TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab 23 : Persaingan di mulai?


__ADS_3

Isvara mengalami demam tinggi, kejadian saat dia di sekap di gudang tua itu benar-benar menyakiti mentalnya.


Gerald tentu merasa bersalah. Sejak dulu, dia adalah pria berhati batu, tapi melihat Isvara yang tidak berdaya gara-gara dirinya membuat dia di liputi rasa bersalah.


Sejak kejadian itu, selalu ada Mahesa yang selalu menjaga Isvara, seperti saat ini, Mahesa datang ke kamar Isvara untuk menjenguknya.


"Kak Vara kok bisa demam gini, mana demamnya tinggi banget," ucap Kayra merasa sedih.


Di rabanya tangan sang kakak, sangat panas, Kayra lalu mengganti kain basah pada kening Isvara, memandang sendu.


"Tidak apa-apa Kay, kak Vara akan baik-baik saja." Mahesa menenangkan adiknya itu.


Mahesa sudah berjanji pada Isvara, untuk tidak memberitahu tentang kejadian yang menimpanya ini.


Karna Isvara tidak ingin masalah ini menjadi besar. Seperti dulu.


Dalam hati Mahesa menyangkan sifat Isvara yang terlalu baik.


Sedangkan Gerald? Tidak pernah meminta maaf untuk kesalahannya.


Tapi tidak ada yang pernah tahu, apa yang dirasakan Gerald kini.


"Bunda sama papa kapan pulang Kay?"


"Minggu depan, kak Mahesa emang gak di telepon bunda?"


Mahesa menggeleng. " Mungkin bunda sibuk."


Kayra mengangguk. "Papa juga sepertinya sudah mulai sibuk."


Kayra menolehkan pandangan, menatap wajah Mahesa. dia juga terlihat cemas seperti dirinya,


Dalam hati Kayra tersenyum.


Meskipun saudara tiri mereka tampak akur. Tidak seperti Gerald yang selalu perang dingin dengan Mahesa.


Kayra selalu menyayangi kedua kakak laki-lakinya, tidak pernah membeda-bedakan, meskipun salah satunya tidak mempunyai hubungan darah dengannya.


***


"Ngapain kau kesini?" Suara Mahesa meradang seketika.


"Aku hanya ingin melihatnya." Gerald memandang wajah teduh Isvara yang tengah tertidur.


"Tidak cukup kah kau memberikan penderitaan untuknya?"


Gerald beralih memandang Mahesa. "Ini bukan urusan Lo."


Kosakatanya berubah sinis dengan melirik tajam. Sejak dulu, sejak pertama kali Mahesa di bawah ke rumah ini dan di perkenalkan sebagai saudaranya oleh sang ayah, sejak saat itu Gerald selalu membencinya.


Gerald dan Mahesa tak pernah akur. meskipun tahu Mahesa tak akan pernah bisa menang melawan Gerald, namun bukan berarti Mahesa takut padanya.


"Kau!" Lengkingan Mahesa tertahan saat ia melihat Isvara yang hendak membuka mata.


Gadis itu pasti terganggu karna keributan keduanya. Menatap sengit, Mahesa menarik Gerald untuk keluar.


"Apa-apaan Lo!" Gerald mendesis tak ingin di sentuh.


"Sudah cukup kak, Gue bilang ini sebagai adik lo, terserah lo mau nganggep gue atau gak. tapi please, jangan pernah ganggu Isvara lagi."

__ADS_1


"Urusannya sama lo apa, mau dia mati di tangan gua pun, lo gak berhak ikut campur!" Gerald yang kepalang marah, mengatakan itu tanpa berfikir lagi.


Dan hal itu membuat Mahesa semakin geram. Bugh! Mahesa meninju rahang Gerald.


"Kali ini gue gak bakal diam, Gue bakal rebut dia dari lo!"


Gerald yang mendapat serangan tiba-tiba membeku sesaat, lalu pria itu bangkit dan menarik kerah baju Mahesa.


"Lo pikir lo siapa? mau sok jadi pahlawan kesiangan buat dia hah? jangan ngimpi!"


Bugh! Gerald memberi bogem mentah,telak. Pertengkaran tak bisa terelakkan dari dua saudara itu.


Nyonya Triani sedang tidak ada di rumah, di sini hanya ada mereka dan para pembantu saja, dan mereka hanya bisa menatap cemas tanpa bisa memisahkan kedua tuan muda itu.


"Astaga! kakak!" Kayra yang melihat memekik seketika.


"Kak hentikan! kak Mahesa,kak Gerald!" Kayra berusaha memisahkan mereka, namun naas malah dia yang di dorong.


Bugh! Gerald menendang tengkuk Mahesa. pria itu tak tinggal diam, meninggalkan jejak sepatunya di dada Gerald.


Hingga tiba-tiba sesosok wanita muncul, langsung menyerbu Gerald dan Mahesa yang semakin sengit baku hantam.


Dia adalah Laura, wanita dengan gaun seperti kekurangan bahan itu menarik tangan Gerald.


"Gerald berhenti, kamu gak kaya gini, berhenti mukulin Mahesa!"


