
"Isvara!!"
Gerald meneriaki namanya, tapi gadis itu seakan tuli untuk mendengarkan seruannya.
Tin! tin! Suara klakson seakan memekakkan telinga,Gerald menoleh, lalu dengan secepat kilat pria itu menarik tubuh Isvara dalam dekapannya hingga truk terlintas begitu saja.
Tubuh Gerald dan Isvara sempat berguling di aspal jalan, sedangkan kantong plastik belanjaan Isvara terpental entah kemana.
Bugh! Tubuh mereka yang berguling terhenti di pembatas jalan, demi ingin melindungi Isvara, bahu Gerald sampai terbentur pembatas hingga cukup keras. Gerald meringis merasakan nyeri.
Dilihatnya Isvara yang menutup mata, lalu pria itu mengeratkan pelukannya, dengan nafas terengah-engah.
Isvara membuka mata, jantungnya memompa cepat tadi. Ia hampir kehilangan diri dan mati, namun kenapa pria ini menyelamatkannya?
"Kau bodoh apa gimana hah?" Semprot Gerald tiba-tiba.
Isvara terkejut,pria itu lalu berdiri dan mengibaskan jas nya yang terkena debu.
"Jika kau mati siapa yang mau bertanggung jawab? Jalan tuh minggir, pake mata bukan pake dengkul, kau tahu?!!" Gerald memarahi gadis itu.
Namun Isvara hanya terdiam. Berusaha mencerna situasi.
"Kenapa kamu menyelamatkan ku?" Tanya Isvara setelah sekian lama diam.
Gerald cukup tersentak, pria mengerjap beberapa kali lalu terkekeh.
"Tentu saja, itu karna-- karna papa. Ya, kalo lo mati, siapa yang bakal di omelin coba? Gue!" Gerald berusaha mengelak. Namun kenyataannya bukanlah seperti itu.
Gerald tidak mau kehilangan Isvara. Tidak mau.
"Oh, karna papa," Isvara menggut-manggut.
"Lo lagian kenapa bisa jalan kaki sampai ke tengah gitu? Gue yakin, kalo ada pria asing yang ngasih lo permen buat ikut sama dia, lo bakal iya-iya aja saking bodohnya!"
Ntah kenapa setiap Gerald salah tingkah, kata-kata kasar lah yang selalu keluar.
"Aku abis beli belanjaan pesanan bibi, gak tau kalau ada truk lewat," ucap Isvara.
Gerald hampir tertawa. Gadis ini sebenarnya pernah sekolah atau tidak sih? Atau jangan-jangan dia memang tuli beneran?
"Ayo ikut denganku!" Gerald mengenggam tangan Isvara.
"Kemana?" Isvara menahan tangannya.
"Pulang lah, kemana lagi?"
"Tapi belanjaan ku ... Astaga!" Pekiknya tiba-tiba.
"Belanjaan ku? Belanjaan ku kemana?" Isvara histeris.
Gerald hampir tertawa. "Hei, kau masih bisa-bisanya mengkhawatirkan belanjaan sialan itu, di saat kau hampir melewati maut?!"
"Tapi itu penting Gerald, itu punya bibi, aku takut dia marah padaku."
"Gak ada bakal marahin, ayo ikut!" Gerald tak suka di bantah, pria itu menarik tangan kecil Isvara seperti menyeret anak kucing.
Mereka sampai di mobilnya, Gerald lalu mendorong tubuh Isvara hingga terduduk di kursi penumpang,di sampingnya.
__ADS_1
"Kerumah utama, cepat!"
"Baik, tuan muda."
***
Setelah beberapa saat, mobil sampai di halaman besar kediaman wirasena.
Gerald turun,Tapi gadis itu sedari tadi hanya diam saja.
"Turun!!"
Gerald yang meninggikan suara membuat Isvara tersentak. lalu gadis itu buru-buru keluar dari mobil.
"Kenapa dia terlihat melamun terus?"
Gerald menggamit tangan Isvara, menuntunnya. kali ini dia tidak akan marah, karna tau gadis itu masih terkejut atas kejadian tadi.
Saat di tangga teras mereka berpapasan dengan nyonya Arini dan Brinda yang berpakaian glamor seperti hendak ke pesta.
"G-gerald, kamu sudah pulang sayang," ucap sang bibi dengan raut wajah langsung berubah drastis.
Gerald memperhatikan penampilan mereka, tas branded dan sepatu yang mereka gunakan terlihat familiar. Gerald ingat, itu semua punya ibu sambungnya, Indira dan adiknya Kayra.
"K-kenapa melihat penampilan Tante? I-ini tidak seperti yang kamu pikirkan, sebelum meminjam baju, sepatu dan tas ini Tante sudah ijin dulu ke Indira dan Brinda juga sudah ijin ke Kayra," jelasnya tanpa di minta.
