TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
41.Bunga tulip merah dari Mr.G


__ADS_3

Isvara bangun lebih pagi. Nyatanya sejak semalam ia tak bisa tidur, memikirkan kata-kata Gerald yang masih menggantung di otaknya. Isvara tak bisa memaafkan pria itu apalagi memberikan kesempatan kedua.


Rasa sakitnya tak akan ia biarkan kembali terulang. Sudah cukup dirinya menderita, inilah saatnya ia bebas dari jeratan pria itu.


Isvara melangkahkan kakinya, melakukan sedikit peregangan otot tubuh, kakinya yang terkilir kini sudah lebih baik,berkat pria itu.


Isvara berjalan keluar kamar, sudah ada para pelayan yang melakukan tugas mereka, Namun ia sedikit di kejutkan dengan kehadiran buket bunga tulip merah di atas nakas dekat dapur.


Isvara mengedarkan pandangan, semua orang nampak acuh tak menyadari buket bunga ini.


Sementara berdiri tak jauh, ada Gerald yang sedang melirik Isvara dengan ekor matanya, Pria itu belagak mengambil air dari tempat minum demi mengawasi Isvara.


Bunga tulip merah itu tentu saja darinya. Ia sampai searching di internet, bunga apa yang melambangkan cinta dan pilihannya jatuh pada bunga cantik itu. Gerald berharap Isvara akan menyukainya dan merawatnya,bukti dari kesungguhannya untuk Isvara.


Dalam hati ia berdebar, reaksi apa yang akan di tunjukkan Isvara. Tanpa sadar Gerald menyunggingkan senyumnya.


Isvara mengambil bunga tulip merah itu dan menelitinya, ternyata ada sepucuk surat terselip di sana, bewarna peace cantik, Isvara lalu membukanya.


[Bunga ini bukti keseriusan ku padamu, cantik seperti pemiliknya.


Mr.G]


Mr.G? sepertinya Isvara tahu siapa itu. Isvara menolehkan kepalanya, melirik ke arah tempat Gerald berada, namun pria itu membuang muka, seperti orang yang sedang malu, telinganya memerah.


Isvara kembali memandang tulip di tangannya, ia berjalan ke arah tong sampah dan melemparkannya ke dalam, Isvara membuang bunga itu dengan teganya. lalu ia menatap kembali ke arah Gerald, pria itu menunjukkan raut kekecewaannya. Namun Isvara tidak perduli, ia juga merobek surat itu seperti kepingan lalu ikut membuangnya ke dalam tong sampah.


Dada Gerald berdesir nyeri melihat bagaimana penolakan Isvara, hatinya seperti hancur berkeping-keping, padahal bunga itu sudah ia rencanakan jauh-jauh hari untuk di berikan.


Gerald lalu pergi ke kamarnya dengan hati yang hancur. Isvara memperhatikan langkah pria itu. seperti itulah yang ia rasakan saat Gerald menolak mentah-mentah segala kebaikannya. Sekarang seperti berbalik arah, Gerald merasakan apa yang dia rasakan.


***


"Isvara nolak bunga dari lo?" tanya Samuel memastikan saat pria itu selesai bercerita.


Gerald mengangguk lemah, karna kesedihan, sendi-sendinya seakan tidak berfungsi,ia hanya duduk mengenaskan di kursi kebesarannya.


Di luar dugaan Samuel malah tertawa, tawanya sangat kencang hingga mungkin mampu terdengar sampai ke luar gedung perusahaan besar ini.


"Sial, Kenapa lo ketawa?" Gerald menimpuknya dengan kotak tisu di sebelahnya.


Namun Samuel malah semakin terbahak. "Baguslah, sesuai dugaan gue, emang pantes sih lo di gituin."


Gerald melotot. "Lo mau gue pecat?!


Seketika Samuel ciut, ia melakukan pergerakan tangan seperti mengunci mulutnya, namun tetap kekehan itu tidak bisa ia tahan.


"Lagian lo udah keterlaluan banget sih." ucap pria Itu.

__ADS_1


Gerald mengangguk, mengiyakan. "Gue jahat banget ke dia."


"Itu lo tau, bukan cuma jahat lo itu udah keterlaluan banget sama Isvara, pantes sih di campakkkin gitu."


Samuel berdiri. "Lo bayangin seorang Gerald angkasa wirasena, CEO termuda dan pernah menjadi model papan atas yang di gilai wanita, di tolak mentah-mentah sama istrinya sendiri, bisa segempar apa tuh berita." Samuel tak bisa menahan tawanya.


Gerald berdecih, Samuel memang salah satu bawahan yang paling durhaka sejagat raya. Untung temen.


"Begini Ger, lo tuh harus melakukan pendekatan yang lebih halus, dan jangan sampai bikin Isvara risih, itu sih saran gue."


"Yakin deh sesakit hatinya cewek, kalau lo udah bisa memperlakukan dia seperti ratu, dia juga bakal luluh," ucap Samuel.


Gerald mulai berfikir, apa dia bisa? bagaimana jika di tolak lagi?


