
Samuel terdiam, menghempaskan kopernya.
"Untuk apa lagi aku berada di sini, saat kamu sendiri gak pernah menganggap ku!"
Laura menggeleng keras, tertegun dengan perkataan itu. "Gak,gak kamu gak boleh ninggalin aku Sam!"
Samuel menatapnya. "Kamu gak bisa menghentikan aku, untuk apa lagi aku berada di sini, ketika wanita yang ku perjuangkan tak pernah menghargai perjuangan ku."
Lalu arah matanya menunjuk ke arah meja. "Itu adalah beberapa kartu kredit dan kartu debit, gunakan lah untuk keperluan mu dan anak kita nanti."
"Aku tahu kamu sedang dekat dengan sutradara film, kau selama ini menjalin hubungan dengannya di belakang ku."
Melihat wajah terkejut Laura Samuel tersenyum. "Kau tidak usah kaget begitu, aku sudah tahu semuanya, sekarang terserah kau ingin melakukan apa, aku tak akan pernah melarang mu lagi."
__ADS_1