Gerald menggidikan bahu, meskipun tak ijin dia tak perduli. toh, jika tantenya mau dia bisa membelikan semua barang branded itu termasuk tokohnya.
"Isvara!" Arini bergumam,menatap sinis pada Isvara.
"Aku menemukan dia hampir tertabrak truk, aku ingin tanya kenapa Tante membiarkan dia berjalan kaki tanpa sopir?" Gerald berkata tajam kali ini.
Arini menelan ludah,berat, "I-itu tante hanya menyuruhnya membeli beberapa barang yang tante perlukan," ucapnya.
"Pertanyaan ku, kenapa dia di biarkan berjalan kaki sendiri?"
"Sialan,dia memojokkan ku." Arini bergumam dalam hati.
"Tante sudah memberikan dia uang kok untuk naik angkot."
"Kenapa harus angkot? kemana mobil pribadi yang diberikan untuknya?"
Arini kali ini benar-benar terpojok, lalu tiba-tiba Brinda menyahut.
"A-anu kak,mobil dia sudah Bri pakai tapi tiba-tiba mobilnya rusak dan sekarang ada di bengkel."
Gerald menghela nafas berat. "Bri, itu mobil miliknya, kakak bisa membelikan mu sepuluh mobil yang sama, tapi jangan memakai punya orang tanpa ijinnya."
"Lagian Gerald kamu kenapa sih jadi ngebela banget gadis kumal ini?"
"Bukan begitu tan, Isvara hampir tertabrak truk tadi,jika tidak ada aku di sana bagaimana jadinya?"
"Terus kenapa? jika dia mati pun bukan urusan kamu, kecuali kamu udah mulai perduli dengan gadis ini," ucapnya menunjuk wajah Isvara.
Gerald tampak salah tingkah," Apa? perduli pada gadis ini? yang benar saja, itu tidak mungkin." pria itu mengelak.
Arini dan Brinda menatap satu sama lain, tersenyum puas.
__ADS_1
"Aku hanya tak ingin kena masalah jika dia kenapa-napa, apalagi jika sampai papa tahu."
Isvara tampak tertunduk lesu, tentu saja Gerald mana peduli padanya.
"Tapi, mulai besok Isvara tidak boleh lagi keluar rumah. biarkan pekerjaan untuk membeli sesuatu di lakukan oleh pembantu lain," ucap Gerald.
***
Matahari tampak terbenam ke paruduan nya, Isvara kini berada di halaman depan, sedang menyiram aneka tumbuhan dan bunga milik sang nenek.
Bunga-bunga itu tampak tumbuh subur dan segar, nenek memang terampil menjaganya.
Di samping kediaman mewah ini memang bisa terlihat pepohonan besar tampak seperti hutan, ada pohon Pinus yang berjejer cantik di sekitarnya. makanya setiap sore atau pagi udara selalu sejuk.
"Hai," seseorang menyapa.
"Raka," Isvara tersenyum. lalu menghentikan ritual menyiram tanamannya.
"Kau memanggilku?" tanya pria jangkung itu.
"Ini," Isvara mengulurkan sebuah amplop putih.
Raka menerimanya dengan ragu, "Untuk ku?"
Isvara mengangguk. "Dari Kayra."
Seketika senyum terbit dari wajah tampan pria itu. "Baiklah, aku terima."
"Aku heran, di zaman serba digital ini kalian masih saja surat-suratan untuk berkomunikasi."
"Itu ciri khas hubungan kami," ucap Raka.
"Uuuu, tidak ku sangka, pria dingin nan cuek ini punya ciri khas berpacaran," goda Isvara padanya.
Raka tergelak, "Aku serius, kau tahu kan status di antara diriku dan Kayra itu tidak memungkinkan untuk kita bersama."
"Kenapa? kau tidak percaya dengan takdir cinta?"
"Takdir cinta? maksudnya?" Raka tak mengerti.
"Begini, di saat dua insan memang sudah di takdirkan untuk bersatu, rintangan apapun akan mereka lewati dengan kekuatan cinta mereka, itulah yang di sebut takdir cinta."
"Jika kamu memang mencintai Kayra setulus hati, bahkan status atau kasta pun tidak ada artinya lagi."
"Kau benar, aku dan Kayra saling mencintai, kami bisa melewatinya."
Mereka sama-sama melempar senyum, lalu Raka berpamitan setelah menyimpan baik surat dari sang kekasih hati.
Isvara menatapnya kepergiannya,lalu berharap semoga rintangan apapun yang akan di lalui keduanya, cinta mereka bisa melewatinya.
Kayra mengambil kembali tabung air, hendak menyiram tanaman yang lagi, namun pandangannya tertuju pada seseorang yang mendekatinya.
"Brandon," gumamnya.
Brandon berdiri, menghadapnya.
"Bagaimana Isvara? apa lo udah membuat keputusan?" tanya pria itu.
__ADS_1