***


Malam harinya Gerald Membuat sebuah kejutan untuk Isvara, perkataan dari Samuel telah memberikannya sebuah ide. untuk Isvara Gerald tidak akan menyerah, meski akan di tolak berkali-kali Gerald akan tetap berusaha untuk mengambil kepercayaan Isvara.


"Waah cantik banget ya background nya, sepertinya tuan muda emang udah bener-bener cinta sama nona muda," ucap Dewi sedikit berbisik.


Nela mengangguk. "Beruntung banget si Isvara bisa dapet perhatian segede gini dari tuan muda."


Dewi menoleh. "Bisa gak sih Nel kamu manggilnya 'Nona muda' kamu lagi nyebut istri tuan Gerald loh."


"Alah istri boongan doang," ucap Nela santai. "Lagian kalau semakin di tolak, bisa-bisa tuan Gerald juga ngejauh, sok jual mahal tuh si Isvara."


"Kamu iri Nel, aku tahu kok kamu suka kan sama tuan Gerald?" pancing Dewi.


Nela tampak gelagapan. "Y-ya siapa sih yang gak suka sama tuan Gerald, dia kan tampan, kamu juga pasti suka kan?"


"Aku emang suka, tapi dalam artian fans, kalo kamu Nel? aku gak yakin."


Nela mengedarkan pandangan. "Apasih pembahasannya kok malah kesono-sono. udah lah aku pergi aja." Nela meninggalkan Dewi.


Dewi menghela nafas. "Kamu tuh emang gak bisa bohong Nel." menggelengkan kepala lalu ikut menyusulnya.


***


Gerald menyalakan api lilin dengan pemantik, semuanya sudah selesai, kejutan untuk istrinya ini sudah tampak memukau. Hanya makan malam biasa di belakang halaman rumah ini, yang sudah do hiasi sedemikian rupa agar terlihat indah.


Gerald lalu melihat ke arah pintu luar, memastikan kehadiran sang istri, benar saja, wanita yang sudah ia nanti-nantikan berjalan ke arah sini.


"Kau datang?" Gerald tersenyum.


"Ada apa? kenapa memanggilku kesini?" Isvara bertanya datar.


"Surprise!" Gerald berseru merentangkan tangannya, "Makan malam cantik untukmu."

__ADS_1


Namun Isvara hanya beraut datar. "Kau menyuruhku keluar hanya untuk ini?"


Gerald mengerjap canggung. "Kau tidak menyukainya?"


Isvara hanya bergeming. matanya bahkan tak ingin menatap pria itu.


"Kalau tidak yang akan kulakukan, lebih baik aku masuk."


"Tunggu!" Gerald berseru menghentikan langkah Isvara.


"Baiklah, lebih baik kau duduk dulu." Gerald lalu mengambil tangan Isvara menuntunnya untuk di kursi.


Gerald pun duduk di kursi yang sama. Lalu mereka hanya diam sama-sama terjebak canggung.


"Kakimu ... sudah baikan?" ucap Gerald berusaha memecah keheningan.


Isvara hanya mengangguk. Gerald bingung harus mengatakan apa lagi.


"Isvara, bicaralah jika ada yang ingin kamu bicarakan padaku, jangan hanya diam saja," ucap Gerald karna melihat Isvara seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Oh ya, baiklah." Isvara menyerahkan sebuah kotak berwarna merah berbentuk love.


"Cincin pernikahan kita, aku ingin menyerahkannya kembali padamu."


Memang saat pernikahan, mereka menggunakan cincin pernikahan untuk mengikat hubungan seperti upacara pernikahan lainnya. Namun mereka berdua sama-sama tak pernah memakainya lagi sejak hari pernikahan itu.


Isvara hanya menyimpannya di dalam kotak, begitupun dengan Gerald yang tidak peduli dengan cincin perak itu.


Gerald terkejut. "Aku bahkan tak ingat kita memiliki cincin pernikahan." lirihnya.


Isvara mendengus. "Tentu saja, bahkan pernikahan ini pun tidak berarti untuk mu, untuk apa kau menyimpannya kan?"


"Bukan begitu," sela Gerald. "Aku meninggalkannya di suatu tempat dan lupa untuk memakainya lagi."


"Aku tidak perduli." ujar Isvara.


"Ra ... jangan seperti ini, aku tahu aku salah,tapi berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," mohon Gerald entah ke berapa kali mengatakannya pada Isvara.


Isvara menatap mata pria itu.


"Membaca ulang bab yang sama tidak akan memberikan akhir yang berbeda," ujar Isvara.


"Kau pasti tahu apa maksudku, memberikan mu kesempatan tidak akan merubah keputusan ku untuk kita berpisah." Isvara tampak tercekat, satu titik air mata jatuh mengenai pipi mulusnya.


"Belum tentu juga saat aku memberikan mu kesempatan itu, kamu akan berubah dari sikapmu yang angkuh, arogan, dan kejam."


Isvara lalu berdiri. "Besok papa akan pulang, kita akan membicarakan tentang perceraian pada beliau besok."

__ADS_1


__ADS_2