"Mahesa kamu juga, aku tahu kamu emang nyimpen perasaan buat aku, tapi gak kaya gini."


Mereka berdua terhenti, bukan karna perintah dari wanita itu, tapi dengan apa yang di ucapkannya.


"Aku tahu, kalian berdua berantem begini karna aku kan? jadi, berhenti kumohon."


"Pd banget tuh cewek," Bisik Nela pada Dewi. lalu mbok Minah yang merasa tidak enak, langsung menggiring mereka berdua untuk pergi.


"Please demi aku, tolong berhenti yah." Suara Laura seperti di lembut-lembutkan pada keduanya.


Mahesa mengernyit dahi begitupula dengan Gerald. mereka merasa aneh dengan Laura.


Sementara Laura dengan percaya dirinya menarik lengan mereka berdua seperti wasit yang ingin memisahkan.


Namun Mahesa merasa enggan, langsung menyentak kasar tangan Laura.


Mahesa memandang aneh, sementara Laura malah tersenyum ke arahnya.


Tak mempedulikan, Mahesa membenarkan kerah kemejanya lalu mendekat di samping Gerald.


"Kali ini gue gak akan ngalah, gue bakal rebut dia dari lo!" ucapnya di telinga Gerald lalu berjalan pergi.


Damn! Apakah persaingan akan di mulai?


Laura tersenyum semakin lebar, Meskipun Mahesa berbisik saat mengatakannya, namun masih bisa terdengar olehnya. seketika kepercayaan dirinya semakin tinggi, ia semakin yakin kedua lelaki itu ribut karna memperebutkannya.


Sementara Gerald dalam amarah besar, darahnya mendidih setelah mendengar kata-kata itu.


Merebut Isvara darinya? Mahesa tidak akan pernah bisa. Apapun sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak akan ia biarkan pergi.


Laura dengan kaki jenjangnya menghampiri Gerald, meneliti wajah sang kekasih lalu mengelusnya.


"Kamu sampai babak belur begini, aku sangat takut tadi," ucapnya dengan nada sedikit menggoda.

__ADS_1


Gerald bukannya merasa tergoda malah risih, di tepisnya dengan kasar tangan Laura dari wajahnya.


"Ngapain kamu kesini?!"


Laura terkejut, baru kali ini Gerald berkata dengan nada tinggi padanya.


"A-aku ingin ngeliat kamu sayang,kita udah lama kan gak ketemu?"


"Aku sibuk, lebih baik kamu pulang."


"Tapi Gerald ... "


"Pulang sekarang!" tatapan matanya sudah mulai berubah tajam. Laura takut.


"Kamu kenapa sih Lard, kok jadi berubah gini?" matanya sudah berkaca-kaca.


"Gak ada urusannya sama kamu. dan satu lagi, jangan merasa jadi orang yang paling spesial, kita ribut bukan karna kau!"


Bagai tersambar petir di siang bolong, perkataan Gerald sungguh menjatuhkannya.


Jadi mereka bertengkar bukan karna dirinya?


Setelah mengatakan itu Gerald pun berlalu, meninggalkan Laura yang mematung, di iringi kekehan para pelayan yang menyaksikan. seakan mengejeknya.


"Makanya jadi orang Jangan kegeeeran."


Bisik-bisik itu terdengar olehnya. "Sial!"


***


Mahesa masuk ke kamar Isvara, ada Kayra di sana. Isvara sudah pulih, dan kini kedua gadis itu terlihat sedang bercengkrama. Mahesa tersenyum.


Mahesa berjalan mendekat, lalu duduk di tepian kasur, di samping Isvara yang menyandarkan punggungnya.


"Ku dengar kamu berkelahi dengan Gerald, apa benar?"


"Kayra pasti menceritakannya padamu?" Mahesa menatap adiknya.


"Habisnya aku takut banget. kak Gerald sejak tadi tidak keluar dari kamarnya, padahal aku ingin mengobati lukanya." Kayra menduduk sedih.


Mahesa menarik sudut bibirnya, lalu tangannya mengusap lembut pucuk kepala Kayra.


"Tidak apa-apa, hanya perkelahian kecil antar pria saja."


Kayra mengangguk. "Karna ada kak Mahesa disini, aku mau lihat keadaan kak Gerald lagi."


Keduanya mengangguk, Kayra tersenyum meninggalkan mereka, Mahesa dan Isvara menatap kepergiannya.


"Mahesa, aku tak suka caramu menyerang Gerald duluan." intonasi Isvara sudah mulai serius.


"Setidaknya orang-orang yang menyakitimu harus merasakan yang kau rasakan."


Isvara menggeleng. "Tidak. kalian itu dua bersaudara,aku tidak mau karna diriku hubungan kalian jadi semakin berjarak."


Isvara sedih melihat luka Mahesa yang semakin bertambah karna dirinya.


Namun Mahesa menggeleng. "Bukan salahmu."


"Ini semua sudah menjadi pilihanku, karna aku sudah berjanji untuk selalu melindungimu, dan aku akan selalu menepatinya."

__ADS_1


__ADS_2